
"Sisa tiga lagi. Kita mulai menyerang Raker yang kedua," ucap Saka.
Pendamping Bernad maupun Felix diberi nama Raker. Mereka cuma punya angka diujungnya, seperti One, Two, Three, Four. Itu lebih mudah diingat saja. Dulu Bernad maupun Saka dan Felix memanggil pengawal pribadi mereka dengan kode tersebut.
"Cari tau di mana Raker selanjutnya berada," perintah Saka.
"Baik, Tuan. Secepatnya akan kami urus," sahut Mark.
"Aku yakin sekali Felix tengah berjaga-jaga saat ini," kata Saka.
"Apa kita melakukannya seperti korban pertama?" tanya Josh.
"Kita tidak punya anak buah banyak dan amunisi. Terlebih lagi cara licik seperti itu tidak banyak makan korban," tutur Saka.
"Tuan benar. Besok pagi kami akan bergerak memata-matai musuh," ucap Chen.
Mark mengendarai mobil menuju penginapan tersembunyi mereka. Saka yakin jika kematian Raker pertama sudah sampai di telinga Felix. Pria itu pasti telah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang tengah mengusik ketenangan geng paling teratas di dunia bawah saat ini.
Meja digebrak. Mayat Raker pertama telah ditemukan dan berada di markas geng Black Dragon. Felix murka karena itu. CCTV kelab sudah ditonton yang mana menampilkan wajah Tedy dan Chen yang membuat onar.
"Cari mereka," ucap Felix.
"Mereka berandalan di kota Serendipity dan Bostania. Memang kelompok kecil, tetapi keduanya sama-sama memiliki keahlian. Dulu tuan Bernad tidak dapat merekrut mereka, dan sekarang tidak tahu dengan siapa mereka bekerja sama," tutur Raker ketiga menjelaskan.
"Iya, aku ingat itu. Tapi tuan Bernad tidak pernah memaksa seseorang untuk bergabung dalam kelompok. Kalian pergilah ke Serendipity. Cari kedua pemuda itu. Aku yakin sekali jika mereka bekerja untuk seseorang," ucap Felix.
Kabar mengenai Raker ketiga yang pergi ke Serendipity terdengar di telinga Saka. Tidak sia-sia ia menyelinapkan satu anak buah paling terpercaya untuk mencari infomasi mengenai pergerakan Felix.
Mantan asisten Bernad itu memang pintar, tetapi Saka sepuluh kali lebih licik daripadanya. Felix malah menyuruh orang kepercayaannya ke Serendipity. Saka memang bijak. Secara naluri, mangsa akan menjauh dari musuh. Namun, Saka sebaliknya. Mendekati area musuh jauh lebih aman.
"Selanjutnya bagaimana, Tuan?" tanya Tedy.
"Tentu saja menghabisi Raker kedua dan keempat. Untuk yang ketiga, kita akan habisi bersama Felix. Raker kedua adalah kepala gudang senjata. Menghabisi dia bisa membuat kita menguasai amunisi. Panggil semua bawahan karena kita akan segera menyerang Felix secara terbuka," ucap Saka.
"Siap, Tuan. Kami akan bersiap."
...****************...
"Apa ada kabar dari Raker kedua dan keempat?" tanya Felix.
"Belum, Tuan. Setelah mengantar senjata ke perbatasan kota, mereka tidak lagi kelihatan."
"Ke mana mereka? Sekarang cari mereka," perintah Felix.
"Baik, Tuan. Kami segera memberi kabar."
Seorang pria bersetelan kemeja menghadap Felix dengan membawa sebuah kotak yang dibungkus kertas warna cokelat dan sekelilinginya diberi lakban.
"Ada kiriman, Tuan."
"Kalian sudah periksa?" tanya Felix.
"Tidak ada nama pengirim. Tapi kami sudah memeriksanya melalu alat penguji daya ledak dan tidak ditemukan benda berbahaya, tetapi ada kandungan logam di dalamnya. Mungkin senjata, Tuan," ucap bawahan Felix.
"Coba kamu buka," kata Felix.
