
"Siapa kamu?" tanya Belinda.
"Saya yang menggantikan Dokter Nico. Beliau ada pasien darurat yang harus ditangani. Saya adalah asisten yang paling dipercaya. Dokter Nico bilang beliau sudah memberi pesan."
Belinda mengecek satu pesan yang belum ia baca. Memang ia belum sempat membaca pesan yang dikirim oleh dokter pribadinya itu.
"Oh, kamu Dokter Ferdi?" tanya Belinda memastikan.
"Benar, Nyonya. Saya Ferdi."
Belinda mengangguk. "Kamu sudah tau harus apa dan bagaimana kondisinya? Boleh melihat, tapi jangan diperhatikan. Boleh didengar, tetapi jangan menyimak. Mulut, matamu harus terkunci setelah keluar dari rumah ini. Kamu pasti sudah tau akibatnya jika sampai hal ini tersebar."
"Nyonya jangan khawatir. Saya sudah diberitahu semuanya," ucap Ferdi.
"Mari, aku antar ke kamar menantuku."
Ferdi mengikuti Belinda dari belakang menuju kamar Sara. Pintu dibuka. Belinda mempersilakan Ferdi untuk masuk. Dokter Ferdi heran karena kamar itu sangat gelap. Ia juga mendengar ada suara anak kecil yang menangis.
"Masuklah. Aku akan hidupkan lampunya," kata Belinda. "Suara yang menangis itu adalah cucuku. Abaikan saja dan segera obati ibunya."
"Baik, Nyonya," ucap Ferdi, lalu melangkah masuk.
Lampu dihidupkan. Ferdi baru bisa melihat sosok yang terbaring lemah dengan seorang anak kecil di bawahnya yang menangis. Pintu ditutup oleh Belinda. Ferdi menoleh ke belakang, lalu menatap bagian atas kamar. Tidak ada CCTV yang mengintai.
"Nak," tegur Ferdi.
"Om Dokter!" Flora berdiri, tetapi ia heran melihat orang baru.
Ferdi melangkah, Flora berusaha membangunkan Sara. Ia naik ke atas tempat tidur dan memegang lengan ibunya.
"Jangan takut. Om di sini ingin menyembuhkan ibumu."
Sara membuka mata. Ia mengerjap beberapa kali karena sinar lampu. Ia menatap pria berkacamata yang berpakaian sebagai dokter.
"Tumben sekali bukan Dokter Nico yang datang."
"Saya cuma menggantikan." Ferdi duduk di tepi tempat tidur. "Bisa aku memeriksamu?"
"Lakukan saja. Aku tidak peduli," ucap Sara.
Ferdi meraih selimut yang menutupi tubuh polos Sara. Bahkan Sara tidak bergeming atau apa pun ketika seorang dokter menatap sebagian tubuh polosnya.
"Dia putrimu?" tanya Ferdi.
"Namaku Flora Putri Lingga."
Ferdi tersenyum. "Nama yang cantik. Sama seperti orangnya."
Ferdi ingin menggapai wajah Flora, tetapi Sara dengan sigap menepis tangan itu. Tidak ada yang boleh menyentuh Flora.
"Apa kau orang mereka?" tanya Sara.
Ferdi tersenyum. "Mata putrimu sama seperti kakeknya. Tuan Bernad."
Sara menatap dokter itu. "Saka!"
Ferdi melepas kacamatanya, lalu mengelupaskan topeng kulit yang ia kenakan. Sara terbelalak melihat itu, ia mencoba bangun untuk meraih wajah yang selama ini sangat ia rindukan.
"Ini kamu?" Sara mengulurkan tangan. Menggapai wajah suaminya. "Kamu sungguh Saka?"
Saka mengangguk. "Iya. Ini aku, Bee."
Sara langsung memeluk Saka dengan erat. Ia menangis. Entah ini kenyataan atau mimpi, Sara hanya ingin memeluk suaminya.
"Kenapa kamu meninggalkanku seorang diri?" Sara tidak kuasa menahan tangis.
"Maafkan aku, Bee. Aku baru datang setelah sekian lama."
Sara segera menarik selimut. Ia tidak ingin Saka melihat keadaannya yang mengenaskan terlebih ada bekas kecupan Arya di tubuhnya.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Saka sembari meraih selimut.
Sara tidak kuasa untuk menceritakannya. "Aku sudah disentuh olehnya. Aku tidak pantas bersamamu. Tapi tolong, keluarkan aku dan Flora dari sini."
"Aku suamimu, Bee. Aku mencintaimu. Segala penderitaanmu karena diriku."
Sara menutup wajahnya, ia menangis tersedu-sedu. "Ke mana kamu selama ini?"
