A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 18



“Make a wish dulu dong,” pintaku pada Angga.


Aku memejamkan matanya, aku tidak tahu apa yang ia pinta aku cuma berharap Yang Kuasa mengabulkan setiap doa-doanya.


Viona berada di sampingku, senyum yang indah selalu terukir di bibirnya. Sepertinya aku menyukai anak gadis ini.


“Wah, ini pilihan yang sulit.” MC menggoda Angga saat ia mau memberikan potongan pertama kue ulang tahunnya.


“Aku mencintai Vio, tapi Mami tetap nomor satu,” ujar Angga saat ia menyuapkan potongan pertama ke mulutku.


Disambut tepuk tangan dan sorakan yang cukup riuh dari teman-temannya ketika ucapan tersebut keluar dari mulut Angga.


Satu pernyataan yang cukup berani di depan kekasihnya sendiri menurutku. Kemudian suapan kedua menyusul kepada kekasihnya.


“Angga, maafkan saya terlambat,” ujar seseorang dari arah pintu masuk.


Semua mata melihat siapa gerangan suara pria dewasa yang datang itu, begitu pun aku, kubalikkan badanku menatap siapa tamu yang terlambat malam ini.


Aku kaku, kakiku terasa keram mulutku terbuka sempurna tak ada yang bisa kukatakan air mata jatuh perlahan di pipiku.


“Enggak apa-apa Pak, selamat datang di rumah saya,” ujar Angga.


Pria yang sudah 18 tahun belakangan ini tidak pernah muncul lagi di kehidupanku, pria yang melepaskan tanggung jawabnya terhadapku, dia juga yang menghancurkan masa depanku. Kini ia tepat berada di depanku. Aku ingin sekali meneriakinya, menjambak rambutnya dan mengutarakan semua sumpah serapahku padanya.


Namun ia sama hal denganku, ia terpaku menatapku bahkan ia tidak menghiraukan ucapan Angga. Ia mendekatiku, aku mundur ke belakang, ia menghentikan langkahnya.


“Chalisa ...” ucapnya lirih.


Angga mengambil alih Mikrofon ia menyuruh semua teman-temannya kembali menikmati pestanya. Ia mengalihkan perhatian teman-temannya setelah melihat tingkahku yang aneh.


“Mami, sebaiknya Mami bicara dulu dengan Pak Pratama,” ujar Angga padaku dan Robert.


“Tidak ada yang perlu Mami bicarakan Angga,” ucapku pelan.


Angga menarik tanganku dan Robert yang masih terpaku, ia membawa kami keluar dari area pesta.


“Lepaskan Mami Angga!” teriakku.


“Mami?” ulang Robert.


“Ya Pak, ini Mamiku yang ingin ...”


Aku menyela ucapan Angga yang ingin mengatakan sesuatu pada Robert. “Enggak perlu bicara panjang lebar dengannya Angga!” ucapku tidak bisa menahan emosi yang bergejolak di dadaku.


Namun Bu Aini dengan tergesa-gesa menarik tangan Angga menjauh, ia membiarkan aku dan Robert di sana. Dengan rasa penasaran Angga mengikuti kemauan Bu Aini.


“Aku enggak sangka kamu benar-benar melahirkan anak haram itu Chalisa,” ujar Angga.


Plaaakk!!


Sebuah tamparan yang cukup keras aku layangkan di pipinya. Air mataku bercucur deras mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya. Setelah sekian lama tidak berjumpa, aku kira sudah bisa menerima semuanya, tapi aku salah, emosi yang selama ini aku pendam seketika keluar menggebu-gebu.


“Keluar dari rumahku!” teriakku cukup kencang. Jika saja mereka sedang tidak menyanyikan lagu di dalam, sungguh akan terdengar hingga ke dalam.


Robert tak bergerak sama sekali, ia masih terpaku dengan semua ke marahanku. Aku tak berhenti menangis, semua air mata ini jatuh begitu saja, aku terlihat bodoh dan tak berdaya di depannya. Padahal 18 tahun belakangan aku tumbuh menjadi wanita tangguh, tapi bertemu dengannya malam ini mengubahku.


“Aku sudah berjanji pada Angga, Malam ini akan diberitahukan siapa Ayahnya. Namun sayangnya sang Ayah sama sekali tidak pernah ingin mengakuinya,” ucapku di sela tangisan.


