A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 61



Di kediaman keluarga Hendri.


Semua tamu datang melayat. Kerabat dekat, tetangga dan kolega-kolega mereka. Aku duduk bersandar pada sofa. Mataku sangat panas, mama terus mengusap kepalaku dengan lembut.


Nenek, beliau sangat terpukul dengan kepergian Hendri. Robert tak berhenti menangis di samping nenek. Hari ini aku belum melihat gadis bule itu. Angga begitu setia menemani papanya yang sedang berkabung.


“Yang sabar ya, Nak,” ucap seseorang padaku.


Aku mengangkat kepalaku. Seorang wanita sebaya dengan mama tersenyum padaku sembari mengusap kepalaku. Aku mengangguk sambil tersenyum pahit.


Aku baru tersadar, sejak tadi semuanya memperhatikan kondisiku. Aku lupa bahwa hari itu adalah hari pernikahan kita, aku melirik jam dinding. Tepat jam 10:00 pagi, di mana seharusnya akad nikah sedang berlangsung.


Aku begitu terenyuh mengingat itu semua, setetes air mata jatuh di pipiku. Skenario Tuhan begitu sempurna, beliau memisahkan aku dengan Hendri, bukan untuk sesaat, tapi untuk selamanya.


1 jam kemudian.


Aku berdiri dari kejauhan. Aku melihat nenek yang tak kuasa menahan tangisnya ketika makam Hendri ditaburi bunga. Beliau telah benar-benar kehilangan cucunya untuk selamanya.


Ya Tuhan, apa ini semua karena aku?


Setelah semuanya pergi, Robert tinggal sendirian di pusara adiknya. Cukup lama ia berdiam diri di sana. Namun setelah beberapa saat ia pun berlalu dari sana.


Aku melangkah pelan menuju tempat peristirahatan terakhir Hendri. Aku duduk di sana, aku cuma bisa tersenyum kecut, beginilah kisah akhir kita berdua. Cinta sejati antara ia dan Diana, kini telah bersatu. Tuhan belum mengizinkan siapa pun orang lain untuk bersanding dengan Hendri. Diana adalah wanita yang pertama dan terakhir untuknya.


Usai dari sana, aku melaju kencang kembali ke rumah. Semuanya masih di rumah nenek. Aku perlu menenangkan diri untuk sejenak, keramaian bukan pilihan yang tepat untukku. Hatiku begitu lelah dalam beberapa Minggu ini, aku butuh sesuatu yang menenangkan.


Aku mengemasi semua pakaianku, aku segera berangkat, tak lupa meninggalkan pesan untuk semuanya. Terutama, mama dan Angga. Aku percayakan Angga dan Zoya yang akan mengelola sementara semua usahaku.


Aku tidak tahu, seberapa lama aku akan pergi. Aku membawa serta baju pengantin di koperku. Aku melangkah pergi menggunakan taksi yang telah ku pesan.


Aku tidak tahu, keputusanku ini telah benar atau tidak. Yang jelas, aku butuh suasana baru yang tenang. Aku terhanyut dalam pikiranku, akan kehidupan masa depanku. Aku tidak lagi mengkhawatirkan Angga, ia sudah dewasa. Aku telah menghabiskan waktu bersamanya. Kini, giliran Robert.


“Mau ke mana, Mbak?” tanya pak sopir yang mengagetkanku.


“Ke pelabuhan Tanjung Emas, Pak,” sahutku.


Aku rasa ini pilihan yang tepat. Dari dulu, aku ingin pergi ke sana. Pulau Batu merupakan kampung asal papa. Beliau merantau ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Aku yakin, mama tidak akan tahu aku ke sana. Sejak menikah beliau belum pernah berkunjung ke sana.


Aku berharap, aku bisa sedikit lebih tenang berada di sana. Kampung yang berada tepat di tengah pulau itu merupakan destinasi wisata, 50 persen penduduknya merupakan turis.


5 jam kemudian.


Setelah menempuh perjalanan jauh, aku tiba di tempat tujuan. Rumah yang berada di atas tebing dengan pemandangan hamparan laut luas itu, membuatku terasa sedikit lega. Aku memejamkan mataku. Aku menghempaskan tubuhku di ranjang.


