A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 11



Pagi yang cerah telah tiba, mentari terbit dengan riang di ufuk timur. Sama sepertiku yang sangat bersemangat pagi ini.


Aku membuatkan nasi goreng untuk Hendri. Dia belum bangun, aku enggan untuk membangunnya.


Setelah masak, aku bergegas mandi dan berpakaian rapi seperti hari-hari sebelumnya. Setelah selesai aku segera turun, aku ingin mengajak Hendri sarapan pagi.


Namun aku mendapati Hendri sedang menikmati secangkir kopi diteras dengan koran ditangannya.


"Mas udah bangun?"


Hendri telah tampil bersih dan wangi, aku heran dengan baju yang ia kenakan. Berati ia bawa baju ganti di mobilnya.


"Hai, pagi!" sapa Hendri.


Hendri sadar aku menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Aku bawa beberapa baju ganti di mobil." Hendri menggaruk tengkuknya.


Mungkinkah ia merasa canggung juga? entahlah. Aku mengajaknya sarapan pagi.


*


Setelah sarapan dan membersihkan meja makan serta mencuci piring. Aku mondar-mandir di depan teras. Aku sudah menghubungi Bu Aini dan Angga dari semalam, tapi sama sekali tidak terhubung. Aku khawatir bagaimana keadaan mereka.


Hendri yang sedang asik membaca koran, ia melipat dan menaruhnya rapi di atas meja.


"Ada apa Cha?"


"Ini loh, Mas. Dari semalam aku hubungi Bu Aini dan Angga tapi gak aktif. Aku khawatir ...."


"Namanya juga desa, mungkin gak ada sinyal." Aku sedikit lebih tenang setelah mendengar omongan Hendri.


Askia berlari luntang lantung, ia sedikit terlambat hari ini.Teman kerjanya yang lain telah tiba sejak 20 menit yang lalu.


Askia merupakan wanita pekerja keras, ia anak pertama dari 4 bersaudara. Adiknya masih bersekolah, ia menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya tiada.


Pagi menjelang siang, Hendri membuat buket mawar merah untuknya sendiri. Ada semburat pilu di hatiku ketika melihat itu, namun apa daya aku buka siapa-siapanya. Dia berpamitan padaku untuk pergi sebentar. Aku mengangguk sembari tersenyum.


Aku memanggil Askia untuk menjaga toko sebentar, aku ingin mengecek kondisi dapur dan ada berapa pesanan untuk hari ini. Berhubung Bu Aini tidak ada, aku harus mengambil alih pekerjaannya.


"Berapa menit lagi matang kue ini, Putri?" aku membuka oven dan mengecek semuanya.


"10 menitan lagi Mbak."


Aku tidak mau ada sedikitpun kesalahan yang akan membuat pelanggan kecewa. Namun apabila terjadi kesalahan real tanpa sengaja seperti kejadian kemarin. Aku bisa mentolelir dengan baik.


Aku mencoba menghubungi kembali Angga, namun lagi-lagi tidak aktif, tidak seperti biasanya ia bersikap demikian. Rasa khawatir memuncak di kepalaku.


Tiba-tiba mobil hitam berdiri di depan toko. Zoya turun dari mobil dengan tas jinjing di tangannya.


"Hai ..." sapa Zoya tersenyum sumringah.


"Dari mana, Bu?" godaku.


Kata Zoya ia baru pulang dari kondangan, aku memutar cepat kedua bola mataku ke arah mobilnya, aku berharap ia datang dengan suaminya dan aku bisa berkenalan dengannya.


"Aku sendirian." Zoya menyadari maksudku.


Aku bertanya padanya, kenapa ia tidak menghadiri arisan kemarin. Jawabannya sangat berbelit-belit, berbeda dengan teman arisanku kemarin katakan. Ah, entahlah. Aku tidak mau terlalu ikut campur urusan pribadinya.


Saat kami sedang asik mengobrol, Hendri pulang dengan mobilnya yang segera ia parkir rapih di garasi rumahku.


Sekilas aku melirik Zoya tampak risih dengan kedatangan Hendri, ia berpamitan dan mohon pamit padaku. Zoya berdalih bahwa ia hanya sekedar mampir karena kebetulan lewat.