Aku membuang pandanganku ke samping. Namun alangkah terkejutnya aku melihat Hendri terpaku di sana sebuah kado dan seikat bunga mawar merah di tangannya.


“Hendri,” panggilku.


Hendri mendekatiku, ia menatapku yang menangis tersedu-sedu.


“Kau apakan dia?” tanya Hendri dengan suara yang dingin tanpa menatap Robert.


Hendri belai lembut pipiku, ia usap pelan, ia menghapus air mataku dengan ujung jemarinya. Ia dekap erat tubuhku ia benamkan kepalaku di dadanya.


“Bukan urusan kau!” jawab Hendri pedas.


“Tentu saja urusanku, dia ibu dari anakku,” ujar Robert.


Kupingku rasanya terbakar mendengar ucapannya. Setelah mencampakkan aku dengan sadis 18 tahun lalu, bahkan 10 menit yang lalu ia baru saja mengatakan hal yang cukup membuat hatiku tersayat, sekarang ia mengatakan aku ibu dari anaknya.


“Tutup mulutmu!” teriakku berapi-api.


Aku mendekatinya aku mengucapkan semua sumpah serapah yang kupendam bertahun-tahun lamanya. Hendri menarikku ke dekapannya ia peluk tubuhku erat. Aku terdiam, hanya tangisan yang masih tersisa.


“Lebih baik kau pergi dari sini,” ujar Hendri.


Hendri mengajakku masuk lewat pintu samping langsung menuju lantai dua. Aku tidak peduli dengan Robert bahkan untuk sekedar menoleh saja aku tak ingin.


Aku terdiam, pandanganku nanar menatap ke depan, gelapnya malam tanpa ada satu bintang pun yang bersinar menghiasi langit malam ini.


Aku berada di balkon kamarku. Hendri menarik kepalaku, ia rebahkan di pundaknya, kuikuti semua kehangatan yang ia berikan padaku


“Sayang,” panggil Hendri.


Aku menatapnya sayu, aku tidak tahu apa ia sudah mendengar semuanya, aku tidak tahu sejak kapan ia sudah berdiri di sana kala tadi aku mengamuk pada Robert.


“Aku malu, Mas.”


Hendri menarik tengkukku ia kecup pelan keningku.


“Aku mencintaimu,” ujarnya sambil tersenyum dan kembali membelai lembut pipiku.


“Mas belum sempat pulang ke rumah?” tanyaku mengalihkan suasana.


“Belum, aku merasa gelisah dengan keadaan kalian berdua. Benar saja, aku datang di waktu yang tepat,” jawab Hendri, lalu ia hembuskan nafasnya perlahan.


“Mas bawa apa?” tanyaku manja.


Setelah kata itu keluar, aku baru sadar dengan sikapku.


“Maaf, Mas.” Aku menundukkan kepalaku.


“Aku suka kamu manja,” ujarnya memegang tanganku. Aku tersipu malu.


“Aku bawa kado untuk Angga dan seikat mawar untuk Maminya,” goda Hendri.


Aku tersenyum, Hendri pasti lelah sekali, ia sempatkan waktu datang ke rumahku tengah malam begini. Aku juga bersyukur karena ia datang di waktu yang tepat. Andai saja ia tak datang, aku tidak tahu apa Robert akan bertingkah di luar kendali.


“Mami ...” Angga memanggilku ia mengetuk pintu beberapa kali.


Hendri segera bangun ia buka pintu kamarku, sementara aku masih betah berada di balkon ini. Angga mendekatiku setelah Hendri bukakan pintu untuknya.


“Mami, maafkan aku sudah mengundang pria itu kemari,” ujar Angga menundukkan kepalanya.


“Sayang, ini bukan salahmu, Nak.”


“Sudahlah, Mi. Bu Aini sudah menceritakan semuanya,” ujar Angga dingin.


Sementara Hendri berdiam diri ia membiarkan aku dan Angga berbicara.


“Aku pastikan pria itu tak akan lagi menginjakkan kakinya di rumah ini.”


Seperti yang aku pikirkan, jika aku luapkan emosiku di depannya, pasti ia akan membenci ayah kandungnya sendiri. Harusnya tadi aku bisa lebih tenang, bagaimanapun itu adalah ayahnya ia tidak boleh membenci ayahnya sendiri.


“Om, aku percaya Mami akan bahagia dengan Om,” ujar Angga menatap Hendri penuh harap. Setelah itu ia berlalu meninggalkan aku dan Hendri di sana.


Jangan lupa like ya .