
"Hentikan, Saka!" bentak Belinda.
Saka membuang palu di tangan. Batu permata itu rusak berkeping-keping, seolah itulah hati Saka yang telah dihancurkan oleh sang ibu. Wanita yang seharusnya memberi kasih sayang, tetapi nyatanya hanya menorehkan luka di dada.
"Kamu adalah kesalahan! Bagiku kamu itu kesalahan!" ucap Belinda.
"Ayo, Bee. Kita pulang dari sini," kata Saka.
"Tunggu! Kamu ingin tau apa kesalahanmu, kan? Biar aku beritahu," ucap Belinda.
"Katakan saja!" tantang Saka.
"Ayahmu yang menghancurkan hidupku!"
Saka meremehkan perkataan ibunya. Ia tahu ayahnya pergi meninggalkan sang ibu, tetapi apakah itu semua salahnya? Saka lebih tidak mau lagi lahir dari rahim wanita itu.
"Aku sudah tau. Semua itu salahmu sendiri!" sahut Saka.
"Pergilah!" usir Belinda.
Saka tercengang. "Hah, hanya itu? Membuang waktuku saja. Ayo, Bee. Kita tinggalkan tempat ini."
Saka lekas membawa Sara keluar dari rumah Hartawan. Melihat itu, Belinda menyusul, memandang Saka dan Sara yang pergi dengan mobilnya.
Andai kamu tau apa yang terjadi, Saka. Melihatmu sama saja membuka luka lama. Kamu trauma bagiku. Kesalahanku yang paling fatal.
"Jangan diingat lagi. Dia tidak pantas kamu pikirkan," ucap Hartawan.
"Benar, Ma. Saka sangat keterlaluan. Berani sekali dia menghancurkan batu permata itu," sahut Arya.
"Kepalaku sedikit pusing. Aku perlu istirahat. Sayang, bawa aku ke kamar," pinta Belinda kepada suaminya.
Hartawan membawa istrinya menuju kamar, sedangkan Arya menyuruh pelayan membereskan kekacauan yang dibuat oleh saudara tirinya.
"Awas saja kamu, Saka! Aku akan balas setiap perbuatanmu," gumam Arya geram.
Belinda berbaring di tempat tidur. Ia kembali mengingat kesalahan di masa lalu. Saat itu, Belinda datang ke Amerika untuk meneruskan pendidikannya. Pergaulan kelas atas membuatnya berkenalan dengan seorang pria bernama Bernad. Sosok tampan, kaya, dan disukai oleh wanita.
Hampir setiap malam Bernad berada di kelab elit Vegasus yang rupanya milik pria itu sendiri. Belinda jatuh cinta kepadanya, tetapi Bernad bukan tipe pria yang cocok untuknya.
Menjadi pemilik kelab adalah satu-satunya pekerjaan yang Belinda ketahui dari kekasihnya. Bernad pria yang tidak suka menceritakan tentang kehidupan pribadi meski mereka telah hidup bersama.
Belinda, bahkan tidak tahu orang tua dari sang kekasih. Hidupnya bahagia dengan kemewahan yang diberikan oleh Bernad, dan sang kekasih membebaskan Belinda untuk meneruskan pendidikan hingga ia bisa lulus dengan nilai yang diinginkan.
Setelah itu, Belinda tidak ingin pulang ke tanah air. Ia tergila-gila kepada Bernad, lalu mengatakan kepada orang tuanya untuk bekerja dulu. Nyatanya tidak demikian, ia hidup bersama Bernad di rumah mewah sampai kejadian itu menimpa dirinya.
"Siapa dia?" tanya Belinda.
"Punya hak apa kamu bertanya?" sahut Bernad.
"Kamu membawa wanita lain masuk ke rumah kita dan kamu membawanya ke tempat tidurku!" ucap Belinda emosi.
"Rumah kita, tempat tidur? Di mana otakmu, hah? Jelas sekali aku pemilik dari rumah ini!"
"Sialan! Kamu mengkhianatiku!" Belinda mengambil vas bunga kemudian melemparkannya ke arah Bernad yang membuat luka di pelipis pria itu.
"Kurang ajar!"
Bernad beranjak dari tempat tidur, menarik tangan Belinda, lalu memelintirnya. Belinda kesakitan, tetapi Bernad sama sekali tidak punya hati. Kekasihnya yang masih di atas tempat tidur, tertawa melihat penderitaan Belinda.
"Setahuku kita tidak memiliki hubungan apa pun, lalu kenapa kamu marah?" tanya Bernad.
