
Begitu tiba di rumah, Bu Aini segera menyambut kepulangan ku. Beliau segera memapahku masuk ke dalam. Tak lama beliau kembali ke bawah. Aku mendengar suaranya memaki Robert. Beliau menghardiknya, lalu menanyakan apa yang telah diperbuatnya padaku. Aku tak mendengar ada pembelaan dari Robert. Sepertinya ia benar-benar menyesal.
Aku menyibak tirai jendela kamarku, air mata tak berhenti menetes di pipiku. Aku duduk diam di menatap ke luar, ku sandarkan kepalaku di dinding. Aku merasa saat ini, aku adalah wanita paling bodoh di muka bumi ini. Aku selalu dibohongi oleh orang terdekat, aku percaya pada mereka, tapi apa yang telah mereka perbuat terhadapku.
Terdengar suara langkah kaki mendekati kamarku, lalu terdengar ketukan pintu serta suara Bu Aini memanggilku. Aku semakin pilu, berulangkali beliau memperingatkan bahwa jangan terlalu percaya pada Zoya. Dan, sekarang terbukti. Wanita licik itu, datang kembali ke kehidupanku, untuk menghancurkan kembali masa depanku. Aku tak berani memberitahu beliau kejadian yang sebenarnya, aku juga tak ingin bertemu beliau.
“Kalau kau mau berbagi, Ibu siap mendengarnya, sayang,” ujar beliau di depan kamarku. Namun aku tak bergeming, aku belum siap dengan semua itu.
Setelah beberapa saat, aku mendengar suara langkah beliau menuruni tangga. Aku tahu, saat ini kekhawatiran menyelimutinya. Maafkan aku, tapi aku tak bisa berkata-kata saat ini, gumamku dalam hati.
Di saat seperti ini, aku butuh sosok yang bisa menenangkan, memberiku kekuatan, aku benar-benar rapuh. Semuanya terjadi begitu terencana, dan betapa bodohnya aku tak mengetahui itu semua.
Jujur, aku merindukan Hendri hadir di sisiku, memberiku kekuatan dan pelukannya yang hangat dan menentramkan. Ah, mana mungkin ia datang, mana mungkin ia tahu apa yang aku rasakan, setelah beberapa hari belakangan aku mengacuhkannya. Mungkin, ia juga lelah menghubungiku. Aku melirik ponselku, berharap satu panggilan atau pesan datang darinya. Namun nihil, aku kembali menenggelamkan wajahku di kedua lututku.
“Sayang, buka pintunya ... .”
Suara yang cukup familiar di telingaku. Aku menoleh, Hendri berdiri di depan jendela kamarku, ia terus mengetuk-ngetuk pintu dan memanggilku. Aku segera membukakan pintu, dan memeluknya erat. Tangisanku pecah seketika. Pelukan ini yang bisa menenangkanku.
“Ada apa?” tanya Hendri dengan membelai lembut rambutku.
Aku membenamkan wajahku di pelukannya. Aku tak bisa berkata-kata, hanya maaf yang terus menerus terucap dari bibirku. Aku tahu, pasti Bu Aini menghubunginya, seperti yang biasa-biasa beliau lakukan jika aku sedang dalam masalah.
Setelah tenang, aku dan Hendri duduk di balkon. Aku masih terdiam dengan teh hangat yang disediakan Bu Aini di tanganku. Hendri tak membuang pandangannya dariku, ia terus mengusap lembut pipi dan wajahku.
“Aku baru saja tahu siapa dalangnya, Mas,” ucapku pelan, aku menatapnya dalam.
Hendri tak berkomentar, ia menatapku sembari menunggu ceritaku. Itu yang membuatku nyaman, ia menjadi pendengar sekaligus penasihat yang baik untukku.
“Orang yang sangat aku percaya, tega melakukan itu semua, Mas,” lirihku pelan, air mata kembali lolos di pipiku.
“Stttt ... jangan menangis lagi, aku tahu, kau pasti syok dengan semua ini, tapi kau harus cukup dewasa menanggapi ini semua,” ujar Hendri kembali memelukku.
Aku sedikit kaget dengan jawabannya, seolah-olah ia telah mengetahui semuanya. Ah, mana mungkin ia tahu, aku menepis pikiran konyol itu.
“Kau harus mulai menerima semuanya dengan lapang dada, hidup tidak selamanya memihak kepada kita. Terkadang, untuk menemukan kebahagiaan sejati, kita perlu berjuang dan bersahabat dengan keadaan yang tak sesuai keinginan kita,” ucap Hendri panjang lebar. Aku menatapnya.
