
Saat tiba di rumah Zoya. Aku segera menekan bel. Rumah tampak sepi, semua lampu padam. Aku terus mengetuk pintu dan berkali-kali menekan bel. Aku menghubunginya, tapi dia tak menjawabnya.
"Ayo dong, Zo."
Sesaat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di gerbang rumah Zoya. Aku segera keluar, mungkin saja itu Zoya. Namun aku lumayan terkejut saat mengetahui itu Robert.
"Zoya, mana?" tanyaku padanya dengan tergesa-gesa.
"Di bandara, aku baru saja mengantarnya," jawab Robert dengan santai.
"Penerbangannya masih lama?" tanyaku.
"Setengah jam lagi," jawab Robert.
Aku bergegas menutup pintu gerbang, tapi Robert menghalangiku. "Kau mau ke mana, ayo aku antar," pintanya.
Dari pada makin lama, aku pun mengiyakan saja. Lagi pula, aku tidak berani kebut-kebutan. Jarak antara rumah Zoya dengan bandara sekitar 20 menit, itupun jika jalanan tidak macet.
Mobil mewah Robert meluncur bebas membelah kota. Aku berharap kita tidak bertemu lampu merah. Sekali-kali Robert melirikku, namun aku tidak menggubrisnya.
"Zo, angkat, dong!"
Aku sangat pesimis kali ini. Kenapa dia harus meninggalkan aku lagi? Tanpa terasa air mata meleleh di pipiku. Aku sudah memaafkan segala kesalahannya.
Saat tiba di bandara, aku berlari kencang masuk ke dalam. Aku sangat takut jika tidak bisa bertemu dengannya. Robert mengikuti ku.
"Cha, hati-hati!" teriak Robert.
Waktu tinggal sepuluh menit lagi. Robert menggenggam tanganku, lalu kita berdua berlari bersama. Dia membawaku ke tempat terakhir ia bertemu Zoya tadi.
Jika sudah Chek in, pupus sudah harapanku untuk bertemu dengan Zoya. Namun saat tiba di lobi, aku melihatnya berdiri di sana dengan koper di tangannya.
"Zo!" panggilku. Aku segera berhamburan ke pelukannya.
Setelah semua kesalahpahaman terjadi, aku merasa sangat bahagia Zoya bersamaku. Dan sekarang dia akan meninggalkan aku lagi.
"Rob, jaga chalisa baik-baik, ya?" ujar Zoya.
"Zo, jangan pergi," pintaku, meski kutahu itu tidak akan terjadi.
"Cha, aku pasti akan kembali lagi," jawab Zoya.
Dengan berat hati, aku mengikhlaskan Zoya pergi. Begitulah kehidupan, senang dan susah selalu beriringan. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Aku baru saja bertemu keluarga baruku, dan kini aku kembali akan kehilangan sosok sahabat yang baru kembali bersamaku.
"Kamu baik-baik di sana, ya?"
Zoya melangkah pergi meninggalkan aku dan Robert yang hanya bisa menatap kepergiannya. Robert memelukku, tangisanku tumpah di pelukannya. Mengapa Zoya memilih pergi, apa dia sudah benar-benar yakin dengan pria yang akan menjadi suaminya? Bagaimana jika ia diperlakukan buruk?
"Tenanglah, ini pilihan Zoya, biarkan ia lakukan apa yang ia rasa betul," ujar Robert.
Dalam perjalanan pulang, aku hanya terdiam. Menikmati sisa sesenggukan akibat menangis tadi. Aku sengaja menahan emosiku di depan Zoya, agar ia tidak terbebani melihatku menangis.
Malam semakin larut. Karena kelelahan menangis akhirnya aku tertidur di mobil Robert.
Paginya saat aku terbangun aku sudah berada di kamar. Aku masih merasa pusing, kepalaku terasa berat, dengan enggan aku melangkah ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat sepiring nasi goreng ada di nakas. Semalam aku tak sempat makan saat mengejar Zoya ke bandara. Sekarang aku sudah sangat kelaparan. Aku segera melahap sepiring nasi goreng itu.
Aku melihat bunga-bunga segar di Vas meja rias. Mungkin Bu Aini membersihkan kamarku saat aku masih terlelap tadi.
