Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Tewasnya Indra



Indra meringkuk ketika ia mendengar suara langkah kaki. Sebenarnya Indra telah dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Beritanya dengan kondisi gila membuat heboh tanah air. Berbagai media selalu menjadikannya topik utama.


Belum lagi perusahaan Indra yang menderita kebangkrutan. Aset miliknya dijual untuk membayar hutang dan gaji karyawan. Belum lagi aset hasil korupsi yang telah disita. Habis sudah kemewahan yang selama ini Indra banggakan.


Suara siulan malah membuat keadaan semakin mencengkam. Indra sadar setiap saat selalu saja ada yang meneror dirinya. Ketika mengatakan hal itu kepada dokter di penjara, ia malah disangka sakit jiwa.


Indra tahu mereka semua ingin menjatuhkannya. Pasti Saka yang telah merencanakan hal ini untuk menyiksanya. Indra tidak lagi bisa menemui keluarganya, bahkan Velia tidak kunjung datang.


Suara dari gembok dibuka terdengar. Mata Indra menatap gagang kunci yang terbuka. Menampilkan seorang pria bertopeng dengan jubah hitam.


Pintu ditutup. Indra memeluk kakinya karena takut. Dalam sekejap saja, semua kepintaran, ketampanan berganti dengan sosok penakut dan mayat hidup. Indra merasa ada sesuatu hal yang menggerogoti tubuhnya. Setiap malam ia kesakitan, tetapi dokter malah menyatakan dia sehat. Mereka semua menganggap Indra tidak terima di penjara, lalu berpura-pura. Indra dianggap tidak waras.


"Sudah lama tidak bertemu."


Indra mendongak melihat sosok yang masih menyembunyikan dirinya. Orang asing yang berada di depannya ini, berbeda dari yang setiap malam berkunjung ke kamar rawatnya.


"Siapa kamu?" tanya Indra.


"Masih sadar rupanya."


Pria itu membuka topeng yang ia kenakan, lalu jubahnya. Indra terbelalak melihat pria yang dikenal olehnya. Pria yang lima tahun lalu ia habisi dengan kejam bersama teman-temannya. Ide Indra yang meminta Anton untuk menghabisi nyawa Saka.


"Kenal aku?"


"Saka!"


Saka tertawa. "Iya, ini aku. Kamu tidak terkejut aku datang, kan?"


"Mau apa kamu? Sudah cukup siksaan yang kamu berikan. Kamu membuatku seperti ini."


"Sadar diri rupanya," ucap Saka. "Tenang saja, Indra. Aku di sini ingin membebaskan dirimu. Kembalilah kepada istri serta anak-anakmu."


"Benarkah?"


Saka tertawa lagi. "Lihatlah, otakmu sudah tidak berfungsi lagi."


"Kamu gila!" kata Indra.


Mendengar hal itu, Saka tidak bisa menghentikan ledak tawanya. Orang sakit jiwa mengatakannya gila juga. Memang Saka gila dengan menghabisi musuhnya tanpa ampun.


"Harusnya kamu berterima kasih kepadaku. Dari penjara ke rumah sakit jiwa. Setidaknya kamu di rawat oleh perawat yang baik hati," kata Saka.


"Pergi kamu! Tolong!" teriak Indra.


"Teriak saja sampai sepuas yang kamu mau. Sampai urat lehermu putus tidak akan ada yang datang. Kamu tau kenapa dirimu dipindah kemari?" Saka mencengkeram kedua sisi pipi Indra. "Agar aku leluasa menyiksamu. Supaya kamu tau bagaimana menderitanya aku selama ini."


Indra menggeleng. "Jangan! Maafkan aku."


"Maaf? Simpan maafmu untuk bekal di akhirat sana."


Saka mengeluarkan alat suntik dari sakunya. Ia membuka penutup itu dengan mulut, lalu menarik tangan Indra.


"Jangan," pinta Indra memohon.


Saka menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuh Indra. Ia tersenyum sinis. Di hatinya sama sekali tidak ada rasa kasihan untuk melepaskan Indra dari penderitaan. Saka membuang jarum itu begitu saja setelah selesai membuat Indra tidak berdaya.


"Kita tunggu lima menit. Aku sangat suka pertunjukan menyakiti diri sendiri," ucap Saka.


