A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 51



“Sayang, bisa keluar sebentar?” tanya nenek tiba-tiba pada Angga setelah makan malam usai.


 Tanpa menjawab Angga berdiri dari duduknya kemudian ia segera keluar, hatiku sangat bimbang. Hendri sedang menerorku dengan tatapan dinginnya lagi dan lagi. Aku pikir ia menjadi tameng bagiku malam ini, ternyata aku salah, entah apa yang ada di pikirannya aku pun tak tahu.


 “Ini permasalahan yang sangat serius, kalian tahu, kan?” tanya nenek memecahkan keheningan.


 Tidak ada yang menjawab, hanya helaan nafas yang terdengar dari kita semua. Nenek bangun dari duduknya, ia berdiri di belakang Robert.


 “Kau tahu, karena kesalahan yang kau lakukan telah melukai banyak pihak?” tanya Nenek padanya.


 “Maafkan aku, itu semua memang salahku,” sahutnya dengan menundukkan kepala dalam-dalam.


 Aku tersenyum sinis, dalam hati aku meneriakinya. Sudah terlambat Robert, ke mana saja kau? Begitu mudah kau katakan maaf sekarang, setelah apa yang aku lalui seorang diri, jika tidak melihat Angga, sungguh hingga detik ini aku akan membencimu.


 “Bisa kau keluar sebentar, aku ingin berbicara dengan mereka berdua,” pinta Nenek pada Robert kemudian.


 Setelah Robert berlalu, Nenek menatap aku dan Hendri. Pikiranku semakin tak menentu.


 “Apa kalian sudah benar-benar yakin untuk menikah?” tanya Nenek pada kita berdua.


 Hendri menarik nafas dalam-dalam. “Sudah berapa kali aku katakan. Kita berdua sudah sangat siap, Ami masih saja mengulur-ulur waktunya,” sahut Hendri tampak geram.


 “Jangan marah padaku, ini sudah seharusnya menjadi tugasku, aku hanya tidak ingin kalian terburu-buru mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Aku tidak ingin kalian dibayang-bayangi masa lalu,” ujar nenek panjang lebar, ia mengetahui akan sikap Hendri yang tampak dingin malam ini.


 Nenek menyentuh pipiku lalu membelainya, kemudian ia menggenggam kedua tanganku. Nenek tersenyum ramah, kecantikannya tak berkurang walau usianya sudah sangat tua, penampilannya yang selalu elegan semakin menambah kecantikannya.


 “Lihatlah Hendri, dia cucuku. Apa kau sudah benar-benar yakin untuk memilihnya, ia adalah adik dari pria yang pernah membuatmu terluka,” ucap Nenek padaku.


 Aku menatap Hendri, begitu pula dengannya. Tatapannya begitu teduh, walau masih diam seribu bahasa, tapi aku tahu ada cinta di matanya untukku. Aku mencintainya, dan dialah pilihanku.


 Awalnya, aku sedikit terkejut mendengarnya permintaan Nenek. Tapi tidak heran, beliau melakukan kewajibannya sebagai pengganti ayah dan ibu Hendri. Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum manis. Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang berbeda di jiwaku, aku tidak tahu apa itu.


 “Apa Ami mencoba mempengaruhinya?” tanya Hendri.


 “Oh, tidak, sama sekali tidak. Justru aku meyakinkannya, rambut boleh sama hitam, kau dan kakakmu tetap berbeda,” jawab Nenek dengan bijaksana.


 Aku menyetujui itu, sejak pertama bertemu Hendri aku bisa melihat, ia pria yang sangat baik. Aku menyukainya karena ia bisa mengerti aku, sejauh ini, kita berdua tidak pernah berselisih paham.


 “Kau boleh keluar dan pinta kakakmu masuk, aku harus menyelesaikan kesalahpahaman ini sebelum kalian berdua menikah,” pinta nenek pada Hendri.


 Aku tersenyum kecil mendengar ucapan nenek barusan, apakah itu jawabannya? Apakah nenek merestui kita berdua?


