
"Floraaaa!" teriak Belinda.
Gadis kecil berumur empat tahun lekas berlari ke dapur. Ia menyelip di antara dua kaki sang ibu yang tengah mencuci piring. Flora bersembunyi dari kejaran sang nenek yang meneriaki namanya.
"Apalagi yang kamu perbuat, Flora?" tanya Sara.
Ia tidak habis pikir dengan tingkah sang buah hati. Setiap hari ada saja teriakan dari Belinda, Hartawan maupun Arya. Gadis kecilnya senang sekali membuat keributan pada ketiga orang dewasa tersebut.
"Mama, nenek marah," ucap Flora.
Langkah sepatu bertumit tinggi terdengar. Flora memeluk satu kaki Sara. Ia tahu jika sang nenek tengah berjalan ke dapur. Ia memejamkan mata sampai suara dari Belinda terdengar.
"Iblis kecil ini malah meringkuk di bawah kaki Ibu-nya," ucap Belinda.
"Ada apa, Ma?" tanya Sara.
"Lihat anakmu itu! Semua barang di rumah ini akan rusak dan pecah karena ulahnya. Kemarin bunga di taman habis ia petik. Lalu, vas bunga kesayanganku pecah dan sekarang anakmu itu telah memecahkan lotion wajah milikku. Kamu tau harga lotion wajah itu, kan? Kamu tidak akan mampu membelinya," ucap Belinda.
"Harta dan uangku ada padamu. Pakai saja semuanya. Toh, aku tidak memerlukannya. Sudah lima tahun aku terkurung di sini dan putriku tidak bisa melihat dunia luar karena kalian!" ungkap Sara.
"Lancang sekali kamu mengungkit soal harta. Semua itu adalah milik mendiang ibuku."
"Saka adalah anakmu. Flora cucu kandungmu. Kalian bahkan tega memperlakukan kami sebagai pelayan. Saka telah tiada. Aku dan Flora sudah tidak ada hubungannya bersama kalian. Lalu kenapa, kalian masih ingin menahanku di sini," ucap Sara.
Sara sudah menerima kenyataan jika suaminya sudah tiada. Ia ingin hidup bersama Flora berdua saja. Sara juga sudah bersumpah akan pergi ke kota lain dan tidak akan memberitahu perlakuan ibu mertuanya kepada pihak berwajib. Namun, Arya dan mertuanya tetap tidak ingin mereka bebas.
"Membebaskan dirimu dan Flora?" sahut Arya.
Flora membuka matanya. Ia semakin mempererat pelukannya pada kaki Sara. Arya adalah orang yang ia takuti. Jika sang paman berada di rumah, lebih baik ia terus berdiam di kamar.
Arya tertawa. "Putrimu itu milik Anton. Enak saja mau bebas." Arya membungkuk, ia membelai wajah manis dari Flora. Sara beringsut mundur dengan meraih Flora tetap berada di sisinya. "Sungguh cantik. Dia akan jadi rebutan ketika dewasa nanti."
"Jangan dekati Flora!" bentak Sara.
Arya mengepal, ia menegakkan tubuh memandang Sara. "Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu. Jangan bersikap kurang ajar padaku!"
Plak!
Sara memegang sebelah pipinya yang terasa panas. Flora menangis melihat sang ibu. Belinda meraih cucunya, tetapi Flora bersikeras untuk bersama Sara.
"Ikut Nenek," ucapnya.
"Mama!" panggil Flora.
"Ikut aku," ucap Arya dengan mencengkeram rambut Sara.
"Mama!" seru Flora meronta. Gadis kecil itu ingin melepaskan diri dari pegangan Belinda.
"Jangan nangis. Ayo, kamu ke kamar saja."
Belinda menggendong Flora. Ia bergegas membawa sang cucu ke dalam kamar. Sementara Arya menarik Sara masuk ke dalam ruang pribadinya.
Sara dilempar ke atas tempat tidur. "Jangan lakukan ini padaku."
"Layani aku atau kamu ingin dipukul," kata Arya membuat pilihan.
"Sampai mati aku tidak akan memberikan tubuhku," ucap Sara.
"Sialan! Aku sudah cukup bersabar untuk tidak memaksamu. Kamu masih saja keras kepala."
Arya melepas sabuk pinggangnya, lalu melayangkan tali kulit itu ke tubuh Sara. Beberapa kali ia meluapkan kekesalannya karena Sara terus saja menolak apa yang ia inginkan.