Aku hampir tertidur, perjalanan jauh membuatku lelah dan kelaparan. Namun suara ponsel mengagetkanku. Nama Robert tertera di layar ponsel.


“Kau di mana?” tanya Robert saat panggilan terhubung.


“Jangan gila, cepat kembali!” teriak ia padaku.


“Rob, jaga Angga. Aku titip mama dan semuanya, aku sudah berada di tempat yang tepat untuk saat ini.” Air mata menetes di pipiku.


“Rob, mengertilah,” pintaku.


Aku memutuskan panggilan itu sebelah pihak, aku matikan ponselku dan menyimpannya. Aku menghempaskan kembali tubuhku di ranjang. Aku perlu istirahat, aku sangat lelah.


Malam harinya.


Aku sedang mengisi perutku dengan santapan lezat pinggir pantai. Aku mengerti mengapa pulau ini disebut pulau batu. Jika pada umumnya pulau terkesan dengan pemandangan hijau, ini berbeda. Hampir semuanya tebing.


Sejenak, aku melupakan semuanya. Aku sedang berusaha menikmati waktu kesendirian, aku lupa bagaimana mencintai diri sendiri, aku terlalu sibuk dengan urusan orang lain akhir-akhir ini.


Besok, aku akan datang ke perumahan-perumahan. Melihat kegiatan sehari-hari mereka, sembari berkenalan dengan orang-orang di sini. Untuk malam ini, sudah cukup. Aku harus menyimpan tenaga banyak untuk esok.


Aku berjalan kaki menyusuri tangga. Penginapanku terletak di atas tebing yang lumayan tinggi. Sangat indah, di sana ada sekitar 15 rumah, dan aku memilih yang langsung berhadapan dengan laut.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi, usai sarapan aku bersiap-siap menuju perumahan warga yang terletak di bawah. Tak lupa mengenakan sendal jepit. Aku sedikit kelelahan dengan sepatu hak tinggi semalam.


Aku mulai menuruni tangga yang lumayan panjang. Di bawah banyak angkutan umum yang akan mengantarkan kita ke mana saja. Aku menarik nafas panjang begitu tiba di bawah, lumayan untuk olah raga.


Aku suka dengan warga di sini, mereka ramah, dan murah senyum. Pekerjaan di sini beragam, namun sebagiannya nelayan.


Aku mulai berbaur dengan mereka, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan. Aku tertawa riang, aku berusaha untuk melupakan Hendri dan kegagalan pernikahan.


“Jarang ada yang berlibur sendiri, suamimu ke mana, Nak?” tanya seorang wanita tua, mungkin lebih tua dari Bu Aini.


“Saya masih sendiri, Bu,” sahutku.


“Pilihan yang tepat berlibur kemari,” ujar wanita tua itu lagi.


“Kenapa, Bu?” tanyaku.


“Di sini banyak pria-pria tampan yang sudah sukses di luar pulau. Bulan depan, acara tahunan pulau ini. Biasanya mereka akan pulang,” ujar wanita itu bersemangat.


Aku tertawa riang. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku meminta izin untuk bertamu ke rumah warga yang lain. Aku tiba di rumah yang paling indah menurutku, setelah sekian banyak yang aku datangi, ini merupakan yang paling menarik.


Aku memberi salam. Tidak ada siapa pun di sana, terlihat sepi. Aku mengulangi salamku. Tiba-tiba keluar seorang kakek tua, diikuti istrinya.


“Silakan masuk, Nak,” sapa keduanya.


Rumah yang sangat indah itu, tidak terurus, banyak dedaunan kering bertebaran di teras. Debu juga terasa lengket di kaki. Kebetulan sedang musim hujan.


Aku bersalaman dengan keduanya. Tampaknya pendengaran si nenek tidak lagi jelas, begitu pula dengan penglihatannya.


kami bertiga terdiam. Aku pun bingung dengan kondisi yang sangat memprihatinkan itu. Ke mana anak-anak mereka, kenapa mereka terlantarkan seperti itu?


Aku tersenyum, namun tidak dengan keduanya.


Jangan lupa like, ya.