
Malam tiba.
Malam di mana harusnya aku merasa bahagia karena malam ini merupakan malam yang spesial untuk anakku semata wayang.
Namun kekhawatiranku pada Hendri membuat malam ini sedikit berbeda. Pikiranku gelisah karena Hendri masih belum bisa kembali, cuaca yang buruk membuat semua penerbangan di tunda.
"Cha, katering sudah tiba,” ujar Bu Aini seketika membuyarkan lamunanku.
“Bu, tolong urus saja semuanya, ya?” pintaku tanpa menoleh.
Bu Aini segera berlalu dari kamarku, tinggallah aku sendiri yang masih dengan pikiranku yang berkelana entah ke mana.
Malam ini aku gunakan gaun berwarna biru lengkap dengan aksesoris leher dan anting mutiara putih serta heels yang berwarna senada dengan bajuku. Tidak lupa memoles sedikit makeup di wajahku.
Setelah selesai, aku segera ke kamar Angga. Tiba di kamarnya mataku berbinar-binar melihat ketampanan putraku yang sudah bertambah dewasa tepat di hari ini.
Walau hanya mengenakan Jersey bola klub kesukaannya namun aura wajahnya sangat tampan, aku dekati aku kecup pelan keningnya.
“Sudah?” tanyaku.
Angga mengangguk, setelah semuanya beres aku dan Angga segera turun menyambut tamu yang sudah berdatangan. Namun saat menuruni tangga ponselku berdering.
Hendri menghubungiku, aku menyuruh Angga turun lebih dulu.
“Halo sayang.” Aku menyapanya.
“Sayang, aku minta maaf sepertinya aku enggak bisa menemanimu mendampingi Angga malam ini,” ujar Hendri dengan penuh rasa bersalah.
“Cuacanya masih buruk?” tanyaku penuh harap.
“Iya sayang, aku berharap bisa datang dan menemanimu, aku juga sudah beli kado untuk Angga, tapi apa boleh buat,” ucapnya melemah dengan nada yang sedih.
“Sudah, enggak apa-apa. Nanti kita rayakan bertiga di puncak, ya?”
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tidak semakin merasa bersalah.
Setelah telepon aku dengannya berakhir, aku segera turun ke bawah menyambut tamu yang sudah berdatangan. Ditemani Bu Aini yang selalu siap siaga kapan saja aku membutuhkannya. Tidak bisa kubayangkan aku tanpa beliau di sisiku.
“Sorry ya Say, telat,” ujar teman-teman arisanku.
Aku tersenyum ramah, serta menyuruh mereka masuk dan menikmati malam ini. Mataku mencari keberadaan Zoya, dari tadi aku belum melihat salah satu sahabat terbaikku itu.
“Cha, Zoya enggak lu undang?” tanya teman-temanku.
Aku mengangguk serta mencoba berpikir positif, barang kali ada hal lebih penting yang tidak bisa ditinggalkan.
Aku melihat Angga, cara ia menyambut kedatangan temannya, baik yang seusianya maupun beberapa adik kelas yang dekat dengannya. Sikap ramah dan lemah lembut yang selalu ia pertontonkan padaku selalu berhasil membuatku merasa bangga mempunyai seorang putra sepertinya.
Aku mengecek semua persediaan makanan dan minuman serta suvenir untuk hadiah ucapan terima kasih. Tiba-tiba Angga memanggilku, aku menoleh menatapnya.
“Mami ....”
Angga menggandeng tangan seorang gadis, aku rasa ia blasteran. Rambutnya yang pirang, bola mata indah dengan manik mata coklatnya serta kulitnya yang putih mulus lengkap dengan penampilannya yang cukup modis untuk gadis seusianya.
“Mi, kenali ini Viona temanku,” ujar Angga.
Aku menatap dalam wajah Viona, ia tersenyum ramah padaku, serta mengenalkan namanya dengan bahasa yang cukup santun.
“Aku Viona, Tante,” ujarnya, aku menyambut tangannya yang mulus, ia menundukkan kepalanya, ia cium punggung tanganku.
