
"Kakek, aku tidak berbohong. Aku anak papa, pria yang ada di foto ini," ucapku lagi.
"Jangan percaya, dia orang baru di pulau ini, bisa saja ia menipu!" Bu Narsih masih mencoba mengelabui kakek.
Aku sangat yakin, pasti ada rencana busuk dibalik ini semua. Tentu permasalahannya mengenai harta. Jika bukan uang penyebabnya, seharusnya tak perlu bersikap demikian.
Seharusnya ia senang masih ada keluarga kakek yang tersisa. Bukan malah memperkeruh keadaan. Aku tidak akan tinggal diam.
"Nek, coba tanya sesuatu tentang papa, aku pasti bisa jawab?" bujuk aku pada wanita tua di depanku. Tangannya semakin gemetar, matanya tak terbendung lagi.
"Jika benar pria ini papamu, coba katakan apa makanan kesukaannya?" tanya nenek dengan suara parau menahan tangis.
"Nek, jangan percaya padanya. Bisa saja ia telah menyiapkan semuanya sebelum kemari. Kita bisa saja ditipu olehnya!" bentak Bu Narsih pada nenek.
Aku melihat kekhawatiran tersirat jelas di mata Bu Narsih. Bukan tanpa sebab, ia takut nenek percaya padaku. Ia takut kehilangan semuanya. Sementara selama ini tidak ada satupun ada yang mengaku keluarga nenek. Aku datang mengusiknya.
"Kamu diam, Narsih!" bentak nenek.
"Nek, makanan kesukaan papa gulai daun singkong, aku tau Nek," jawabku spontan. Aku menyentuh kedua bahu nenek.
Nenek menangis histeris mendengar jawabanku. Bagaimana tidak, mungkin tangannya yang sudah keriput itu selalu menyajikan santapan lezat untuk papa.
Sementara itu, mama masih aktif mengirimi aku foto masa lalu papa. Foto masa kecil kami juga. Aku memperlihatkan satu-satu persatu pada nenek.
"Jika benar itu papamu, apa barang berharga yang ia punya yang tidak ada satupun boleh menyentuhnya?"
Kini giliran kakek yang mengujiku. Aku sama sekali tidak panik, yang mereka tanyakan adalah papaku, orang yang paling tegas yang pernah aku kenali. Beliau sangat marah ketika ada yang menyentuh kotak berbentuk hati yang terletak di lemari hias di ruang tengah.
Pernah suatu kejadian, tak sengaja pembantu rumah kami menyenggolnya saat membersihkan rumah. Papa menghukumnya karena teledor, padahal itu hanya kotak biasa yang terbuat dari kayu. Bahkan, aku tidak pernah tau apa isi kotak tersebut.
Kakek memelukku erat. Aku yakin, kini ia mempercayai bahwa aku benar-benar cucu mereka. Sementara Bu Narsih masih diam mematung di sudut ruangan.
"Bagaimana kondisi putraku sebelum ia meninggal?" tanya nenek.
Seketika perasaanku campur aduk. Suasana kembali mencekam. Aku datang membawa luka lama, seharusnya mereka sudah melupakan semuanya. Namun kehadiran aku kini, kembali menggores luka di dada mereka.
"Jika terjadi sesuatu pada mereka, kamu tanggung jawab!" bentak Bu Narsih padaku. Kemudian ia bergegas keluar tanpa menoleh sedikitpun.
Aku mulai menjawab dengan hati-hati setiap pertanyaan demi pertanyaan silih berganti yang ditanyakan kakek dan nenek padaku. Aku tahu, rindu kini memuncak di dadanya.
Ponselku juga tak berhenti berdering. Mama terus menerus menghubungi. Aku sengaja tak menjawabnya. Aku memberi waktu kedua orang tua papa bertanya sebanyak mungkin. Rasa penasaran yang bertahun-tahun telah mereka pendam.
"Papamu bukan orang jahat, ia pasti ada alasan mengapa melakukan ini semua," ujar kakek.
"Aku tau, Kek."