 Nenek seperti hakim malam ini, ia sedang menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi pada kita bertiga, aku bisa merasakan betapa susahnya ia berada di posisi saat ini. Aku juga tidak ingin berada dalam kondisi seperti ini, tapi apa yang harus aku lakukan?


 Nenek memintaku untuk menatap Robert begitu pula sebaliknya. Nenek berkata, sebelum aku dan Hendri menikah, apakah aku sudah benar-benar yakin dengan keputusanku itu. Apakah tidak ada lagi cintaku untuk Robert walau hanya sedikit pun?


 Mengapa? Mengapa nenek menanyakan itu semua padaku kini? Aku sudah melupakannya bertahun-tahun, selama ini aku hidup dalam dendam dan kebencian. Bahkan, aku berharap untuk tidak bertemu dengannya lagi, tapi takdir berkata lain. Anakku sendiri yang membawanya kembali padaku beberapa waktu silam saat ia berulang tahun.


Air mataku tumpah begitu saja, aku menatap Robert tak berkedip. Aku juga tak menyangka, bulir air mata jatuh di pipinya, ia berpaling dariku. Aku tidak bisa berkata-kata saat itu.


 “Nenek telah merestui hubungan kau dan Hendri. Tapi sekali saja, katakan padaku tidak ada lagi cinta di antara kalian berdua?” pinta Nenek sekali lagi.


 Aku tidak habis pikir, kenapa aku tidak bisa berhenti menangis, apa yang sebenarnya aku tangisi? Kenapa aku begitu tersentuh dengan pertanyaan nenek, aku sendiri tidak pernah menanyakan pada diriku, apa sebenarnya yang aku rasakan?


 “Pertanyaan yang sama juga Nenek lontarkan pada Hendri. Kau lihat, ia tampak berbeda padamu, apa aku benar?”


Aku terdiam. Aku mencerna setiap kata yang nenek lontarkan padaku. Nenek juga menanyakan perihal yang sama pada Hendri, ia tak ingin Hendri terus menerus hidup dalam bayangan Diana yang mungkin ia temui padaku. Begitu pula aku, nenek tidak ingin, aku mencintai Hendri hanya karena aku dendam pada Robert dan ingin membalasnya dengan memilih Hendri sebagai pendamping hidup.


 Aku semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Nenek, bagaimana ia memikirkan semua itu. Apa yang harus aku katakan, aku sendiri sudah meragukan cintaku. Aku benci pada diriku, kenapa aku begitu mudah tergoyahkan oleh sesuatu yang aku belum tahu pasti.


 Apa benar Hendri berbeda padaku karena ia juga mulai merasakan yang sama denganku? Apa aku benar-benar mencintainya?


 


Oh Tuhan, bantu aku?


 “Chalisa ...” panggil Nenek dengan menyentuh punggung tanganku dengan lembut.


 “Nenek, aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Aku tidak tahu harus jawab apa, aku ...” Aku tidak bisa berkata-kata, aku bingung apa yang terjadi padaku.


 “Ini juga terjadi pada Hendri saat aku menanyakan tentang Diana dan kau padanya,” ucap Nenek tersenyum ramah, ia membelai rambutku.


 Nenek membawaku ke pelukannya. Aku sangat pilu dengan semua pertanyaannya. Aku bingung, aku seperti terombang-ambing di tengah lautan tanpa tujuan yang pasti. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?


 “Robert, apa kau masih mencintai Chalisa?” tanya Nenek kemudian saat ia melepaskan pelukannya dariku.


 Robert tersenyum manis, ia menatapku dengan tatapan mata yang sangat serius. Kemudian ia menundukkan kepalanya sembari menjawab, “Itu tidak penting, Ami. Yang terpenting, semoga Hendri dan Chalisa bisa berbahagia. Sekarang aku mulai mengerti, kini bukan lagi tentang diriku saja, tapi bagaimana dengan orang di sekitar ku.”


 Nenek bangun dari duduknya. Ia tersenyum lebar, beban yang ada di kepalanya sudah hilang, aku bisa lihat sendiri, kewajibannya sudah selesai.


 Jangan lupa like, ya.