Arya menghentikan pukulannya. Ia membuka secara paksa pakaian yang Sara kenakan. Arya mengecup luka-luka memar yang ia sebabkan.
"Hentikan, Arya. Aku akan bunuh diri jika kamu melakukannya," ucap Sara.
"Dia masih hidup! Saka hidup di dalam hatiku. Dia tidak mati!" ucap Sara menegaskan.
Pintu dibuka. Belinda masuk dengan membawa selimut. Arya beringsut berdiri dari tubuh Sara. Ia berdecak melihat sang ibu yang membantu menutupi setengah tubuh polos Sara.
"Izinkan aku menikahi Sara," kata Arya.
"Hentikan omong kosongmu itu! Sudah gila dengan menyiksa Kakak iparmu?" ucap Belinda.
"Aku cuma ingin menikahinya! Kurang baik apa niatku ini?" tanya Arya.
Berulang kali Arya ingin menikah Sara, tetapi Belinda sama sekali tidak menyetujuinya. Jika Arya sampai berani berbuat hal yang keterlaluan, maka Belinda tidak akan membagi satu persen pun harta untuk putranya.
"Mama tidak setuju? Sara akan tetap menjadi Kakak iparmu."
Arya mendecakkan lidah. "Aku mau keluar membawa Flora."
"Jangan, Arya," cegah Sara.
Arya tidak memperdulikan teriakan Sara. Ia masih dengan kehendaknya ingin membawa Flora kepada Anton.
"Flora akan baik-baik saja. Arya tidak sekejam itu pada anak kecil berumur empat tahun," ucap Belinda.
"Puas!"
"Seharusnya kamu bersyukur. Aku menahanmu dan Flora di sini karena ingin menjagamu. Jika kalian di luar sana, entah apa yang akan dilakukan Arya," tutur Belinda.
"Aku belum gila untuk bersyukur tinggal di neraka ini."
"Terserah. Obati lukamu dan istirahat saja," ucap Belinda, lalu beranjak dari kamar tidur Arya.
...****************...
"Flora mau ikut mama," rengeknya.
"Diam! Kalau nangis, kamu bakal ditinggal. Kamu mau dikurung lagi di toilet?" kata Arya.
Flora menggeleng cepat. "Enggak mau."
Arya mengusap rambut keponakannya. Flora menatap jalanan. Ia baru bisa keluar kalau Arya yang membawanya. Tapi bukan di taman, pusat perbelanjaan Flora akan dibawa, melainkan ke tempat Anton, rekan dari Arya.
"Pakai masker tutup mulut. Kita sudah mau sampai," kata Arya.
Flora menaikan masker bergambar kartun sampai ke hidung. Mobil berhenti di sebuah gedung bertingkat. Arya turun lebih dulu. Ia berjalan cepat menuju pintu mobil penumpang untuk membawa Flora turun.
"Kalau sama paman Anton kamu jangan nangis, ya," kata Arya.
Flora mengangguk. Arya menggendongnya masuk ke dalam gedung apartemen. Ia disambut oleh penjaga yang sudah tahu kalau Arya akan datang sebab Anton sudah menelepon bagian penerima tamu lebih dulu.
Keduanya masuk ke dalam lift menuju lantai sepuluh. Sesampainya di tujuan, Arya membawa Flora menuju kamar dua puluh empat kediaman dari Anton.
Bel ditekan. Tidak berapa lama pintu dibuka bersama Anton yang tersenyum karena Arya datang bersama gadis ciliknya.
"Flora sayang datang juga akhirnya." Anton mengambil alih Flora dari tangan Arya. Ia membuka masker tutup mulut gadis kecil itu, lalu mengecup kedua belah pipinya. "Makin hari Flora makin cantik saja. Paman jadi ingin bersama Flora terus."
"Kamu punya kelainannya?" tanya Arya.
"Aku normal. Ingat, ya, Arya. Flora sudah kamu berikan padaku."
"Kamu ingin Flora menjadi pengantinmu?"
Anton tertawa. "Dia akan kujadikan sumber uang bagiku. Flora yang cantik. Bayangkan saja jika dia sudah besar berapa banyak pria yang tergila-gila padanya. Aku akan menjadikan Flora wanita tangguh, tetapi berbisa."
Bersambung