
Ketiga pria itu tertawa mendengar kisah Arya. Obat yang menjadi penyebab kematian Ayu Prameswari didapat dari Anton. Siapa lagi yang punya akses di dunia bawah yang melegalkan obat-obatan terlarang selain pria itu.
"Aku sangat berterima kasih kepadamu, Anton. Kamu yang mempercepat kematian nenekku," ucap Arya.
"Kita teman, makanya aku membantumu," balas Anton sembari menepuk pundak Arya.
"Sekarang rencana selanjutnya apa? Saka sudah kaya," kata Dery.
"Menghabisi Saka! ucap Indra.
"Serahkan ini padaku. Saka hanya sendiri di sini. Sangat mudah untuk menghancurkan dirinya," kata Anton.
"Kita mulai mengatur siasat," timpal Arya.
Keempat pria itu saling bersulang untuk rencana mereka. Satu target dengan empat musuh yang mengelilingi. Nyawa Saka terancam sekarang, dan entah apa yang terjadi nantinya.
****************
Saka ingin mengajak Sara pindah ke kediaman lama. Di sana ada pelayan yang masih tinggal, dan Saka memperpanjang masa kerja mereka.
"Sebenarnya aku lebih suka di sini. Lebih enak saja," ucap Sara.
"Kamu lagi hamil, Bee. Di sana ada banyak orang yang akan menjagamu ketika aku bekerja."
"Apa kamu tidak lagi bekerja jadi tukang ojek?"
Saka mencubit kecil hidung Sara. "Kita sudah diberi banyak warisan. Tentu saja suamimu ini akan bekerja kantoran. Aku akan mengajak Azka juga. Semoga saja dia mau."
Sara mengangguk. "Aku juga tengah melakukan kerja sama bersama desainer Ivan Sarmawan. Kami akan membuat baju untuk ibu hamil."
"Jangan terlalu lelah. Kamu tengah mengandung pewarisku."
"Jangan diingatkan lagi. Itu sudah pasti, Sayangku." Sara mengecup sekilas bibir Saka.
"Apa kita boleh melakukannya?" tanya Saka.
"Tapi kamu harus pelan-pelan."
"Jangan khawatir. Kamu akan tetap merasa puas meski aku melakukannya dengan lembut," bisik Saka sembari mengemut daun telinga istrinya.
"Geli," ucap Sara.
Saka beranjak dari duduknya, ia menyelipkan tangan di punggung dan bawah lutut, lalu mengangkat tubuh Sara. Secara otomatis Sara mengalungkan dua tangannya di leher sang suami.
"Sayangku, aku merindukan sentuhanmu," ucap Sara.
"Kamu selalu tau cara menggoda." Saka mengecup bibir Sara.
****************
Sara setuju pindah di kediaman lama. Memang di sana ada dua pelayan yang akan menemani Sara bila Saka tengah tidak berada di rumah. Job terakhir yang Sara ambil hanya kerja sama bersama Ivan Sarmawan. Setelah itu, ia akan vakum untuk sementara waktu.
"Rumah ini nyaman. Aku akan mengundang Dini kemari," kata Sara.
Saka mengangguk. "Kamu undang saja dia. Oh, ya, kapan pertunjukanmu diadakan?"
"Besok. Mungkin aku akan pulang larut malam."
"Aku akan menemanimu. Suamimu ini juga ingin melihat istrinya berjalan di atas panggung," ucap Saka.
"Kamu akan lihat kehebatanku ini. Supermodel Sara."
"Istriku memang paling hebat," ucap Saka.
Sara tidak lagi menunggu untuk memberi kabar mengenai kepindahannya dengan Dini. Besoknya, sahabat Sara itu langsung berkunjung ke kediaman baru. Sayangnya Dini belum bisa untuk berkeliling melihat rumah yang ditinggali Sara. Mereka harus segera ke hotel tempat diselenggarakannya acara pagelaran busana.
"Setelah ini, aku hanya akan bersantai di rumah," kata Sara.
"Dari dulu kamu sudah bilang untuk membuka cafe, tetapi apa buktinya?"
"Aku kira waktu itu kamu sungguh ingin pensiun dari dunia model. Nyatanya, setekah menikah dengan Saka, kamu malah semakin giat bekerja," kata Dini.
Sara tertawa. "Tapi kali ini aku akan cuti untuk sementara. Ada malaikat kecil yang harus aku jaga."
Dini tersenyum. Ia pun tidak sabar menantikan keponakannya yang akan lahir. Anak Sara dan Saka yang pasti tampan bila seorang laki-laki, dan cantik bila seorang perempuan. Dini melajukan mobil untuk segera sampai di hotel tujuan mereka.
