
Cuaca malam ini sangat dingin, angin berembus kencang menerpa wajahku. Langit bertabur bintang seolah-olah menemani kesendirianku malam ini. Aku memejamkan kedua mataku menikmatinya. Aku duduk di balkon kamarku, dengan segelas teh hangat tawar di genggamanku. Aku sangat penat, bukan karena lelah bekerja, tapi karena banyak persoalan yang mengganggu pikiranku. Aku tak tenang dibuatnya, aku gelisah karena ucapan Zoya siang tadi.
“Oh Tuhan, siapa sebenarnya yang salah? Aku harus mempercayai siapa, aku tidak ingin membenci orang yang tidak tepat ... .”
Aku masih ragu, sebegitu jahat kah Robert pada Zoya. Aku masih ingat dengan perampokan yang terjadi beberapa hari yang lalu. Dan sekarang, nenek meninggal karena serangan jantung. Ah, entah lah, aku sangat bingung.
Bukan apa-apa, aku hanya takut. Sikap Robert yang menjadi-jadi akan membuat Angga semakin membencinya. Cepat atau lambat, semua akan sampai ke telinganya. Aku hanya tidak ingin Angga semakin kecewa dibuatnya.
“Ekhem!”
Aku kaget dengan suara seorang pria yang cukup familiar di telingaku. Aku memutar pandanganku, Hendri berdiri dengan seikat bunga di tangannya. Lalu mendekat dan mengecup keningku sesaat. Aku meraih bunga yang diberikannya, sangat harum. Aku menyukai bunga anyelir putih ini, bunga yang melambangkan cinta abadi.
“Penjual bunga bisa dapat bunga juga, kan?” tanya Hendri tertawa renyah.
“Mm, kenapa tidak,” sahutku sambil memeluknya erat.
Tak lama terdengar ketukan pintu kamarku, Bu Aini datang membawa minuman untuk Hendri. Seperti biasa Hendri datang lewat tangga yang langsung menghubung ke balkon kamarku. Setelah meletakkan minuman, Bu Aini kembali ke bawah.
“Kamu lebih sibuk dariku akhir-akhir ini tampaknya,” ujar Hendri membuka suara, ia meneguk segelas kopi susu yang dihidangkan Bu Aini.
Aku tertawa kecil, aku tak mengerti mengapa ia berkata seperti itu. Aku memiringkan kepalaku, berharap Hendri melanjutkan perkataannya.
“Hari ini, dua kali aku datang ke rumahmu, tapi aku tidak menemukanmu,” lanjut Hendri.
Aku tertawa kecil. “Ah, aku mengerti. Rupanya ada yang sangat merindukanku hari ini?”
Hendri membuang pandangannya ke depan, senyuman menghiasi wajahnya. Aku menggenggam tangannya. Aku mengakui bahwa akhir-akhir kita tidak menghabiskan waktu bersama. Aku tidak ingin mengganggunya, kerap kali ia keluar kota dalam seminggu hingga beberapa hari lamanya. Tentu ia sangat lelah.
“Ayo jalan-jalan besok?” ajakku.
Hendri mangut-mangut. Lalu menatapku dengan tatapan kebingungan, sepertinya ia memikirkan sesuatu.
“Bagaimana jika bulan depan, bulan ini jadwalku penuh,” sahutnya kemudian.
Sudah aku katakan, ia sangat sibuk. Aku tidak heran dengan jawabannya, aku menepuk pundaknya, sepertinya ia merasa tidak enak padaku.
“Oke, aku setuju, bulan depan?” sahutku tersenyum lebar. Mendengar jawabanku, Hendri menyunggingkan senyuman di wajahnya.
“Terima kasih sudah mengerti keadaanku,” sahutnya sembari jemarinya mengelus rambutku. Aku menganggukkan kepalaku.
“Oya, ada apa, kenapa mencari ku, ada yang pentingkah?” tanyaku kembali mengingat ucapannya tadi.
“Ah, iya. Hampir saja aku lupa,” sahutnya.
Hendri mengeluarkan kotak berwarna merah muda dari saku celananya. Lalu memberinya padaku, aku menatapnya dengan menyipitkan kedua mataku.
“Lihatlah, barang kali kamu menyukainya,” ujar Hendri canggung, ia menggaruk keningnya.
Aku membuka perlahan kotak berbentuk hati itu, aku melihat cincin permata yang sangat indah di dalamnya. Aku menatapnya.
