
Ulang tahun Ayu Prameswari hanya dihadiri oleh keluarga besar. Kerabat jauh maupun dekat, hadir di hari jadi ke delapan puluh usia wanita itu.
Rambut putih, garis-garis keriput sudah tercetak jelas di wajahnya. Meski begitu, sisa-sisa kecantikannya masih terpancar. Ayu Prameswari begitu anggun. Ingatannya begitu kuat dan pendengarannya masih sangat jelas.
"Kalian selalu repot untuk hari ulang tahunku," ucap Ayu.
"Sama sekali tidak, Ma. Aku datang bersama anak dan suamiku," jawab Belinda.
"Arya, kapan kamu akan menikah? Aku ingin meminta cicit darimu."
"Nenek, aku akan menikah bila waktunya tiba," ucap Arya, lalu memberi kotak berwarna hitam. "Ini hadiah dariku untuk Nenek."
Ayu tersenyum. "Kamu tidak perlu repot memberi hadiah. Kita lihat barang apa yang kamu berikan untuk Si Tua ini."
Ayu membuka kotak itu, sebuah anting emas bermata kecubung ungu sebagai hadiah dari Arya. Sang nenek sumringah melihatnya, lalu menyimpan perhiasan itu di meja yang berada di samping.
"Mama, ini hadiah dari kami untukmu," ucap Hartawan.
Ayu menerima bungkusan itu, lalu membukanya. Satu buah set perhiasan yang diberikan oleh Belinda serta Hartawan. Sudah ada beberapa perhiasan yang didapat Ayu Prameswari di hari ulang tahunnya ini. Tidak ada yang berbeda dari tahun lalu dan sebelumnya. Bila dikumpulkan, ia adalah wanita terkaya di usia senja.
"Apa Sakalingga tidak hadir lagi untuk tahun ini?" tanya Ayu.
"Kemarin Saka mengunjungiku," sahut Belinda.
"Dia tidak lupa dengan hari ini, kan?"
"Nenek jangan harapkan dia datang. Pasti anak itu sudah pergi lagi," sahut Arya.
"Arya! Aku tengah bicara dengan ibumu!"
"Apa yang dikatakan Arya benar, Nek. Saka tidak akan datang," ucap Dery, cucu dari kakak kandung Ayu yang telah tiada.
"Aku dengar dia menikahi model?" tanya Ayu.
"Mama benar. Istrinya sangat cantik," jawab Belinda.
Ayu tersenyum. "Semoga dia lekas memberiku cicit. Kamu bawa Saka menemuiku. Aku merindukannya."
"Nenek, aku di sini!"
Ayu menoleh ke depan, ia sedikit kaget melihat pria yang berjalan bersama seorang wanita karena tidak menyangka Saka akan hadir. Ayu beranjak dari duduknya dengan dibantu sang asisten.
"Cucuku! Kamu datang," ucap Ayu.
"Iya, Nek. Ini aku, Sakalingga."
"Bertahun-tahun tidak pulang. Kamu lebih betah di negara lain daripada di tanah kelahiranmu," kata Ayu.
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak diinginkan di sini," jawab Saka.
Ayu memeluk cucunya. Di umur senjanya masih beruntung bisa melihat sang cucu tumbuh dewasa. Apalagi Saka sudah memiliki seorang istri.
"Ini istriku, Nek. Namanya Sara," kata Saka.
Sara langsung meraih punggung tangan wanita itu, lalu mengecupnya. Ayu memeluk Sara, mengecup kening sang cucu menantu.
"Ini hadiah dari kami berdua, Nek." Saka memberi dua bungkus kado kepada Ayu.
Sang asisten membawa Ayu duduk kembali, dan membantu membuka hadiah dari kedua cucunya. Sebuah kain batik dari Sara, lalu teko teh cina, dua kantong teh hitam, dan mukena.
"Hadiah apa yang kamu berikan itu?" tanya Arya.
"Sepertinya Saka memang sudah miskin. Tapi tidak mungkin seperti itu, dia punya Sara yang terkenal," sambung Dery.
"Aku kasihan padamu, Sara. Melepaskan pria kaya demi bisa menikahi Si Miskin!" kata Arya.
"Setidaknya hadiahku ini lebih bermanfaat daripada milik kalian. Aku yakin sekali kalian semua memberi perhiasan kepada nenek," sela Saka. "Ayolah! Mending perhiasan itu diberikan kepada istriku."
