
"Kamu butuh uang lagi?" tanya Andreas.
"Kamu bisa memberiku pekerjaan?" Saka balik bertanya.
Mendengar itu, Andreas malah tertawa. "Aku tidak punya musuh. Tidak ada lawan yang wajib kamu habisi."
Saka mendecakkan lidah. "Bukan itu. Aku perlu pekerjaan layak. Jadi apa pun boleh."
"Kamu mau kerja di perusahaanku ini? Tapi maaf, aku menolakmu sekarang juga. Bagaimanapun, kita adalah saingan. Siapa tau kamu adalah mata-mata pria itu," ucap Andreas.
"Haish! Memang aku pria seperti itu?"
"Kamu sendiri yang lebih tau sifatmu. Aku trauma. Kamu berpura-pura menjadi bagian dari salah satu anggota musuh, setelah mengetahui titik lemahnya, kamu malah menghabisi mereka dan mengambil alih semua. Aku tidak mau menjadi bagian dari musuh yang kamu tipu. Lagian, kamu sangat kaya. Minta saja dengan orang tuamu," kata Andreas.
Saka mengembuskan napas panjang. Ia bersandar di badan kursi, lalu menatap Andreas. "Aku tidak ingin kembali ke Amerika. Aku akan menetap di sini bersama Sara."
"Kamu sungguh mencintai seorang wanita? Biar aku beri kamu satu nasihat. Dalam dunia kita, tidak boleh ada yang namanya cinta. Istri, anak, mereka semua bisa melemahkan kekuatan yang kita punya."
Saka membisu mendengarnya. Andreas memang benar, bahkan ia tidak mendapat kasih sayang karena latar belakang dari sang ayah.
Tuan Bernad rela membuang Belinda karena hamil. Seharusnya pria seperti Saka tidak boleh punya sisi baik. Dengan mencintai Sara, sama saja memberi musuh peluang untuk menghancurkannya.
Saka terkekeh. "Bernad bahkan membawaku kembali ke Amerika. Itu menandakan dia menyayangiku. Ya, meski selalu bersikap dingin."
"Dia hanya ingin kamu menjadi penerus," jawab Andreas.
"Sudahlah kalau kamu tidak mau menerimaku. Tapi aku ingin minta bantuanmu. Berhubung aku pernah menyelamatkan nyawamu, aku ingin kamu membalasnya."
"Heran! Hutang budiku tidak pernah habis denganmu." Andreas menggerutu. "Katakan!"
"Kirim pesan kepada pria yang menyuruhku pulang. Katakan kepadanya kalau aku tidak akan pernah kembali. Mulai hari ini, aku bukan lagi bagian dari dirinya. Jangan lupakan satu kejutan untuknya. Dia akan menjadi seorang kakek," ucap Saka.
Andreas tersenyum. "Kabar baik. Aku akan memberi pesan itu langsung. Aku sangat penasaran dengan apa yang akan pria itu lakukan nantinya."
Saka keluar dari ruang kantor Andreas. Tekadnya sudah bulat untuk memutus hubungan dari kedua orang tua. Saat ini keluarga Saka hanya Sara, calon anaknya, sahabat dan sang nenek yang telah memberi warisan.
...****************...
Keadaan Sara sudah cukup membaik setelah mengonsumsi pil mual yang diberikan dokter. Ia juga semakin rajin mencari tahu tentang kehamilan bagi wanita yang baru pertama kali mengandung di internet. Sara juga sudah mewanti-wanti suaminya untuk tidak beraktivitas di ranjang sampai batas waktu yang ditentukan.
Mendengar larangan untuk saling tidak menyentuh, Saka malah heran. Bukannya Sara yang terakhir kali sangat ganas. Untungnya waktu itu tidak terjadi hal yang tidak terduga. Janin di dalam kandungan istrinya sangat kuat.
"Bee, kamu sudah siap?" tanya Saka di balik pintu kamar.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Sara.
"Selalu cantik."
"Terima kasih," balas Sara.
Malam ini, mereka akan pergi ke kediaman Ayu Prameswari. Saka akan mengatakan kepada sang nenek tentang kabar baik yang menghampiri mereka.
"Kita harus berangkat sekarang," kata Saka.
Sara mengangguk. "Ayo, kalau begitu."
