
"Pa, aku datang. Liat aku bersama siapa?" ucapku berlinang air mata.
Aku dengan kedua orang tua papa, berada di pusara papa. Tempat peristirahatan terakhirnya.
Nenek menciumi pucuk batu nisan papa, sementara kakek terus mengusap-usapnya. Aku tidak bisa menahan air mataku, meski aku menutupinya dengan kaca mata hitam.
"Nak, kau sudah tenang di sana?" tanya Nenek.
"Apa yang kau tanyakan, Ma. Tentu saja anak kita sudah tenang di sana," balas kakek.
Keduanya saling bertatapan mata, bahu kakek sudah siap untuk menampung kepala nenek. Aku hanya bisa terpaku menatap pemandangan memilukan ini.
"Nak, tunggu kita berdua di surga, ya? Di sini kita tidak mungkin bersatu lagi," ujar nenek.
Seketika perasaanku hancur. Aku menatap nenek. Ucapannya barusan sangat tidak normal di telingaku. Aku masih ingin bersama mereka, aku tidak ingin mereka pergi terlalu cepat dariku. Aku baru saja menemukan keluarga baruku.
"Nek, jangan bicara seperti itu," pintaku padanya.
Nenek membalas dengan senyuman. "Umur tidak ada yang tau, sayang," jawabnya.
••
Malam harinya.
Usai menyelimuti Kakek dan nenek dengan selimut, aku keluar dari kamar mereka. Aku membiarkan mereka istirahat setelah seharian lelah bepergian.
Sejujurnya, aku juga belum pulih normal. Namun demi mempertemukan mereka dengan papa, aku berusaha kuat. Robert sempat menawarkan bantuan, aku menolaknya. Sudah terlalu banyak aku merepotkan.
Aku menghempaskan tubuh ke ranjang. Aku menarik nafas lega, akhirnya aku kembali ke rumah. Aku pergi untuk melupakan seseorang yang telah pergi jauh, namun siapa sangka aku membawa kembali orang yang telah lama menanti. Hidup ini penuh misteri.
Aku melihat koperku di atas lemari baju. Aku baru ingat, sejak pulang aku belum mengeluarkan baju-baju dari sana. Dengan enggan, aku bangun untuk merapikannya.
Aku memeriksa baju satu persatu, barangkali ada yang terlupa. Soalnya, bukan aku sendiri yang membawanya pulang. Robert yang mengurus semuanya saat aku di rumah sakit.
Tanganku terhenti, pikiranku kacau ketika melihat baju putih pengantin masih terlipat rapi di sana. Aku benci mengingat kembali kejadian beberapa Minggu silam.
Seharusnya Robert buang saja baju itu. Aku segera turun ke bawah, membawa baju itu untuk aku bakar saja.
"Heh, mau kau apakan baju itu?" tanya Robert.
"Mau aku bakar!" jawabku.
Robert menarik tanganku kemudian mengambil baju itu.
"Jangan gila!" teriaknya.
"Apa urusanmu, ini bajuku!" jawabku lagi.
"Kamu jangan konyol, aku mau kamu pakai baju ini," ujar Robert menatapku dalam.
Aku bingung dengan ucapannya, namun enggan menanyakannya.
"Menikahlah denganku, Chalisa?" ucap Robert.
Aku memutar bola mataku padanya dengan cepat. Aku menyoroti wajahnya dengan sangar tanpa bertanya apapun.
"Oma ingin bertemu denganmu," ujarnya lagi.
"Oh, jadi Nenek yang memintamu?" tanyaku.
"Bukan seperti itu, ada hal yang ingin disampaikan padamu tentang Hendri," sahut Robert.
"Aku tidak mau tau," jawabku.
Robert menarik nafas dalam-dalam, ia menghembusnya dengan kasar.
"Menikahlah denganku, Cha. Setidaknya, itu akan membuatmu melupakan, Hendri," ujar Robert.
Aku terdiam. Jika itu alasannya mengajakku menikah, kenapa begitu repot. Biarkan saja waktu yang akan mengubah hati dan pikiranku. Sama seperti yang dilakukannya padaku. Aku hanya membalas dengan tersenyum kecut.
"Tidak usah repot-repot, Rob," jawabku.
Apa aku terlihat sangat menyedihkan?
"Cinta?" tanyaku dengan tatapan menjijikkan. "Bagaimana bisa kau menyebutnya cinta, Rob? Atas dasar apa kamu mengatakan itu cinta?" lanjutku.
