
Aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Pagi-pagi tadi kami pulang dari kediaman lama Hendri. Semalam aku mendapatkan panggilan dari Bu Aini, beliau memintaku segera pulang. Aku mengiyakannya. Lagi pula, kerinduan Hendri pada kampung halamannya sudah terobati.
“Kapan-kapan kemari lagi, Nyonya,” ujar Bu Retno saat aku dan Hendri berlalu pagi tadi. Aku melambaikan tangan padanya. Aku juga berharap, bisa kembali lagi ke tempat itu. Bukan sebagai pacar lagi, tapi istri Hendri. Ah, harapanku terlalu tinggi tampaknya.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya tiba juga di rumah. Bu Aini tampak berdiri di depan pintu. Toko bunga tutup, tidak biasanya itu terjadi. Bu Aini mondar-mandir di teras. Aku segera turun dengan perasaan mulai panik, mengingat semalam beliau memintaku pulang. Aku menghampirinya, beliau langsung memelukku. Angga keluar dari dalam dengan wajah sendu dan mata sembab.
“Bu, Angga, ada apa ini?” tanyaku, kubelai pipi Angga, aku mengusap wajahnya dengan jemariku.
“Bu, apa terjadi sesuatu?” tanya Hendri.
“Sayang, kita harus segera kembali ke rumah orang tuamu,” ucap Bu Aini setelah cukup lama terdiam.
Deg.
Jantungku berdetak kencang, aliran darahku terasa panas, seketika pikiranku kembali pada mimpi burukku kemarin. Ya Tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu pada mereka.
“Ada apa, Bu?” tanyaku dengan suara pelan, dadaku terasa sesak.
“Papamu ... kau tenangkan diri dulu,” sahut Bu Aini dengan suara terbata-bata.
“Papa kenapa, Bu? Katakan!” tanyaku.
Bu Aini masih terdiam dengan air mata membanjiri pipinya. Angga memelukku erat, aku semakin bingung dengan keduanya.
“Opa sudah tiada, Mi,” ucap Angga di pelukanku.
Lututku seketika lemas, air mataku tak terbendung. Aku terjerembab ke lantai. Sudah berapa tahun aku tidak melihatnya, aku hampir melupakan senyumannya, bahkan wajahnya. Anak macam apa aku ini, seharusnya aku kembali dan minta maaf padanya. Sekarang apa gunanya air mata ini, papa sudah tiada.
“Papa, maafkan Chalisa, pa!” jeritku dengan tangisan yang pecah. Aku mengusap wajahku dengan kasar, air mata ini tidak ada gunanya. Aku anak durhaka, aku tidak berhak untuk menyebut diriku anaknya.
“Sayang, ayo kita ke rumah, papa,” ajak Hendri, ia membantuku berdiri. Lututku terasa tak kuat menyangga tubuhku. Hendri memapahku ke mobil diikuti Angga dan Bu Aini.
“Kapan mama telepon, Bu?” tanyaku saat Hendri mulai melaju kencang. Ada seribu pertanyaan di pikiranku, sejak kapan mama dan Bu Aini berhubungan. Apa selama ini keduanya saling bertukar kabar tanpa sepengetahuanku?
“Semalam, Cha,” sahut Bu Aini singkat. Aku meliriknya, beliau membuang pandangannya.
“Oh,” jawabku singkat.
Papa, pria pertama dalam hidupku. Sudah kuceritakan dari awal, aku sangat menyayanginya begitu pun sebaliknya. Namun aku sendiri yang telah menghancurkannya. Pilihan hidupku yang salah hingga membuatnya murka.
“Keluar kau dari rumahku, dasar anak tidak tahu diri!” bentak papa dengan gusarnya. Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telingaku.
Setiap hari berganti hari bulan berganti bulan hingga tahun pun terus berlalu. Aku selalu berusaha melupakan semuanya, dan berdamai dengan kehidupan, tapi aku tidak bisa. Bayang-bayang buruk masa lalu hingga membuat mereka malu terus membuatku merasa bersalah. Aku tidak berani pulang dan menemui mereka. Aku tidak punya keberanian untuk itu, walau hanya sekedar mengutarakan permintaan maaf.
