
Setelah istirahat sejenak, Hendri kembali melanjutkan perjalanan. Aku tidak tahu sama sekali arah yang sedang kami lewati saat ini. Aku sama sekali tidak merasakan curiga atau semacam itu. Aku tahu, ia sedang mencoba menghiburku.
Tak lama kemudian, kami memasuki kompleks perumahan. Aku mulai penasaran, Hendri ingin membawaku ke mana. Namun mulutku tertutup rapat, seolah-olah tidak ada yang ingin aku katakan. Padahal, pikiranku berkata lain.
“Sudah lebih baik?” tanya Hendri mengagetkanku dari lamunan. Aku mengangguk sembari tersenyum.
“Yakin, aku melihatmu tampak khawatir?” tanya Hendri lagi.
Aku kembali tersenyum menanggapi pertanyaannya. Laju mobilnya semakin perlahan, aku rasa kami hampir tiba di tempat tujuan. Dan benar saja, Hendri berdiri tepat di depan semua rumah megah, namun aku yakin itu rumah lama. Terlihat jelas dari catnya yang sudah memudar. Hendri turun, aku mengekor di belakangnya.
Terlihat dua orang tua, berlari ke arah kita berdua sembari membuka gerbang. Hendri tersenyum sembari melambaikan tangan. Suasana cukup indah dengan bunga-bunga berjejer di sepanjang jalan. Kompleks yang cukup indah bagiku.
“Selamat datang kembali, Tuan muda,” sapa salah seorang dari mereka.
Aku tampak kaku saat menyambut salaman tangan dari keduanya. Bukan karena apa, aku cuma tidak mengerti mengapa Hendri membawaku kemari, lalu siapa mereka?
“Ayo masuk ...” ajak Pak tua.
Aku mengarah pandangan ke sekelilingku. Rumah itu cukup besar. Halamannya cukup luas. Jika di bandingkan dengan rumahku, cukup beda jauh. Angga pasti suka rumah sebesar ini. Tiba-tiba aku merindukannya. Sudah dua hari aku tidak bertemu dengannya.
Aku meraih ponsel sembari menghubungi putraku. Aku lihat Hendri sedang berbincang dengan kedua orang itu. Aku meninggalkannya sebentar ketika panggilan Angga sudah tersambung.
“Halo, Mi,” sapa Angga.
“Sayang, lagi di mana?” tanyaku. Pertanyaan cukup klasik dariku sebagai orang tua yang merasa rindu dengan putranya.
“Lagi di kampus, Mi. Ada apa, Minggu depan aku pulang, ya?”
“Tidak apa-apa, Mami cuma rindu. Kamu baik-baik, ya,” sahutku sembari tersenyum lega.
“Pasti, Mi. Mami juga baik-baik, aku percaya om Hendri bisa jaga Mami,” ujarnya kemudian.
Tak lama, panggilan itu pun berakhir. Aku menggenggam ponsel di tanganku. Ah, putraku sudah dewasa, ia cukup mengerti apa yang baik dan tidak untuk dirinya dan untukku juga.
“Astaga, Mas!” Aku cukup kaget ketika Hendri menyentuh pundak ku.
“Kenapa di luar, ayo masuk. Bu Retno sudah membuatkan teh untuk kita,” ujar Hendri tertawa kecil. Aku mencubit lengannya sembari merangkulnya masuk ke dalam.
“Silakan di minum, Nyonya,” pinta Bu Retno.
“Terima kasih, Bu,” sahutku sembari meneguk teh hangatnya.
“Sayang, ini rumah orang tuaku. Aku besar di sini sebelum kita semua pindah ke kota,” ujar Hendri kemudian. Aku mangut-mangut.
“Sebenarnya, aku sangat suka tinggal di sini. Tapi karena sesuatu hal, aku terpaksa pindah dan ikut nenek,” lanjut Hendri. Aku melihat ada perubahan dari wajahnya, walau sekuat tenaga ia menyembunyikan, aku bisa melihat dari matanya.
“Sudahlah, Tuan. Jangan di ingat-ingat lagi, semuanya telah terjadi,” ujar Bu Retno.
Aku tak mengerti, ku genggam erat tangan Hendri. Aku tak berani bertanya, tapi aku yakin sesuatu telah terjadi di masa lalu yang membuatnya bersedih.
