A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 20



Sekitar jam 10:00 pagi, aku menjemput Askia. Kami harus berangkat pagi-pagi karena jarak tempat aku dengan rumah Desi cukup jauh. Ia merantau untuk kerja di kotaku.


“Mbak cantik banget hari ini,” ujar Askia. Membuatku tertawa kecil.


Sebelum pergi tadi, aku sudah menghubungi Hendri memberitahu bahwa aku akan pergi bersama Askia.


Setelah menempuh perjalanan 3 jam. Akhirnya kami tiba di rumah Desi. Aku terkejut, ternyata Desi bukan dari keluarga yang tak mampu. Rumahnya sangat megah menjulang tinggi di antara rumah-rumah mewah lainnya.


“Mbak, aku rasa ini kompleks perumahan elite, deh.”


“Kamu benar, Kia.”


Kami masuk, acara sedang berlangsung cukup meriah. Aku di sambut oleh seorang gadis yang cukup mirip dengan Desi, belakangan aku tahu bahwa itu adiknya.


“Mbak Chalisa, ya?” tanya gadis cantik itu. Aku mengangguk.


“Mari, silakan masuk. Ayo?” ajak gadis itu.


Acara sedikit berbeda pada umumnya, di sini acara akad dan resepsi dilaksanakan bersamaan. Kami di jamu cukup baik, menu makanan sangat nikmat di lidah, setelah melakukan perjalanan jauh, perut kami pun merasa sangat lapar. Aku tersenyum kecil ketika melihat Askia begitu lahap.


“Pelan-pelan dong, Neng,” godaku.


“Habisnya lapar banget,” sahut Askia cengengesan.


Tiba-tiba mataku menangkap seseorang yang cukup mirip dengan Zoya. Tidak, bukan mirip. Lebih tepatnya itu memang Zoya. Aku ingin menghampirinya namun tiba-tiba ia di tarik dengan kasar oleh seorang pria. Jarak aku dengannya cukup dekat.


“Kia, sebentar, ya?”


Aku segera mencari ke mana pria itu membawa Zoya, caranya cukup kasar pada seorang wanita. Aku melihat mereka di pinggir kolam renang, aku segera ke sana. Tamu cukup ramai, aku harus berdesak-desakan untuk ke sana.


Aku syok, bagaimana bisa Zoya bersama Robert. Apa selama ini dia tahu di mana keberadaan Robert? Kenapa ia tidak pernah memberitahukan aku?


Aku mendekati mereka, sepertinya mereka sedang ribut. Perdebatan terjadi cukup serius, apa yang mereka bicarakan? Aku bertanya-tanya dalam hati.


Tiba-tiba Zoya menyadari kehadiranku di sana, tepat di belakang keduanya. Zoya tampak panik, ia gelagapan.


“Cha ~ Chalisa!”


Robert berpaling cepat ketika Zoya menyebut namaku. Ia menatapku tajam, kemudian perlahan-lahan matanya sayu pandangan sangarnya berubah menjadi lebih lembut.


“Apa hubungan kalian berdua?” tanyaku sembari pandanganku tidak berkedip dari keduanya.


Ketika Zoya ingin mengatakan sesuatu dengan cepat aku menyanggahnya. "Jadi selama ini kamu tahu di mana keberadaan pria brengsek ini!"


Tanpa menunggu Zoya menjawab semuanya, aku berlari menjauh dari keduanya. Aku benar-benar kecewa terhadap Zoya, bagaimana bisa ia tidak memberitahukan aku tentang keberadaan sang ayah dari anak yang ku kandung. Bukankah aku ini sahabatnya?


Tanpa terasa air mataku tumpah begitu saja, aku berlari di antar kerumunan orang di pesta Desi. Askia yang melihatku begitu kacau, ia berlari mengikuti ku.


“Mbak, kenapa?” tanya Askia.


Aku tidak menghiraukan pertanyaannya, aku segera masuk ke mobil, aku ingin cepat-cepat pergi dari sana. Hatiku begitu hancur mengetahui sahabatku sendiri menyembunyikan hal yang besar padaku.


“Kamu tega, Zoya,” batinku.


Aku melaju cukup kencang, setelah cukup jauh dari rumah Desi, aku berhenti di pinggir jalan di bawah sebuah pohon besar yang rindang.


“Mbak, sebenarnya ada apa?” tanya Askia.


