A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 37



Terlepas dari semua kegelisahan yang aku rasa, aku kembali menjalani kehidupanku seperti biasanya. Hari-harinya aku disibukkan dengan segudang aktivitas yang cukup menyita waktuku. Aku sibuk di toko bunga, kadang juga harus turun ke dapur saat banyak pesanan dari pelanggan tetapku.


Tak bisa dipungkiri, walau bagaimanapun aku tetap tidak bisa melupakan begitu saja. Hati ini masih ragu dengan bagaimana ke depannya hubungan aku dan Hendri. Aku sengaja menyibukkan diri agar bisa sedikit lebih tenang. Namun tetap saja bayang-bayang takut kehilangannya selalu menghampiriku.


“Sudah aku katakan, lebih baik kita segera menikah,” ujar Hendri setiap kali aku mengatakan kegelisahanku.


Aku bisa saja mengikuti kemauannya, tapi bagaimana jika nenek tidak setuju. Oh tuhan, aku belum siap kehilangan Hendri. Rasa nyaman ini telah membuatku takut kehilangannya.


“Tidak, Mas, aku belum siap,” sahutku lemah.


“Cha, Chalisa!” teriak Bu Aini, aku terperanjat dari dudukku.


“Bu ada apa?” tanyaku.


“Kau selalu saja begitu, asyik melamun saja,” ucapnya sembari berlalu.


Aku menarik nafas dalam-dalam, aku memeluk kedua lututku. Malam ini aku sangat lelah, terlalu banyak aktivitas hingga membuatku penat. Selesai makan malam aku duduk di ruang tengah, mama sedang asyik dengan buku bacaannya dengan lengkap dengan kaca mata yang melekat di wajahnya.


“Ada apa?” tanya Mama sembari menutup buku bacaannya lalu melepaskan kaca matanya. Aku menggelengkan kepalaku.


“Ada apa, belakangan Mama perhatikan kau banyak melamun, apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Mama sekali lagi


Mama bangun lalu duduk di sebelahku, tak lama Bu Aini kembali keluar dari kamarnya dan bergabung bersama kami.


“Katakan, barangkali bisa meringankan bebanmu,” pinta Mama, beliau menggenggam tanganku.


“Apa ini tentang Hendri?” tanya Bu Aini. Aku mengangguk.


Aku ragu untuk mengatakan semuanya pada Bu Aini dan Mama, tapi sampai kapan aku akan menutupinya? Aku tidak tahan lagi menahan ini semua, rasanya begitu berat. Aku menutupi wajah dengan kedua tanganku, yang terdengar hanya nafasku yang terasa berat.


Mama mengusap punggungku, beliau terlihat khawatir, aku tidak mungkin membiarkan beliau gelisah dengan sikapku. Aku memeluknya erat, Bu Aini mengusap kepalaku, lalu aku memeluk keduanya bersamaan. Dua orang yang paling aku sayang.


“Hendri adalah adik Robert, papanya Angga,” ucapku sambil menahan tangis.


“Apa kau bilang, Cha?” tanya Bu Aini.


Mama menutupi mulut dengan tangannya. Aku tahu, Bu Aini pasti telah bercerita semuanya padanya tanpa sepengetahuanku, aku tidak perlu bersusah payah untuk mengatakan siapa ayah Angga yang sebenarnya.


“Bagaimana ini bisa terjadi, sayang?” tanya Mama.


“Entahlah, Ma, aku sangat syok,” sahutku.


“Hendri sendiri tahu semua itu?” tanya Bu Aini. Aku mengangguk sambil kembali memeluk keduanya.


“Bagaimana dengan Robert, apa dia tahu?” tanya Mama.


“Mungkin belum, dan sebentar lagi akan. Itu yang sangat aku khawatirkan,” jawabku.


“Kenapa harus takut, bukankah itu bagus, biar dia tahu rasanya!” ucap Bu Aini tertawa kecil.


Aku terkejut dengan pemikiran beliau, dari dulu memang beliau tak menyukainya, namun aku tak menyangka beliau masih menyimpan dendam padanya hingga kini. Aku menyeka air mata dengan punggung tanganku.


“Ini berbeda, Bu,” sahutku.


“Apanya yang berbeda?” tanya Bu Aini masih dengan tatapan mata yang terbuka sempurna.


“Aku tahu, Robert tidak akan tinggal diam jika ia tahu aku dan adiknya berhubungan, Bu,” ujarku.