“Vio, mari ikut Tante kita icip-icip makanan di sana.” Aku mengajaknya bergabung dengan yang lainnya agar ia tidak merasa canggung.
Malam ini aku ingin sekali Hendri berada di sampingku, namun alam tak berpihak pada kami. Kurang lebih sebulan ini aku menjalani hubungan serius dengannya, tidak ada yang kuketahui tentangnya, keluarganya siapa, dan dari mana ia berasal.
Aku seakan tidak mau ambil pusing dengan semua itu, yang aku tahu aku mulai mencintai dan nyaman bersamanya. Sudah seminggu lebih ia berjanji akan mengajakku ke rumahnya, namun hingga malam ini tiba, aku belum menapaki kaki di rumahnya.
Suasana malam ini sangat meriah, di tambah dengan Raka teman Angga yang memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu yang sedang populer di kalangan remaja. Ia sangat piawai dalam memetik gitar, suaranya yang merdu membuat gadis-gadis meleleh karenanya.
Jam menunjukkan pukul 23:00 acara yang di tunggu-tunggu sebentar lagi akan mulai. Aku sengaja mengusung ide begini, Angga sempat protes awalnya.
“Mi, kayak acara pergantian tahun baru dong,” ujarnya kemarin malam saat aku mengatakan ide ku.
Aku rasa tidak perlu lagi ada kejutan-kejutan, Angga sudah dewasa. Acara malam ini biar menjadi acara di mana ia berbagi dengan teman-teman masa SMA untuk yang terakhir kalinya, nantinya ia akan merindukan masa-masa ini. Di mana waktu tak akan lagi sama dengan keadaan dan kondisi yang sudah berbeda.
“Cek ... cek ...” suara MC memecahkan keributan dan suara gelak tawa teman-teman Hendri.
“Baiklah teman-teman, terima kasih untuk kalian semua yang sudah hadir di malam hari ini, apa kalian menikmati pesta ini?” tanya sang MC yang merupakan salah satu teman Angga juga.
“Pastinya dong!” teriak beberapa teman Angga.
Namun tiba-tiba Raka menyela pembicaraan MC yang sedang memandu acara, ia mengangkat kedua tangannya. Ia mengambil alih mikrofon dari tangan MC.
“Sorry guys, sorry Tante ...” ujar Raka tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku.
“Malam hari ini merupakan malam terakhir kebersamaan kita. Senin lusa, banyak di antara kita yang nantinya tidak akan berjumpa untuk waktu yang lama dikarenakan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berangkat untuk menempuh pendidikan di luar negeri, tidak sedikit juga yang akan melanjutkan di dalam negeri, meski dengan perguruan yang berbeda. Yang namun pada intinya, kita akan merindukan masa-masa ini, kebersamaan ini.”
Raka berbicara panjang lebar yang membuat semua teman-temannya terdiam termasuk Angga.
“Jadi, malam ini mari kita nikmati bersama-sama. Thanks Angga sudah memperbolehkan tempat dan waktu untuk kita semua, Tante, kita udah dapat ijin dari orang tua masing-masing kok, biarkan kami bermain-main dan menonton bola bersama nanti.”
Raka menatap penuh harap padaku, ia menganggukkan kepalanya berkali-kali ke arahku. Aku melihat Angga, Angga mengangguk pelan dengan merapat kedua tangan di dadanya. Aku tidak bisa menolak permintaan mereka.
“Yeayyyy!” teriak mereka semua girang.
Aku meminta maaf pada teman-teman arisanku, aku tidak menyangka akan ada perubahan acara yang di rancang teman Angga. Namun jawaban mereka di luar dugaan ku.
“Santai saja Kali Cha, anggap saja kita lagi reuni masa lalu,” ujar salah satu teman arisanku.
“Ya, Cha. Kita sangat menikmati malam ini, hidup gue tiap hari sibuk mengurus anak dan suami, sekali-kali have fun seperti ini enggak masalah dong,” ujar temanku yang lainnya.
Tempat dan waktu aku persilahkan pada mereka semua, mereka bersenang-senang dengan menyanyi dan joget-joget bersama.
jangan lupa like ya?