“Sekarang kau paham, mengapa aku selalu mengatakan padamu, jangan mudah percaya ...” tutur Hendri dengan lembut. Aku menganggukkan kepalaku.
“Sekarang, kau hanya perlu menjalani hidupmu sebagaimana biasanya, jangan biarkan orang lain mempunyai celah sedikit pun untuk mengacaukannya. Kau pemeran utamanya di sini.”
Aku tersenyum manis, aku mengusap air mata yang mulai mengering di pipiku. Aku memeluknya erat, Hendri benar. Zoya hampir saja sekali lagi membuat hubungan aku dengan Hendri hancur. Untungnya, Robert mengatakan semuanya, walau itu semua tak mengubah apa pun untuk aku dan Robert sendiri.
“Aku lapar,” lirihku di pelukan Hendri.
Terdengar ia tertawa renyah, aku selalu seperti itu. Jika sedang dalam masalah, rasa lapar dan kantukku hilang, namun bila semuanya telah usai, aku merasakan sangat lapar. Hendri mengacak-acak rambutku, lalu menggandeng tanganku turun ke bawah.
Bu Aini berdiri di pintu dengan senyuman manis menatap aku sudah lebih baik. Beliau melambaikan tangannya saat aku dan Hendri berlalu.
“Bagaimana pekerjaanmu, Mas?” tanyaku, sembari menunggu pesanan datang, aku membuka obrolan agar tidak terlalu canggung.
“Semuanya baik-baik saja, aku lumayan sibuk beberapa Minggu ini,” sahut Hendri.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku lagi.
Hendri menatapku, lalu tersenyum, kemudian ia menggelengkan kepalanya sembari tangannya membelai pipiku membuatku jadi salah tingkah saja.
“Cukup jadi penyemangat saja, itu sudah lebih dari membantu. Jangan bersikap seperti tadi lagi, lama-lama aku bisa jantungan jika mendapatkan panggilan seperti itu terus dari Bu Aini.”
Aku tertawa kecil sembari menganggukkan kepala. Aku tahu, ia tidak bisa melihatku dalam masalah.
Usai makan, Hendri tak langsung mengantarku pulang. Mobilnya terus melaju melewati jalan rumahku, aku tak bertanya, aku hanya menatapnya penuh percaya.
“Tidurlah, aku akan membawamu ke suatu tempat,” ujarnya kemudian.
Tak perlu diperintah, perut kenyang serta lelah menangis tentu membuatku sangat mengantuk kala itu, serta alunan musik yang dinyalakan Hendri seperti meninabobokan ku. Tanpa menunggu lama aku terlelap dalam tidurku.
“Chalisa ...” panggil seorang wanita, aku menoleh. Dari kejauhan aku melihat wajahnya, aku merasa sangat mengenalinya.
“Mama,” lirihku pelan. Jarak antara aku dengannya hanya beberapa meter saja. Aku melihatnya sangat kurus, matanya sembab seperti baru saja menangis, ia mendekatiku yang berdiri mematung di hadapannya.
“Pulanglah, Nak. Papa sakit, Mama sangat merindukanmu,” ucapnya sembari memelukku erat. Aku merasakan hangatnya pelukan mama. Aku terdiam, ia terus menangis tersedu-sedu di pelukanku.
“Mama minta maaf, maafkan papa juga, pulanglah sayang, mama mohon. Jika tidak, bunuh saja Mama!”
“Jangan, Ma. Jangan, aku juga merindukan Mama ...”
“Sayang, sayang ... .” Hendri menepuk pipiku.
Aku tersadar dari tidurku. “Mama, aku mimpi bertemu mama, Mas,” ujarku pelan dengan nafas terengah-engah.
Hendri memelukku, ia memberiku minum. Keringat dingin membasahi keningku. Aku melihat jelas mama dalam mimpiku, aku melihatnya sangat kurus dengan wajahnya yang pucat. Ya Tuhan, ada apa dengan kedua orang tuaku, semoga mereka baik-baik saja. Tidak biasanya aku memimpikan mama seperti ini, pikiranku tidak tenang.
“Sayang, semuanya baik-baik saja. Itu hanya mimpi buruk saja,” ujar Hendri menenangkan.
Aku tersenyum kecut. “Semoga saja, Mas. Aku berharap semuanya baik-baik saja,” sahutku.
Jangan lupa like ya .