Bu Aini kembali tersenyum sinis, sementara mama memelukku erat. “Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah,” ucap Mama.


“Kenapa kau harus takut padanya, Cha. Katakan yang sebenarnya, aku tak mengerti arah pembicaraanmu?” tanya Bu Aini masih berapi-api.


“Nenek pasti tidak akan menyetujui hubungan ini jika ia tahu aku punya anak dari Robert, Bu.”


“Oh tuhan, kenapa ini begitu rumit,” ucap Bu Aini.


Di saat aku sedang bersedih hati dan dikelilingi berbagai cobaan seperti ini, aku beruntung memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangiku. Keduanya memiliki peran penting dalam kehidupanku.


Suara bel pintu rumahku. Bu Aini berdiri lalu melangkah ke depan. Aku masih belum melepaskan pelukan mama yang begitu menghangatkan. Tak lama Bu Aini kembali ke dalam dengan wajahnya yang merah padam.


“Keluarlah, ada tamu penting,” ucapnya, lalu ia menghempaskan tubuhnya di sofa.


“Siapa, Bi?” tanya Mama pada Bu Aini. Namun Bu Aini tak bergeming. Mama menyuruhku melihat siapa tamu penting yang Bu Aini maksud.


Aku mengintip di balik tirai jendela sebelum memutuskan keluar untuk memastikan siapa yang bertamu. Seorang pria duduk di teras menghadap ke depan, aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku menarik gagang pintu dan melangkah ke luar.


“Ada perlu apa, ya?” tanyaku.


Pria itu berbalik arah dan tersenyum ramah padaku, benar-benar tamu yang tidak aku harapkan kehadirannya di sini.


“Robert!”


“Maaf aku mengganggumu,” ucapnya.


“Sangat mengganggu,” sahutku.


Robert mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Apa hubunganmu dengan pria ini?” tanya Robert setelah memperlihatkan foto aku bersama Hendri di bangku taman. Aku sedikit terkejut, dari mana ia tahu foto itu.


“Chalisa, jawab?” pinta Robert.


“Apa pentingnya bagimu dengan siapa aku berhubungan?” tanyaku menatapnya tajam.


“Tidak ada hubungannya denganku jika saja bukan adikku pilihanmu,” ucapnya dengan nada sedikit menekan.


Ah, akhirnya apa yang aku khawatirkan terjadi juga, aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku lalu aku menghempaskan bokongku di kursi.


“Jangan berharap lebih, aku akan mengatakan semuanya pada nenek,” ancam Robert dengan tatapan mata yang menjijikkan.


“Aku tidak akan memaafkanmu jika itu benar-benar kau lakukan!” teriakku.


“Kau jangan gila, itu adik kandungku, Chalisa!” teriak Robert tak mau kalah.


“Lalu aku harus bagaimana, cinta yang menyatukan kami berdua,” ucapku. Jika boleh jujur, bila ada pilihan, sungguh aku memilih untuk tidak berhubungan dengan siapa pun yang memiliki ikatan dengan Robert.


“Apa kau bilang, cinta?” tanya Robert, ia mencengkeram tanganku dengan erat.


“Robert, sakit!”


Mama dan Bu Aini keluar. Bu Aini segera mendorong Robert, mama memelukku erat.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Bu Aini.


“Maaf, Bu, Ma, aku ...”


“Pergi!” teriak Bu Aini menyela ucapan Robert.


Hendri segera keluar dan bergegas pergi dari rumahku. Aku melangkah ke dalam dengan mama memelukku.


“Sayang ayo istirahat,” pinta Mama.


Mama berbaring di sampingku, aku memeluknya. Aku butuh kehangatan seperti ini, aku sangat syok dengan perlakuan Robert, ia sangat marah padaku. Aku khawatir bila bertemu Hendri, keduanya akan bertengkar.


Aku meraih ponsel yang ada di nakas, kemudian segera menghubunginya. Namun sayangnya panggilan itu tidak tersambung. Sudah beberapa kali mencoba, tetap saja tidak terjawab.


“Tidurlah, mungkin ia sedang sibuk,” pinta Mama.


“Ma, kenapa semuanya jadi begini?” tanyaku.


Mama mengusap kepalaku. “Beginilah kehidupan, Nak. Tak semuanya berjalan mulus, kau harus bersabar,” ucap Mama. Aku menciumi punggung tangannya lalu kembali berbaring di sampingnya.


Jangan lupa like.