Bawahan itu menguncang terlebih dulu kotak yang terbungkus. Ia juga tidak ingin mati sia-sia jika benda di dalamnya sangat berbahaya. Belati tajam merobek-robek kotak itu dan pria yang disuruh membuka bingkisan tersebut terbelalak melihat isi di dalamnya.
"Apa isinya?" tanya Felix.
Bawahan itu meneguk lidah. "Ja-jari, Tuan."
Segera kotak itu diletakkan ke hadapan Felix dan pria itu melihat isi di dalamya. Tiga jari telinjuk dengan cincin yang melekat milik dari Raker pertama, kedua dan keempat.
"Sial! Aku tau siapa yang melakukan ini," ucap Felix marah.
Siapa lagi kalau bukan Saka sebab Felix sangat mengenal ciri-ciri Saka menghabisi musuh. Dari anggota tubuh musuh, salah satunya harus menjadi koleksi pria itu.
Di dalam kotak itu terdapat pesan yang membuat Felix meradang dibuatnya. Selama ini Felix sudah cukup menikmati harta dari Bernad yang pria itu tinggalkan, dan kali ini pewaris aslinya akan datang mengambil.
Mimpimu terlalu tinggi untuk menjadi setara denganku. Aku akan datang mengambil milikku.
"Sakalingga! Dia kembali." Felix meraih senjata, lalu menembak bawahan yang membawa bingkisan tadi. Pria itu langsung terkapar karena timah panas tepat mendarat di jantungnya.
"Selama ini aku telah mencarinya. Tapi Saka tetap seperti belut yang susah ditangkap. Sial! Kali ini aku tidak akan kalah, Saka. Dari dulu kamu lebih unggul dariku, tetapi sekarang tidak akan lagi. Aku yang kali ini akan menang!" ucap Felix dengan tekad kuatnya.
...****************...
Saka tertawa karena ia berhasil menguasai gudang senjata milik Felix. Ah, sebenarnya milik Bernad dan diwariskan kepadanya, tetapi selama lima tahun Felix yang mengambil alih.
"Kalian semua bersiaplah. Kita akan melawan Felix," ucap Saka.
"Tuan, anak buahnya sangat banyak," ucap Josh.
Saka terkekeh. "Kamu pikir tekad mereka akan kuat setelah mengetahui kembalinya diriku? Aku yakin jika kubu Felix terpecah belah saat ini."
Tedy dan Chen terdiam. Jika Bernad tidak bisa menaklukan mereka, maka Saka dengan mudah mengajak keduanya bergabung. Saka bukan tipe pria yang memerlukan banyak bawahan, tetapi dia menyukai anak buah sedikit yang memiliki kemampuan.
"Habisi beberapa anak buah Felix. Siksa dengan kejam. Kita akan menakuti mereka. Saka, si iblis neraka telah kembali. Rasa takut akan meruntuhkan pertahanan mereka," ucap Saka.
"Baik, Tuan. Kami akan laksanakan sesuai perintah."
Mereka bukan mengincar para bawahan dengan level rendah, tetapi pemimpin dari setiap divisi. Setiap jari telunjuk mereka dipotong, lalu dikirimkan kepada Felix.
"Tuan Saka telah kembali. Dia ingin merebut apa yang menjadi miliknya."
"Kita harus bagaimana? Dia sangat kejam dan terbukti dengan tewasnya beberapa pemimpin dari kelompok Black Dragon."
"Aku tidak tau. Aku sangat takut."
Bawahan anak buah Felix mulai bergosip. Rasa takut mulai melanda. Teror semakin banyak dari tewasnya orang-orang kepercayaan pria itu. Felix sudah mencari tahu di mana Saka bersembunyi, tetapi tetap saja tidak ditemukan batang hidung dari pria itu. Gudang senjata yang sudah dikuasai Saka malah kosong. Amunisi dan senjata telah diambil dan Saka sama sekali tidak meninggalkan jejak.
Pesan singkat diterima oleh Felix. Sebuah nomor baru lagi. Felix membacanya dan ia mengumpat.
Aku bosan bermain. Bersiaplah, kita bertempur secara terbuka.
Bersambung