
Pagi-pagi sekali, aku sudah bergegas bangun dan bersiap-siap menuju rumah nenek. Aku tak sabar ingin bertemu Bu Narsih, hari ini aku akan mencari tahu alamat rumah Papa. Barangkali masih ada keluarganya yang tinggal di pulau.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, aku tiba di rumah nenek. Dari kejauhan aku sudah melihat Bu Narsih di dapur, jendelanya terbuka lebar.
Setelah memberi salam, aku segera masuk. Menyimpan tas di meja, melepas sepatu dan bergabung bersama Bu Narsih.
"Selamat pagi, Chalisa," sapa Bu Narsih.
"Pagi, nenek kakek, mana?" jawabku.
"Ada di halaman belakang. Mending Chalisa ke sana saja, biar ibu yang masak," ujar Bu Narsih.
"Benar tidak apa-apa, Bu?" tanyaku.
Bu Narsih menganggukkan kepalanya. Aku berlari kecil menuju halaman belakang. Tiba di sana, aku melihat nenek sedang duduk berdua dengan kakek di kursi taman.
"Kakek, boleh Chalisa duduk?" pintaku.
"Silakan," jawab beliau.
"Nenek apa kabar hari ini?" tanyaku.
Tatapannya kosong ke depan. Tak ada sahutan dari pertanyaan yang aku utarakan. Aku tersenyum ke arah kakek yang sejak tadi menatapku dalam.
"Ma, Chalisa mengajakmu bicara," ucap kakek pada istrinya. Dengan lembut mengusap punggung tangan si nenek yang ia letakkan di atas pahanya. Betapa lembutnya kakek mengajak nenek bicara.
Lalu tanpa menjawab, nenek menoleh padaku seraya melempar senyum. Tak seperti senyuman yang biasa aku temui pada orang lain, ada sesuatu yang tersirat di balik mata nenek.
Belum sempat aku mengobrol banyak dengan keduanya. Bu Narsih memanggil kami untuk makan bersama. Aku memapah keduanya masuk ke dalam.
Selagi makan, tidak ada obrolan diantara kami. Sesekali keduanya tampak termenung. Aku sungguh merasa iba melihat pemandangan yang begitu memilukan itu. Aku jua tak dapat menikmati hidangan lezat yang disajikan Bu Narsih.
"Oya, mana foto papamu yang sempat kamu ceritakan kemarin?" tanya Bu Narsih.
"Hmmm, aku baru ingat."
Aku berlari kecil menuju ruang tengah. Tempat di mana aku menaruh tas ketika tiba tadi. Aku segera mengambilnya. Namun, aku sedikit kaget, di mana aku tidak bisa menemukan foto papa di tasku. Seingatku, foto papa sudah aku masukkan ke dalam tas. Bagaimana mungkin tidak ada, aku jadi bingung.
"Kenapa?" tanya Bu Narsih mengangetkan.
"Ini loh, Bu. Perasaan tadi aku bawa foto papa," jawabku. Masih sibuk dengan merogoh seluruh tas. Namun tetap saja nihil.
"Mungkin terjatuh saat dalam perjalanan kemari," sambung Bu Narsih.
"Enggak, Bu. Aku ingat betul, lagipula, tasnya aku resleting dengan benar," jawabku.
Seketika perasaanku campur aduk. Bu Narsih meninggalkan kembali ke dapur. Padahal aku sengaja ingin memperlihatkan padanya foto tersebut. Barangkali ia bisa membantuku bertemu dengan orang tua dari ayahku.
"Nak, mari teruskan makannya!" panggil kakek.
Aku kembali ke meja makan tanpa bersemangat. Aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal. Tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres. Aku melihat Bu Narsih, seketika beliau yang tanpa sepengetahuanku sedang menatap padaku, spontan membuang pandangannya.
Ah, tidak mungkin. Aku membuang jauh-jauh pikiran buruk terhadapnya. Bagaimana juga, wanita itu baik. Telah rela merawat kedua orang tua ini.
"Memangnya benar, papamu orang pulau ini?" tanya kakek padaku.
"Iya, Kek. Aku sengaja membawa fotonya, siapa tau kakek kenal," jawabku.
"Lalu, mana fotonya?" tanya kakek lagi.
Aku menarik nafas dalam-dalam dengan tak bersemangat.
"Fotonya hilang," jawab Bu Narsih kembali bergabung di meja makan.