"Kamu kekasihku! Aku mencintaimu," ucap Belinda.
Bernad mendorong tubuh Belinda hingga terjatuh ke lantai. Pria itu tertawa. "Tidak ada kekasih dalam hidupku. Kamu itu cuma teman tidur."
Wanita yang berada di atas tempat tidur tertawa. "Ya ampun! Kamu sungguh kasihan. Kamu terlalu membawa perasaanmu."
"Pengawal!" seru Bernad.
Dua orang pengawal rumah menghadap tuannya. "Baik, Tuan."
"Bawa dia ke kelab. Jadikan pelayan tamu di sana," perintah Bernad.
Belinda menggeleng kuat. "Jangan! Kamu tidak tau siapa aku!"
Bernad tertawa. "Keluargamu? Memangnya mereka punya kuasa apa? Jika kamu tidak ingin menderita, turuti perintahku!"
Bernad melambaikan tangan kepada penjaga agar Belinda segera dibawa pergi. Ia paling benci dengan wanita tidak tahu diri seperti Belinda yang memonopoli dirinya.
"Sayang sekali. Aku menyukai dia karena otaknya pintar. Dia juga berkelas," kata Bernad.
"Kamu tidak berpikir untuk menikahinya, kan?" tanya wanita berambut keriting yang berperan sebagai teman tidur Bernad.
"Menjadikan Belinda sebagai pelayan tamu penting tidak rugi untukku. Dia telah melukaiku, dan pantas menjadi wanita penghibur di kelab."
Belinda baru menyadari siapa kekasih yang ia puja selama ini. Ia dipaksa menjadi pelayan bagi tamu yang datang. Karena paras cantik dan kulit kuning langsatnya, banyak tamu yang menginginkan wanita itu sebagai teman satu malam. Belinda menolak keinginan tercela itu, dan membuat Bernad marah besar.
"Lagi-lagi masalah! Mereka membayar uang banyak untuk menidurimu!" ucap Bernad.
Belinda menangis. "Sudah cukup aku menjadi pelayan bar, tetapi jangan paksa aku melayani pria hidung belang."
"Apa kamu tau siapa saja yang datang ke kelab milikku? Mereka semua pria berkantong tebal!"
"Kamu tidak pantas memperlakukan-ku seperti ini. Aku sedang mengandung anakmu," ucap Belinda.
Bernad tersentak mendengarnya. "Hamil?"
Belinda adalah wanita satu-satunya yang masih suci bagi Bernad. Dia muda, cantik, menyerahkan kesucian pertama untuknya, tetapi Bernad bukan tipe pria yang bisa berkomitmen.
Mengetahui Belinda hamil, sikap Bernad berubah menjadi baik. Belinda kembali ke rumah mewahnya, bahkan dilayani dan dijaga. Namun, Bernad terkesan menjaga jarak hingga kejadian buruk terulang lagi.
"Bersiaplah, kamu harus pulang ke negaramu," ucap Bernad.
"Kenapa tiba-tiba? Kamu tidak ingin melihat anak ini lahir?" tanya Belinda.
"Bisa tidak, kamu itu tidak membantahku? Kalau kusuruh pulang, ya, pulang!"
"Aku ingin bersamamu," pinta Belinda.
Bernad melemparkan cek senilai lima juta dollar untuk Belinda. Perhiasan juga barang mewah yang pernah ia berikan kepada wanita itu.
"Pulanglah. Jangan pernah kembali lagi," ucap Bernad.
"Aku membencimu, Bernad! Aku tidak akan membiarkan anak ini hidup!" murka Belinda.
"Dia anakmu! Aku tidak peduli."
Hari itu juga, Belinda diantar pulang ke tanah air. Hubungannya bersama Bernad putus sampai Belinda menemukan Hartawan sebagai penggantinya.
Kelahiran Saka adalah kesalahan bagi Belinda. Setiap melihat wajah sang anak, ia akan teringat akan luka yang Bernad torehkan.
Rupanya, Bernad tidak membuang Belinda begitu saja. Ia tahu mantan kekasihnya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Sakalingga.
Bernad juga tahu kalau putranya tidak diberi kasih sayang oleh sang ibu. Bernad maklum karena itu semua adalah salahnya. Namun, Bernad tidak ingin menjelaskan apa pun kenapa ia sampai menyuruh Belinda kembali ke Indonesia.
Melihat ketidakadilan itu, Bernad membawa Saka ke luar negeri, dan memberi nama sesuai nama belakang orang tuanya, yaitu Sakalingga Bernad.
Bersambung