Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Meminta



Saka lekas terbangun ketika tidak mendapati istrinya di sisi tempat tidur. Ia lekas turun dari ranjang menuju pintu, lalu keluar. Aroma masakan menuntun langkahnya ke dapur. Dalam hati Saka berucap syukur karena Sara masih berada di rumah.


"Selamat pagi, Bee," ucap Saka.


"Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Makanlah," kata Sara.


"Bee, kamu masih marah?"


Sara membisu, ia menuangkan air putih ke gelas, lalu mengautkan nasi goreng dari wajan ke dalam piring. Hanya ada satu gelas dan piring, dan itu hanya untuk Saka.


"Aku banyak pekerjaan. Mungkin malam ini pulang larut. Jangan menjemputku. Aku bisa pulang sendiri," kata Sara.


Saka mendekat, meraih tangan istrinya. "Bee, kita bisa bicarakan ini. Jangan begini, Sayang."


"Aku akan terlambat ke studio."


"Dini belum datang," sanggah Saka.


"Aku bisa naik taksi ke rumah. Kebetulan aku sudah lama tidak ke sana," ucap Sara.


"Semua wanita itu adalah masa lalu. Aku sudah lama tidak berhubungan kecuali bersamamu."


"Aku tetap tidak ingin mendengarnya. Aku kecewa dan merasa dirugikan. Aku benci ketika membayangkan wanita itu mengeluarkan suara aneh saat kamu mendesaknya. Aku benci!" teriak Sara.


Sara melepas paksa genggaman tangan Saka, lalu melangkah pergi keluar. Saka mengejar dengan meraih kembali pergelangan tangan istrinya.


"Dengarkan aku, Bee. Aku tidak melakukan apa pun. Kenapa kamu marah?"


"Jelas saja aku marah! Kamu pria tidak bermoral!" teriak Sara.


"Cukup, Sara! Kamu marah tanpa alasan yang jelas. Aku sudah bilang padamu jika itu masa lalu. Sekarang kamu adalah wanitaku satu-satunya!" ucap Saka dengan nada meninggi.


Sara tersentak, matanya melotot memandang Saka. Lantas Sara mendorong tubuh suaminya, berlari masuk ke dalam rumah dan menangis tersedu.


Bahu Saka merosot lelah. Entah bagaimana ia mengulang waktu untuk menyucikan diri dari sentuhan para wanita di masa lalu. Jika ia bisa mengetahui masa depan atau kehidupannya dipenuhi perhatian dan kasih sayang, Saka yakin dirinya tidak akan terjebak dalam dunia gelap.


Saka menyusul, ia duduk di samping Sara yang menangis. "Maafkan aku, Bee."


"Aku benci kamu," ucap Sara lirih.


"Iya, aku tau. Bencilah aku sepuasmu."


"Pergi kamu!"


"Tidak akan," kata Saka.


Sara langsung memeluk Saka, menangis dalam pelukan suaminya. Tubuh Saka basah karena memang ia tidak mengenakan pakaian atas. Sialnya air mata itu malah menyulutkan hasrat dalam tubuhnya. Terlebih tetesan-tetesan itu mengalir sampai ke bawah sana.


"Sudah, jangan menangis lagi. Aku minta maaf," ucap Saka.


Sara menarik diri dari tubuh suaminya. "Kamu bau."


Saka tergelak. "Aku belum mandi."


"Aku lapar."


"Aku ambilkan makanan. Tunggu di sini," kata Saka.


Tidak lama, Saka kembali dengan sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Pria itu meletakan bawaannya di atas meja, tetapi Sara enggan untuk meraih makanan itu meski ia kelaparan.


"Makanlah," kata Saka.


"Aku mau kamu menyuapiku."


Saka terkekeh. "Istriku jadi manja. Buka mulutmu dan makan yang banyak nasi goreng ini."


"Kamu juga. Kita makan bersama," kata Sara


Saka mengangguk dan melakukan apa yang istrinya perintahkan. Emosi Sara tiba-tiba menjadi baik. Tadi marah-marah, dan sekarang seperti kucing betina yang ingin dimanja.


"Biar aku saja yang mengantarmu ke studio," ucap Saka.


"Aku libur hari ini."


Saka mengembuskan napas kasar. "Kamu membohongiku."


"Dasar wanita. Aku pergi bekerja saja kalau begitu," kata Saka.


