A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 48



“Silakan, Masuk. Nyonya sudah menunggu di dalam,” pinta seorang wanita muda padaku.


 


Aku memanggil Angga dan mengajaknya masuk. Jantungku berdegup kencang, tanganku dingin sekali. Aku memejamkan mataku, Angga menggenggam tanganku, seolah-olah sedang menguatkanku. Aku jadi ragu, apa aku benar-benar tahu keinginanku sendiri, atau Angga lebih mengetahuinya?


 


“Selamat datang, Nak Chalisa,” sapa nenek dengan ramah, ia memelukku.


 


Nenek menatap tajam pada Angga. Beliau cukup lama terdiam, nenek menyentuh pipi Angga, lalu menarik tangannya, Angga hanya mengikuti langkah nenek yang ingin membawanya ke suatu tempat. Aku mengikuti keduanya.


 


Nenek membawa kita ke ruang keluarga. Ruangan itu di penuhi dengan foto di dindingnya. Nenek mengambil sebuah pigura lalu memberikan pada Angga.


 


“Ini cucu, Oma. Ini fotonya waktu seusiamu, sangat mirip, kan?” tanya nenek pada Angga.


 


Aku mendekat lalu ikut melihat, ternyata itu foto Robert waktu masih kuliah. Benar-benar mirip, seperti kembar, aku susah membedakan keduanya jika saja itu terjadi dulu.


 


Aku menelan ludah, semuanya tidak berjalan semulus yang aku bayangkan. Bahkan aku belum memperkenalkan Angga pada nenek.


 


“Nek, ini Angga, putraku, yang dulu sempat aku bicarakan pada Nenek” ujarku kemudian.


 


Angga menundukkan kepalanya menciumi punggung tangan Omanya. Nenek mengusap kepalanya seraya memujinya sangat sopan.


 


“Mari duduk dulu,” ajak Nenek. Tak lama minuman pun disajikan.


 


Angga mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia tampak takjub dengan kemegahan istana nenek. Nenek juga tak membuang pandangannya dari Angga. Keringat dingin mengucur deras di keningku, aku bingung mau mulai dari mana.


 


“Nek, sebenarnya ada yang ingin Chalisa bicarakan,” ujarku membuka obrolan.


 


“Baik, ada apa, sepertinya penting?” tanya nenek, beliau merespons dengan baik.


 


Aku bangun dari dudukku. Kemudian melangkah ke depan, di sana ada foto Hendri, ia sangat tampan, dengan jas yang melekat di tubuhnya. Aku mengambil foto tersebut, kemudian kembali bersama nenek.


 


“Itu cucu nenek juga,” ucap beliau padaku.


 


“Ya, ini Hendri, Hendri Pratama, kan?” tanyaku padanya.


 


Nenek tersenyum dan mengangguk. “Apa Robert yang mengenalinya padamu, kamu sangat mirip dengan mantan istrinya dulu,” ujar nenek kemudian.


 


Rasanya, seperti ada seseorang yang menusukkan belati ke dadaku. Aku sangat terkejut mendengar ucapan nenek. Wajah beliau seketika menjadi pilu, beliau bangun dari duduknya, kemudian membuka laci meja di belakangku. Nenek kembali dengan sebuah foto di tangannya.


 


Dadaku semakin sesak ketika nenek memperlihatkan foto pernikahan Hendri dengan Diana padaku. Seakan-akan ia ingin memperjelas ucapannya, bahwa aku sangat mirip dengan mantan istri Hendri. Aku menatap Angga, namun tidak ada yang bisa ia lakukan.


 


“Bukan Nek, bukan Robert yang mengenalkan kita berdua,” ucapku kemudian.


 


“Oh begitu, jadi bagaimana ceritanya kalian bisa saling mengenal?” tanya nenek lagi.


 


“Itu terjadi sudah cukup lama, Nek. Aku datang kemari juga karena Hendri,” sahutku.


 


Nenek mengerutkan keningnya yang memang sudah penuh dengan kerutan. Beliau tampak bingung dengan ucapanku.


 


“Aku dan Hendri akan segera menikah, Nek,” ucapku kemudian.


 


“Apa kau bilang, menikah?” tanya Nenek. Beliau tertawa kecil.


 


“Ya Nek, menikah,” jawabku mengulang kembali.


 


 


“Aku sudah tahu tentang cerita itu, Nek,” ucapku menyela ucapan Nenek. Aku tidak ingin lagi mendengarnya, Diana lagi, Diana lagi.