Hendri menghampiriku, "Siapa?"


"Sahabatku, Mas."


Hendri membulatkan mulutnya dan manggut-manggut.


* * *


Segera ku basuh tubuhku dengan air. Terasa segar ketika air guyuran shower menerpa di tubuhku.


Setelah selesai mandi, aku menggunakan kaos berwarna pink dan celana pendek, tidak lupa sedikit bedak di wajahku.


Setelah makan malam dan membersihkan meja serta mencuci piring, suara langkah Hendri mendekatiku.


"Cha, bosen dirumah. Nonton, yuk?"


Aku berpaling dan menyudahi pekerjaan yang kebetulan telah selesai. "Boleh, Mas."


Aku segera bersiap-siap, tidak lama kemudian kami segera berangkat menuju bioskop. Aku lupa kapan terakhir mengajak Bu Aini dan Angga nonton bersama.


Tiba disana, setelah beli tiket dan popcorn kami segera masuk, film sebentar lagi akan dimulai.


Kenapa film romantis, sih? gumam ku dalam hati. Suasana kurang pas, aku duduk disebelahnya menonton film romantis, yang nantinya akan ada adegan yang membuatku merasa salah tingkah. Ya sudahlah! aku mencoba sesantai mungkin.


"Kamu suka filmnya?" tanya Hendri saat film sudah tayang.


Aku hanya mengangguk karena mulutku penuh dengan popcorn. Di depan kami ada sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran, aku melihat mereka sedang berciuman, saat aku berpaling ternyata Hendri juga melihatnya.


Aku jadi salah tingkah karena ketahuan sedang melihat mereka pacaran. Hendri tersenyum simpul padaku. Aku menggerutu kesal pada diriku sendiri.


"Mas, keluar aja, yuk?"


"Kenapa? filmnya gak seru?"


Aku memberinya alasan ingin beli baju dan lapar ingin makan sesuatu. Akhirnya kami segera keluar, padahal filmnya masih tayang.


Aku mengajak Hendri makan, aku membawanya ke tempat favorit aku dan Angga makan. Setelah selesai makan, Hendri menagih omonganku tadi yang mengatakan ingin beli baju.


"Sebenarnya gak pengin beli baju sih, Mas." aku menggigit ujung kuku.


Hendri tersenyum, "Aku tau kamu risih dengan tingkah pasangan kekasih di depan kita, kan?"


Aku mengangguk sambil terus berjalan berdampingan dengannya. Aku teringat ulang tahun Angga yang sudah hampir tiba. Aku punya ide untuk mengajak Hendri beli sesuatu.


"Mas, temenin aku beliin hadiah untuk Angga, yuk?"


"Hadiah apa?" tanya Hendri.


"Dua Minggu lagi Angga berulang tahun, Mas. Aku bingung mau beli apa untuknya, kamu punya saran, gak?"


Hendri menggaruk pelipisnya, "Gimana kalau ..."


Hendri menggantung kalimatnya, "Apa, Mas?"


"Semisal gak berupa barang, gimana?"


Aku menyipitkan mataku, menunggu Hendri melanjutkan kalimatnya.


"Ajak liburan aja. Misalnya ke puncak."


Aku tersenyum, benar juga. Sebentar lagi Angga selesai mengikuti ujian akhir semesternya. Rasa jenuh setelah ujian pasti sangat membantu merefresh otaknya yang beku.


"Boleh deh," jawabku.


Setelah berjalan-jalan sebentar, kami memutuskan untuk segera pulang. Sederet rutinitas telah menungguku, tentunya aku harus menyiapkan tenaga untuk hari esok.


Kami tiba dirumah, mataku berat, aku ingin segera tidur. Aku menaiki anak tangga, tiba-tiba Hendri memanggil ku. Aku menoleh sebentar.


"Mimpi indah ..." ujar Hendri tersenyum manis.


Deg.


Jantungku berdegup kencang, aku mengangguk dan meneruskan langkahku masuk kamar.


Kantukku menghilang, wajah Hendri selalu terbayang-bayang di pelupuk mataku. Aku tidak yakin jika terus-menerus dekatnya bisa menahan semua rasaku. Rasa yang semakin hari semakin bertambah besar di hatiku.


Jangan lupa like ya..