Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Bermain-main



Belinda dan Hartawan melindungi mata mereka dari cahaya lampu yang tiba-tiba saja menyala. Keduanya hampir saja mati terkurung dalam kamar nan gelap.


Kepala Belinda mendongak kemudian membuka mata perlahan untuk melihat sosok yang sudah sangat lama tidak ia jumpai. Putra pertama yang tidak ia sayangi sama sekali.


Langkah Saka tegap. Ia gagah dengan kaus hitam yang melekat di tubuh berototnya. Melihat itu, Belinda teringat akan sosok Bernad di masa muda. Pria yang ia cintai, tetapi juga lelaki yang menghancurkan dirinya.


"Pantaskah memperlakukan ibumu seperti ini?" ucap Belinda.


Saka tertawa mendengarnya. Lelucon apa yang tengah Belinda mainkan saat ini. Ia menganggap dirinya seorang ibu, tetapi apakah pantas disebut demikian. Yah, Belinda memang wanita yang menjadi ibu karena telah melahirkan dua orang pria kejam.


"Nyonya Belinda Hartawan. Wajahmu masih rupawan. Tidak pernah berubah sama sekali selama lima tahun ini. Pasti setiap hari dirimu melakukan perawatan kecantikan," ucap Saka.


"Saka, lepaskan kami," kata Hartawan.


Saka menendang kaki ayah tirinya. "Sialan! Jangan bicara kalau belum aku suruh."


"Saka! Dia Papamu!" teriak Belinda.


"Jangan sembarangan bicara. Kapan dia menjadi ayahku?"


"Apa maumu?" Belinda menatap tajam putranya.


Namun, hal itu malah membuat Saka tertawa keras. Ia mengentak-ngentakkan kaki seakan Belinda bertanya sesuatu yang sangat lucu.


"Kalian dikurung di sini, pasti sudah tau apa yang ingin aku lakukan," kata Saka. "Aku ingin memberikan kalian rasa kasih sayangku."


Saka berjalan ke kursi Belinda. Sang ibu terikat di tangan dan kaki juga tubuh. Saka melepaskan ikatan tangan ibunya, tetapi tidak di tubuh dan kaki.


"Mama, maafin Saka," ucapnya.


Saka memeluk Belinda. Mungkin pelukan pertama sebab Saka tidak ingat kapan terakhir ia memeluk ibunya. Bahkan saat ia mengerti tentang dunia, ketika mengetahui bahwa dirinya berbeda dari Arya. Belinda tidak pernah memeluknya. Sang ibu selalu mengatakan bahwa Saka adalah suatu kesalahan.


"Nak, lepasin Mama," ucap Belinda lembut.


Ucapan yang menenangkan bagi Saka. Dulu Saka juga luluh akan kata-kata yang Belinda ucapan. Tapi itu hanya kedok untuk menyiksanya kembali, dan Saka mual mendengar kata-kata itu.


Saka membelai jari-jemari ibunya. Sangat cantik dan halus dengan pewarna kuku transparan. Ia kecup punggung tangan ibu yang melahirkannya. Cita-cita Saka dulunya sangat sederhana, yaitu berbakti kepada Belinda.


"Jari Mama sangat cantik. Bisakah Mama memberikannya kepadaku? Aku ingin mengoleksinya," ucap Saka.


Belinda tersentak. Lantas ia menarik tangannya, tetapi Saka tidak melepaskan itu. Saka tersenyum menyeringai. Sentuhannya tidak lembut lagi, tetapi kuat mencengkeram.


"Lepaskan tanganmu, Nak. Kamu menyakiti Mama," ucap Belinda.


"Lepaskan istriku!" ucap Hartawan.


Saka langsung menendang kursi yang diduduki oleh Hartawan. Pria itu terjungkal ke belakang. Saka benci dengan orang yang tidak patuh akan perkataannya.


"Sekali lagi kamu bicara, aku habisi kamu!" ucap Saka, lalu beralih pada Belinda. "Mama, boleh aku minta jarimu?"


Belinda menggeleng. "Jangan sakiti aku. Ini Ibumu!"


"Aku tau kamu Ibuku. Bukannya seorang ibu akan memberi apa pun kepada anaknya?" Saka menatap lekat Belinda. "Mama, apa kamu menyayangiku?"


Belinda mengangguk cepat. "Iya, Sayang. Mama sangat mencintaimu."


"Mama tidak bohong, kan?"


"Tidak, Saka. Kamu adalah putraku. Aku sangat menyayangimu."


