A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Episode 14



Angga dan Bu Aini kemarin sudah pulang. Malam ini aku lewati seperti biasanya, ada rasa rindu terhadap Hendri yang aku rasa kini. Apalagi malam terakhir ia menemaniku sempat ia bertanya sesuatu hal yang sangat membuatku malu malam itu.


Sudah seharian ini Hendri tidak menghubungiku, ingin rasanya aku yang menghubunginya duluan.


Handphoneku berdering, aku berharap Hendri yang menghubungiku dan mengucapkan selamat malam. Namun ternyata, Desi.


"Ya, halo Des ..."


"Mbak besok bisa kesini, gak?"


"Ada apa memangnya, Des?"


"Gini Mbak, besok kan pas setahun aku kerja disini ... aku mau kasih laporan keuangan selama setahun belakangan ini."


Ada rasa ragu saat Desi mengatakannya, selama ini ia merupakan salah satu karyawan yang jujur dan sopan. Setelah mengiyakan aku memutuskan telepon dan ku letakkan kembali di meja.


Setelah mencuci kaki dan menggunakan skincare rutin seperti biasanya aku segera berbaring dan ingin tidur nyenyak. Namun Handphoneku kembali berdering tanpa melihat layar segera ku letakkan di telingaku.


"Ada apa lagi?"


"Gak ada apa-apa, sih." Suara Hendri terdengar di seberang sana.


"Mas."


"Iya, berharap orang lain, ya?"


"Eh, gak kok. Dari tadi aku nungguin Mas telepon." Tanpa sadar aku sudah keceplosan dan merocos begitu saja.


"Terus, kenapa sekali-kali gak kamu aja yang hubungi aku?"


"Takut mengganggu kamu Mas," jawabku.


"Jadi, tadi kamu habis teleponan dengan siapa?"


"Desi, Mas."


Kami terdiam sesaat, tidak ada yang memulai pembicaraan kembali, aku malu karena keceplosan barusan, Hendri pasti salah faham, aku hanya tidak ingin terlihat bahwa aku mulai jatuh hati padanya.


"Besok ada acara, gak?"


"Belum ada, sih."


"Jalan-jalan, yuk?"


"Tapi kan Mas, kerja?"


Bukannya menjawab pertanyaan dariku Hendri malah menyuruh aku tidur, besok pagi ia jemput.


"Good night, mimpi indah sayang."


Apa? sayang? aku benar-benar tidak salah dengar, Hendri memanggil ku sayang. Ya Tuhan, aku sangat bahagia.


*Paginya.


Ketika sarapan pagi aku bilang pada Angga aku ingin jalan-jalan dengan Hendri. Tanpa menjawab Angga terus menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulutnya hingga tak tersisa.


Setelah mengelap mulutnya dengan tissue Angga menatapku, "Hati-hati ya, Mi?"


Setelah itu Angga berlalu ke sekolah dengan motornya, aku lambaikan tangan saat mengantarnya sampai depan.


Soal kepergian Bu Aini dan Angga kemarin masih menjadi tanda tanya di pikiranku. Soalnya kemarin aku bertemu Andre sahabat Angga di supermarket saat ia menemani Ibunya belanja. Aku bertanya soal camping, wajahnya terlihat bingung dengan apa yang aku tanyakan.


Setelah mendapat jawaban bahwa mereka tidak camping, aku juga mengatakan pada Andre agar ia tidak memberitahukan Angga bahwa aku mengetahui itu darinya.


"Bu, aku mau mandi. Kalau Hendri datang Ibu temani mengobrol, ya?"


Aku siram tubuhku dengan guyuran shower, dinginnya bulir-bulir air menerpa tubuhku rasanya segar hingga tulang.


Setelah mandi kurang lebih 20 menit, aku keringkan tubuhku dengan handuk dan siap berpakaian rapi yang telah aku siapkan.


Hari ini aku menggunakan T-shirt berlengan panjang dan celana jeans serta sepatu sneaker favorit.


Setelah siap dengan make-up di wajahku, aku raih tas lengkap dengan alat makeup seadanya didalamnya tidak lupa kaca mata hitam andalanku, segera aku turun kebawah.


Hendri sudah menunggu di luar bersama Bu Aini. Aku menghampiri mereka yang sedang asik mengobrol.