“Tidak masalah, Bu. justru dengan kejadian itu semua aku jadi dewasa dan mengerti, sesungguhnya seperti itulah kehidupan,” sahut Hendri sembari tersenyum kecut.
Tak lama, Pak Harto masuk. Belakangan aku tahu namanya, beliau suami dari ibu Retno. Beliau membawakan camilan khas daerah itu, aromanya sangat nikmat, membuat perutku segera ingin diisi. Hendri tertawa kecil.
“Silakan di nikmati, ini rasanya sangat lezat,” ujar Pak Harto dengan logatnya yang sangat medok.
“Bagaimana kabar, nenek?” tanya Pak Harto.
“Sehat, Pak. Aku jarang pulang sekarang, sejak kakak kembali dari luar negeri,” sahut Hendri.
Pak Harto dan Bu Retno terdiam, aku sangat penasaran dengan itu semua. Lalu Bu Retno kembali membuka suara. “Sudahlah, Tuan. Lupakan saja semua kejadian itu.”
“Aku juga ingin seperti itu, Bu. Tapi aku tidak bisa, setiap apa saja yang ingin aku lakukan, itu juga menjadi keinginannya. Dari dulu hingga kini, ia selalu melakukan itu dengan sengaja,” sahut Hendri dengan mimik wajah sendu.
“Pulang dan jenguk nenek sebagaimana biasanya, kasihan beliau, Bapak yakin, saat-saat seperti ini, nenek jadi serba salah.” Nasihat Pak Harto sangat medok dan bermanfaat, Hendri mangut-mangut saja.
Suasana kembali sepi, semuanya terdiam. Aku dengan rasa penasaran yang memuncak dan mereka dengan pikiran masing-masing yang tak ku ketahui dengan pasti apa itu.
“Kalian menginap di sini, kan?” tanya Pak Harto.
Hendri menggelengkan kepalanya, ia menatapku meminta persetujuan. Aku melihatnya sembari menggenggam tangannya. Aku mengangguk sambil membuka suara, “Kami menginap di sini, Pak.” Aku tahu ia sangat merindukan kampung halamannya itu, aku tak tega.
“Sayang, kau yakin?” tanya Hendri. Aku mengangguk.
“Pak, ayo kita ke pasar,” ajak Bu Retno. Pak Harto segera bangun, Hendri memberikan kunci mobilnya.
“Pakai saja, Pak,” ujar Hendri.
“Tidak usah, Tuan, saya pakai mobil di rumah saja,” tolak Pak Harto sopan.
“Sudah, Pak. Kapan lagi bisa naik mobil mewah,” sahut Bu Retno tertawa kecil.
“kbu ini ada-ada saja,” sanggah Pak Harto cepat.
Aku tertawa kecil, Hendri tetap memaksa agar pak Harto menggunakan mobilnya saja. Kebetulan ia memarkir tepat di depan gerbang.
Setelah keduanya pergi, tinggal aku dan Hendri berdua di ruang tamu. Aku menatapnya dalam, aku ingin ia menceritakan semua tanpa harus bertanya. Aku mau dia paham dengan maksudku.
“Apa aku terlihat buruk hari ini?” tanya Hendri.
“Ha?” tanyaku.
“Dari tadi kau terus menatapku seperti itu,” ujarnya.
Aku tertawa kecil, ternyata ia tak mengerti. Namanya saja pria, jika tak bertanya dan memberikan kode, tentu tidak akan mengerti dengan maksud hati wanita.
“Aku penasaran dengan ceritamu, Mas,” ujarku kemudian.
“Masa laluku?” tanya Hendri. Aku mengangguk.
“Aku sengaja mengajakmu kemari karena hal itu,” sahutnya. Semakin membuatku penasaran saja. Aku memukul bahunya karena geram.
“Nanti saja aku ceritakan, ayo jalan-jalan keliling kompleks. Di sini, suasananya sangat asri, kan?” Hendri menarik tanganku lalu menggandeng ku keluar.
Aku memejamkan kedua mataku, sudah cukup lama aku tidak menghirup udara segar seperti ini. Secara tak sengaja, Hendri telah membawaku liburan ke puncak. Aku sangat suka dengan suasana seperti ini, sejenak kita meninggalkan hiruk pikuknya kota besar.
Jangan lupa like ya...