
Aku tiba di sebuah Cafe, Robert telah menungguku di dalam. Aku sengaja mengajaknya bertemu untuk menanyakan apa yang terjadi padanya dan Angga semalam. Semalam rasanya, malam cukup lama berlalu, aku ingin segera pagi untuk bertemu dengan Robert dan menyelesaikan semuanya. Dan pagi ini, aku bergegas membereskan rumah kemudian bertemu dengannya. Aku turun setelah memarkir kendaraanku.
“Hai, kau sudah tiba,” sapa Robert tersenyum manis, aku sangat muak.
Aku menatapnya tajam tanpa berkedip, melihat akan hal itu Robert merasa canggung. Ia mempersilakan aku duduk, lalu memesan minuman.
“Tidak perlu repot-repot, aku tidak akan lama,” sahutku setelah pelayan pergi. Robert semakin canggung sekaligus bingung.
“Ada apa, kenapa tiba-tiba ajak bertemu?” tanya Robert.
Aku tersenyum sinis. “Kau menanyakan pertanyaan yang tepat,” sahutku.
“Katakan apa yang membuatmu gusar?” tanya Robert.
Aku melipat kedua tangan di dadaku sembari menatapnya. Aku ingin sekali meneriakinya meluapkan segala kekesalanku, tapi waktu dan tempat tidak mengizinkan.
“Katakan, apa maksud semua ini?” tanyaku. Aku mengeluarkan amplop berisi segepok uang yang ia berikan pada Angga dari tasku.
Robert terdiam, ia melirik amplop itu, kemudian ia mengusap wajahnya, terdengar helaan nafasnya terasa berat.
“Apa aku salah?” tanya ia kemudian. Ia bangun dari duduknya, ia berdiri mondar-mandir di hadapanku.
“Apa kau tahu, aku merasa aku orang paling bersalah di dunia ini. Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya, aku tidak memiliki celah sedikit pun untuk itu,” ucap Robert.
Aku tertawa kecil, aku mendongak menatapnya. “Kau tahu, aku merasa aku ibu paling bersalah di dunia karena telah melahirkan anak dari bapak tak bertanggung jawab sepertimu,” jawabku cukup santai dengan menyerang pertanyaan balik padanya.
Aku merasa lucu mendengarnya merasa bersalah atas semua kejadian silam. Ke mana saja ia selama ini?
Robert terdiam, sebenarnya ia tahu apa jawaban dari pertanyaanku, namun ia enggan berkomentar. Semua salahnya, setidaknya amarahku meredam karena ia tidak menyangkal itu semua.
“Beri aku celah sedikit saja untuk memperbaiki semuanya, Cha?” pinta Robert dengan wajah memelas.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku merasa tidak punya andil lagi untuk semua itu. Angga telah dewasa, ia bisa memilih sendiri kehidupan seperti apa yang ia inginkan. Saat ini, semuanya telah kuserahkan pada Angga, aku tidak ingin mengekangnya berinteraksi dengan papanya hanya karena aku membenci papanya.
“Kau tahu, sikapmu yang kekanakan seperti ini membuatnya semakin menjauh darimu. Dari kecil Angga sudah terbiasa hidup sederhana. Bahkan, ia tidak pernah lihat uang sebanyak itu, ia merasa terhina dengan kelakuanmu,” ucapku. Kemudian aku menunjukkan segepok uang yang ia berikan pada Angga.
“Apa aku salah jika ingin memberikannya sedikit saja hasil dari kerja kerasku?” tanya Robert.
“Caramu yang salah,” sahutku singkat.
“Lalu aku harus bagaimana? Kau tahu bagaimana tatapannya ketika melihatku?” tanya Robert lagi, matanya berkaca-kaca. Aku membuang pandanganku, aku tidak ingin melihat air mata buaya itu.
“Kau yang membuatnya menjadi seperti itu,” jawabku. Kembali ke persoalan awal. Rasanya semua yang dilakukan Robert tak berarti.
Robert menutupi wajah dengan kedua tangannya. Pelayan datang membawa minuman, aku tersenyum ramah, kemudian pelayanan tersebut pergi. Aku menghela nafas dengan berat. Situasi cukup rumit, kini bukan lagi tentang aku dan perasanku, tapi tentang ayah dan anak.
“Kau harusnya berterima kasih padaku karena telah membiarkanmu bertemu dengannya, tapi kau sendiri malah memperburuk keadaan,” ucapku kemudian.