Hendri sangat tampan dengan kaos polos dan jeans hitam serta sepatu kets yang ia kenakan hari ini. Aku sangat terpesona dengan tampilannya.


"Udah, Mas."


"Bu, kami berangkat dulu, ya?" Hendri berpamitan pada Bu Aini.


Setelah bersalaman dengan Bu Aini aku berangkat bersama Hendri ke tempat yang masih belum ku ketahui.


"Kamu cantik."


Aku mengarahkan pandanganku ke wajah Hendri, "Terimakasih, Mas."


"Ngobrol dong, diam aja," ujar Hendri lagi.


"Bingung, mau ngobrol apa, Mas."


"Apa aja, masak gak ada yang mau kamu ceritakan."


Hendri memulai cerita tentang masa kecilnya, ia bersekolah dasar di Indonesia setelah itu ia pindah ke London bersama kedua orangtuanya hingga menyelesaikan kuliah disana baru ia kembali ke Indonesia. Sekarang ia tinggal bersama neneknya, sementara kedua orangtuanya masih menetap di London.


"Kapan-kapan aku ajak kamu ke rumah, ya?"


"Boleh," aku mengangguk sembari tersenyum.


Tiba-tiba obrolan kami terhenti karena dering telepon selulerku. Zoya menghubungiku.


"Halo, Zo."


"Kamu dimana? aku dirumah kamu, nih."


Tiba-tiba Hendri meraih handphone di tanganku ia letakkan di telinganya. "Maaf, kami sedang jalan-jalan, kalau ada keperluan nanti saja, ya?"


Setelah menekan tombol merah, Hendri mengembalikan handphoneku seraya berkata, "Buat mode diam dong, aku gak mau ada yang ganggu kita berdua."


Aku masih terdiam dan terpaku menatap wajah Hendri.


"Hei, sayang, kok bengong?"


Aku gelagapan, lagi-lagi aku mendengar Hendri memanggil aku sayang. Aku yakin pipiku pasti merah merona saat itu. Setelah membuat mode diam aku melihat lurus ke depan tidak berani lagi menatapnya.


Kami tiba di sebuah wahana bermain, tempat yang cukup ramai dan banyak dikunjungi keluarga dan pasangan-pasangan kekasih.


Setelah memarkir mobil, kami turun. Hendri menggandeng tanganku mengajak masuk.


"Kamu mau kita naik wahana apa?"


"Aku takut muntah-muntah, Mas." Belum naik wahananya saja aku sudah cukup mual.


"Gak apa-apa, yok?"


Kami melewati antrian panjang, padahal hari ini bukan hari libur tapi cukup ramai pengunjungnya.


"Mas, kita gak tunggu antrian?"


"Gak usah," jawab Hendri.


Hendri mengajakku naik rollercoaster, aku takut, apalagi mengingat banyak kejadian kecelakaan sampai terhenti aku geli.


"Mas, aku takut!" Teriak ku ketika rollercoaster melaju kencang.


Aku berteriak cukup keras, memejamkan mata dan menggenggam erat tangan Hendri. Padahal durasinya sangat singkat. Setelah turun, perutku terasa mules.


Hendri memberiku air mineral dan mengajak duduk sebentar sebelum melanjutkan kembali ke wahana selanjutnya.


"Mas, naik bianglala, yuk?"


Aku dan Angga paling menyukai permainan yang satu ini, kecuali Bu Aini. Beliau bisa pingsan ketika sampai di ketinggian. Aku menaiki bianglala bersama Hendri. Aku berselfi ria di atas sana. Hendri menggandeng tanganku erat seakan tidak ingin terlepas.


Kami bermain semua wahana, berhenti sejenak hanya untuk makan setelah itu bermain lagi. Layaknya anak muda yang lagi kasmaran kami terus bermain ria hari itu.


Aku merasakan hangat tangan Hendri ketika ia mengetahui aku takut, atau aku merasa lelah. Perhatiannya terhadapku seperti bukan sesuatu yang dibuat-buat. Tulus dari hatinya.


Andai saja apa yang aku rasa kini dirasakan juga olehnya, alangkah bahagianya aku. Aku mencuri-curi pandang terhadapnya ketika ia tidak menatapku. Namun sebaliknya, saat ia menatapku aku tidak berani beradu pandang dengannya.


Jangan lupa like ya...