A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 6



Hari Sabtu telah tiba. Seperti janjiku kemarin. Aku menemani Angga jalan-jalan, aku juga mengajak Bu Aini ikut bersama.


"Kita mau kemana, nih?" tanyaku saat mobilku mulai melaju keluar dari pekarangan rumah.


"Ke Mall aja Mi," ajak Angga.


Aku segera meluncur menuju Mall. Letaknya sedikit jauh dari rumahku. Seperti yang pernah aku katakan, rumahku sedikit jauh dari pusat perbelanjaan.


Saat mobilku melintas di depan kantor Hendri, aku meliriknya sekilas. Sayangnya, tidak terlihat Hendri disana.


Tiba di Mall Angga merangkulku ketika naik eskalator. Aku selalu terpeleset ketika naik eskalator, makanya dengan sigap Angga menjaga agar aku tidak kenapa-napa. Tampak kampungan ya. Tapi dari kecil, aku selalu terpeleset jika naik eskalator. Entah kenapa, langkahku tidak bisa berhenti dengan baik ketika sudah sampai tingkat atas.


"Mi..." panggil Angga ketika kami melangkah menyusuri setiap sudut Mall.


"Hmpp..." sahutku.


"Kemarin siapa yang bersama Mami?" tanya Angga. Aku menyipitkan mataku, "Kemarin, kapan?" aku mencoba mengingat kapan yang Angga maksud.


"Hari Selasa, di pinggir jalan," Angga mengingatkanku. Aku tersenyum setelah mengingatnya, "Oh, itu, orang yang pesan kue mami. Karena hari itu Mami gak bawa mobil, Om itu anterin Mami," aku menjelaskan pada Angga.


Angga sepertinya tidak puas dengan jawabanku.


"Antar pulang, tapi kok makan bersama gitu?" sambung Angga dengan pertanyaan yang lain.


"Ya... temenin makan doang, setelah itu langsung pulang," ucapku lagi. Sebenarnya lucu, aku seperti di interogasi pacarku yang posesif.


"Hmpp..." sahut Angga singkat.


Bu Aini tampak menahan tawanya.


Aku menyuruh Angga belanja apa saja yang ia suka, Bu Aini juga. Saat menunggu Angga belanja aku tiba-tiba kebelet pipis, aku segera ke toilet. Karena tidak tahan lagi, aku tidak sempat memberitahu mereka ingin ke toilet.


Saat kembali, aku lihat Angga sedang mengobrol dengan seorang pria. Aku penasaran siapa pria yang bersama Angga. Aku ingin melihatnya, tapi Zoya mengangetkan ku.


"Woi!" teriaknya.


Aku terkejut sekali, "Sialan lo! bisa-bisa jantungan gue kalau ketemu lo terus," umpat ku kesal.


Zoya tertawa kecil, "Sorry!" Zoya mengangkat kedua tangannya seraya menampakkan gigi putihnya.


"Sama siapa lo? sendirian aja?" aku melirik kiri-kanan.


"Ada tadi, sama pembantu suami gue." sahut Zoya.


"Ketemu lo terus, jadi bosan gue ah." ucapku menggoda Zoya.


"Sama, males banget gak sih?" balas Zoya padaku.


Setelah kami berbincang-bincang beberapa saat. "Duluan ya," ujar Zoya seraya buru-buru meninggalkan aku yang masih berdiri sendiri disana.


"Besok jadi ke rumah kan?" teriakku, ia mengangguk sambil terus berjalan tanpa menoleh lagi. Aneh, kenapa ia buru-buru sekali. Mungkin saja ada hal penting yang harus ia kerjakan segera, begitu pikirku waktu itu. Tanpa sempat bertanya apa-apa lagi, dia sudah menghilang diantara banyak orang yang berlalu lalang. Aneh sekali Zoya.


Bu Aini menghampiriku, ia sudah memilih beberapa baju yang pas untuknya.


"Bu, tadi Angga ngomong dengan siapa?" tanyaku masih penasaran.


"Gak tau Cha, Ibu gak kenal siapa pria itu," jawab Bu Aini sembari ia memperlihatkan belanjaannya padaku.


Sesaat kemudian Angga menghampiri kami. "Mami tadi kemana sih?" tanya Angga.


"Maaf sayang, tadi mami kebelet pipis," sahutku.


"Lagi-lagi gagal deh, padahal Angga mau kenalin mami sama orang itu." Angga menggaruk tengkuknya.


Aku mendekatinya, "Belum waktunya Mami bertemu orang itu sayang, makanya selalu saja gagal terus kan?" tanyaku tersenyum sembari mengacak-acak rambutnya.