“Tuhan, semuanya telah terlambat. Ampunilah dosanya, tempatkan ia di sisi-Mu, hanya itu yang bisa aku doakan sebagai anak yang durhaka ini,” gumamku dalam hati. Tanpa permisi, air mata kembali berlinang di pipiku.
Hendri menggenggam tanganku, ia mencoba agar aku tak berlarut-larut dalam kesedihan. Namun tetap saja aku tidak bisa, bisa dibayangkan betapa tersisa dan menyesalnya aku saat ini. Perasaan bersalah menyelimutiku.
“Bu, apa aku pantas bertemu mama lagi?” tanyaku pada Bu Aini.
“Sayang, jangan berbicara seperti itu,” sahut Bu Aini. Aku kembali terdiam.
“Ya sayang, walau sebesar apa pun kesalahan kita, orang tua tidak pernah dendam dengan anaknya,” ujar Hendri kembali menguatkanku.
Perjalanan menuju kampung halamanku lumayan jauh, berlawanan arah dengan kampung orang tua Hendri. Aku tak sabar ingin segera tiba, memeluk mama dan sujud di hadapannya. Hendri melaju kencang dengan kecepatan maksimal. Semakin dekat dengan tujuan semakin kencang jantung ini berdebar. Rasanya campur aduk menjadi satu.
“Bu, aku takut,” ucapku pelan.
“Sudah, Cha. Semuanya baik-baik saja, percayalah ...” ujar Bu Aini dengan senyuman menghiasi wajahnya. Aku melirik Angga di sebelahnya yang sudah tertidur pulas.
Mobil yang kami tumpangi memasuki lorong perumahanku. Keringat dingin mulai membasahi keningku, aku menelan ludah. Sudah puluhan tahun aku tidak menginjakkan kaki di tempat kelahiran ku ini. Jarak rumahku hanya tersisa beberapa ratus meter saja.
“Nak Hendri, belok kanan, ya?” pinta Bu Aini.
Rumah berwarna putih dengan pagar yang menjulang tinggi terlihat jelas di depan mataku. Seketika air mataku kembali tumpah, ya, itu rumah orang tuaku. Rumah di mana aku menghabiskan masa kecilku. Saat ini aku kembali menginjakkan kakiku di sini. Hendri menghentikan mobilnya tepat di depan rumahku.
Mobil-mobil tamu yang melayat berjejer rapi di depannya. Langkahku terasa berat saat turun dari mobil, Hendri memapahku masuk begitu pula Angga, ia menggenggam tanganku dengan berbisik semuanya akan baik-baik saja.
Semua mata tertuju padaku, mereka saling lempar pandangan, ada yang sudah lupa denganku ada yang terkejut dengan kepulanganku. Mungkin ada yang mengira aku sudah tiada, entahlah aku pun tak tahu.
“Hei, itukan Chalisa,” ujar salah seorang ibu-ibu.
“Ketika sudah tiada baru pulang, apa gunanya,” sahut orang lainnya, aku mendengarnya dengan jelas. Hendri menggenggam tanganku semakin erat. Aku tersenyum kecut. Yang mereka katakan itu benar, untuk apa aku marah.
“Bu! Chalisa kembali!” teriak pak Parmin, sopir pribadi papa, dengan tergesa-gesa ia berlari ke dalam.
Dengan tergopoh-gopoh, wanita yang dulunya sangat cantik, bahkan paling cantik sedunia, datang menghampiriku. Persis seperti di mimpiku, wajahnya pucat dengan mata sembab, ia sangat kurus. Air mata mengalir di pipinya, begitu pula dengan aku, aku sangat terisak-isak. Belum sempat mama memelukku, aku bersembah sujud di hadapannya. Tangisanku semakin menjadi-jadi.
“Maafkan Chalisa, Ma,” ucapku di sela tangisan.
“Bangun, Nak, Mama telah lama memaafkanmu, papa juga, sayang,” ucap Mama.
Aku memeluk mama, aku menciumi kening serta kedua pipinya, aku usap air matanya dengan ibu jariku, aku tidak akan membiarkannya terus menangis seperti ini. Aku bersumpah, setetes pun air matanya tidak akan pernah membasahi pipinya lagi. Ini janjiku.
Jangan lupa like.
Bantu share ke teman-temannya dong, sepi nih novelnya ga seru. Tq semua.