
“Jawablah, aku butuh jawabanmu!?”
Aku menatap Hendri dengan geram. Tak kusangka, ia membuat keadaan semakin rumit, tak seharusnya ia bersikap seperti itu. Saat pernikahan kita tinggal menghitung hari, sekarang ia malah membuat ulah. Apa maksudnya yang sebenarnya?
Aku berharap, ia adalah pria terakhir dalam hidupku. Bumbu-bumbu cinta yang telah bersemi di hatiku, hanya untuk ia seorang. Tak pernah sekalipun terbesit di hati ini untuk mengkhianati dirinya, apalagi bersama Robert, pria yang sudah pernah membuat diriku trauma.
“Mengertilah, aku sedang sibuk akhir-akhir ini,” sahut Hendri akhirnya.
Aku tersenyum kecut sembari membuang pandangan ke samping. Melihat sikapnya yang terlalu santai, aku jadi ragu dengan keputusanku. Apakah aku terlalu buru-buru menyimpulkan bahwa ia lebih baik dari Robert?
“Hey, apa sudah selesai. Aku sangat lelah.”
Ucap seorang gadis cantik, ia bergelayut manja di lengan Hendri. Aku menatapnya mulai dari ujung kaki hingga kepala. Sangat cantik. Wanita yang fasih berbahasa Inggris itu, menatapku balik sembari tersenyum tipis, sayangnya aku tidak berminat untuk menggubrisnya.
“Sudah selesai,” sahut Hendri singkat.
Apa? Sudah selesai?
Mataku terbuka sempurna saat mendengar ia mengucapkan itu. Bahkan aku belum menemukan jawabannya.
“Biar aku saja yang mengantarkannya pulang, sebaiknya kalian berdua selesaikan dulu kesalahpahaman ini,” pinta Robert pada adiknya.
“Bukan urusanmu, lagi pula Clo tidak akan mau denganmu,” sahut Hendri.
Lagi-lagi jawabannya cukup membuatku geleng-geleng. Aku sangat muak dengan gadis yang manja itu, padahal Hendri sudah mengenalkan bahwa aku calon istrinya, tapi ia masih saja menempel seperti cecak.
“Istirahatlah, aku pergi dulu,” ucap Hendri tanpa merasa bersalah.
Sebelum pergi, gadis manja itu sempat-sempatnya membuat darahku naik. “Kita akan sering bertemu dalam beberapa Minggu ke depan, ya?” ucapnya padaku. Lalu keduanya segera berlalu.
Tinggallah aku dan Robert masih sama-sama terdiam. Aku tak habis pikir dengan apa yang baru saja aku alami, apakah aku bermimpi, bukankah itu calon suamiku? Lalu kenapa ia memilih pergi dengan wanita lain, sementara aku masih bertanya-tanya dengan semua yang tak pasti ini?
“Cha, aku ... .”
“Pulanglah, Rob. Kau lihat, kan? Keadaan semakin rumit. Entah lah, aku bingung.”
Aku berjalan dengan sempoyongan. Aku duduk di kursi. Dinginnya angin malam tak membuatku merasa tidak nyaman, gaun lengan pendek yang aku kenakan malam ini rasanya tak membuatku merasa kedinginan.
Tuhan, kenapa Engkau tidak membiarkan aku bahagia, sekali ini saja?
“Istirahatlah, mungkin kau butuh waktu untuk sendiri. Sampaikan salam ku pada Angga, aku permisi pulang,” ucap Robert samar-samar terdengar di telingaku.
Entah kenapa, tiba-tiba kepalaku berkunang-kunang. Rasanya semuanya menjadi gelap, aku menggigil hebat, dan tanpa sadar aku terjerembap ke lantai.
••
Aku membuka mataku, sinar matahari menyinari kamarku. Aku menggeliat malas, kepalaku masih terasa pusing. Aroma bubur ayam sangat lezat membuat mataku terbuka sempurna. Aku bangun dari tidurku. Semangkuk penuh bubur ayam terletak di nakas. Dengan malas, aku melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah serta mengganti pakaian.
“Mami sudah bangun?” tanya Angga sembari mengetuk pintu kamar mandi.
“Sudah, sayang,” jawabku sembari keluar dari kamar mandi.
“Mami makan dulu, kata Oma sejak siang kemarin Mami belum makan,” pinta Angga padaku.
