
Pagi-pagi aku membantu Askia packing kue. Hari ini lumayan banyak pesanannya. Mulai dari kue kering hingga kue ulang tahun. Askia terburu-buru, soalnya jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya, lumayan jauh.
"Pesanan atas nama Rosita harus segera tiba jam 10:00, sedangkan atas nama Jennifer harus tiba jam 10:30," ujar Askia padaku.
"Begini saja, Kia. Untuk yang satunya lagi pesankan gojek saja." Aku kasihan melihatnya kelelahan.
"Enggak apa-apa, Mbak. Lewat jalan Kejora biasanya jam-jam seperti ini belum rame," jawab Askia.
"Baiklah," balasku.
Melihat kami lumayan sibuk, Bu Aini juga ikut membantu. Soal packing beliau jagoannya. Sekelip mata, sudah lebih dari setengah pekerjaan kami rampung. Kini saatnya mengangkat ke mobil. Aku yang akan membawanya ke depan, sementara Bu Aini melanjutkan packingannya.
"Mbak jangan begitu," pinta Askia padaku.
"Kemarin Pak Robert mengajari kami cara membawa kotak kue agar tidak rusak kuenya," ujar Askia.
Aku mengangguk saja, lalu Askia mulai menyusun satu persatu. Mulai dari ukuran yang paling besar, hingga terkecil, lalu memisahkan kue yang lumayan tinggi. Baru setelah itu kita berdua membawanya ke depan.
"Nah, lebih cepat, kan?" tanya Askia padaku.
Aku hanya tersenyum simpul, memang benar. Lebih cepat dan mudah. Biasanya kita membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menyusun kembali di mobil agar tidak amburadul kuenya.
"Beberapa hari yang lalu, setiap pagi pak Robert pasti datang kemari membantu kami, Mbak," ujar Askia lagi.
"Oya, bagus dong. Kerjaan kalian lebih cepat siapnya," jawabku sambil berjalan masuk ke dalam. Sejujurnya aku hanya menghindari obrolan mengenai Robert.
Saat masuk ke dalam, aku melihat kakek dan nenek di meja makan, ditemani oleh mama. Aku segera bergabung dengan mereka bertiga.
"Pagi, eyang!" sapa Angga yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Hussh! Kamu kenapa begitu, ngomongnya jangan keras-keras, dong!" Mama memukul pundak Angga.
"Oma, bukannya kalau orang lanjut usia pendengarannya udah enggak normal?" tanya Angga.
Aku tertawa kecil lalu menyuruh Angga diam dengan memberinya isyarat. Kakek dan nenek cuma tersenyum melihat tingkah cicitnya itu. Nenek mengusap kepala Angga dengan lembut.
"Nak, suamimu mana?" tanya Nenek padaku.
Aku, mama dan Angga seketika terdiam. Bertepatan dengan itu pula. Robert datang dengan memberi salam. Dengan sopan ia menciumi tangan mama hingga kakek nenek tak dilupakannya.
"Jadi ini suamimu?" tanya kakek padaku.
"Kami pikir siapa orang baik yang membantu kami waktu itu," balas nenek.
Aku cuma bisa menelan ludah. Tentu nenek sangat mengenali Robert. Saat di pulau, semuanya Robert yang urus. Aku ingin mengatakan sesuatu, namun Robert buru-buru mengiyakannya.
"Ya, Nek. Kenalkan, saya Robert, papanya Angga," ucap Robert.
Aku menatapnya tajam. Dibalasnya dengan tatapan tak berkedip.
"Loh, kenapa? Memang benar, kan? Aku papanya, Angga," ujar Robert ketika aku memelototi wajahnya.
"Ke mana saja, Nak? Sejak pulang dari pulau kamu belum pernah kemari?" tanya mama padanya.
Aku menatap mama dengan pandangan aneh. Sejak kapan mereka sudah akrab. Bukannya kemarin-kemarin mama masih tak suka padanya?
"Enggak, Ma. Sebenernya Robert datang ke sini semalam. Cuma belum sempat masuk, Robert sudah diusir," jawabnya sembari melempar pandangan padaku.
"Kalian berantem?" tanya nenek saat Robert berkata begitu.