Saat aku sedang menikmati sisa-sisa nasi di piring. Ponselku berbunyi. Aku mencari arah suaranya. Rupanya di saku celana yang aku kenakan semalam.
"Ya sayang, ada apa?" Rupanya Angga yang menghubungiku.
"Mi, aku lagi di jalan bareng, Papi. Tadi aku mau pamit, cuma mami masih tidur," ujar Angga.
"Mau ke mana, sayang?" tanyaku lagi.
"Mau ketemu kolega bisnis, Papi," jawabnya.
"Oh, ya sudah. Hati-hati, sayang."
"Kamu panggil papa, siapa?" tanyaku.
"Papi, aku panggil papi," jawab Angga.
"Sejak kapan?" tanyaku sekali lagi.
"Mulai hari ini, sekarang aku panggil papi," sahut Angga.
"Ya, tapi kenapa?" Aku masih belum puas dengan jawabannya.
"Ya biar pas aja, aku panggil Mami, jadi aku juga panggil papa, dengan sebutan, papi," ujar Angga.
Aku merasa aneh saja. Tapi terserah padanya sendiri, toh, itu juga papanya sendiri. Panggilan singkat itu pun berakhir. Aku menaruh kembali ponsel di nakas.
30 menit kemudian.
Ponselku kembali berdering. Aku sedang mematut diri di depan laptop. Memeriksa laporan keuangan yang dikirimkan Askia. Selama Zoya yang urus, laporan keuangan lebih rapi dan indah di pandang mata. Aku salut dengan kinerjanya.
"Ya, Rob," sapaku. Kali ini Robert yang telepon.
"Cha, kamu siap-siap, ya. Bentar lagi aku jemput," ujar Robert.
"Mau ke mana, aku lagi sibuk," jawabku.
"Setengah jam lagi aku jemput, bye!"
Tak sempat aku bertanya apapun, panggilan berakhir sebelah pihak. Aku kesal dibuatnya, aku tidak tahu dia akan mengajakku ke mana dan ada acara apa. Bagaimana bisa aku menyesuaikan penampilan dengan acaranya, sementara aku sendiri tidak tau akan ke mana.
Harusnya bisa saja aku menghubungi dan menanyakannya, tapi sejak kapan aku begitu padanya?
20 menit kemudian, aku selesai mandi dan make up. Karena bingung harus berpakaian seperti apa, akhirnya aku memilih long Coat berwarna hitam. Aku suka karena nyaman dan juga simple.
"Ma, aku berangkat dulu, ya," pamit Robert pada mama.
Setelah berpamitan pada mama, kita segera berangkat. Dalam perjalanan aku merasa risih karena Robert terus menatapku. Namun aku hanya diam dan membuang muka.
Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh. Kita sampai di sebuah perusahaan baru di kawasan Kota pusat. Rupanya Robert mengajakku pergi ke acara peresmian perusahaan salah satu sahabat lamanya.
"Hai, Rob. Terima kasih sudah datang," ujar pria yang bernama Brugman itu.
"Oya, kenalkan ini istriku, Chalisa," ujar Robert pada temannya itu.
Aku sangat kaget namun pura-pura biasa saja ketika Brugman menjulurkan tangannya padaku.
"Hai, Mbak Chalisa," sapa Brugman. Aku membalasnya dengan senyuman.
30 menit kemudian.
Acara peresmian perusahaan telah usai. Aku sudah sangat bosan di sana. Aku sudah tak sabar ingin mengajak Robert pulang. Untungnya Robert tahu bahwa aku sudah tak nyaman lagi di sana. Ia segera berpamitan pada Brugman. Setelah itu kita segera pergi dari sana.
"Angga, mana?" tanyaku.
"Angga? Aku tidak tahu, bukannya sejak kemarin ia di rumah?" jawab Robert.
"Rob, tadi pagi Angga nelpon minta izin, katanya mau ketemu kolega bisnis, kamu," beritahu aku.
"Sumpah! Angga tidak bersamaku," jawab Robert sekali lagi.
Ya Tuhan, ke mana perginya anakku itu, kenapa harus berbohong?
••••
Hai guys. Bantu cek novel baru aku, ya.
Cek di profil, judulnya "Pertemuan tak terduga" sudah up 8 episode, loh.
thank u.