"Kasihan sekali kamu, Nak. Perhiasan saja kamu tidak mampu membelinya. Sara pasti sangat menderita," kata Hartawan.
Saka malah tertawa. "Sejak kapan nama belakang istriku menjadi Hartawan? Nama istriku adalah Sara Aprilia Lingga."
"Hentikan!" ucap Ayu.
"Nek, Saka telah menghinamu. Dia memberimu teh, teko, serta mukena. Dia menyuruhmu untuk mati sekarang juga. Terlebih lagi Sara yang memberi kain batik panjang," kata Arya sembari tertawa.
"Betul, Nek. Saka menginginkan umurmu pendek. Dia pasti ingin berebut warisan. Tapi kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi," sambung Dery.
Semalam, saat Sara membungkus hadiah itu, ia juga ragu untuk menjadikan barang tersebut sebagai hadiah. Bahkan Sara meminta Saka untuk menemaninya membeli perhiasan, tetapi suaminya itu menolak, dan mengatakan jika barang mereka adalah yang terbaik. Sekarang Sara menyesal menuruti perkataan Saka maupun Dini. Mereka malah dituduh mendoakan Ayu Prameswari meninggal demi mendapatkan warisan.
Saka menoleh pada sang nenek. "Apa Nenek tidak menyukai hadiahku?"
Ayu Prameswari tersenyum. "Ini hadiah terbaik yang Nenek dapatkan."
"Nenek!" bantah Arya.
"Diam Arya!" bentak Ayu.
"Sudah, Nak. Biarkan Nenekmu bicara," bisik Hartawan.
"Teh hitam ini sangat bagus untuk lansia. Meminumnya akan membuat ingatanku tetap kuat. Mukena ini pengingat kepada Tuhan. Aku dan suamiku berbeda kepercayaan, tetapi kami saling menghormati. Lalu kain batik panjang ini sebagai tanda bahwa aku tidak muda lagi. Maut kapan saja bisa datang," tutur Ayu.
"Cucumu ini tidak akan memberimu barang yang tidak berguna, Nek. Perhiasaan atau barang mewah lainnya tidak akan dibawa mati," ucap Saka.
"Cucuku sudah sangat dewasa. Sekarang nikmati hidangannya. Setelah itu, kita berkumpul lagi. Aku ingin mengumumkan sesuatu kepada kalian," ucap Ayu.
Saka membawa Sara mencicipi hidangan yang tersedia. Dari pengamatan Sara, keluarga yang baik hanyalah sang nenek. Tidak ada paman, bibi atau sepupu dari Saka yang menghampiri mereka.
"Boo, aku ingin menyapa ibumu," kata Sara.
"Tidak perlu," jawab Saka. "Kamu makan saja yang banyak."
"Mana bisa begitu. Aku ingin menyapanya."
"Pergi saja kalau kamu mau," kata Saka.
Sara meletakkan piring yang sudah setengah ia habiskan isinya, lalu melangkah menuju perkumpulan sang mertua yang terlihat berbincang dengan para kerabat.
"Tante," tegur Sara.
"Menantumu menyebut Tante? Apa tidak salah?" celetuk Lisa, ibu dari Dery.
Sara ingin menyebut Belinda dengan sebutan "Mama", tetapi ia ragu. Awal pertemuan, Belinda juga tidak protes dipanggil seperti itu.
"Panggil aku, Mama," ucap Belinda.
Sara mengangguk. "Iya, Ma."
"Kenalkan, ini Lisa. Dia Ibunda dari Dery. Kerabatmu juga, lalu ini Sinta, Dewi."
Belinda memperkenalkan satu per satu kerabatnya. Ada juga keluarga dari Hartawan yang hadir di acara tersebut. Sara menjadi tahu jika keluarga Saka sangat besar.
"Sayang sekali, kamu cantik, tetapi memilih suami seperti Saka. Apa Saka sekarang punya pekerjaan?" tanya Lisa.
"Tentu saja aku mencintai Saka. Memangnya apalagi yang bisa menyatukan kami berdua?" jawab Sara.
"Wanita sepertimu memang bisa hidup melarat?"
"Lucu sekali. Sebenarnya Saka keluarga kalian, kenapa kami harus hidup melarat?" tanya Sara.
"Ternyata benar. Kalian datang pasti ingin meminta warisan," kata Lisa.
"Kenapa menuduh kami sembarangan?" tanya Sara. "Jika pun benar kami ingin warisan, bukankah kalian datang kemari juga menginginkan hal yang sama?"
"Lancang!"
Bersambung