 


Nenek tersenyum, beliau mengusap punggung tanganku. Aku menarik nafas dalam-dalam, Angga tak berkedip menatapku.


 


“Nenek sangat bahagia, Nak Chalisa. Cukup lama Hendri mengunci hatinya, ia sangat terpukul karena kehilangan Diana. Bertahun-tahun ia hidup dalam kesendirian, berkali-kali nenek mencoba menjodohkannya, tapi ia tidak pernah mau, ternyata ia menunggu seorang pengganti Diana, benar-benar pengganti Diana. Aku merestui hubungan kalian berdua.”


 


Aku menyukai ucapan nenek yang terakhir. Tapi bukan yang sebelumnya. Apa? Nenek menyebutkan Hendri menunggu seseorang yang mirip Diana? Apa mungkin, cuma karena aku mirip Diana, Hendri mau membuka hatinya untukku?


 


Hatiku sangat sakit sekali, bertubi-tubi nenek melukainya. Aku terdiam, dengan pikiran yang masih bertanya-tanya.


 


Nenek mulai mengobrol dengan Angga, sementara aku masih terdiam dengan pikiranku yang tak tahu arah. Nenek merestui hubungan aku dan Hendri. Tapi bagaimana jika beliau tahu bahwa Angga adalah putra Robert?


 


“Ada hal lain yang lebih penting yang ingin aku bicarakan, Nek,” ucapku memecahkan obrolan nenek dan Angga.


 


“Tidak perlu khawatir, sayang. Nenek akan mengurus semuanya, akad dan resepsi, kalian berdua jalani saja,” jawab Nenek.


 


Nenek tersenyum bahagia, beliau bangun dari duduknya kemudian duduk di samping Angga. Beliau merangkul pundaknya.


 


“Akhirnya aku punya cucu juga,” ucapnya kemudian.


 


Aku kembali menelan ludah. Ya Tuhan, aku akan mulai dari mana. Bagaimana cara aku mengatakan Angga adalah cucunya, anak Robert. Aku menutup wajahku.


 


“Aku anak papa Robert, Oma. Bukan cuma mirip, tapi aku memang benar-benar anak papa Robert.”


 


Aku terkejut mendengar pengakuan Angga. Ternyata bukan aku yang akan mengatakannya, ia sendiri yang mengatakan pada Omanya.


 


Nenek terpaku, beliau melemparkan pandangannya padaku. Kemudian ia berkali-kali menatap foto itu, ia meraba wajah Angga.


 


“Ini cucuku?” tanya Nenek.


 


Kemudian Nenek memeluk Angga dengan erat, ia menangis tersedu-sedu. Tak sempat mengatakan apa pun lagi, beliau hanya menumpahkan tangisan yang cukup keras di pelukannya. Aku jadi iba melihat keduanya. Tak hanya nenek, mata Angga juga berkaca-kaca, ia membalas pelukan Omanya.


 


“Aku sudah cukup lama mencarimu, tapi panti asuhan itu sudah pindah. Oma menyesal tidak bisa mencegah mereka membuangmu, jika papamu tahu, ia tidak akan memaafkan aku dan kedua orang tuanya.” Nenek kembali menangis tersedu-sedu.


 


Aku dan Angga bingung dengan apa yang dikatakan nenek, kemudian beliau melepaskan pelukannya. Beliau mendekati aku kemudian memelukku erat.


 


“Terima kasih telah mengasuh dan mempertemukan aku dengan cucuku lagi,” ucap nenek padaku.


 


“Apa maksudnya, Nek?” tanyaku.


 


Nenek mulai menceritakan semuanya. Mulutku terbuka sempurna, apa ini akhir dari kisah ini?


 


Hari ini aku telah mengetahui banyak hal, aku bingung. Jika saja ini sinetron, mungkin ini akan jadi episode terakhir.


 


Jadi kedua orang tua Robert telah membuang anak Zoya. Karena keluarga tidak sanggup menanggung malu karena anak yang dilahirkan Zoya adalah anak di luar nikah.


 


Aku memeluk Angga, aku tidak tahu, jika saat itu aku menikah dengannya, mungkin nasib Angga akan serupa dengan nasib anak Zoya. Bayi yang tak berdosa, harus menanggung semuanya.


 


“Mi, sudah aku katakan, jangan melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi saja. Mungkin, ada hal lain yang terselip di balik itu semua,” ucap Angga padaku.


 


 


Jangan lupa like.