A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 21



Setelah berpakaian santai, aku menyisir rambut sembari mematut diri di depan cermin.


“Sayang!” panggil Hendri. Aku segera membuka pintu untuknya.


“Jalan-jalan, yuk?”


“Ke mana?”


“Sudah, Ayo.” Hendri menarik tanganku menuruni tangga, setelah berpamitan pada Bu Aini aku segera mengikutinya.


Hendri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak lama kemudian ia berhenti di sebuah taman dekat dengan rumahku, aku tersenyum geli melihat ia membawaku ke sana.


“Aku hanya ingin mengobrol saja, rasanya canggung di rumahmu,” ujar Hendri begitu kami turun dan berjalan-jalan di sana.


Suasana cukup ramai, banyak muda-mudi berpacaran di sana, aku jadi malu. Mengingat usia kami yang tak lagi muda.


“Canggung kenapa?”


“Aku ingin tinggal bersamamu tanpa ada jarak lagi.”


Hendri menggenggam tanganku. Aku menatap manik matanya, perlahan ia dekatkan wajahnya padaku, tanpa sadar aku pejamkan mataku, sebuah kecupan yang lembut mendarat di bibirku. Aku menikmatinya, hingga aku terbuai dan melupakan bahwa kami sedang berada di tempat umum. Aku mendorong pelan tubuhnya ketika nafasku mulai terengah-engah.


“Sayang, menikahlah denganku,” ucap Hendri berbisik di telingaku.


“Bagaimana kita menikah. Aku saja belum tahu siapa keluargamu, Mas.”


“Minggu depan aku ajak kau ke rumahku.”


Setelah mengiyakan permintaannya. Malam itu kami lanjutkan lagi jalan-jalannya, sampai ke soto Bu Inem. Jam 21:30 Hendri mengantarku pulang, dan ia segera meluncur pergi dari rumahku.


•••••••


Keesokan harinya, aku menuju toko cabangku. Aku menggantikan Desi, sementara di rumah aku percayakan Bu Aini dan Askia yang menghandle semuanya.


Begitu tiba di sana, aku segera melihat pesanan untuk hari ini dan memeriksa dapur serta bahan-bahannya. Aku berdecak kagum, semua sangat rapi dan bersih. Desi benar-benar luar biasa, ia sangat cekatan.


“Mbak, ini pesanan untuk jam 18:00 nanti,” ujar Intan.


“Oh, baiklah. Selamat bekerja, kalau ada apa-apa jangan sungkan, anggap saja Desi.” Aku tersenyum ramah pada mereka semua. Aku tahu mereka sudah terbiasa dan nyaman bersama Desi, namun untuk beberapa hari ke depan, mereka juga harus terbiasa bersamaku.


Di sini penjualannya cukup laris, letak tokonya sangat strategis dan juga dekat dengan pusat perbelanjaan. Tidak heran mengapa persaingan sangat ketat. Namun lagi-lagi aku bangga dengan program marketing yang di lakukan Desi.


“Selamat datang ...” sapaku pada setiap pembeli yang datang.


“Saya mau pesan kue ulang tahun dong, Mbak.” Seorang wanita menggunakan topi jerami berwarna pink masuk, ia juga menggunakan kaca mata hitam, penampilan yang sangat menarik.


“Boleh, kapan acaranya?” tanyaku mengambil pulpen dan kertas siap-siap untuk mencatat.


“Chalisa ...” panggil Zoya. Aku sedikit terkejut, ternyata wanita berpenampilan menarik di hadapanku adalah Zoya.


“Ini tokomu juga, wah, aku baru tahu. Aku langganan tetap di sini,” ujarnya sembari tersenyum. Namun responsku sangat datar, ia mengetahui hal itu.


“Cha, boleh kita bicara sebentar, aku mohon.”


“Lain kali saja, aku sedang sibuk,” jawabku cuek setelah mencatat tanggal yang ia sebut.


“Ada hal penting yang ingin aku jelaskan padamu.”


“Justru itu yang ingin aku sampaikan, mengenai calon suamimu,” ucap Zoya.


Aku penasaran, apa yang ia ketahui tentang Hendri. Aku juga ingin tahu mengenai calon suamiku itu.


“Baiklah, kita ketemu di Cafe dekat sini nanti jam 17:00.”


