
“Pulanglah,” pintaku padanya.
Kali ini aku menatapnya, mungkin tatapan yang terakhir kalinya. Aku berterima kasih padanya telah jujur padaku, detik-detik di mana hari pernikahan semakin dekat. Aku juga berterima kasih untuk, rasa yang membuat hatiku menjadi keras seperti ini. Bahkan aku hampir lupa bagaimana cara meneteskan air mata.
“Aku akan semakin merasa bersalah jika kamu tidak memaafkan kesalahanku, Cha,” ucap Hendri padaku.
“Tidak ada yang perlu disesali, pulanglah Hendri,” pintaku sekali lagi.
Hendri menarik nafasnya dalam. Ia menengadah ke langit. Aku masih berdiri mematung di sebelahnya. Dengan wajah tanpa ekspresi.
“Baik-baik tanpa aku. Buka hatimu untuk yang lain, jangan hanya lihat sisi buruknya saja, barangkali ia sudah berubah. Aku percaya, kebahagiaan yang sesungguhnya telah menantimu,” ucap Hendri perlahan.
Spontan aku menatapnya tajam. Ia menarik kedua tanganku kemudian menggenggamnya erat. Air mata tumpah di pipinya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu pilu, harusnya aku yang menangis.
Baju pengantin telah siap, gedung sudah siap, belum lagi undangan pernikahan yang telah tersebar. Harusnya aku yang menangisi semua itu.
“Lagi-lagi kau telah melakukan kesalahan besar dengan melabuhkan cintamu padaku. Aku bersalah, aku minta maaf padamu. Tak seharusnya kau menerima semua ini,” ucap Hendri padaku.
Aku melepaskan tangannya. Aku tersenyum kecil. Di antara semua ucapannya tadi, aku menyetujui kata-kata yang baru saja ia lontarkan. Ya, aku telah melakukan dua kesalahan besar dalam hidupku. Yang pertama, aku melakukan kesalahan dengan kakaknya, yang kedua, aku memilihnya dengan anggapan ia berbeda dengan kakaknya.
“Pulanglah,” ucapku sekali lagi.
Aku tidak ingin berkomentar apa pun lagi. Semuanya sudah jelas. Semuanya sudah berakhir, impianku untuk segera mengakhiri kesendirianku telah sirna. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bagaimana aku memulainya lagi dari nol.
Hendri melangkah menuruni tangga teras rumahku. Matanya masih sembab. Sebelum ia sampai ke pintu gerbang, ia kembali mendekat padaku sembari berkata, “Titip salamku untuk Angga, aku telah mengingkari janjiku padanya untuk tidak menyakitimu. Katakan padanya, ucapannya padaku beberapa waktu silam, telah terbukti. Katakan juga, jangan menyerah, mungkin ia akan berhasil dengan niat baiknya.”
Kemudian Hendri keluar dari pekarangan rumahku. Sekejap saja, ia sudah berlalu dari hadapanku dengan kendaraannya. Aku menghempaskan bokongku di kursi. Aku menutup mataku, terasa panas. Air mata seakan-akan telah mengering.
Aku menghela nafas panjang. Aku masuk ke dalam, aku harus menerima kenyataan pahit ini. Aku juga harus mengatakan semuanya pada keluargaku. Baik buruk berita ini, tetap saja aku harus menyampaikannya.
Aku duduk di antara mama dan Bu Aini serta Angga berhadapan denganku. Mereka semua terdiam, tak lama Zoya keluar dari kamarnya, ia duduk di sebelah Angga.
“Hendri telah membatalkan pernikahan kita,” ucapku akhirnya setelah semuanya berkumpul.
Semuanya terdiam. Aku menatap mereka berempat secara bergantian. Apa mereka sudah tahu sebelumnya?
Mama mengelus rambutku. Beliau mengecup keningku sebentar.
“Kalian sudah tahu tentang ini?” tanyaku.
Angga menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum kecut sembari mengumpat kesal. Ah, betapa menyedihkan semua ini. Pantas saja mereka tidak menanyakan apa pun padaku.
“Kau pasti tahu sesuatu tentang semua ini, kan?” tanyaku pada Zoya.
