
Tak lama, seorang wanita paruh baya datang menggunakan angkutan umum. Tangannya dipenuhi banyak bahan dapur. Aku membantunya yang kesusahan sendirian.
“Terima kasih, Nona,” ucap wanita itu.
Begitu masuk ke dalam, aku sedikit tertegun. Suasananya sangat adem, banyak barang antik serta desainnya pun sangat menarik, aku kagum.
“Nona ini dari mana, perkenalkan saya Narsih, pembantu di rumah ini,” ujar Bu Narsih padaku.
Aku tersenyum sembari menyambut uluran tangannya. Tak lupa aku juga memperkenalkan diriku padanya. Kakek dan nenek berdiri di belakangku. Aku membantu mereka berdua duduk di sofa.
Bu Narsih membuatkan aku minuman. Mataku masih tak berkedip dari isi rumah tua ini. Kakek dan nenek tampak diam saja. Aku bingung memperhatikan mereka. Namun enggan rasanya aku beranjak dari sana.
Setelah meneguk minuman, aku segera ke dapur. Bu Narsih sedang menyiapkan makan siang. Aku pun ikut membantunya.
“Bu, kenapa kakek nenek cuma diam saja?” tanyaku memberanikan diri.
“Santai saja, Nona. Sebetulnya mereka sangat baik, cuma setelah mendengar kabar anaknya telah tiada, mereka berdua jadi pendiam seperti itu,” ujar Bu Narsih padaku.
“Jika aku mencoba bicara, apa mereka akan menanggapi?” tanyaku lagi.
“Pasti, coba saja. Sepertinya Nona ini orang baik,” sahut Bu Narsih padaku seraya tersenyum lebar.
Aku membantu Bu Narsih menghidangkan makan siang. Lalu kita berempat makan bersama. Aku menyuapi nenek, tangan beliau terlihat gemetar. Aku bahagia melihat hubungan mereka hingga kakek nenek, bahkan mereka tidak bisa lagi melayani satu sama lainnya. Nenek terlihat lebih memprihatinkan daripada kakek.
Setelah makan, aku dan Bu Narsih membagi tugas. Aku cuci piring sementara beliau menyapu halaman. Bu Narsih tidak menetap di rumah nenek, beliau hanya datang siang. Usai masak dan menyimpannya di kulkas. Bu Narsih berpamitan. Begitu setiap harinya.
“Bu, hari ini jangan pulang dulu,” pintaku.
“Kenapa?” tanya Bu Narsih.
“Aku ingin mendengar banyak hal tentang kakek dan nenek,” sahutku.
Bu Narsih tersenyum. Beliau sedang menyisir rambut nenek. Nenek terlihat sangat cantik, pasti waktu muda banyak yang taksir padanya, pikirku. Begitu pula kakek, walau sudah berkeriput masih terlihat jelas aura ketampanannya.
“Nenek cuma punya satu anak, laki-laki. Putranya sangat sukses di luar pulau, bahkan setahun sekali tak sempat pulang kemari,” ujar Bu Narsih mulai bercerita.
“Kenapa kakek nenek tidak ikut anaknya?” tanyaku.
“Mana mungkin dia mau membawa kami yang sudah tua ini bersamanya, itu hanya akan membuatnya malu!” sahut kakek. Aku sangat terkejut melihatnya di belakangku.
“Kek, ayo duduk,” pintaku.
“Narsih, jangan ceritakan yang buruk-buruk tentang anakku. Kasihan dia, walau bagaimanapun dia itu putraku. Ceritakan saja bagaimana keberhasilannya di luar pulau, ia sangat baik dan dermawan bukan?” ujar nenek yang lagi-lagi mengagetkanku.
Aku tersenyum sembari mengelus dadaku. Ternyata keduanya sangat sensitif jika menyangkut tentang anaknya.
“Maaf, kakek, nenek. Saya hanya ingin tau, tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu putra nenek,” ucapku.
Kakek menatap kosong ke depan. Wajahnya terlihat jelas merindukan kehangatan kasih sayang seorang anak. Aku merasa iba, begitukah yang mama dan papa rasakan dulu saat aku tidak kunjung pulang?
Setetes air mata mengalir di pipiku. Dan kini, sekali lagi aku meninggalkan mama. Tiba-tiba aku sangat merindukannya.
