A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 9



Setelah Desi cerita, aku manggut-manggut. Ternyata, ada sebuah toko kue yang tidak terlalu jarak dengan toko kami. Mereka kalah saing dengan kami. Maka dari itu mereka membayar orang untuk membuat image kami jadi rusak.


"Ya ampun, ada-ada aja," aku tersenyum mendengar cerita Desi.


"Kita lapor polisi aja, kalau gak, mereka bakalan terus ganggu kamu," ujar Hendri serius menatapku.


Aku jadi kikuk dengan tatapannya, aku ingin sekali menatapnya balik, tapi sayang aku tidak seberani itu. "Jangan mas, eh Hendri maksudnya," ujar ku.


"Loh, kenapa mbak, aku setuju dengan pak Hendri," ujar Desi ikut berkomentar, "Mereka bukan sekali dua kali udah ngelakuin hal kek gini. Cuma selama ini masih bisa kami handle, makanya kami tidak pernah menghubungi mbak Chalisa," sambung Desi panjang lebar.


"Pokoknya, saya telepon pengacara saya, biar semua mereka yang urus," pinta Hendri.


Aku tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Aku cuma bisa terdiam dengan ucapan mereka berdua. Rasanya benar juga, sikap curang harus diberi pelajaran. Kenapa harus memilih cara buruk, jika dengan baik-baik kita masih bisa menemukan solusi yang tepat.


"Maaf ya Mas jadi ngerepotin kamu, eh Hendri maksud aku," aku menggigit bibir bawahku, aku lagi-lagi salah memanggilnya. Kesannya seperti aku ingin sekali memanggilnya Mas, padahal memang benar.


"Ya udah, panggil Mas aja. Aku juga suka dengannya," ucap Hendri yang membuat aku tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu.


"Makan dulu yuk," ajak Hendri. Aku hanya mengiyakan saja.


Akhir-akhir ini pertemuanku dengannya semakin sering. Aku takut jika aku tidak bisa mengontrol perasaanku lagi untuk kedepannya. Bahkan, sekedar untuk menanyakan ia sudah menikah apa belum, aku tidak ingin bertanya. Aku takut kecewa jika ia menjawab 'ya'.


"Mau makan apa?" tanya Hendri dengan lembut.


"Samaan aja Mas," jawabku.


Hendri lagi-lagi tersenyum melihatku. Aku grogi dibuatnya.


"Aku suka kamu panggil Mas, selama ini aku gak pernah membolehkan seseorang memanggil aku dengan sebutan 'Mas'," ujar Hendri menatapku.


"Aku juga gak pernah panggil orang lain 'Mas' biasanya aku panggil 'Pak'," balasku tanpa berani menatapnya.


Rthhhhh.. rthhhhh..


Getar handphoneku, aku melirik layarnya sekilas, ternyata Angga.


"Halo Nak," sapa ku.


"Mami lagi dimana?" tanya Angga judes.


"Ada nih, lagi makan bareng teman Mami," jawabku.


"Temen apa gebetan Mi?" tanya Angga lagi.


Seperti biasa, posesif anakku kambuh. Aku tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu. Dengan sedikit berbisik aku menjawab, "Temen sayang, kamu kok tanya gitu sama Mami?" tanyaku lagi.


"Ya udah, jangan ke maleman ya pulangnya," pinta Angga penuh khawatir.


Setelah mengiyakan, aku pun memutuskan panggilan Angga. Hendri tersenyum menatapku yang baru selesai menerima telepon dari putra semata wayangku.


"Siapa?" tanya Hendri.


"Anakku Mas, dia posesif banget," jawabku sembari ku teruskan makan yang terhenti barusan.


"Kapan-kapan aku boleh kenalan dengannya gak?" tanya Hendri menatapku penuh harap.


Aku tidak langsung mengiyakan, aku bingung kenapa Hendri ingin bertemu dengan Angga. Aku takut malu, jika nanti perlakuan Angga tidak baik, Angga bukan anak yang sopan, jika bukan dengan orang yang ia suka.


"Aku lagi banyak banget kerjaan," ujar Hendri tiba-tiba, "Tapi aku lagi uring-uringan banget," sambung Hendri lagi.


Aku mengerti maksudnya, aku juga pernah, bahkan rasanya pengin tidur seharian, sangking malas gerak.