Setelah akur kembali dengan Zoya, aku sudah menanyakan tentang ucapannya untuk Hendri. Zoya mengatakan, ia hanya sengaja melakukan itu untuk membuat hubungan kita berdua putus. Namun setelah kejadian ini, aku tidak yakin ia sengaja melakukan itu hanya karena itu, pasti ada sesuatu yang ia ketahui.
“Katakan, Zo?” pintaku.
Zoya menarik nafasnya dalam-dalam. “Ini bukan kali pertama terjadi, Hendri telah berkali-kali menemukan pengganti Diana. Namun tetap saja tidak bisa membuatnya berpaling dari Diana. Aku berpikir kalian berdua akan benar-benar menikah. Mengingat kau sangat mirip dengan Diana,” tutur Zoya.
Aku menghembuskan nafasku perlahan. Cinta keduanya begitu kuat, bahkan setelah Diana cukup lama telah tiada. Hendri masih saja tidak bisa berpaling darinya.
Bu Aini mengelus rambutku. Beliau mengiyakan ucapan Zoya. Semuanya yang terjadi ada hikmahnya, tinggal bagaimana cara kita menyikapi rasa sakit itu dengan membandingkan nikmat luar biasa setelah itu.
Aku memeluk mereka berdua. Kali ini bulir-bulir air mata berjatuhan di pipiku. Bukan karena gagal menikah, tapi aku terharu, aku beruntung memiliki orang-orang terdekat seperti mereka.
Tiba-tiba ponsel Angga berdering keras. Ia meraihnya dengan tergesa-gesa dari saku celananya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Halo, Pa,” sapa Angga.
“Papa di mana?” tanya Angga. Ia berdiri dari duduknya.
“Aku segera ke sana ya, Pa,” ucap Angga sebelum mengakhiri pembicaraan singkat itu.
“Ada apa?” tanya Bu Aini pada Angga.
“Ayo kita ke rumah sakit. Om Hendri kecelakaan,” ucap Angga berusaha tenang.
Deg.
Jantungku berdetak kencang mendengar Hendri kecelakaan. Aku berusaha tenang, aku tidak mau berpikiran macam-macam. Tanpa basa-basi lagi kita semua segera berangkat menuju rumah sakit. Angga melaju kencang, semuanya terdiam. Hanya harapan yang tak pernah putus, semoga Hendri akan baik-baik saja.
Baru saja setengah jam yang lalu Hendri pulang dari rumahku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kejadian itu terjadi begitu cepat. Tak lama kita tiba di alamat yang dikirimkan Robert.
Aku berlari kecil di belakang Angga. Kita segera menuju ruang gawat darurat. Dari kejauhan aku sudah melihat nenek di pelukan Robert serta gadis bule itu juga di sana.
“Oma, Papa, bagaimana keadaan Om Hendri?” tanya Angga dengan nafas yang memburu.
“Dokter sedang menanganinya, semoga semuanya baik-baik saja,” sahut Robert.
Nenek memelukku erat. Beliau tak berhenti menangis. Ya Tuhan, semoga ia baik-baik saja, harapanku.
Tak lama, Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan. Robert segera menghampirinya.
“Om, bagaimana keadaan Hendri, Om?” tanya Robert.
“Hendri sudah tiada, Rob. Kau yang sabar, benturan keras di kepalanya yang membuat ia tidak bisa kita selamatkan lagi,” jawabnya sambil mengusap wajah dengan tangan kanannya.
Nenek pingsan di pelukanku begitu mendengar ucapan dokter yang merupakan kerabat dekat keluarga nenek. Robert terdiam, ia terjatuh ke lantai, air mata mulai membasahi pipinya. Gadis bule itu menangis histeris begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu aku, bagaimana denganku, kenapa aku tidak bisa menangis, kenapa setetes air mata pun tidak tumpah di pipiku, ada apa denganku?
Perawat membawa nenek ke ruangan lain. Kondisinya sangat drop, Angga menemaninya. Aku mendekati Robert, aku menarik bahunya, ia berdiri lalu memelukku sangat erat.
“Hendri sudah pergi untuk selamanya, Cha. Hendri meninggalkan kita semua,” ucap Robert di pelukanku.
Aku terdiam, masih saja terdiam, apa aku bermimpi, apa semua ini nyata?
Tolong katakan semua ini adalah mimpi.
Jangan lupa like.