“Aku hanya ingin memberinya uang, aku ingin teman-temannya tahu bahwa Angga masih memiliki seorang ayah,” sahut Robert.
“Untuk apa? Kau harus tahu itu yang membuatnya sangat malu. Dari kecil semua temannya tahu, Angga besar tanpa seorang ayah. Dan dengan beraninya kau datang membuatnya malu di hadapan teman-temannya?” tanyaku geram. Aku mengencangkan rahangku. Aku semakin benci Robert sangat membayangkan betapa kecewanya Angga padaku semalam.
Robert menggelengkan kepalanya, ia menjambak rambutnya, ia sangat frustrasi, wajahnya tak seceria seperti saat aku datang tadi.
“Aku harus bagaimana, Cha?” tanya Robert.
“Aku rasa semuanya sudah jelas, kau atur sendiri bagaimana caranya. Aku hanya ingin menegaskan padamu, aku bisa membiayai kebutuhan anakku, tidak perlu bersikap seperti ini,” ucapku sambil tersenyum kecut.
“Tunggu, Cha,” pinta Robert.
Aku menghentikan langkahku, aku menatapnya tajam.
“Maaf telah membuat kalian lagi-lagi kecewa dengan sikapku,” ucapnya perlahan dengan mata berkaca-kaca. Aku cukup lama terdiam, kemudian bergegas pergi tanpa memberinya jawaban.
Dalam perjalanan pulang, aku mengumpat dalam hati dengan kesal. Tujuan aku datang untuk memakinya bukan untuk mendengarkan curahan hatinya. Namun apa yang terjadi, aku tidak tega melakukan itu semua.
Aku bingung dengan kehidupan ini, kenapa mereka tidak pernah berpikir ketika melakukan sesuatu, apakah itu benar dan tidak menyakiti siapa pun?
Kenapa mereka bertindak sesuka hati, kemudian kembali tanpa ada rasa bersalah. Aku muak, kita yang menjadi korban hanya bisa diam dengan itu semua, bahkan ketika kita kesempatan untuk membalas itu ada, kita juga hanya bisa diam dan tak sampai hati.
Tuhan, kenapa hidup selalu memihak pada orang-orang yang tak bertanggung jawab?
Tiittttt!!!!!
Tiba-tiba bunyi klakson mobil cukup keras. Aku terperanjat kemudian menekan pedal rem dan menepi. Sebuah mobil melaju kencang dengan mobil polisi mengejarnya. Aku hampir saja tertabrak, aku buru-buru menepi ketika melihat semua mobil menepi. Sepertinya ada kecelakaan, pikirku. Aku mengelus dadaku, aku sangat syok.
Tok tok.
Seorang wanita mengetuk kaca mobilku. “Anda baik-baik saja?” tanya wanita itu. Aku mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Ada perampokan di kompleks Mekar, polisi sedang mengejar mereka,” ujar wanita itu memberitahukan apa yang terjadi.
“Siang-siang begini?” tanyaku tak percaya. Wanita itu mengangguk.
“Sebaiknya Anda istirahat dulu, Anda terlihat tidak baik-baik saja,” ucapnya lagi.
“Oh, tidak apa-apa. Tadi hanya ada sedikit masalah,” jawabku tersenyum kecut.
“Baiklah, hati-hati kalau begitu,” ucapnya lagi, kemudian ia kembali ke mobilnya.
Aku kembali melaju ketika semuanya kembali normal. Ada-ada saja persoalan yang terjadi, semakin hari semakin rumit saja rasanya kehidupan ini. Aku hampir celaka karena tidak fokus menyetir.
Tak lama, aku tiba di rumah. Pikiranku masih saja tidak tenang. Aku terbayang dengan tatapan Robert, tampak sekali ia menyesal dengan semuanya. Aku benci pada diriku sendiri, kenapa aku begitu mudah iba?
“Sudah pulang?” tanya Bu Aini mengagetkanku.
“Mm,” sahutku.
“Kau katakan padanya agar tidak melakukan itu lagi?” tanya Bu Aini.
“Sudah, Bu,” jawabku. “Ibu tahu, sepertinya Robert sangat merasa bersalah,” lanjutku.
“Cukup, Cha. Jangan bodoh, pria seperti dia sangat pintar bersandiwara, jangan pernah jatuh ke lubang yang sama, Cha!” hardik Bu Aini. Aku terdiam, aku mengusap wajahku.
“Kau ini membuatku geram,” ucap Bu Aini, kemudian ia pergi dari hadapanku. Aku menatapnya dengan perasaan bersalah.
Jangan lupa like dan komen.