Dari dalam jubahnya, Saka meraih belati lipat. Ia melemparkan benda tajam itu ke hadapan Indra. Kemudian ia menarik kursi besi yang berada di dekat brankar pasien, lalu duduk dengan mengangkat kaki kanan ke tumpuan kaki kiri. Sayang sekali tidak ada tembakau yang bisa dibakar. Jika ada, maka akan lengkap pesta kecil Saka kali ini.


Reaksi dari cairan yang disuntikan oleh Saka mulai menimbulkan gejala. Tubuh Indra bergetar hebat, ia menggaruk kulitnya dengan kuat.


Indra menuruti kemauan Saka. Ia meraih belati itu. Meski ia tidak menginginkannya, tetapi rasa di dalam tubuh sangatlah menyiksa. Indra mengiris kulitnya. Rasa itu berkurang, tetapi tidak lama sakitnya malah mulai lagi. Indra mengulang lagi melukai kulitnya. Sakitnya berkurang, tetapi tidak lama mulai kembali sakit yang menyiksa. Indra seperti dibuat ketagihan melakukannya.


Saka tertawa. "Obat baru ini rupanya sangat ampuh untuk menyiksa musuh. Jika dijual di pasar gelap, maka aku akan semakin kaya."


"Tolong aku," ucap Indra lirih.


Saka menunjukkan lehernya. "Kamu bisa terlepas dari siksaan."


Indra mengangguk, ia melakukan apa yang Saka perintahkan. Napasnya tersengal, cairan merah merembes dari lehernya. Indra tiada karena ulahnya sendiri.


Saka bersiul, lalu berkata, "Seorang tersangka korupsi telah bunuh diri karena merasa bersalah atas kejahatan yang merugikan banyak pihak. Seorang suster diserang selagi memeriksanya. Tuan Indra menghabisi nyawanya dengan belati yang disembunyikan di dalam sarung bantalnya." Saka tertawa setelah mengucapkan kata-kata itu. "Karangan itu yang akan menjadi topik berita besok pagi. Judulnya Tuan Indra tewas bunuh diri. Aku sangat baik, Indra. Kamu akan mati bersama istrimu. Aku beritahu judul kematian istrimu. Judulnya, Nyonya Velia mati bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban hidup."


Saka memasang jubah dan topengnya. Ia menarik pintu, lalu keluar. Sudah ada orang-orang yang akan mengurus Indra.


"Lakukan serapi mungkin. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan," ucap Saka.


"Siap, Tuan."


...****************...


"Kamu dari mana?" tanya Sara.


Saka sudah berganti pakaian, dan ia telah membersihkan diri di rumah lainnya. Rumah yang Sara tempati berbeda dari kediaman Saka yang menawan sang ibu dan lainnya.


"Aku ada urusan," jawab Saka.


"Apa yang kamu lakukan? Aku melihat berita online. Kebakaran hotel di Bali. Itu milik keluarga Hartawan."


"Besok, kamu akan melihat berita kematian mantan kekasihmu," ucap Saka.


Sara tersentak, ia mundur ke belakang untuk menjauhi sosok yang ada di hadapannya. Flora berlari dengan memeluk kaki Saka.


"Papa!" serunya.


"Nak," ucapnya sembari mengusap puncak kepala Flora.


"Kemari, Flora," seru Sara.


"Bee, kamu takut padaku?" tanya Saka.


"Aku akan siapkan makan untukmu."


Sara bergegas menuju dapur. Saka bukan lagi pria seperti dulu. Sikapnya berubah-ubah. Kadang sangat lembut, dan kadang pula sangat kejam terlihat dari ucapannya barusan.


Berita kematian Indra dan artinya mantan kekasihnya telah tiada. Lalu, ke mana mertuanya yang dibawa oleh Saka waktu itu? Sara ingin mereka mendapat balasannya, tetapi menghabisi nyawa orang lain rasanya sangat kejam.


"Beginilah hidupku, Sara," ucap Saka.


Sara terkesiap, piring yang ia pegang jatuh ke lantai. "Maaf."


Saka mendekat, lalu meraih tangan istrinya. "Kamu takut."


Sara menggeleng. "Tidak."


Saka tersenyum. "Kalau begitu, bersiaplah untuk menonton pertunjukan yang memukau."


Bersambung