Saka bersimpuh di depan Belinda. Ia mendaratkan kepala di atas pangkuan wanita itu. Belinda mengusap lembut puncak kepala putranya. Saka tersenyum. Sudah lama ia ingin diperlakukan seperti ini oleh ibunya. Dulu ia hanya melihat Arya yang selalu dimanja dan disayang. Saka ingin sekali tidur di pangkuan Belinda.


"Sudah cukup sandiwaranya."


"Mama harus menyalahkan daddy yang merawatku. Dia yang mengajariku tidak memandang siapa pun orang yang menyakitiku," ucap Saka sembari melentikkan kelima jari Belinda. "Oh, kurasa Mama juga turut andil dalam mengajariku bersikap kejam."


"Sakit, Saka," teriak Belinda.


Saka melepaskan tangan Belinda. "Kamu Ibuku. Aku tidak pantas melakukannya. Tapi aku sangat suka mengoleksi jari tangan yang indah."


"Gila! Kamu sudah gila," jerit Belinda.


Saka hanya tersenyum. "Josh, Chen, bawa dia masuk," serunya.


Belinda terkesiap ketika melihat Lisa juga ditawan oleh Saka. Chen dan Josh mendudukkan wanita paruh baya itu di kursi, lalu mengikatnya. Hartawan dibantu bangun untuk duduk sejajar bersama mereka.


"Apa aku kejam?" tanya Saka.


"Ini tidak kejam, Tuan. Kalau bisa kita habisi saja semuanya," sahut Josh.


Chen menyikut lengan rekannya. Josh masih tidak mengerti jika ketiga orang yang ditahan Saka adalah kerabat dekat bagi atasan mereka, bahkan salah satunya ibu kandung dari Saka.


"Aku benci kenapa mereka punya hubungan kerabat denganku."


"Jadi, bagaimana, Tuan?" tanya Josh.


"Apa Anton dan Arya sudah mulai bergerak?" tanya Saka.


"Hanya menunggu kita saja," sahut Chen.


"Perlakukan Ibu, Ayah, dan bibiku dengan baik. Pindahkan mereka ke ruang atas. Kita akan menunjukkan sebuah pertunjukkan."


"Jangan sentuh anakku!" bentak Hartawan.


"Oh. Jadi, ketika anakmu menembakku dan membuatku mati, kamu senang?" tanya Saka.


Hartawan terdiam. Jelas saja ia senang mendapati kabar Saka tiada. Harta yang diberikan mendiang Ayu Prameswari menjadi miliknya.


"Lepaskan kami, Saka. Selama ini keluargaku telah menjaga anak dan istrimu. Aku memberi mereka kehidupan layak!" ucap Belinda.


Sampai detik ini, Belinda tetap tidak menerima Saka. Selalu saja kata-kata yang diucapkan oleh ibunya terasa sangat menyakitkan.


"Istriku menjadi pelayan bagi keluargamu. Apa itu yang kamu maksud sebagai menjaga dan menghidupinya. Anakmu bahkan menyentuh istriku! Selama bertahun-tahun kalian semua melakukan hal ini padanya!" murka Saka.


"Arya tidak sampai menidurinya!" ucap Belinda keras. "Aku menjaga Sara dan tidak mengizinkan Arya menikahi Sara."


Satu fakta yang Saka ketahui. Arya mencintai Sara dan selama ini penyiksaan yang ia lakukan hanya karena ingin memiliki Sara seutuhnya.


"Karena itu kamu ingin dibebaskan?" Saka tersenyum getir. "Jangan mimpi, Belinda! Setiap luka, sakit hati, akan aku balas dengan dua kali lipat!"


Mata Saka berkilat marah. Emosi sudah naik sampai ke ubun-ubun, dan hanya satu yang bisa meredakannya. Satu luka yang harus torehkan di tubuhnya musuhnya.


"Chen, berikan," pinta Saka.


Chen memberi belati kesukaan Saka. Sementara Josh melepas ikatan tangan Hartawan dan mengulurkan tangan sebelah kanan pria itu.


"Menjauh dariku!" ucap Hartawan takut.


"Aku ingat tangan ini yang memukulku. Aku ingat tangan ini yang mengurungku. Aku ingat tangan ini yang menjepit jariku. Jika Kakekku tidak datang tepat waktu, maka jariku akan hilang. Kalian semua menghabisi kakek dan nenekku. Maafkan aku, tetapi aku harus membalas kalian semua."


Hartawan berteriak keras. Belinda menjerit dengan menutup mata, sedangkan Lisa tidak bisa bernapas ketika melihat satu jari telunjuk lepas begitu saja.


"Cukup satu saja sebab aku benci jari itu. Jari yang suka menunjukku. Lagipula kamu adalah ayah tiriku," ucap Saka.


Bersambung