"Aku akan menceritakan segalanya padamu. Sekarang katakan padaku. Apa dia anak kita?" tanya Saka.
Sara mengangguk. "Dia anak kita."
Sara mengangguk. "Sayang, dia Papamu. Dia tidak akan menyakiti Flora seperti paman Arya dan Anton."
Flora menyambut uluran tangan itu. Saka meraih Flora ke dalam pangkuan. Ia peluk putrinya dan kecup wajahnya. Akhirnya, Saka bisa bertatapan langsung bersama dengan istri serta anaknya. Saka sudah melihat foto Flora saat bawahannya menguntit Arya yang keluar dari apartemen.
"Aku akan membawa kalian pergi," ucap Saka.
"Arya membuatku menandatangani surat. Dia akan mengambil Flora."
Saka memeluk Sara. "Jangan khawatir, Bee. Aku tidak akan mengampuni mereka yang telah menyakitimu. Aku akan buat mereka membayarnya."
"Mereka menghabisi Dini dan Azka di depan mataku."
Saka mengangguk. Ia sudah memperkirakan itu sejak dalam pengejaran. "Tenang, Bee. Aku akan balas semua perbuatan mereka. Aku akan membawamu bersama Flora dari rumah ini. Semua milik kita akan aku rebut kembali."
Saka melepas pelukannya dari Sara dan Flora. Ia memasang kembali topeng wajah palsu, lalu memakai kacamata.
"Apa pekerjaan yang kamu katakan kepadaku itu benar?" tanya Sara.
Saka mengangguk. "Lebih dari itu, Sara. Suamimu ini memang pria yang bekerja di dunia bawah."
"Aku percaya setelah melihat kejadian itu di depan mataku."
"Flora sayang. Jangan katakan kepada siapa pun kalau Papa datang," ucap Saka.
Flora mengangguk. "Iya."
"Anak pintar." Saka mengecup puncak kepala putrinya.
"Biar aku obati lukamu, Bee."
Sara memalingkan wajah ke arah lain. "Biarkan saja."
"Jika ingin bebas, jangan sampai kamu terluka. Aku akan pasang kamera di sini. Arya dan yang lain tidak akan mengetahuinya."
Saka membuka tas, lalu mengambil kamera terkecil yang bahkan tidak pernah Sara lihat sebelumnya. Saka menempelkan benda itu ke dinding yang mengarah ke tempat tidur.
"Bertahanlah sedikit lagi. Aku akan datang menjemput kalian. Jangan takut. Aku akan membereskan tikus-tikus kecil itu lebih dulu."
"Bagaimana kalau kamu tidak datang?" kata Sara.
"Aku akan datang. Aku pasti datang menjemput kalian," ucap Saka. "Percaya padaku, Bee."
Sara mengangguk. "Aku percaya kamu."
Saka mengusap bibir Sara. Ia mendekat, tetapi Saka malah menjatuhkan istrinya di tempat tidur, lalu menempelkan jari telunjuk ke bibir.
"Ada yang datang," ucap Saka.
Sara bahkan tidak mendengar apa-apa. Setelah hening, suara sepatu bertumit tinggi terdengar. Sara meneguk ludah. Itu pasti Belinda. Saka segera mengoleskan salep di kulit istrinya.
"Sayang, kamu berikan obat ini pada makanan mereka," ucap Saka sembari menyerahkan sebotol cairan berwarna bening.
"Ini apa?" tanya Sara.
"Berikan saja kepada mereka."
"Semua ruangan diberi CCTV kecuali kamar ini. Jika aku ingin meracuni mereka, aku sudah lebih dulu melakukannya," ucap Sara.
Entah kenapa Saka ingin tertawa mendengar ucapan Sara. Istrinya bukanlah seorang wanita terlatih.
"Kalian minumlah obat ini." Saka menyerahkan satu butir pil pada Sara dan Flora.
"Ini apalagi?" tanya Sara.
"Penawar racun. Minum saja. Ini akan melindungi kalian."
Sara segera menelan pil itu. Saka mengambil segelas air yang ada di meja lampu tidur. Menyuruh Flora untuk meminum pil tersebut.
"Oleskan cairan ini di tanganmu jika kamu ingin memasak atau membuat minuman untuk mereka. Siapa pun tidak akan curiga kalau kamu mengoleskan racun di gelas atau bahan makanan," kata Saka.
Sara mengangguk. "Aku akan melakukannya."
"Aku percaya padamu. Berusahalah."
Pintu terbuka, Belinda masuk begitu saja. Ia memang mondar-mandir di depan kamar. "Apa sudah selesai?"
Bersambung