"Oya, boleh saya lihat foto anak kakek tidak?" tanyaku pada Kakek.
"Nanti saja, lagian kita lagi makan," jawab Bu Narsih.
Aku mengerutkan kening. Kenapa semakin aneh gelagatnya. Aku jadi penasaran dengan sikap Bu Narsih.
Selesai makan, Bu Narsih mengajakku beberes di dapur. Namun aku menolak, aku sengaja ingin bersama nenek. Mencoba mencari tahu, apa ada sesuatu yang tersembunyi.
"Jangan tanya macam-macam. Jika terjadi sesuatu saya tidak mau tanggung jawab!" ucap Bu Narsih dengan nada sedikit mengancam.
Aku tidak menggubrisnya. Lagi pula, aku tidak mungkin membahayakan kondisi keduanya.
"Pa, mana album foto putra kita di sini?" tanya nenek.
Sudah ku duga. Bu Narsih telah melakukan sesuatu saat kami berada di halaman belakang. Aku jadi penasaran, apa mungkin papa anak nenek?
"Narsih!" teriak kakek.
Bu Narsih berlari kecil menuju kamar. Aku menatapnya tanpa berkedip. Nenek mulai panik, beliau mengacak-acak seluruh isi lemari tuanya. Bu Narsih juga ikut mencari. Namun album foto tersebut tidak ditemukan.
Aku meraih ponsel dari saku celana. Barangkali ada foto papa, namun sayangnya tidak ada satu pun tersisa.
Sementara mereka sibuk menggeledah kamar nenek, aku mencoba menghubungi mama. Memintanya mengirimkan foto papa. Aku sungguh merasa, ada yang tersembunyi di ruamah tua ini.
"Ma, aku mohon Mama jangan banyak tanya dulu. Sekarang, coba mama kirim foto jaman dulu papa, nanti aku jelaskan," pintaku.
"Nak, mama tidak punya. Semua foto ada di rumah kita, di kampung," sahut Mama.
Ya Tuhan. Aku sangat panik, aku mondar-mandir di depan kamar nenek. Masih mencoba berusaha.
"Tunggu dulu, Mama coba hubungi orang rumah. Sabar, ya?"
Mama memutuskan panggilan. Aku harap-harap cemas, semoga saja ada sesuatu yang bisa membuktikan kebenaran yang mungkin sudah lama terpendam.
"Sudah ketemu, Nek?" tanyaku.
"Belum, bagaimana bisa hilang. Tidak ada yang masuk ke rumah ini," jawab nenek.
"Itu dulu, tapi sekarang?" jawab Bu Narsih.
Kakek dan nenek saling berpandangan. Aku juga bingung dengan ucapan bu Narsih. Sepertinya ia mencoba memojokkan aku.
"Bu jangan bicara seperti itu," kataku padanya.
"Buktinya, kenapa tiba-tiba ada yang hilang di rumah ini. Hanya kamu yang datang kemari," jawab Bu Narsih lagi.
Kedua orang tua itu hanya diam kebingungan. Aku sungguh merasa kesal pada Bu Narsih, aku tak menyangka ia punya pikiran licik.
"Nek, sejak datang tadi aku langsung ke belakang. Mana mungkin sempat melakukan hal-hal aneh, apalagi mencuri," jawabku mencoba membela diri.
Bu Narsih terdiam, aku rasa ia sedang memutar otaknya untuk mengelabuhi nenek dan kakek.
Sementara itu, ponselku berdering nyaring. Mama menghubungiku. Aku bergegas menerimanya. Dan benar saja, ada kabar gembira, mama sudah mengirimkan foto papa.
"Kakek, coba kakek lihat foto ini, apa kakek mengenalinya, ini papa saya," pintaku dengan memperlihatkan layar ponselku.
Tanpa permisi Bu Narsih menarik ponselku dengan paksa seraya berkata, "Nah kan, aku bilang apa, dia sengaja mencuri album foto putra kalian, lalu mengaku-ngaku sebagai cucu!" ujar Bu Narsih memperkeruh suasana.
"Itu tidak benar, mama yang kirim foto ini barusan, Kek," jawabku.
Kakek terdiam. Tak bersuara, begitu pula nenek. Matanya tak berhenti menatap foto yang masih terlihat dari layar ponselku. Aku menemukan sesuatu yang tersembunyi, namun sekarang aku bingung, bagaimana cara membuat mereka percaya.