
Setelah semuanya selesai. Nenek mengatakan, jangan ada lagi permasalahan yang terjadi antara aku Robert dan Hendri. Nenek menganggap semuanya sudah usai. Nenek telah merestui hubunganku dan Hendri, nenek meminta kita menentukan tanggal cantik untuk hari bersejarah dalam hidup kita nantinya.
Tanpa menunggu lama, Hendri segera mengatakan tanggalnya. Pembahasan itu telah jauh-jauh hari kita bicarakan sebelumnya. Tanggal 21 bulan 1 tahun 2021 akan menjadi tanggal yang cantik untuk pernikahan kita nanti. Angga dan Robert, mereka juga ada di sana dan ikut mendengarkannya. Mereka bertepuk tangan ketika Hendri mengatakan tanggal cantik itu.
Setelah semuanya selesai, Hendri mengantarkan aku pulang dengan mengendarai mobilku. Senyum menghiasi wajah kita berdua, mataku masih sembab karena tadi menangis. Hendri membelai pipiku.
“Apa Nenek mencoba menggoyahkan komitmen kita?” tanya Hendri.
Aku menggelengkan kepalaku. Itu tidak akan pernah terjadi. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tadi sehingga membuatku begitu pilu. Aku sendiri masih tak mengerti.
“Aku mencintaimu, sayang,” ucap Hendri.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Semoga saja Hendri tampak dingin padaku sebelumnya, bukan karena sesuatu seperti yang nenek katakan.
“Selamat malam, sayang,” ucap Hendri melambaikan tangannya ketika berlalu dari hadapanku. Ia dijemput oleh sopir pribadinya.
Aku melangkah kakiku menuju ke kamar, malam sudah larut, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, aku tidak ingin mengganggu Mama dan yang lainnya. Lagi pula, aku tidak ingin berkata apa pun, mereka pasti akan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan.
Ting! Bunyi pesan dari ponselku.
Satu pesan dari Angga. Aku membukanya bersamaan dengan bokongku terhempas di ranjang.
“Mami baik-baik saja, tadi Mami terlihat murung?” Bunyi pesan Angga. Aku mengatakan padanya semuanya baik-baik saja. Sepertinya ia bermalam bersama papanya malam ini, aku tersenyum kecil melihat kedekatan mereka berdua.
Aku menghempaskan tubuhku di ranjang. Kepalaku sangat pusing, entah karena angin malam atau karena lelah menangis. Aku kembali terngiang-ngiang dengan pertanyaan nenek.
Apakah tidak ada lagi cinta di hatimu untuk Robert sedikit pun?
Kenapa aku tidak bisa menjawabnya, kenapa air hanya air mata yang terus membasahi pipiku. Seharusnya dengan lantang aku katakan padanya tadi, aku tidak mencintai Robert lagi sedikit pun, dulu atau sekarang.
Ah, aku bingung.
••
“Pagi semua,” sapaku saat turun ke bawah, dan semuanya berkumpul di meja makan.
Mereka semua menatapku tak berkedip. Aku mulai menyuapi makanan ke mulutku sesendok demi sesendok.
“Ada apa, ada yang aneh?” tanyaku masih cuek.
“Bagaimana keputusan dari Oma Angga?” tanya Mama langsung ke inti pembicaraan. Rasanya ia tidak sempat lagi basa-basi karena teramat penasaran.
“Nenek menyetujuinya,” jawabku singkat.
“Syukurlah, terima kasih ya Tuhan, engkau menjawab semua doa-doaku,” ucap Mama.
“Alhamdulillah,” sahut Bu Aini memelukku yang masih asyik menyantap sarapan pagiku.
“Selamat ya, Cha,” ucap Zoya tersenyum manis padaku. Aku menganggukkan kepalaku.
Semuanya kembali hening, yang terdengar hanya suara sendok bersentuhan dengan piring yang menimbulkan suara khas. Usai menyantap semua makanan yang ada di piring hingga satu bulir nasi goreng pun tak tersisa, aku bangkit dari dudukku. Tiba-tiba Mama menarik tanganku hingga aku kembali terduduk.
“Ada apa denganmu, jika memang nenek setuju kenapa kau tampak tak bahagia?” tanya Mama.
“Hah!?” tanyaku tak mengerti.
