
“Mas, aku sudah sepuluh menit menunggu, loh,” ujarku ketika panggilan dengan Hendri tersambung.
Siang ini aku mengajaknya bertemu Mas Kenzo. Aku tidak ingin nantinya bajuku dengannya tak serasi, apa kata orang? Lagi pula, bukankah sudah seharusnya kedua calon pengantin melakukan itu sama-sama.
Seminggu berlalu setelah aku datang kemarin, semalam Mas Kenzo menghubungiku, dia meminta aku dan Hendri datang hari ini.
“Sayang, bisa Minggu depan saja?” sahut Hendri dengan sedikit berbisik, “Ada pertemuan mendadak,” lanjutnya.
“Kamu bagaimana si, Mas? Pernikahan kita tinggal dua Minggu lagi,” jawabku.
“Baiklah, sebaiknya kamu berangkat saja dulu, aku segera menyusul,” ujar Hendri sebelum menyelesaikan panggilan itu sebelah pihak.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Ya sudahlah, barang kali ada sesuatu yang tidak bisa ia tolak, sebaiknya aku pergi saja dulu. Lagi pula perjalanan menuju ke sana lumayan jauh. Setelah berpamitan pada mama, aku segera berangkat.
45 menit kemudian.
Aku segera turun setelah memarkir mobil. Seperti biasa, aku disambut ramah oleh karyawan Mas Kenzo. Aku segera menemui sang desainer handal itu di lantai dua.
“Masuk, Chalisa,” pinta Mas Kenzo.
Melihatku sendiri, Mas Kenzo mengerutkan keningnya. Semalam ia telah mewanti-wanti agar aku datang bersama Hendri. Ada sedikit kesalahan pada ukuran postur tubuh, ditakutkan akan kekecilan atau sebaliknya. Namun jika kita berdua keberatan, akan dibuatkan yang lain secepatnya agar segera selesai dalam satu Minggu.
“Sebentar lagi Mas Hendri akan segera tiba,” ucapku memberitahu sebelum ada pertanyaan darinya.
“Oh, oke,” sahutnya singkat sembari tersenyum ramah.
Sembari menunggu Hendri tiba. Mas Kenzo mengajakku melihat gaun pengantin milikku, menurut cerita beliau yang sudah memang profesional, enam puluh persen sudah rampung. Aku percaya saja, pelanggannya mungkin sudah ribuan.
“Kami menggunakan bahan dengan kualitas terbaik, agar nanti kamu merasa nyaman,” ujar Mas Kenzo.
Aku meraba gaun itu, sangat lembut, bahannya halus. Aku tersenyum manis.
“Bagian lehernya tidak perlu terlalu terbuka, ya, Mas,” pintaku.
“Baik, itu gunanya aku menyuruhmu kemari,” sahut Mas Kenzo. Beliau sangat ramah.
Mas Kenzo melirik jam di tangannya, ini sudah hampir lima belas menit namun Hendri tak kunjung datang. Aku merasa malu padanya, aku menundukkan kepalaku. Mas Kenzo mengajakku kembali ke ruangannya setelah usai melihat gaun yang hampir jadi itu.
“Loh, Rob, ngapain kau kemari?” tanya Mas Kenzo.
Setelah Mas Kenzo masuk, aku juga masuk. Aku sangat kaget melihat Robert adalah orang yang dimaksud Mas Kenzo.
“Hendri memintaku kemari,” sahutnya.
Aku sangat terkejut, bagaimana bisa Hendri meminta Robert datang kemari?
“Kenapa kamu?” tanyaku.
“Tiba-tiba kantor kita kedatangan tamu dari luar negeri, teman lama ayah sedang berlibur kemari,” jawab Robert.
“Lalu apa yang bisa kau lakukan di sini?” tanyaku dengan wajah kurang suka.
Mas Kenzo bangun dari duduknya kemudian ia meraih baju pengantin pria. Kemudian beliau meminta Robert mengenakannya. Aku mengerutkan keningku, apa yang akan dilakukan Mas Kenzo, gumamku.
“Untuk apa?” tanya Robert.
“Pakai saja, postur tubuh kalian berdua tidak jauh beda,” sahut Mas Kenzo.
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Aku tidak habis pikir dengan Hendri, kenapa tidak Robert saja yang menyambut tamu itu? Ah, sudahlah, rasanya aku sangat kesal hari ini.