Aku tak melihat kebencian dari wajah keduanya. Justru sebaliknya, kasih yang tak pernah lekang, meski putranya telah memberi kekecewaan yang mendalam. Apa mungkin papa juga merasakan yang sama padaku?
jemari tangan yang sudah keriput menyentuh pipiku dengan lembut, lalu membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Kakek menciumi pucuk kepalaku. Aku memejamkan mataku, perasaanku, sosok papa melekat erat pada Kakek.
"Kek, aku janji akan membawa kakek ke makam papa," ucapku.
"Apa nenek masih kuat, tubuh nenek sangat lemah," jawab nenek.
"Jangan ngomong seperti itu, Ma. Kita kuat demi anak kita," ujar kakek pada nenek.
Aku memeluk erat keduanya. Aku tidak menyangka akan menemukan separuh nafas papa di pulau batu ini. Aku datang dalam keadaan berkabung, namun ada hati lain di sini yang lebih berkabung.
*
Malam harinya.
Sebelum masuk ke kamar mendiang papa. Aku pastikan sekali lagi bahwa kakek dan nenek sudah benar-benar istirahat. Aku menyelimuti tubuh mereka dengan selimut.
Aku juga butuh istirahat, pikiranku sangat kacau hari ini. Namun sebelum tidur, aku masih berhutang penjelasan pada mama. Aku pun menghubunginya.
Mama cukup kaget saat mendengar ceritaku. Bahkan hampir tak percaya rasanya. Pasalnya, beliau sendiri tak tahu menahu mengenai keluarga papa.
"Tapi Mama tau kan apa alasan papa tidak pernah pulang lagi ke pulau?" tanyaku.
Cukup lama mama terdiam. Sebelum akhirnya mama memberiku jawaban.
"Papa merasa gagal menjadi ayah karena kejadian yang menimpamu. Papa tidak pernah lagi pulang ke rumah orang tuanya sejak saat itu. Papa pernah berjanji, saat kamu lulus sekolah nantinya. Kita bertiga akan berkunjung sembari liburan ke sana. Namun semuanya gagal," jawab mama panjang lebar.
Aku terdiam seribu bahasa. Akulah penyebab semua kekacauan ini. Aku sudah melakukan kesalahan besar. Merugikan banyak pihak, di mana seharusnya tak terjadi, namun karena ulahku yang tidak termaafkan, semuanya menjadi hancur. Aku telah memisahkan antara anak dan ibu. Dua hati sekaligus. Aku membuat papa merasa gagal, sementara papa membuat kedua orang tuanya hidup dalam kesengsaraan.
"Nak, bawa kakekmu kemari," ucap mama.
"Ya Ma, aku janji akan menebus semua kesalahanku," jawabku. Aku menyembunyikan tangisku pada mama.
"Mama percaya kamu bisa, mama dan Angga mendukungmu," ucap mama.
Aku menitikkan air mata. Hanya mereka yang kupunya selama ini, namun mengetahui ada keluarga lain selain mereka. Membuatku syok sekaligus bahagia.
Panggilan itupun berakhir. Aku menarik nafas yang tak beraturan, mencoba melupakan dan menganggap semuanya baik-baik saja. Namun itu bukanlah hal yang mudah. Aku tidak bisa lagi mempertemukan kakek dan nenek dengan putranya. Hanya pusara yang akan mereka lihat nantinya.
Aku merasakan dadaku sedikit sesak. Mataku terasa panas. Malam semakin larut, ombak besar terus menghantam bibir pantai. Semakin sunyi semakin jelas suaranya.
Aku mencoba memejamkan mataku, namun terasa sukar. Aku gelisah dengan semuanya. Aku tak sabar menunggu hari esok.
Entah ini kebetulan atau memang rencana Tuhan. Aku tidak tahu. Aku bertemu dengan kedua orang tua dari ayahku. Meski bukan dalam keadaan yang baik, namun setidaknya, itu belum terlambat.
"Pa, aku akan membawa mereka padamu," ucapku sambil tersenyum, mencoba menenangkan diri sendiri.