"Ada yang bisa aku bantu Mas?" tanyaku berani.


"Emang kamu kuliah jurusan apa?" tanya Hendri.


"Aku gak kuliah," jawabku santai.


Sontak membuat Hendri tertawa, aku tidak mengerti apa yang membuat ia tertawa.


"Kamu ini, sok-sokan mau bantu aku kerja. Kamu itu ahlinya buat kue yang enak-enak bukan pegang proposal." Hendri mencubit kecil hidup mungilku.


"Ya siapa tau Mas, aku temenin kamu kerja, kamu nya jadi semangat gitu, ada temen ngobrol," balasku.


"Aku takut ngajak kamu ke kantor," sahut Hendri menatapku dalam, pandangannya sangat menusuk-nusuk ulu hatiku.


"Loh, kenapa?" tanyaku.


"Sekretaris, sekaligus sahabat aku, yang pernah kamu temui, dia sangat mencintaiku. Aku takut membuat dia kecewa," ujar Hendri.


Aku kaget, benar-benar kaget mendengar ucapannya, segitu pedulinya ia dengan perasaan orang lain.


"Mas suka dia juga?" tanyaku sedikit memberanikan diri.


"Gak!" jawab Hendri singkat.


Aku ingin tersenyum, tapi takut Hendri melihatku senyum-senyum sendiri.


"Menurut aku sih gak apa-apa Mas," ujar ku.


"Maksudnya?" tanya Hendri menyipitkan matanya.


"Aku kan bukan siapa-siapa, Mas juga bisa jelasin ke dia kalau aku cuma teman Mas doang," sambung ku lagi.


"Kamu mau aku mengatakan kalau kamu bukan siapa-siapa?" tanya Hendri. Seolah-olah ia sedang mempertegas status kami.


Aku mengangguk pelan, "Memang benar adanya kan Mas, aku bukan siapa-siapa kamu," jawabku apa adanya.


Hendri memalingkan wajahnya, "Padahal aku pikir, kamu bakalan bilang, 'Aku gak peduli Mas, ajak aku ke kantor kamu, biar aja cewe itu cemburu'," ujar Hendri blak-blakan.


"Mas!" sahutku kaget.


"Ha ha ha," Hendri tertawa terbahak-bahak.


"Gak kok, aku bercanda," ujarnya lagi.


"Ya ampun Mas, kamu kok bisa-bisanya sih gitu," jawabku masih merasa seolah-olah ia benar-benar serius mengatakan itu.


Setelah bayar, kami keluar dari restoran tersebut. Cukup lama kami mengobrol disana, rasanya, aku malas beranjak. Hendri itu nyambung kalau diajak ngobrol, seru sekali.


Hendri memutar arah menuju rumahku, "Loh, mas ini kah arah rumahku," ujar ku.


"Memang," sahutnya.


"Tadi Mas bilang, suruh antar pulang?" tanyaku.


"Lagi malas pulang..." ujar Hendri manja.


Aku terdiam, jika sedang manja seperti itu, ia terlihat sama dengan Angga. Menggemaskan.


Tiba di rumahku, aku mengajaknya masuk. Dia turun lebih dulu dariku, sedari tadi aku tidak melihat ia membawa handphone. Karena penasaran, saat melangkah masuk, aku bertanya.


"Mas, kamu gak bawa handphone?"


"Gak nih," jawab Hendri, "Kenapa?" tanya ia lagi.


"Nanti kalau ada yang hubungi Mas gimana?" tanyaku.


Tanpa menjawab, ia langsung masuk ke istanaku. Bu Aini menyambut Hendri dengan ramah, begitu pula dengan Hendri.


"Bu, panggil Angga," pintaku.


"Angga udah pergi sama temennya Cha," jawab Bu Aini.


"Kemana?" tanyaku lagi.


"Gak tau, katanya mau ke sebuah restoran, ada temennya yang lagi ulang tahun," jelas Bu Aini.


Jangan-jangan, tadi Angga berada di tempat yang sama saat aku bersama Hendri. Pantas saja ia bertanya sangat ketus.


Aku baru selesai ganti pakaian, aku melihat Hendri sedang mengobrol dengan Bu Aini. Mereka berdua sangat nyambung. Namun ketika aku mendekat, mereka langsung terdiam. Aku jadi curiga apa yang mereka bicarakan.


Jangan lupa like ya...