
Sara terus berada di dekat jendela kamar sembari memandang arah bawah, tepatnya pada gerbang yang sedari tadi belum terbuka. Sudah sangat sore, tetapi Saka belum juga kembali.
Bahkan, nomor ponsel dari pria itu tidak bisa dihubungi. Sejak pagi sampai sekarang mereka belum bertemu. Sara ingin bermanja pada suaminya sebelum menghadapi pekerjaan yang bertumpuk. Sara akan sangat sibuk nantinya.
Sara beranjak dari duduknya ketika penjaga membuka pintu gerbang dan mempersilakan seorang pengendara motor masuk ke dalam halaman rumah. Sara langsung berlari keluar rumah untuk menyambut sosok pria yang datang.
"Motor baru, Tuan?" tanya penjaga.
"Iya, Pak. Eh, kenapa memanggilku Tuan?" tanya Saka.
"Kan, Tuan, suami dari nona Sara."
"Panggil biasa saja. Aku tidak terbiasa," ucap Saka.
Penjaga itu tersenyum. "Siap, Bang."
Pintu rumah terbuka, Sara keluar dengan pose tangan melipat di perut. Jelas wanita itu tengah marah karena Saka baru pulang ketika matahari benar-benar ingin tenggelam.
Saka tersenyum, mendaratkan kecupan di kening istrinya. "Istri imutku lagi marah?"
"Ke mana saja? Aku kesepian."
"Baru sehari, kamu sudah kangen," kata Saka.
"Besok, aku sudah mulai bekerja."
"Memangnya kamu akan bekerja terus dan tidak tidur? Kita masih bisa bersama saat kamu pulang untuk mengistirahatkan diri."
"Aku akan pulang larut malam," kata Sara.
"Lebih baik kita masuk dulu. Aku perlu membersihkan diri."
Saka merangkul pundak Sara, dan hendak membawanya masuk, tetapi Sara menahan badan Saka untuk melihat kendaraan roda dua yang menarik perhatiannya.
"Kamu beli motor?" tanya Sara.
"Sudah beberapa hari yang lalu. Saat itu aku ingin memperlihatkannya, tetapi kamu sibuk mengurus Indra. Oh, ya, aku sudah menyewa rumah. Nanti kita bahas karena aku butuh mandi untuk saat ini.
Keduanya masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar di lantai atas. Saka melirik Dini yang duduk dengan memegang majalah tanpa menegurnya. Lama-lama Saka menjadi kesal terhadap gadis itu. Sok berkuasa hanya karena lebih dulu berada di sisi istrinya.
"Mau mandi air hangat?" tawar Sara.
Saka menggeleng. "Tidak perlu. Siapkan saja pakaianku." Saka memandang lekat istrinya. "Bee, aku ingin pindah dari sini besok."
"Besok? Tapi aku belum siap-siap."
Saka tersenyum. "Bawa pakaian seadanya dulu. Aku akan bantu kamu membereskannya nanti."
"Besok siang jadwal pemotretan, aku bisa mengepak barang pada pagi hari. Hanya bawa pakaian saja, kan?"
Saka mengangguk, mengusap lembut kepala istrinya. "Iya, semua sudah lengkap. Hanya pakaian saja yang dibawa."
"Sekarang kamu mandi, dan kita turun makan malam."
"Aku ingin memakanmu dulu," ucap Saka, lalu maju mendaratkan kecupan di atas bibir sang istri.
Keduanya melangkah mundur hingga terjungkal di atas tempat tidur yang empuk. Tangan Saka menyusur ke bawah, menelusup masuk ke dalam dress yang istrinya kenakan.
Menarik kain segitiga bahan katun ke bawah hingga terlepas dari kaki jenjang Sara. Saka membelai dengan jari-jari nakalnya di sana. Membuka inti kemerahan sensitif, mencari bagian terimut yang dapat membuat Sara melayang.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Sara, ketika Saka turun ke bawah, menghadap sekuntum mawar merah.
Sara mencengkeram kuat seprai ketika Saka membasahi intinya dengan indra perasa. Membentuk lingkaran-lingkaran kecil di atas putik.