"Eum pantas saja Eyang tidak melihat suamimu sejak kemarin. Cepat baikan, ya. Tidak bagus rumah tangga saling bertengkar begitu," ujar kakek padaku dan Robert. Angga cuma bisa tertawa kecil melihat aku dan Robert.
Sore harinya.
Aku menemani Nenek jalan-jalan di taman dekat rumah. Beliau kelihatan sangat bahagia, senyuman terus menghiasi wajahnya. Mungkin bertemu dengan papa kemarin adalah sebabnya. Aku bersyukur bisa mewujudkan mimpi mereka berdua untuk bertemu dengan putranya.
"Rumahmu besar ya, Nak," ujar nenek.
"Tidak, Nek. Justru sekarang aku jadi merasa kecil. Dulu saat aku berdua dengan Angga justru terlihat besar," jawabku
"Maksudmu, papa Angga ke mana?" tanya nenek.
Aku hampir gelagapan dengan ucapan sendiri. "Sering keluar kota, Nek. Jadinya aku berdua dengan Angga saja," jawabku. Nenek hanya manggut-manggut saja.
Nenek bercerita banyak padaku sore itu. Tentunya mengenai masa kecil papa. Saat pertama bertemu di pulau, aku mengira nenek sudah pikun dan tuli. Ternyata aku salah, ingatan nenek masih segar sekali, apalagi menyangkut dengan papa, rasanya memori nenek seperti dulu kala.
"Nak, kapan rencana mau punya anak, lagi?" tanya nenek tiba-tiba sangat mengejutkanku.
"Maksud nenek?" tanyaku.
"Nak, punya banyak anak buat kita bahagia, banyak rejeki juga. Lihat seperti Nenek, cuma punya papamu. Setelah kepergian papamu, siapa lagi yang urus kami berdua?"
Aku hanya tersenyum. Tentu memiliki anak banyak, ada plus minusnya juga. Ada senang dan pastinya ada dukanya juga. Nenek berkata begitu, karena kasih sayang dari papa sangat kurang didapatnya.
"Nek, sakarang ada aku yang akan menjaga kalian berdua," jawabku.
"Ya, Nenek tahu itu," sahut Nenek.
Meski rasanya tidak akan sama dengan dirawat anak sendiri. Aku tahu nenek ingin meneruskan kalimat itu. Namun ucapannya tergantung.
Hari semakin gelap, aku kembali ke rumah bersama nenek. Jalan-jalan hari ini cukup dulu. Mungkin lain kali aku akan membawanya ke tempat yang lebih indah. Menggantikan posisi papa itu mustahil, tapi membuat bahagia seperti yang papa lakukan dulu, aku bisa.
Aku masih tertawa geli saat mengingat pertanyaan nenek tadi sore. Sempat-sempatnya nenek terpikir untuk aku punya anak lagi. Memang terkadang, seiring bertambahnya usia, hal-hal yang tak seharusnya terpikirkan justru malah terpikirkan
"Cha, ayo makan!"
Aku segera keluar untuk makan malam. Kali ini tidak ada Robert di sana. Entah ke mana papanya Angga itu. Aku sudah terbiasa menolak panggilan darinya, jadi tidak aneh lagi jika dia enggan menghubungiku.
"Ma, Zoya ke mana?" tanyaku.
"Dia tidak memberitahumu?" tanya mama dan Bu Aini hampir bersamaan.
Aku mengerutkan keningku. "Tidak," jawabku.
"Zoya semalam berpamitan pada Mama, dia mau menikah lagi. Calon suaminya akan membawanya ke luar negeri," ujar Mama.
"Mana mungkin, semalam Zoya tidak berkata apapun padaku," jawabku.
"Benar, Cha. Besok pagi mereka akan berangkat," jawab Bu Aini.
Rasanya aku tak percaya. Mengapa Zoya tidak mengatakan yang sebenarnya padaku. Apa semalam cara ia berpamitan padaku?
"Sekarang di mana dia?" tanyaku.
"Mungkin di rumahnya," jawab Mama.
Tanpa menunggu besok. Aku bergegas berangkat menuju rumah Zoya. Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. Apalagi dia dalam keadaan merasa bersalah padaku. Ya Tuhan Zoya. Apa yang kau lakukan?