"Pulanglah siang nanti. Aku ingin bersamamu."


Saka mengangguk, lalu mengecup puncak kepala istrinya. "Aku akan pulang cepat."


Keduanya beranjak menuju kamar, Saka membersihkan diri, sedangkan Sara menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Sara berlari memeluk Saka ketika pria itu keluar dari bilik mandi. Tidak peduli wajahnya basah karena tetesan air, Sara tetap menekankan kepalanya ke tubuh bidang Saka.


"Apa tamatan sekolahmu?" tanya Sara.


"Kamu tidak suka aku bekerja sebagai tukang ojek online?"


"Bukan begitu, berdasarkan statusmu, kamu sangat kaya," kata Sara.


"Memang benar, tetapi harta warisan itu untuk anak kita bukan untukku," jawab Saka. Jika Sara menginginkan aku bekerja kantoran, maka perusahaan yang aku masuki akan bangkrut. Aku tidak berbakat dalam urusan bisnis.


"Terserah kamu mau kerja apa. Aku menerimamu apa adanya asal uang yang kamu berikan halal."


Saka mencubit kecil pipi Sara. "Sekarang, lepaskan aku dulu. Aku harus pergi mengais rezeki."


Dengan terpaksa Sara melepas rangkulannya, dan membiarkan Saka mempersiapkan diri. Sara mengantar suaminya sampai di depan pintu, dan saat itu juga Dini datang. Saka tidak khawatir meninggalkan istrinya sendirian di rumah.


"Hati-hati di jalan, Boo. Aku cinta padamu!" teriak Sara.


Dini merasa jijik mendengarnya. "Ampun! Sayang, kamu berubah bucin."


Sara tertawa keras. "Ayo, masuk. Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu."


Dini duduk di sofa seraya menunggu Sara. Kedatangan wanita itu sumringah dengan membawa satu kotak berukuran lima belas kali lima belas dengan tinggi sepuluh centimeter di tangannya.


"Kotak apa ini? Barang antik, ya?" tanya Dini.


Sara tersenyum, lalu membukanya. "Perhiasan dari nenek Saka."


"Wow! Banyak sekali. Seketika mataku hijau. Boleh minta satu," ucap Dini terkekeh.


"Ini warisan. Aku sudah menghitungnya. Jika hilang satu, artinya, kamu yang ambil."


"Kebangetan kamu. Aku ini sahabatmu. Setidaknya berilah aku satu buah."


Sara tergelak, lalu memilih barang di dalam kotak itu. "Aku tidak akan memberikannya kepadamu. Aku minta tolong. Kamu simpan perhiasanku ini. Lalu, carikan aku perhiasan palsu."


"Buat apa? Kamu ingin menipu Saka?"


"Bukan! Aku merasa latar belakang Saka tidak biasa. Saat pembagian warisan, mereka tidak menyukai kami. Saka mendapat banyak bagian, dan membuat saudaranya iri. Simpanlah perhiasan ini," pinta Sara.


"Aku jadi bingung. Jika kamu ingin aku menyimpannya, akan aku lakukan. Aku harus beli perhiasan palsunya dulu," ucap Dini.


"Kamu bisa minta bantuan properti. Mereka banyak mengoleksi perhiasan palsu."


"Jangan khawatir," kata Dini menenangkan.


Sara melepaskan gelang berlian yang ia kenakan, lalu memberikan perhiasan itu kepada Dini. "Upahmu. Ambillah perhiasan ini."


"Kamu serius? Tadi aku bercanda."


Sara mengangguk. "Tentu. Kamu sahabatku, maka ambil saja."


"Aku tidak akan segan," jawab Dini. "Tapi, kenapa aku jadi takut? Kamu tidak akan pergi, kan?"


"Memangnya aku mau pergi ke mana?" tanya Sara.


"Kamu memberiku wasiat seperti ini."


"Jauhkan pikiran burukmu itu. Aku sudah bilang, keluarga Saka tidak menyukai kami. Aku takut menyimpan harta berharga ini," ucap Sara.


Ketika berbicara, suara bel berbunyi. Sara dan Dini saling menatap. Bergegas Dini meraih kotak itu, lalu menyelinap ke ruangan lain, sedangkan Sara melihat siapa yang datang ke rumahnya.


"Mama!"


Bersambung