Aku tidak bisa mengatakan apa pun, hanya air mata yang terus berjatuhan. Askia merangkul bahuku, ia rebahkan kepalaku di pundaknya.


“Mbak tenang dulu, ya.”


•••


“Maaf Nak Zoya, Chalisa sedang tidak di rumah,” ujar Bu Aini.


“Chalisa ke mana, Bu?”


“Saya juga tidak tahu, ia terlihat kacau sekali,” sahut Bu Aini.


Aku hanya mengintip di balik tirai jendela kamarku. Setelah Zoya pamit, Bu Aini datang menghampiriku, ia tetap memberi semangat agar aku sabar dan jangan sampai hilang semangat.


“Sudahlah, Cha. Sejauh ini kau sudah sangat bahagia, jangan karena masa lalumu itu semuanya jadi kacau,” ujar Bu Aini, ia pelukku dengan erat.


Berbagai cara telah aku lakukan untuk melupakan semua kejadian kemarin, hari ini semua aktivitas aku kerjakan sebagaimana biasanya, namun bayangan tentang Zoya dan Robert bersama malam itu tidak bisa kutepis sama sekali.


“Hei!” teriakkan Hendri membuyarkan lamunanku.


“Oh, hai ... Mas sudah pulang?”


“Ada apa, kenapa melamun saja?” tanya Hendri, ia menangkup kedua pipiku.


“Enggak apa-apa, yuk kita masuk?” Aku baru selesai menutup toko bunga, aku tidak tahu Hendri sejak kapan sudah berdiri di sampingku.


Bu Aini sudah masak, aku mengajaknya makan, ia pasti belum pulang ke rumahnya, hal yang biasa ia lakukan setiap kali pulang dari luar kota, ia langsung ke rumahku.


“Bagaimana pesta Desi?”


“Wah, kamu pasti kaget, Mas. Ternyata Desi anak orang kaya, rumahnya saja besar sekali.”


“Benarkah?” tanya Hendri, aku hanya mengangguk sambil mengunyah makanan yang penuh di mulutku.


Setelah makan, Hendri segera mandi, ia terlihat sangat lelah, mungkin membasuh tubuhnya merupakan solusi yang tepat agar ia sedikit lebih fresh malam ini.


“Mi, ada Om Hendri, ya?” tanya Angga yang baru pulang.


“Ya, sayang. Kamu dari mana saja seharian?” tanyaku.


Angga tidak menjawab, ia segera mengambil piring dan langsung makan dengan lahap, aku ulangi lagi pertanyaanku begitu ritual makannya telah usai.


“Viona kuliah di luar negeri, Mi,” ujar Angga.


Aku tahu ia bersedih, walau ia hanya berpura-pura tegar, namun ia tidak bisa menutupinya dariku. Aku ibunya, aku tahu betul apa yang ia rasakan kini.


“Kalau kamu mau, kamu juga bisa kuliah di luar negeri,” ujarku.


Ia menundukkan kepalanya. “Enggak, Ma. Aku kuliah di sini saja.”


“Kamu yakin, Mami sanggup kok biayai kuliah kamu di luar negeri.” Aku meyakinkan padanya, namun ia tetap menggeleng tanda bahwa ia benar-benar menolaknya.


“Aku dan Raka sudah sepakat ingin kuliah di kampus A saja, Mi.”


“Ya sudah, Mami dukung apa pun keputusanmu, kamu harus pikirkan matang-matang jurusan apa yang akan kamu pilih,” ujarku memberi nasehat, walau bagaimanapun aku tidak ingin ia salah langkah, usianya sekarang pasti masa-masa paling labil dalam mengambil keputusan.


Setelah perbincangan itu selesai, ia segera ke kamarnya. Sebelum masuk, ia sempatkan untuk menggoda Bu Aini di dapur, aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.


“Bu, kalau Hendri tanya, bilang aku mau mandi sebentar!” teriakku sambil menaiki tangga. Terdengar Bu Aini mengiyakan dari dapur.


Setelah seharian beraktivitas, aku sangat lelah. Namun semuanya hilang begitu saja ketika aku berkumpul dengan mereka orang-orang yang aku sayang. Ternyata benar, keluarga mempunyai peran penting dalam hidup kita.


Sejenak aku sudah melupakan semua persoalan pelik masa laluku. Setelah lamunanku usai, aku segera mandi dan berpakaian rapi aku tidak ingin Hendri terlalu lama menungguku.


Jangan lupa like ya...