A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 44



Di saat kita sedang asyik menyantap hidangan lezat itu, Hendri meraih jemariku lalu menggenggamnya erat. Aku menyudahi makan malam itu, kebetulan aku juga sudah kenyang. Aku menatapnya tak berkedip, begitu pula Hendri.


Sebelum memulai obrolan, aku lihat Hendri berulang kali menelan ludahnya, entah grogi atau bagaimana aku pun tak tahu.


“Cha,” panggilnya kemudian. Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian aku diam saja, menunggunya mengatakan sesuatu, mendadak aku juga penasaran, tiba-tiba suasana menjadi hening, hanya desiran ombak yang terus bersahut-sahutan yang terdengar.


“Aku ingin setiap hari menghabiskan waktu bersamamu seperti ini,” ujar Hendri.


Aku tersenyum, lalu aku melebarkan kedua mataku dengan kedua alis juga ikut terangkat. Aku menunggu kata per kata yang akan ia ucapkan untukku.


“Rasanya, tidak pantas lagi untuk usia kita jika hanya sebatas menjalin hubungan seperti ini,” lanjutnya.


Aku semakin tak mengerti dengan perkataannya yang semakin berbelit-belit. Aku berpura-pura batuk dan meneguk minuman yang ada di hadapanku.


“Mas, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?” gumamku dalam hati. Aku menundukkan kepalaku.


“Menikahlah denganku, Cha,” ucap Hendri yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Ini bukan yang pertama, pembahasan tentang pernikahan bukan lagi hal yang baru bagi kita. Tapi rasanya kali ini berbeda. Sinar mata Hendri tampak tulus, aku merasakan jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Lidahku kelu, aku terdiam, hanya pandangan yang saling beradu.


“Kenapa hanya diam saja? Masih takut dengan ancaman Robert? Atau takut nenek tidak merestui hubungan kita?” tanya Hendri dengan berbagai pertanyaan yang membuatku takut, harus jawab apa.


Aku mengedipkan pandanganku, lalu membuang jauh-jauh ke laut. Perlahan bulir air mata menetes di pipiku. Aku juga ingin segera menikah, melepaskan status janda yang aku sandang. Bukannya aku bahagia terus seperti ini, tapi apa yang harus aku lakukan, jika ketakutan terjadi?


“Sayang, ada apa?” tanya Hendri. Ia bangun dari duduknya kemudian berlutut di hadapanku yang masih duduk terdiam di kursiku.


“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu dan Angga, Mas,” ucapku semakin terisak.


“Tidak, tidak, itu semua tidak akan terjadi. Kita bertiga akan bersama-sama menghadapi nenek, percayalah,” ujar Hendri coba menenangkanku.


“Mengatakan jauh lebih mudah dari melakukannya, Mas,” ucapku lagi. Hendri bangun, kemudian ia berdiri. Raut wajahnya seketika berubah.


“Lalu sekarang, apa maumu, bagaimana dengan hubungan ini, mau sampai kapan aku harus menunggu ketakutanmu itu hilang?” tanya Hendri dengan berbagai pertanyaan yang mulai mengganggu pikirannya.


“Aku tidak tahu, Mas, jika saja aku punya jawaban, mungkin akan mengatakan ‘iya’ sekarang juga,” ucapku sembari menangis tersedu-sedu.


“Kamu punya jawabannya, hanya saja kamu terlalu egois. Kamu mulai parno, ketakutanmu itu tak akan pernah terjadi. Itu semua hanya dendammu kepada Robert!” ujar Hendri begitu saja.


Aku terdiam dengan mulut terbuka sempurna. Hendri menatapku tak berkedip, aku diam saja, hanya air mata yang terus berjatuhan di pipiku.


“Biarkan Angga memilih sendiri kehidupan seperti apa yang ia inginkan. Jangan mengekangnya, walau bagaimanapun Robert itu ayahnya, coba mengertilah, dendam akan menghancurkan dirimu sendiri, Chalisa Aqilah!”