“Ya, Cha. Apa semuanya baik-baik saja, sepertinya ada masalah?” tanya Zoya.
“Hei! Ada apa dengan kalian, aku baik-baik saja. Jadi aku harus bagaimana, loncat-loncat?” tanyaku pada mereka semua sembari berlalu.
••
“Mbak, kenapa gak beli gaun jadi saja?” tanya Askia padaku.
“Mbak lebih suka di desain khusus untuk Mbak,” jawabku untuk menghilangkan rasa penasaran Askia.
Hari ini aku memintanya untuk menemaniku menemui seorang perancang busana terkenal di kota. Perjalanan lumayan sepi hari ini, kita melaju bebas menuju tempat tujuan. Dalam perjalanan kita terus bercanda ria, aku sedang mengorek-ngorek masalah percintaannya, ia terkenal lebih tertutup dari pada karyawanku yang lain.
“Ah, Mbak. Jangan bahas tentang aku, Mbak sendiri bagaimana?” tanya Askia terus saja menghindari setiap pertanyaan dariku.
“Apanya yang bagaimana, harapan Mbak, semoga semuanya lancar sampai hari H nanti,” balasku.
Setelah menempuh perjalanan panjang, kita sampai di tempat tujuan. Butiknya berdiri kokoh di persimpangan jalan, mudah dijangkau oleh banyak orang. Mulut Askia terbuka lebar ketika mengetahui tempat tujuan kita datang.
“Kenapa gak bilang kita mau ke sini?” tanya Askia.
Aku tersenyum lebar sembari berlalu dari hadapannya. Dia berlari kecil mengimbangi langkahku.
“Silakan masuk,” sapa pegawai wanita cantik yang duduk di kasir.
“Ada yang bisa kita bantu, Mbak?” tanya pegawai lainnya yang menyambut kedatangan kami dengan ramah.
Aku tersenyum melihat Askia berdecap kagum menyaksikan betapa indahnya gaung pengantin yang ada di sana.
“Saya sudah membuat janji dengan Mas Kenzo,” sahutku.
“Oh, begitu. Beliau ada di lantai dua, silakan, Mbak,” balas wanita itu lagi dengan tersenyum lebar padaku.
Aku menarik tangan Askia yang masih berdiri mematung dengan pemandangan di sekelilingnya. Aku mengedipkan mataku pada pegawai wanita itu, ia pun membalas dengan senyuman.
Tiba di lantai dua, hanya ada satu ruangan di ujung, selain itu penuh dengan baju yang sudah jadi maupun belum. Karena lantai dua itu juga merupakan tempat mereka menyiapkan gaun-gaun indah itu. Ruangan ini sangat luas tanpa dinding yang membatasinya.
“Permisi,” sapaku dengan mengetuk pintu ruangan perancang ternama itu.
“Silakan masuk,” jawabnya dari dalam dengan sedikit berteriak.
Aku dan Askia segera masuk setelah mendapat izin dari empunya ruangan. Aku sangat kaget saat berbalik badan dan menutup pintu, aku mendapati Robert berdua dengan Mas Kenzo ada di sana.
“Loh, Chalisa tamu yang sedang kau tunggu, Ken?” tanya Robert.
“Iya, aku sudah membuat janji dengannya, kau sabarlah dulu, sebentar lagi kita berangkat. Ngomong-ngomong, kenapa kau mengenalinya?”
Begitulah percakapan keduanya yang membuat aku dan Askia merasa diacuhkan.
“Oya, kenalkan itu Chalisa, calon adik ipar ku,” sahut Robert tersenyum.
“Maksudmu, Hendri?” jawab Mas Kenzo sedikit terkejut. Robert mengangguk sambil kembali tersenyum.
“Saya Chalisa, ini teman saya Askia,” sahutku menyambut uluran tangan Mas Kenzo.
“Oke baiklah, mari kita mulai saja, gaun model seperti apa dan mau kita gunakan bahan yang seperti apa yang Chalisa inginkan?” tanya Mas Kenzo padaku.
Aku duduk berhadapan dengannya, di hadapannya telah tersedia pensil dan selembar kertas putih. Aku pun mulai mengatakan seperti apa gaun yang nanti akan aku pakai di hari bersejarah dalam hidupku.
Jangan lupa like.