Keduanya keluar dari rumah menuju mobil yang sudah menyala. Tadi Saka memang memanaskan dulu mesin kendaraan miliknya. Jadi, mereka tinggal naik, lalu berangkat.
Beberapa menit perjalanan, Saka dan Sara sampai di kediaman lama. Ada beberapa mobil yang ada di halaman rumah dan terlihat familiar bagi Saka.
"Kurasa bukan hanya kita yang datang," ucap Saka.
"Apa ibumu juga datang?" tanya Sara.
"Sepertinya. Lebih baik kita segera masuk."
Saka dan Sara disambut oleh pelayan rumah. Benar saja dugaan dari Saka. Keluarga ibunya serta bibinya hadir di kediaman lama. Ayu Prameswari tersenyum senang melihat kedatangan cucu-cucunya.
Saka langsung memeluk orang tua renta itu. "Nenek apa kabar?"
Saka tertawa. "Aku tidak akan membiarkan itu."
"Nenek, kamu melupakanku," sela Sara.
"Eh, mana mungkin," ucap Ayu.
Sara turut memeluk Ayu Prameswari, lalu ia berpindah bersalaman dengan Belinda, Hartawan, Arya, Lisa dan Dery. Keempat orang itu memang datang ke kediaman setelah Ayu menghubungi mereka.
"Kalian duduklah. Aku sengaja menyuruh kalian datang karena Saka ingin memberitahu kita sebuah kabar baik," ucap Ayu.
"Aku penasaran kabar itu," sahut Arya.
Sara mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya, lalu memberikannya kepada Ayu. Sang nenek yang penasaran segera membuka hadiah itu.
"Oh! Seorang cicit," kata Ayu.
"Iya, Nek," jawab Sara seraya menyunggingkan senyum bahagia.
"Oh, ini berita yang sangat baik. Aku mendapatkan seorang cicit. Datang padaku dan peluk orang tua renta ini."
Sara dan Saka memeluk Ayu Prameswari. Raut wajah Arya dan Dery berubah. Saka akan punya anak, dan harta warisan itu sudah dipastikan jatuh ke tangannya.
"Selamat, Sayang. Kami akan dapat cucu," ucap Belinda dengan senyum mengembang.
Ayu tertawa bahagia. "Ayo, kalian beri selamat kepada Saka dan Sara."
Masing-masing memberi ucapan selamat. Entah tulus atau tidak, Saka dan Sara tidak peduli karena awalnya, kabar baik ini untuk sang nenek.
"Ambilkan hadiah untuk cucu menantu dan cucu tersayangku, Saka," ucap Ayu kepada sang asisten.
"Nenek jangan repot-repot," kata Sara.
"Ini hadiah untuk kalian."
Asisten datang membawa sebuah amplop coklat dan kotak sedang berwarna hitam. Barang itu diserahkan kepada sang atasan yang duduk dengan anggunnya.
"Saka, Sara, kemarilah," kata Ayu.
Saka dan Sara duduk berlutut di depan sang nenek. Ayu Prameswari menyerahkan kotak hitam itu pada Sara, lalu amplop coklat kepada Saka.
"Aku sudah menjanjikan rumah ini dan beberapa properti untuk cicitku yang akan lahir. Kalian pergunakan ini untuk sebaik-baiknya."
"Terima kasih, Nenek," ucap Saka dan Sara bersamaan.
"Ayo, kalian duduk di kursi. Hari ini penuh dengan kebahagian." Ayu Prameswari menatap putrinya. "Belinda, kamu mendapatkan cucu."
Belinda tersenyum. "Iya, aku turut senang."
Sialan! Saka menguasai semuanya. Dia malah mendapat keberuntungan yang tiada habisnya. "Selamat sekali lagi Kakak dan Kakak ipar," ucap Arya.
"Terima kasih, Arya," balas Sara.
"Istri Indra hamil, kamu juga hamil. Kalian sangat serasi."
Sara berdehem, "Kami tidak cocok, itu sebabnya kami berpisah."
"Indra itu masa lalu bagi Sara," sahut Saka.
"Bukan! Tapi ada seseorang yang tidak tau diri merebut milik orang lain," balas Arya.
"Sialan! Jika kamu tidak tau apa yang terjadi, jangan banyak mulut!" ucap Saka dengan nada tinggi.
"Cukup! Ini hari bahagiaku. Jangan membuat keributan," ucap Ayu.
Bersambung