Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Hadiah Saka



"Apa yang terjadi? Kenapa rahasia Indra bocor?" tanya Arya.


"Ada seseorang yang menyadap ponsel Indra juga data-data milikku. Aku sudah melacak alamat IP-nya, tetapi tidak ketemu. Alamatnya palsu," tutur Anton.


"Itu artinya, ada orang seperti kamu ini yang ingin mencelakai Indra. Aku rasa itu musuhnya di dunia politik. Ada orang yang tidak senang akan popularitas yang Indra dapat. Kita harus mencari dan memberi pelajaran kepada mereka," kata Arya, lalu melanjutkan perkataannya, "bicara soal itu, Velia tidak kembali ke rumah."


Kening Anton berkerut. "Memangnya dia ke mana?"


Arya mengangkat bahu. "Aku tidak tau. Sudah tiga hari ini Velia menghilang. Orang tuanya mengatakan dia ingin menenangkan diri. Tapi aku rasa tidak seperti itu. Pasti ada hal yang lain."


"Mungkin saja benar. Kasus Indra memberi guncangan padanya."


"Deri juga tidak bisa dihubungi. Dari semalam aku menelepon dan memberi pesan untuk menemui kita, tetapi tidak ada jawaban. Entah ke mana anak itu," kata Arya lagi.


Telepon rumah berdering. Anton meraih gagang telepon yang berada di dekatnya. Suara dari bagian penerima tamu terdengar. Anton mengerutkan kening mendapati hal itu.


"Paket?" tanya Anton.


"Benar, Tuan. Mau diantar ke tempat Tuan langsung?" ucap wanita di seberang telepon.


"Baiklah. Suruh saja pengantarnya naik ke atas," kata Anton, lalu menutup telepon.


"Ada apa?" tanya Arya.


"Ada kurir yang antar paket," jawab Anton. "Kita tunggu saja. Mungkin kiriman dari luar negeri."


Tidak berapa lama bel berbunyi. Anton beranjak dari duduknya kemudian berjalan membuka pintu. Seorang pria bertopi merah memberikan paket yang tidak ada nama pengirimnya. Untuk pria seperti Anton, sudah biasa menerima paket tanpa pengirim di kotaknya. Biasa pengirim memberitahu lewat telepon atau pesan jika ada paket. Namun, saat ini tidak ada pemberitahuan apa pun.


Anton menutup pintu, lalu mengguncang isi paket itu. Ia penasaran dengan bentuknya, lalu duduk dan membuka paket tersebut.


"Siapa yang kirim?" tanya Arya.


Anton cuma mengangkat bahu. "Entahlah. Kita buka dulu apa isinya."


Anton mengambil kunci mobil Arya, lalu membuka pelakat dari kotak itu. Di dalam kotak, terdapat kotak lagi. Anton berdecak, lalu bersabar membukanya. Sebuah kotak segi empat menyerupai kotak perhiasan.


"Apa ada wanita yang mendekatimu? Dia menghadiahkan perhiasan," kata Arya seraya terkikik geli.


"Kita lihat isinya." Anton membuka kotak hitam tersebut. Matanya membelalak melihat hadiah yang didapat. Kelima jari tersusun rapi di dalam sana. "Sialan! Siapa yang berani mengirimkan ini?"


Arya mengambil hadiah itu dan ia sama terkejutnya dengan Anton. Kelima jari manusia berada di dalam kotak. Arya mengambil jam tangan yang berada di dekatnya.


"Ini seperti jam tangan Deri," kata Arya.


"Kamu yakin?" tanya Anton tidak percaya.


"Iya, aku yakin. Ini jam kesukaannya dan selalu ia pakai. Lihat yang betul. Ini milik Deri," kata Arya.


Anton meneguk ludah. Jika sudah mendapat jari utuh seperti itu, artinya, orang itu telah kembali karena dirinya-lah yang senang mengoleksi anggota tubuh dari musuhnya.


"Saka! Dia masih hidup," ucap Anton.


Arya terkesiap mendengarnya. "Apa maksudmu?"


"Dia orang yang melakukan ini. Semua ini pasti ulahnya. Saka tidak mati. Dia masih hidup. Sekarang dia datang untuk balas dendam!"