“Kemarin, saat aku berangkat ke pulau K aku melihatnya di sebuah toko perhiasan. Aku tahu kamu menyukai warna biru,” ucap Hendri membuang pandangannya ke depan.
Hendri tertawa kecil, ia mengusap wajahnya, tampak jelas ia merasa malu dengan apa yang ia lakukan malam ini. Ah, aku jadi penasaran bagaimana dulu ia berhadapan dengan Diana.
Hendri meraih cincin permata nan indah itu, lalu memasangkan di jari manis ku. Aku tersenyum bahagia, aku tidak tahu apa maksud dari hadiah ini, yang jelas aku menyukainya. Aku memeluknya, Hendri mengecup bibirku pelan.
“Haruskah kita menikah secepatnya?” bisik Hendri di telingaku.
Aku terpana, mataku terbuka sempurna. Hendri selalu membuatku jantungan setiap kali membahas soal pernikahan. Sudah sangat siapkah ia? Selalu saja ia bisa mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Kali ini tampaknya pipiku sangat memerah, aku menundukkan kepalaku. Jujur, aku sangat ingin mengangguk sambil mengatakan ‘Iya aku bersedia'. Namun harus bagaimana, semuanya tidak semudah itu, butuh keberanian untuk mengatakan semuanya pada nenek. Dan butuh jiwa yang kuat untuk menerima apa pun risiko nantinya.
Hendri membelai pipiku dengan lembut. Ia mengangkat wajahku, pandangan kita beradu.
“Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Hendri.
Aku menggeleng dan menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang. Hendri mengusap kepalaku.
“Jika masih tentang nenek, lupakan, jangan buat dirimu gelisah, sekali pun nenek tidak setuju, aku akan tetap menikahi mu,” ujar Hendri.
Aku menarik nafas dalam-dalam, aku memonyongkan bibirku. Jika saja tak serumit ini, mungkin kita akan segera menikah.
“Berjanjilah, Mas tidak akan berubah sekali pun nenek tidak setuju?” pintaku menatapnya penuh harap.
“Bahkan sebelum kamu meminta aku sudah melakukan itu,” sahutnya, ibu jarinya membelai pipiku dengan lembut. Aku memejamkan mataku.
Aku kembali menyandarkan kepalaku di bahunya, malam semakin dingin. Sebentar lagi pasti Hendri akan berpamitan pulang, aku memeluk lengannya. Waktu begitu cepat berlalu jika aku bersamanya. Aku tidak tahu mengapa, rasanya, ia selalu membawa kebahagiaan padaku. Seketika resah gelisah menjadi bahagia setiap kali aku bersamanya. Tuhan, aku ingin terus seperti ini. Bisakah aku?
“Sayang, masuklah. Malam semakin larut, aku akan pulang,” pinta Hendri menggoyangkan bahunya. Aku bangun dari dudukku.
“Baiklah, ayo aku antar kamu ke bawah,” ajakku.
“Tidak perlu, istirahatlah. Selamat malam,” ucapnya sembari tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku berdiri menatapnya menuruni tangga dan ia segera berlalu dengan mobilnya.
Setelah Hendri berlalu, aku turun ke bawah. Mama dan Bu Aini masih berbincang-bincang bersama di ruang keluarga. Aku menghampiri mereka dengan senyuman tak lentur dari wajahku. Aku menutup mulutku dengan tangan. Aku tidak bisa membohongi diriku bahwa saat ini aku sangat bahagia, dan ingin berbagi dengan mereka.
“Bi, tampaknya anak kita sedang bahagia,” ucap Mama menggodaku.
“Ya, sepertinya begitu,” sahut Bu Aini menimpalinya. Lalu aku memeluk keduanya.
“Ma, Bu, Hendri lagi-lagi melamar ku,” ucapku.
“Dan bagaimana jawabanmu?” tanya Mama, ia berkaca-kaca. Aku menggelengkan kepalaku.
“Entah kenapa, Mama merasakan banyak rintangan dalam hubungan kalian,” ucap Mama dengan tatapan khawatir.
“Ma, Chalisa bisa mengatasinya. Percayalah,” pintaku. Mama menganggukkan kepalanya, beliau tersenyum bahagia.
“Bersabarlah, sedikit lagi kebahagiaan yang sesungguhnya akan menghampirimu,” ujar Bu Aini dengan mata berkaca-kaca. Aku mengangguk. Lalu kami bertiga tertawa kecil. Mama mengusap kepalaku dengan lembut.
Jangan lupa like dan favorit, ya?