Saka memandang lekat inti kemerahan itu, membukanya lebar, lalu menyapukan daging tak bertulang pada kelopak yang merekah. Mendengar suara Sara, membakar gairah Saka.
"Hentikan, Boo. Aku tidak tahan," ucap Sara.
Saka mana peduli. Setumpuk daging itu seperti kue tart dengan serpihan krim putih yang baru saja keluar. Ini kenikmatan tersendiri untuk dapat melahapnya. Hanya pria beruntung dan pandai bisa mengeluarkannya.
"Sara!"
Suara Dini dan ketukan pintu mengacaukan semuanya. Saka berdecak, menarik diri, lalu menurunkan dress istrinya. Ia bangun dengan melangkah membuka pintu.
Saka mendorong tubuh Dini, ia keluar dengan menutup pintu dan menahan gagangnya. Saka ingin bicara kepada sahabat istrinya tanpa mengizinkan Sara untuk ikut campur.
"Sepertinya aku menganggu kalian," ucap Dini tidak enak hati.
"Wanita sok sibuk!"
"Aku tidak sengaja," kata Dini.
Wanita itu mengibaskan tangannya karena menghirup aroma yang hanya para perempuan yang tahu apa itu. Dini telah menggangu seekor macan yang ingin melahap mangsanya, dan wajar predator itu begitu marah.
"Pergilah dari sini! Dasar pengganggu!" ucap Saka.
"Aku sudah minta maaf! Kamu malah berkata kasar padaku. Aku kemari hanya untuk memanggil Sara!"
"Saka! Buka pintunya," teriak Sara dari dalam.
Saka menatap tajam Dini. "Jangan sekali-kali kamu mengusikku. Aku bukan orang dengan tingkat kesabaran tinggi. Tingkahmu itu sudah membuatku muak!"
Saka melepas gagang pintu, Sara akhirnya bisa keluar. "Kalian kenapa?"
"Maafkan aku karena menganggu," kata Dini.
Sara melihat raut wajah Saka yang menahan amarah. "Boo, kamu bersihkan dirimu. Aku dan Dini menunggumu di bawah."
Sara meraih tangan Dini, mengajaknya turun ke bawah bersamaan, sedangkan Saka masuk ke dalam kamar. Air dingin bisa meredakan amarah dirinya yang baru saja terpancing.
"Aku bisa menahan emosiku saat ini. Jika Dini memancingku dalam amarah lagi, aku pastikan wanita itu tinggal nama," gumam Saka.
Dini dan Sara sudah berada di ruang makan dengan menata piring serta menu makan malam yang tadi sore mereka buat bersama.
"Aku harap kamu menghormati privasi kami, Dini," ucap Sara.
Dini tersentak. Menatap wajah Sara lekat. "Aku sungguh tidak sengaja."
"Jika aku bersama Saka, lebih baik jangan mengangguku."
"Ya ampun! Aku sungguh minta maaf!" kata Dini dengan dibumbui emosi. Kesal karena sesungguhnya ia tidak sengaja menganggu kebersamaan Saka dan Sara.
"Apa yang membuatmu mencariku?"
"Aku ingin bertanya mengenai pemotretan besok dan membuatmu menyiapkan makan malam."
Sara menaikkan satu alisnya. "Hanya itu?"
Dini mengangguk. "Iya."
"Alasanmu terlalu buruk. Aku tidak tau apa maksudmu sebenarnya, tetapi aku ingin memberitahumu satu hal. Besok, aku akan pindah dari rumah ini."
"Pindah? Cepat sekali," kata Dini.
"Aku akan sesekali pulang kemari. Statusku sudah berubah dan lebih baik kami punya rumah sendiri," kata Sara.
"Kamu membuatku merasa bersalah. Apa kamu melupakan orang yang selalu berada di sampingmu?"
"Kamu memang berjasa kepadaku. Tapi keraguanmu terhadap Saka terlalu berlebihan. Susah atau senang itu urusan pribadiku," ucap Sara.
"Mulai hari ini, aku tidak akan ikut campur lagi," jawab Dini.
Perhatian Dini memang terlalu berlebihan. Sara mengerti jika sahabatnya itu menginginkan hal terbaik untuknya. Dini ingin Sara bersama pria yang melebihi Indra, sedangkan Saka jauh di bawah.
Bersambung