"Tidak mungkin! Kamu mengatakan kalau Bernad telah tiada dihabisi oleh anak buahnya sendiri. Lalu, bagaimana bisa Saka bangkit lagi?"


Anton menggeleng. "Aku tidak tau."


"Sialan! Kita kecolongan. Bagaimana bisa kamu tidak tau kabar apa pun mengenai dunia bawah?"


"Sialan! Kamu pikir urusanku hanya melihat siapa yang paling kuat di antara kami? Tidak ada serangan apa pun. Semua baik-baik saja." Anton tiba-tiba terdiam. "Ya, Saka tidak menyerang anggota geng yang berada di puncak, tetapi dia mengambil apa yang menjadi miliknya. Kekuasan Bernad."


"Aku harus pulang. Jika benar yang kamu katakan, itu artinya, Saka datang membawa Sara," ucap Arya.


"Aku ikut denganmu. Aku juga akan menghubungi anak buahku untuk menyusul kita," kata Anton.


...****************...


"Mama, Papa!" seru Arya.


Tidak ada siapa pun di dalam. Arya mencari Sara serta Flora, tetapi mereka juga tidak berada di dalam.


"Mereka tidak berada di rumah," kata Arya.


"Saka pasti sudah membawa mereka semua," ucap Anton.


Arya berjalan mendekati Anton. Ia meraih kerah kemeja yang pria itu kenakan. "Bantu aku menemuinya. Aku mohon padamu!"


"Kita pasti menemukannya."


Dering ponsel berbunyi. Arya menjejalkan tangan ke saku celana, lalu mengangkat panggilan itu.


"Siapa ini?" tanya Arya.


"Masih ingat dengan suaraku?"


Mata Arya membelalak. "Saka!"


"Adikku tersayang. Saatnya pembalasan untukmu."


"Di mana mama dan papa?" teriak Arya.


Dari seberang telepon, Saka tertawa. "Aku akan kirimkan bagian terindah dari tubuh mereka."


"Sialan! Jangan pernah menyentuh kedua orang tuaku!"


"Sampai jumpa adikku tersayang."


Telepon terputus secara sepihak. Arya mengumpat. "Dia sungguh masih hidup. Bagaimana bisa? Aku tidak percaya ini."


"Aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini. Tidak akan!" ucap Anton geram.


...****************...


Indra menoleh ketika jeruji besi dipukul oleh sipir. Penjaga itu memberikan satu botol air serta makanan untuknya, lalu telepon genggam.


"Ada orang yang mengirimkan video untukmu. Bukalah."


Indra segera meraih ponsel itu, lalu membuka video yang dimaksud. Bola matanya ingin keluar ketika melihat Deri memperlakukan hal tidak senonoh pada istrinya.


"Deri! Apa-apaan ini? Beraninya dia," ucap Indra geram. "Aku harus menelepon Anton."


Sipir membiarkan Indra melakukan apa saja termasuk menghubungi Anton. Telepon terangkat, Indra memberitahu apa yang terjadi pada Velia.


"Itu artinya, istrimu berada di tangan Saka. Deri tidak mungkin melakukan itu. Velia menghilang dari beberapa hari yang lalu," ucap Anton dari seberang telepon.


"Saka? Maksudmu apa?" tanya Indra.


"Deri telah tiada meski kami belum memastikannya secara langsung. Tapi kelima jarinya telah dikirim kepada kami. Sudah pasti dia telah tiada," kata Anton.


Sipir membuka sel. Ia merebut ponsel itu dari tangan Indra, lalu memberi pukulan keras di perut dan kaki.


"Tahanan sudah melanggar aturan. Tidak boleh membawa ponsel. Aku pastikan kamu akan dihukum berat."


"Kamu yang memberikannya," protes Indra.


Penjaga itu memukul Indra lagi dengan tongkat yang ia bawa. "Sudah salah masih menyangkal."


Indra membiarkan penjaga itu memukulnya. Setelah puas membuatnya babak belur, pria itu tersenyum menyeringai, lalu keluar. Indra terbatuk-batuk. Ia mengambil air minum yang disediakan. Satu botol air itu, ia habiskan.


"Saka! Dia masih hidup. Dia datang untuk balas dendam. Semua ini karena dia," ucap Indra, lalu tertawa keras.


Bersambung