“Putraku punya satu anak, perempuan katanya, ia selalu bercerita tentang anaknya. Ia sama seperti kami, sangat cinta pada putrinya,” ujar nenek.
Begitulah orang tua, walau bagaimanapun anaknya. Cinta kasih seorang ibu tidak akan pernah hilang. Aku terenyuh mendengarnya. Sama sepertiku, aku sangat mencintai Angga.
Bu Narsih menenangkan nenek yang mulai terhanyut dalam ceritanya. Aku jadi merasa bersalah. Kakek masih terdiam tak bersuara. Hanya pandangan kosong ke depan yang aku perhatikan. Entah apa yang ada di benaknya.
“Nak, siapa namamu?” tanya kakek saat aku beranjak dari sana. Langkahku terhenti.
“Aku Chalisa, Kek. Chalisa Aqilah,” sahutku.
Lalu aku segera berlalu dengan Bu Narsih. Dalam perjalanan beliau bercerita banyak tentang putra nenek. Almarhum putra nenek merupakan orang yang sangat baik, ramah dan disegani banyak orang.
“Namun sebelum kabar kematiannya terdengar, ia sudah bertahun-tahun tak kembali ke pulau ini. Setiap bulannya, tuan hanya mengirim surat dan uang untuk kakek, nenek,” tutur Bu Narsih.
Aku hanya mangut-mangut saja mendengar semua kisah itu. Jarak antara rumah nenek dan Bu Narsih, tak terlalu jauh. Kita hanya berjalan kaki melewati jalan setapak. Tak lama, kita pun sampai ke rumahnya.
“Bu, sejak tadi kita hanya bercerita tentang nenek. Lalu, bagaimana tentang Bu Narsih sendiri?” tanyaku.
Bu Narsih tersenyum kecut padaku lalu membuang pandangannya.
“Saya memiliki dua putri, keduanya sama-sama telah berkeluarga,” ujar Bu Narsih.
“Lalu di mana mereka?” tanyaku.
“Di luar pulau. Hidup saya sama menyedihkan dengan kakek nenek, hanya saja saya belum setua mereka. Beginilah hidup, Nona Chalisa,” sahut Bu Narsih.
“Panggil aku, Chalisa saja, Bu,” sahutku.
Aku menarik nafas panjang. Hidup terkadang lebih rumit dari apa yang aku bayangkan. Mengapa semuanya berubah ketika wanita telah berkeluarga?
Bukankah jika tanpa ibu yang melahirkan justru bertemu dengan calon suami pun tidak akan mungkin terjadi?
Aku merasa semuanya rumit, atau mungkin aku yang tidak pernah merasakan bagaimana semua itu?
“Chalisa, kenapa diam, apa yang kau pikirkan?” tanya Bu Narsih.
“Mm, tidak, Bu. Oya, papaku juga asli orang pulau ini, loh,” ucapku sambil tersenyum.
“Oya, siapa? Tidak mungkin ibu tidak kenal, kampung ini kecil,” tanya Bu Narsih.
Aku merogoh tas selempang, namun ternyata aku tidak membawa ponselku. Rencananya aku akan menunjukkan foto papa pada Bu Narsih.
“Ah, Bu. Sepertinya ponsel aku ketinggalan di tempat penginapan. Bagaimana kalau besok saja?” tanyaku padanya.
“Baik, ibu jadi penasaran bagaimana wajah papamu. Jangan-jangan ...” ujar Bu Narsih, namun kalimatnya berhenti di situ saja.
“Jangan-jangan kenapa?” tanyaku lagi.
“Ah tidak apa-apa, mana mungkin,” sahut beliau tertawa kecil.
Usai bercengkerama dengan beberapa tetangga Bu Narsih lainnya. Hari mulai beranjak sore, aku memutuskan untuk kembali ke penginapan. Aku berjanji pada Bu Narsih akan kembali ke sana esok hari. Terutama ke rumah nenek, aku sangat betah di sana.
Sepanjang jalan pulang, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Sopir taksi juga sangat ramah. Bapak sopir sangat gembira menceritakan anaknya yang sedang menempuh pendidikan di luar pulau.
Ah. Hari ini aku begitu banyak mendengar cerita antara orang tua dan anak. Membuatku semakin rindu kepada Angga dan mama.
Jangan lupa like.
Cek juga Novel terbaru saya Pertemuan Tidak Terduga. Uda up 3, loh.
Terima kasih..