"Ya mi," sahutnya sambil tersenyum. Meski wajahnya menampakkan sedikit kekecewaan.


Setelah selesai belanja, niatnya, kami ingin nonton bersama. Tapi sayang, tidak ada film yang disukai Angga.


"Ya nih, masak kita pulang." timpal Bu Aini.


"Ya habisnya gimana, Kapan-kapan aja kita nontonnya," ujar Angga.


"Atau nggak, gimana kalau lanjut lagi belanjaannya?" tanyaku tersenyum lebar. Namun saat Angga berkata, "Gak ah Mi!" aku kembali memanyunkan bibir ku.


"Sepatu udah, baju udah semuanya lengkap. Bingung juga mau beli apa lagi," sambung Angga, "Kita pulang aja Yuk, tapi makan siang dulu dong!" Sambung Angga tersenyum lebar.


*


Begitu pulang dari Mall, aku lihat Askia begitu kerepotan membawa kotak kue kedalam mobil.


"Pesanan untuk arisan Kia?" tanyaku menghampiri mereka.


"Ya Mbak, mereka arisan jam 2 ini." Askia sibuk sekali, peluh membasahi bajunya.


Pesanannya lumayan banyak. Seperti biasa wanita-wanita kelas atas arisan, makanannya harus mewah pula.


*


Aku bersama Askia baru saja selesai mengantar pesanan kue. Namun ada sedikit kesalahan. Seingatku, selama aku membuka toko kue belum pernah aku bertemu dengan pelanggan seperti itu.


Tadi saat Askia membawa masuk kue ketempat wanita itu, tanpa sengaja, ia menjatuhkan salah satu kotak kue tersebut. Meski Askia telah berkali-kali meminta maaf, wanita tua itu masih saja judes.


"Hei! kamu teledor banget sih, kamu tau kue ini mahal!" bentak wanita itu.


"Maafkan saya Bu, saya hampir terjatuh tadi. Lantainya licin Bu," sahut Askia membela diri.


"Kamu pintarnya ngeles aja ya! Memang licin, rumah saya mewah, rumah kamu alasnya apa! tanah? dasar miskin!" bentak ibu itu lagi.


Aku tidak sanggup lagi mendengar wanita itu menghina Askia. Semua orang kaya sama menurutku, menganggap kaum miskin hina dan lemah.


"Bu, cukup ya!" bentak ku pada wanita berpenampilan nyentrik itu.


"Hei! kamu juga, siapa kamu berani-beraninya ikut campur urusan saya?" wanita galak itu menunjuk-nunjuk kepadaku.


Untungnya dia wanita tua, jika saja aku sebaya dengannya. Mungkin sudah ku jambak rambutnya.


"Saya bosnya, apa hak anda menghina karyawan saya. Lagian berkali-kali ia sudah minta maaf," ujar ku menahan amarah di dadaku.


"Oh, Bos dengan karyawan sama ya! sama-sama gak tau sopan santun sama yang tua," ucapnya pada kami. Saat ia berkata demikian, sepertinya kami yang memulai duluan. "Dasar wanita licik," aku menggerutu kesal dalam hati.


Aku mengajak Askia segera pergi dari rumah wanita sombong itu.


"Lihat ya! aku tidak akan pernah lagi memesan kue ditempat kalian!" teriak wanita itu ketika kami sudah keluar dari pekarangan rumah mewahnya.


Terserah, pikirku. Lagian pelangganku bukan cuma wanita tua itu saja. Aku lebih baik kehilangan satu pelanggan resek seperti itu, dari pada kehilangan satu karyawan seperti Askia yang sudah beberapa tahun belakangan ini bekerja bersamaku.


"Mbak chalisa... maafkan keteledoran saya," ucap Askia menundukkan kepalanya.


"Hei, kenapa kamu jadi sungkan seperti ini sama saya?" tanyaku pada Askia.


"Gara-gara kelalaian saya, Mbak chalisa jadi kehilangan satu pelanggan," ujarnya lagi.


Aku terus saja menyetir mobil tanpa menghiraukan permintaan maafnya. Karena menurutku itu bukan sebuah kesalahan, hanya saja ia tidak sengaja melakukan itu.


"Lupakanlah," pintaku pada Askia dengan lembut.


Saat melewati jalan Melati aku teringat dengan kuah soto Bu inem yang begitu nikmat di lidah. Sayangnya, jam 3 sore Bu inem belum buka.


Melihat tempat itu, aku jadi teringat Hendri. Besok hari Minggu, aku berharap dia datang ke tokoku lagi.


Jangan lupa klik like.


Favoritkan juga ya ...