"Tanyakan hatimu, jangan tanyakan aku. Kamu yang mengelak dari perasaanmu sendiri, Cha," balas Robert dengan tatapan yang lebih mematikan.
Aku terdiam sejenak, semilir angin kencang menerpa wajahku, menyibakkan rambutku hingga menutupi sebagian wajahku.
"Hendri hanya pelampiasan, bukan sebenarnya cinta. Kamu hanya menemukan sosok diriku padanya. Persis seperti yang aku lakukan pada Zoya!"
"Kamu sok tau!" bantahku. Bagaimana bisa ia berasumsi bahwa aku melampiaskan rasa pada Hendri.
"Jawabannya ada padamu, bukan padaku," jawab Robert.
"Tapi kenapa dulu kau ... ."
Belum sempat aku mengakhiri pertanyaannya, Robert membungkam mulutku dengan ciuman bibirnya. Aku tak sempat menolak, aku terdiam.
"Aku melakukan kesalahan besar, aku minta maaf. Jangan lagi katakan masa laluku yang kelam," ucapnya kemudian.
Aku masih membisu, jantungku berdebar kencang, hembusan nafas Robert menerpa wajahku, jarak kita sangat dekat. Ada apa denganku? Aku mendorongnya menjauh dengan perlahan.
"Rob, stop!" pintaku.
Aku berlari masuk ke kamar meninggalkannya di depan rumah seorang diri dengan baju pengantinku di tangannya.
Aku duduk di tepi ranjang, badanku terasa menggigil, aku merasa aneh. tiba-tiba pintu kamarku di ketuk seseorang.
"Siapa?" tanyaku.
"Cha, ini aku," sahut Zoya di luar.
"Masuk," pintaku.
"Kau kenapa?" tanya Zoya.
Aku memeluknya, aku sangat merindukannya. Selama tidak ada aku, dia begitu sibuk mengurus semuanya. Aku sangat berterima kasih padanya.
"Bagaimana hubunganmu dengan teman lamamu itu, maaf aku tidak sempat menemanimu bertemu dengannya?" Aku memulai obrolan.
Zoya tersipu malu, ia menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Tidak apa-apa, Cha. Santai saja. Lagipula aku belum bertemu dengannya," jawab Zoya.
"Loh, kenapa?" tanyaku.
"Aku menunggu kepulangan mu," jawab Zoya.
"Ya ampun, Zo. Ya sudah, atur jadwalnya, kita ketemu besok," jawabku.
"No, Cha. Kamu lagi berkabung, enggak seharusnya aku bahagia disaat kamu seperti ini," balas Zoya.
Aku merasa bersalah. Sangat banyak orang disekeliling aku harus merasakan kesedihan karena ku, tak seharusnya mereka juga ikut merasakan apa yang aku rasa. Harusnya, biar aku saja yang memikulnya.
"Cha, selama kepergian kamu, Robert orang yang paling merasa terpukul," beritahu Zoya.
Aku bisa mengerti, selain kehilangan adik, ia mungkin kehilangan aku juga.
"Cha, aku orang yang paling bersalah diantara kalian berdua," lanjut Zoya. Aku hanya diam.
"Aku minta maaf," ujar Zoya. Dia memelukku erat. Aku sudah memaafkan dirinya sejak jauh-jauh hari, namun hanya belum bisa melupakannya.
Aku ingin melupakan semua tentang masa lalu, tapi semakin hari aku semakin dekat dengan masa laluku. Aku bisa memaafkan Zoya dengan lapang dada, lalu kenapa dengan Robert? Seharusnya aku pun bisa memaafkannya.
"Cha, apa kamu benar-benar mencintai Hendri?" tanya Zoya.
Aku mengerutkan kening, kenapa tiba-tiba bertanya begitu?
"Buka hatimu kembali pada Robert, aku mohon," ucap Zoya lagi. "Aku yakin kalian berdua akan bahagia," lanjutnya.
Aku menutupi wajah dengan kedua tanganku. Aku sangat bingung, aku tidak bisa berpikir jernih saat ini. Aku menyentuh bibirku dengan jemari tanganku. Aku merasakan ada debaran di jantungku ketika bersentuhan dengan Robert.
Apa aku benar-benar masih mencintai Robert? Apa benar selama ini aku hanya menjadikan Hendri sebagai pelampiasan?
Ya Tuhan, aku sangat bingung.