A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 46



“Aku gak bisa ngebayangin gimana sedihnya Mbak malam itu. Mas Hendri memang jago aktingnya, salut,” ujar Askia seraya tertawa lepas. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka semua menertawakan diriku.


 


Sejak tadi aku mulai bercerita mereka tidak ada rasa simpati sedikit pun padaku, malah sebaliknya, mereka  tertawa lepas. Apalagi Askia, ia semakin membuat aku kesal. Liburan seharusnya di mana aku habiskan dengan canda tawa, justru Hendri membuat mataku bengkak karena semalaman menangis.


 


“Awas, ya kalian,” ucapku sembari tanganku bergerak cepat.


 


Aku mengambil sedikit adonan yang ada di hadapan Askia, lalu aku oleskan di wajahnya. Aku ingin menghujani mereka dengan tepung hari ini, pikirku. Namun sayangnya, mereka sudah tahu rencanaku. Mereka semua berlari menjauh dariku. Aku mengejar mereka dengan adonan kue di tanganku.


 


“Eits, mau lari ke mana kalian?” Aku terus mengejar mereka.


 


 


“Chalisa ...” panggil Mama tiba-tiba mengagetkanku. Aku berhenti berlari.


 


“Ekhem, iya Ma,” sahutku.


 


“Bu, tolongin kita, Bu,” pinta Askia.


 


“Ya Bu, masak pagi-pagi kita udah belepotan?” sahut yang lainnya.


 


“Sudah, sudah, semuanya kembali bekerja. Kalian ini ingat umur, sudah jadi emak-emak masih kayak anak kecil saja,” ujar Mama menghardik kita semua.


 


“Mereka yang mulai, Ma. Mereka menertawakan aku,” sahutku membela diri.


 


“Siapa yang salah? Ya memang ceritamu lucu, kok,” sahut Mama.


 


Jawabannya membuat mereka kembali tertawa pecah. Aku jadi malu sendiri, meski aku tahu mereka hanya menggodaku saja. Ya sebenarnya memang iya, lucu dan mengesalkan sekali sikap Hendri padaku malam itu. Ia layak menjadi bintang film saja dari pada jadi pengusaha.


 


“Tapi aku yakin, Mbak gak akan melupakan malam yang berkesan itu sampai kapan pun, kan?” tanya Askia padaku sembari mengedipkan matanya.


 


Jika dipikir-pikir iya, aku tidak akan melupakannya. Ucapan Hendri yang begitu menusuk telah menyadarkan aku. Apa pun rencana Robert, kita akan sama-sama menggagalkannya.


 


“Yuk, Mama mau mengobrol sebentar,” ajak Mama kemudian. Aku mengikutinya, kita menuju ruang tengah, Bu Aini telah duduk di sana.


 


Aku duduk bersila di antara keduanya. Aku menunggu Mama memulai obrolan. Sepertinya ada hal penting yang ingin beliau sampaikan atau tanyakan.


 


“Kemarin, Nak Hendri mengatakan, ia percayakan pada Mama untuk menetapkan tanggal pernikahan kalian. Bagaimana menurutmu?” tanya Mama.


 


Aku sendiri bingung, sejak kemarin aku masih belum menemukan jawabannya. “Terserah Mama, saja,” sahutku.


 


“Loh, bagaimana bisa begitu?” tanya Bu Aini.


 


“Ma, apa sebaiknya aku temui saja Nenek diam-diam tanpa sepengetahuan Hendri?” tanyaku.


 


“Apa yang ingin kau bicarakan padanya, bagaimana jika ia tidak setuju. Hendri akan marah besar padamu,” sahut Bu Aini.


 


“Ya sayang, Mama juga tidak setuju,” jawab Mama.


 


Aku kembali terdiam. Entah mengapa, rasanya sangat beban jika belum bertemu nenek dan mengatakan bagaimana yang sebenarnya. Aku tidak ingin malu di hari pernikahan tiba nanti, bagaimana jika nenek dan Robert datang lalu membuatku malu di depan banyak orang?


 


“Sayang,” panggil Mama. Aku sangat kaget, aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku.  Aku tidak sanggup jika itu semua terjadi.


 


“Ya sudah, nanti kita pikirkan lagi sama-sama. Sana bantu Zoya,” pinta Mama padaku.


 


Aku bangun dari dudukku, kemudian melangkah ke depan menuju toko bunga. Zoya sangat sibuk tampaknya, aku berniat membantunya.


 


“Zo,” panggilku.