Aku mengirim pesan untuk Hendri, aku meminta agar ia tak menjemputku. Setelah toko tutup, aku segera berangkat menuju tempat di mana Zoya sudah menungguku.


Ada rasa penasaran sekaligus rasa cemas di hatiku. Rasa keingintahuanku tentang calon suamiku itu sangat besar, namun ada pula rasa takut yang menggerogoti hatiku. Sungguh aku belum siap apabila berita yang ku dengar nanti akan membuat hubunganku dengannya memburuk. Aku tak ingin jika berita itu akan mengubah rasaku terhadapnya.


Aku tiba di sebuah Cafe, Zoya melambaikan tangannya ketika melihatku turun taksi. Ia sudah menungguku sekitar 10 menit yang lalu, aku segera masuk. Di sini cukup ramai, terlihat tidak ada satu pun meja kosong. Aku segera menghampiri Zoya yang berada di pojokkan.


Zoya memanggil pelayan, ia memesankan beberapa makanan. Aku juga menyebutkan pesananku. Aku sangat lapar, namun rasa ingin tahuku lebih besar dari lapar yang ku rasa.


Tidak lama kemudian pesanan pun tiba.


“Selamat menikmati ...” ucap pelayan cantik, ia tersenyum ramah padaku lalu segera berlalu meninggalkan kami dengan hidangan lezat yang ia sajikan.


Aku benar-benar tidak bernafsu makan, aku hanya penasaran ingin mendengar semua cerita Zoya. Aku mengaduk-aduk makan di depanku tanpa berniat untuk memakannya.


“Makanlah, Cha.”


“Aku hanya ingin mendengar ceritamu, Zo. Cepat katakan padaku, apa saja yang kau ketahui tentang Hendri.”


“Habiskan dulu makannya, baru ku ceritakan," sahut Zoya.”


Aku memaksakan beberapa suapan masuk ke kerongkonganku, namun aku benar-benar tidak bisa menelannya. Rasanya hambar, bila ku paksakan aku akan muntah.


“Baiklah, aku ceritakan. Tapi sebelumnya, aku mohon kau jangan salah paham, aku hanya menceritakan apa yang ku ketahui saja, tak ada maksud terselubung.”


Aku terdiam. Zoya tahu, jika aku diam berarti ia sudah mendapatkan jawaban untuk pernyataannya barusan.


“Apa kau yakin dia benar-benar mencintaimu?”


Dengan spontan aku menjawab, “Kau ingin bercerita atau ingin menginterogasi ku?”


“Bukan ... hanya saja ceritaku menyangkut soal rasa ia terhadapmu,” sanggah Zoya cepat.


“Aku tidak tahu, kami baru saja menjalin hubungan, sangat singkat.”


“Tidak, Cha. Dia tidak mencintaimu, dia hanya jatuh hati karena kau mirip dengan mantan istrinya,” ujar Zoya.


Deg.


Jantungku berdegup kencang, ini yang aku khawatirkan, kebahagiaan yang baru saja ku rasakan, aku harus rela bila sekarang waktunya mungkin aku akan kecewa lagi, untuk yang ke sekian kalinya lagu. Setelah sekian lama aku menutup pintu hatiku untuk yang namanya pria, tapi kini saat aku sudah menemukan dambaan hatiku, rasa sakit itu datang lagi.


“Aku tahu, sulit untuk kau terima semua kenyataan ini, tapi kalau kau tak percaya, coba saja kau datangi panti asuhan Kasih Bunda, kau akan menemukan jawaban di sana.”


Aku menatap Zoya, kali ini ia berkata sungguh-sungguh. Aku ingin menanyakan lebih lanjut, namun aku tahan. Aku yakin aku tidak sanggup untuk mengetahui kenyataan pahit ini terlalu cepat. Ku urungkan niatku, aku akan menemukan jawaban dengan caraku sendiri.


“Kau ingin segera pulang? Ayo ku antar,” ajak Zoya saat ia kembali setelah membayar semua makanan tadi. Aku mengangguk sembari mengikutinya ke tempat parkir.


Dalam perjalanan pulang, aku hanya terdiam, pikiranku sedang kacau, aku tidak baik-baik saja. Namun ada rasa lega di hatiku, setidaknya aku tahu lebih awal sebelum aku gegabah dalam mengambil keputusan untuk yang kedua kalinya ini.


jangan lupa like ya...