Aku tak menjawab, bubur buatan Bu Aini memang terbaik. Aku terus menyuapi sesendok demi sesendok ke mulutku hingga tak tersisa. Sangat nikmat, kebetulan perutku juga sangat kelaparan.
“Mau seberat apa pun masalahnya, Mami tetap harus jaga kesehatan, jangan sampai kejadian semalam terulang lagi,” ujar Angga menasihatiku.
Aku tersenyum sembari mengusap kepalanya. Ia sudah dewasa, aku bangga padanya, ia tumbuh menjadi pria yang baik dan perhatian. Aku menganggukkan kepalaku, aku telah membuatnya khawatir dengan sikapku.
“Ups, maaf mengganggu,” ucap Zoya. Ia kembali menutup pintu kamarku. Namun sebelum itu terjadi, aku sudah berteriak memanggilnya. Ia tertawa lepas.
“Sudah siap, ayo berangkat?” ajak Zoya.
Aku bingung, aku menaikkan kedua alisku. Zoya mencubit lenganku.
“Hari ini kita akan melihat gedung untuk pernikahan kalian, bukankah tinggal 10 hari lagi?” tanya Zoya lagi.
Aku baru ingat, gedung yang sudah aku booking sebulan yang lalu, hari ini kita akan melihat kondisinya. Serta kita akan memilih WO yang tepat, dan seperti apa kemauan kita nanti untuk hari H.
“Cha!” Teriak Zoya.
“Zo, sebenarnya ada sedikit masalah,” jawabku.
Zoya kembali duduk di sampingku. Wajahnya seketika berubah. Ia menunggu terusan kalimat dari mulutku.
“Apa kau mengenal Om Jacob dan Clo?” tanyaku.
“Ada apa dengan mereka berdua?” jawab Zoya dengan berbalik tanya.
Aku tidak menjawab, aku membuang pandanganku ke depan. Zoya menarik daguku hingga berhadapan dengannya.
“Katakan, ada apa?” pinta Zoya.
“Hendri lebih mementingkan mereka dari pada persiapan pernikahan kita berdua,” ceritaku.
“Keluarga besar papa Hendri berhutang budi pada Om Jacob,” sahut Zoya.
Aku sudah yakin, ia pasti tahu tentang itu semua. 10 tahun bukan waktu yang singkat, tak heran ia tahu semuanya tentang itu.
“Coba hubungi saja Hendri, barang kali hari ini ia bisa menemanimu melihat gedung,” pinta Zoya.
Aku terdiam cukup lama setelah akhirnya aku mengambil ponsel lalu menghubungi Hendri. Aku tak berharap banyak setelah apa yang aku lihat semalam. Lagi pula, wanita itu berkata ia akan lama di sini.
“Kamu di mana?” tanyaku begitu panggilan tersambung.
“Ini siapa, Hendri sedang mandi,” jawab seorang wanita dengan berbahasa Inggris.
Aku sangat kesal, aku melemparkan ponselku ke tempat tidur. Tanpa terasa air mata tumpah di pipiku. Bagaimana bisa pagi-pagi begini mereka sudah bersama, tidak mungkin mereka bermalam bersama, bukan?
“Ada apa?” tanya Zoya.
Tiba-tiba ponsel Zoya berdering. Ia segera menjawabnya. Rupanya teman-teman arisan kita. Hari ini ada pertemuan seperti biasa. Tapi rasanya, aku enggan bergabung dengan mereka untuk hari ini.
“Zo, kau pergilah,” pintaku.
“Cha, ayo dong. Jika di rumah terus kau semakin pusing. Santai saja, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Zoya padaku.
Setelah mendapatkan rayuan maut dari Zoya. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat dengannya. Tak lupa berpamitan pada mama dan Bu Aini sebelum pergi.
Sekitar 20 menit kemudian kita tiba di sebuah kafe langganan kita semua. Baru saja aku melambaikan tangan pada mereka, berbagai ocehan mereka lontarkan padaku. Ini sudah risiko, aku harus siap-siap tutup telinga.
“Aku sudah dapat undangannya, loh,” celetuk salah satu dari mereka.
“Selamat ya, Cha,” ucap yang lainnya.
Aku cuma bisa pura-pura baik-baik saja. Bahkan aku sendiri belum tahu akankah kembali membaik atau malah semakin memburuk ke depannya antara aku dan Hendri. Entah lah, hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
Jangan lupa like.