Lima menit kemudian, Robert keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju pengantin milik calon suamiku Hendri. Jujur, sangat pas di tubuhnya, mungkin jika Hendri yang mengenakannya, aku akan sangat gembira.
“Mantap,” ujar Mas Kenzo dengan satu kata.
Aku hanya terdiam saja, Robert tersenyum padaku.
“Bagaimana menurutmu, Chalisa?” tanya Mas Kenzo mengagetkanku. Aku menganggukkan kepalaku tanpa bersuara.
••
Aku juga tidak lupa berpamitan pada Mas Kenzo sebelum pergi. Robert juga melakukan hal yang sama, lagi-lagi aku akan berpapasan dengannya hingga menuju mobil.
Saat menuruni tangga, ponselku berdering nyaring. Nama putra semata wayang ku tertera di layar.
“Halo, sayang,” sapaku.
Bersamaan dengan itu, Robert terbatuk-batuk. Aku menatapnya tajam, barang kali ia mengira itu panggilan dari Hendri. Aku tersenyum sendiri.
“Mami di mana?” tanya Angga.
“Mami di depan butik Om Kenzo, sayang,” sahutku.
Aku tak lupa melirik ekspresi Robert mengetahui bahwa putranya yang menghubungiku. Ia tersenyum dan pura-pura tak mendengar.
“Mi, aku baru saja selesai ujian, besok aku akan pulang.” Beritahu Angga.
Itu berita yang sangat aku suka, sudah enam bulan aku tak serumah dengannya. Jika pula sekali-kali pun ia akan keluar bersama teman-temannya.
“Oya, Mami tunggu di rumah, ya?” sahutku.
“Tapi, Mi ...” ujarnya.
“Tapi kenapa?” tanyaku.
“Rencananya, Angga mau pulang ke rumah nenek,” sahutnya dengan suara terbata-bata.
Aku terdiam, seharusnya aku tak perlu cemburu lagi, bukankah aku sendiri yang mengatakan ia berhak memilih sendiri kehidupan seperti apa yang ia inginkan. Aku tersenyum damai.
“Boleh, sekarang Mami juga lagi bersama papamu,” sahutku mengiyakan sembari memberitahu padanya, aku melirik Robert dengan ujung mataku.
“Oya, kalau begitu ayo makan malam di luar,” ajaknya, begitu selesai ucapanku.
“Sayang, maaf ya, Mami tidak bisa makan bareng kalian berdua,” sahutku sembari memperbesar suaraku agar Robert mendengarnya dengan jelas.
Angga kecewa mendengar jawabanku, sejujurnya aku hanya sengaja melakukan itu untuk membuat Robert sakit hati, aku tersenyum puas usai melakukan itu. Robert segera meluncur pergi dengan mobilnya usai melihatku senyum-senyum sendiri.
Panggilan antara aku dan Angga pun berakhir, aku senang, setidaknya ia masih menganggap aku ada dengan meminta izin padaku. Aku pun bergegas pergi dari sana.
Setiba di rumah, mama sedang makan malam di temani Zoya. Aku tidak lapar, setelah bersalaman dengan mama aku bergegas ke atas. Tubuhku sudah terasa sangat lengket.
Usai mandi dan mengenakan baju tidur, aku menghempaskan tubuhku di ranjang. Aku pejamkan mataku sesaat, ah, hari demi hari terus berlalu, tanpa disadari semakin dekat dengan hari pernikahanku.
Sedang asyik-asyiknya aku membayangkan masa depan indah dengan Hendri nantinya, aku dikagetkan dengan suara ponselku. Orang yang sedang aku impikan pun menghubungiku.
“Halo, Mas,” sapaku.
“Apa kau sudah tidur?” tanya Hendri.
“Belum, Mas. Aku baru saja usai mandi,” sahutku.
“Bersiaplah, sebentar lagi aku akan menjemputmu,” pinta Hendri.
“Kita akan ke mana?” tanyaku lagi.
“Sudah, bersiap saja dulu, nanti aku ceritakan,” pinta Hendri.
Aku pun bergegas berkemas, sebentar lagi ia akan datang menjemputku. Aku berteriak memanggil Zoya, aku ingin meminta pendapatnya mengenai penampilanku malam ini, ia punya selera style yang bagus menurutku.
“Zo, bagaimana menurutmu?” tanyaku.
•••••
Cek profil aku, ya, ada cerpen terbaru dari aku. Jangan lupa tinggalkan komentar dan likenya, ya?