 


“Eh, Cha. Bikin kaget saja,” sahutnya.


 


“Bagaimana hari ini?” tanyaku.


 


“Lumayan rame, sini.” Zoya menepuk sofa di sebelahnya, aku mendekat lalu duduk bersamanya.


 


“Ada apa, kau tampak murung?” tanya Zoya padaku.


 


 


“Menurutmu bagaimana, Zo?” tanyaku pada Zoya.


 


“Apanya yang bagaimana?” tanya Zoya tak mengerti.


 


“Ah, maaf, maksudku, bagaimana kalau aku bertemu saja nenek tanpa sepengetahuan Hendri, lalu aku menceritakan semuanya tentang Angga?” tanyaku padanya.


 


Zoya terdiam, ia seperti sedang berpikir, setelah cukup lama, dengan penuh keraguan ia menjawab pertanyaanku, “Itu sedikit gila sih, Cha. Tapi saranku, jika memang kau benar-benar serius dengan ucapanmu itu, jangan datang sendirian,” sahutnya.


 


Aku kembali mencerna ucapan Zoya. Lalu dengan siapa aku akan datang ke sana. Tidak mungkin aku mengajak Bu Aini, apalagi Mama. Jelas-jelas, keduanya melarangku melakukan hal konyol itu.


 


“Bagaimana kalau Angga?” tanyaku pada Zoya.


 


“Entahlah, Cha. Aku takut berkomentar, apalagi untuk hal seperti ini, aku takut disalahkan Mamamu dan Hendri,” sahut Zoya mencari aman.


 


“Maaf, Zo. Aku tidak bermaksud membuatmu takut, aku hanya tidak tahu harus berbagi pada siapa,” jawabku bersedih.


 


Zoya merangkul aku ke pelukannya. Aku merasa sedikit lebih lega setelah bercerita padanya. Sudah cukup lama tidak pernah berbagi cerita dengannya seperti ini.


 


“Dengarkan kata hatimu, Cha. Hanya itu jawabannya,” ujar Zoya melepaskan pelukannya. Aku menganggukkan kepalaku.


 


 


••


 


 


Keesokan harinya.


 


 


Semalaman aku sudah memikirkan bagaimana aku akan bertemu nenek hari ini. Semalam aku juga menghubungi Angga dan mengajaknya bertemu hari ini di sebuah Cafe. Mudah-mudahan ia sepakat denganku untuk bertemu Omanya.


 


Aku rasa ini yang terbaik, aku harus melakukannya, bukan untuk diriku saja, tapi untuk kebaikan semuanya. Sudah terlalu lama ini berlarut-larut, aku sendiri sudah muak dengan cerita ini. Aku ingin segera mengetahui bagaimana tanggapan nenek, aku ingin segera menikah dengan Hendri dan melepaskan status janda yang aku sandang ini.


 


“Mi, maaf telat,” ucap Angga yang baru tiba. Ia duduk di depanku.


 


“Tidak apa-apa sayang, silakan duduk,” pintaku padanya. Aku lumayan kaget dengan kehadirannya barusan. Aku mengusap wajahku dengan kasar.


 


“Ada apa, Mi?” tanya Angga.


 


“Minum dulu, Nak,” pintaku padanya sebelum memulai obrolan.


 


Sebenarnya, aku bisa saja mengatakannya melalui panggilan telepon semalam. Tapi rasanya, ini bukan hal sesepele itu. Aku butuh bicara empat mata dengannya.


 


“Mami ingin mengajakmu bertemu Oma,” ujarku.


 


“Mami serius?” tanya Angga padaku.


 


Mendengar pertanyaannya, aku sendiri tidak tahu jawabannya. Yang jelas, aku hanya ingin bertemu nenek dan mengatakan yang sebenarnya.


 


“Ini harus Mami lakukan sayang, kita harus memberitahukan Oma sebelum papamu mengatakan yang bukan-bukan padanya,” sahutku.


 


“Bagaimana jika Oma meminta Mami menikah dengan papa, bukan dengan Om Hendri?” tanya Angga padaku.


 


Aku sangat terkejut dengan pemikirannya. Aku tidak ter bayangkan sebelumnya, bagaimana jika itu terjadi?


 


“Mami akan menolaknya sayang, tidak ada lagi cinta antara papa dan Mami,” sahutku penuh percaya diri.


 


“Apa Mami sudah yakin?” tanya Angga.


 


Aku semakin tak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaannya. Apa ia mencoba menggoyahkan komitmen antara aku dan Hendri?


 


 


Jangan lupa like.