Hendri berlalu pergi dari hadapanku. Aku masih tak bergeming. Air laut mulai pasang, sesekali riak ombak membasahi kakiku. Aku menangis tersedu-sedu, tak peduli lagi dengan pelayan datang membersihkan meja makan.


Oh tuhan, aku telah merusak malam indah ini. Jauh-jauh hari Hendri telah merancang liburan kita, namun sekejap saja aku telah menghancurkannya. Apa yang sudah aku lakukan? Salahkah keputusanku ini?


Benarkah yang Hendri katakan, apa aku hanya memikirkan diriku sendiri? Apa aku mengekang Angga? Bukankah ia juga membenci papanya?


Ya Tuhan, rasanya kepalaku hampir pecah dengan semua pertanyaan yang menghantuiku sendiri. Jika saja aku bisa menyelesaikan semua masalah ini sendiri, aku akan sangat bahagia. Tapi apa yang harus aku lakukan?


Aku masuk ke dalam, aku mulai merasa kedinginan. Aku menghempaskan tubuhku di ranjang dengan pandangan ke langit-langit kamar. Aku kembali ingat dengan perlakuan dingin Angga padaku, apakah benar ia merasa aku mengekangnya. Atau mungkin Robert telah menemuinya lalu mengatakan yang tidak-tidak untukku?


Tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkanku, aku bangkit dari tidurku kemudian membukakan pintu. Robert berdiri di depan penginapanku. Aku kaget bukan main, bagaimana ia bisa tahu aku dan Hendri berlibur ke sini, tanyaku dalam hati.


“Kau!?” tanyaku tak percaya.


“Pergi kau dari sini, jangan ganggu aku dan anakku!?” teriakku lagi.


“Tenanglah, Cha. Aku hanya sedang berlibur, kebetulan aku melihat pasangan yang sedang di mabuk cinta di sini,” ujar Robert sembari tersenyum sinis.


“Ups, dan ternyata tidak seromantis itu,” lanjut Robert kemudian. Lalu ia tertawa lepas, aku menatapnya penuh kebencian. Aku mendorongnya lalu berlari menuruni tangga menuju penginapan Hendri tanpa menoleh lagi pada Robert yang berdiri di sana.


Aku mengetuk pintu kamar Hendri dan terus memanggilnya. Tak lama Hendri keluar, ia bingung menatapku seperti orang ketakutan.


“Mas, Robert ada di sini,” ujarku.


Hendri tertawa kecil lalu berbicara dengan santai. “Ada apa denganmu, bagaimana mungkin Robert datang kemari, tidak ada siapa pun yang tahu kau kemari,” ujarnya kemudian.


“Aku berani bersumpah, Mas. Robert datang ke sini, ia baru saja berdiri di depan kamarku. Kalau tidak percaya, ayo kita lihat bersama,” ucapku meyakinkannya.


Hendri kemudian terdiam, lalu ia menutup pintunya dan melangkah bersamaku. Tiba di depan kamarku, Robert sudah tidak ada, Hendri kembali tertawa kecil, kemudian ia menatapku tajam.


“Aku mulai curiga, jangan-jangan kamu juga mulai halusinasi melihat Robert di mana-mana?” tanya Hendri.


Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimana harus aku katakan, bahwa aku benar. Hendri tidak percaya padaku sama sekali.


“Oh, atau, kamu masih mencintainya sehingga menolakku?” tanya Hendri kembali.


“Mas!” teriakku.


Lalu aku mendorongnya dan berlari ke kamar. Aku tidak menyangka ia akan mengatakan itu, ia menuduhku sedemikian rupa. Setega itu Hendri melontarkan kata-katanya untukku. Aku tak berbohong padanya, aku mengatakan yang sebenarnya, bisa saja Robert mengikuti perjalanan kita tadi. Namun Hendri benar-benar tak peduli dengan ucapanku.


“Aku tidak berbohong, Mas. Tolong percaya padaku,” gumamku seorang diri di kamar sunyi.


Aku menangis tersedu-sedu di kamarku. Hingga aku terlelap sendiri karena lelah menangis. Aku tertidur pulas dengan mata yang mulai membengkak. Ini liburan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


Jangan lupa like.