Malamnya, Saka datang ke hotel tempat berlangsungnya acara. Berbekal kartu undangan yang di dapat dari istrinya, Saka bisa duduk dideretan kursi paling depan. Tentu saja Saka datang tepat waktu karena ia tidak ingin melewatkan Sara yang berlenggang lebih dulu di atas panggung. Istrinya mengatakan kalau ia akan memakai baju istimewa.
Acara dimulai dengan mendengarkan kata sambutan dari desainer Ivan Sarmawan, lalu musik dari penyanyi terkenal. Saka sungguh tidak mengenal artis Ibukota, tetapi ia menikmati setiap lagu yang dibawakan. Selanjutnya model-model yang mulai berjalan.
Satu per satu pria dan wanita berjalan memperagakan pakaian yang mereka kenakan. Saka tidak sabar untuk giliran Sara, ia bahkan sudah siap dengan ponsel untuk dokumentasi.
Mata Saka tetap fokus ke bagian pintu masuk panggung karena di sanalah model itu keluar. Setelah melewati dua wanita, Sara muncul. Saka tersenyum, ia mulai memotret Sara. Namun, Saka tidak menyangka ketika melihat tamu yang ikut mengambil gambar istrinya.
Biasanya, tamu undangan akan memotret para model ternama saja. Sara rupanya sangat terkenal sampai banyak orang yang mengabadikan dirinya.
"Istriku cantik," gumam Saka.
Dalam hati Saka berdoa. Ia sangat takut melihat Sara yang memakai sepatu bertumit tinggi dan kebaya panjang yang menyapu lantai. Pakaian nasional buatan Ivan Sarmawan sangat indah, dan Saka berharap istrinya dapat berjalan dengan baik.
"Hati-hati, Bee," ucapnya pelan.
"Anda mengenal istri saya?" tanya seorang pria yang duduk di samping Saka. Lelaki seumuran. Berwajah tampan dan kaya tentunya.
"Istri Anda?" tanya Saka.
Pria itu tertawa. "Istri khayalan saya. Kalau untuk kehidupan nyata tidak mungkin. Saya sudah punya calon istri."
Minta didor ini bocah. "Ya, dia istri impian saya juga."
"Meski banyak gosip menerpa nona Sara, saya tetap mengidolakannya."
Saka mengangguk. "Saya juga."
Pagelaran ditutup dengan pemberian bunga yang Sara berikan untuk Ivan Sarmawan. Kedua model utama bersama sang desainer membungkukkan sedikit tubuh mereka sebagai ucapan terima kasih.
Sara yang melihat suaminya, melambaikan tangan. Saka ingin membalas, tetapi pria yang bicara dengannya tadi malah membalas lebih dulu.
"Apa ini mimpi? Nona Sara melambaikan tangan padaku. Malam ini aku akan bermimpi indah."
"Anda bilang sudah punya calon istri. Apa kekasih Anda tidak cemburu?" tanya Saka.
"Tentu saja tidak karena dia penggemar Sara juga. Kami pacaran gara-gara punya idola yang sama. Sayang sekali kekasihku tidak bisa datang kemari."
Di dunia ini memang ada orang aneh. "Kalian memang berjodoh," ucap Saka.
Satu per satu tamu keluar dari ballroom hotel. Saka mengirim pesan kepada Sara bahwa ia akan menunggu di lobby. Tentu saja Saka harus mengenakan topi untuk menghindari hal yang tidak terduga. Sebenarnya Sara ingin memperkenalkannya kepada publik, tetapi Saka enggan. Saka merasa ini belum waktunya.
Saka sedikit kesal ketika wartawan menyerbu untuk masuk. Rupanya Sara sudah keluar, dan itulah sebabnya. Ada saja pertanyaan tidak penting yang ingin mereka tanyakan. Meski begitu, Saka melihat istrinya tetap melayani mereka.
Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya, pencari berita dibubarkan oleh petugas hotel. Para model dapat keluar dengan tenang menuju mobil mereka masing-masing.
"Maaf, kamu harus menunggu lama," ucap Sara.
"Berapa lama pun akan kutunggu," sahut Saka. "Sekarang cepat naik mobil. Kita harus pulang."
Ketika Saka membuka pintu, ia melihat dua orang pria asing tengah bersandar di mobil tidak jauh dari kendaraan mereka. Bersetelan jas hitam. Di telinga mereka terdapat handsfree, dan bila diperhatikan lebih jeli lagi, tepatnya pada bagian pinggang terdapat senjata api.
"Ada apa?" tanya Sara.
Saka tersenyum. "Kamu pulang sama Dini saja, ya."
Bersambung