
Selesai mandi dan berpakaian rapi, aku segera keluar. Sepertinya Zoya datang, dari tadi aku mendengar suara keributan di ruang tamu.
"Sarapan dulu yuk?" aku mengajaknya makan pagi.
"Udah barusan sama Bu Aini," jawab Zoya.
"Bohong Cha!" sergah Bu Aini yang keluar dari kamarnya.
"Ah.. Bu Aini gak seru deh, orang lagi diet. Diajak makan, kan gak bisa nolak," ujar Zoya.
"Lagian kamu kurang kurus apa sih Ya, aneh deh," sahutku sambil menyuapkan makanan kedalam mulutku.
Begitulah Zoya. Dia sahabat terbaikku, kami sudah berteman sejak dari masa SMA dulu. Dia sangat pandai membuat orang tertawa. Aku selalu menjulukinya sebagai Pelawak.
"Bu, Angga mana?" tanyaku saat menyuapkan suapan terakhir kedalam mulutku.
"Pagi-pagi sekali sudah dijemput teman-temannya Cha." jawab Bu Aini, mulutnya penuh dengan nasi goreng.
Setelah selesai sarapan aku membantu Bu Aini membuka toko bunga, dibantu Zoya juga.
"Aku gak nyangka Cha. Padahal waktu itu, aku gak serius nyuruh kamu jualan bunga. Eh, malah laris beneran," ujar Zoya tersenyum.
"Aku juga gak nyangka Ya, thanks ya..." ucapku.
Saat kami sedang asik mengobrol di teras rumah, ditemani teh hangat. Tiba-tiba ponsel Zoya berdering.
"Bentar ya Cha. Suami gue telpon," ujar Zoya, dan ia menjauh dariku.
Aku tidak tau apa yang ia bicarakan, tapi ia cukup lama berbicara dengan suaminya. Aku ingin sekali menanyakan tentang suaminya, tapi aku tidak berani. Rasanya ia selalu mengalihkan pembicaraan ketika aku mengarahkan pertanyaan tentang rumah tangganya.
Aku tipikal wanita yang tidak mau tau tentang urusan orang lain. Namun bedanya dengan Zoya, dia sahabatku. Aku merasa berhak tau tentangnya, tapi apa boleh buat, rasanya ia belum siap berbagi denganku.
Padahal selama ini, tidak ada yang ku sembunyikan darinya. Meski ia berada diluar negri, tapi kami selalu berusaha bertukar kabar, walau jarang.
Mengenai Hendri. Aku ingin sekali curhat padanya, namun rasanya waktu kurang pas. Hingga ku urungkan niatku untuk menceritakan tentang Hendri.
Lagian, apa yang ingin ku ceritakan. Tidak ada yang ku ketahui tentang pria itu. Aku baru sekali bertemu dan mengobrol dengannya, diluar saat ia mendatangi tokoku.
"Cha, sorry ya. Gue harus buru-buru pergi," ujar Zoya membuyarkan lamunanku.
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Kapan-kapan gue ceritain ya. Bye.." Zoya pergi dengan mobilnya.
Aku melambaikan tanganku saat ia melaju pergi dari rumahku. Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang aneh dengannya. Rasanya, dia bukan lagi Zoya yang kukenal dulu. Meski ia masih suka ngelawak, tapi sikapnya tetap berbeda. Semuanya terasa seperti topeng. Entahlah, aku menunggu kapan ia siap berbagi denganku.
*
Aku sedang membantu Bu Aini merangkai bunga untuk seorang pria muda. Ia bilang ingin menyatakan cinta untuk calon pasangannya.
"Semoga diterima ya Dik," aku selesai membuat paket bunga yang ia pinta.
"Untukku?" tanya seseorang, suara yang sangat familiar di telingaku.
"Mas Hendri." Sapa ku, aku mencoba menahan diri agar tidak salah tingkah. Namun usahaku sia-sia.
Meski sedikit gemetar, segera aku siapkan satu ikat mawar merah untuknya. Seperti yang biasa ia pinta. Namun karena terlalu gemetar tanganku tertusuk duri mawar tersebut.
"Auwh..." darah segar keluar dari ujung jari telunjukku.
"Kenapa?" tanya Hendri kaget mendengarku menjerit kesakitan. Ia meraih tanganku, lalu ia basuh dengan air yang berada di meja. Biasanya Bu Aini memercikkan air tersebut ke bunga-bunga.
"Kamu sakit? tangan kamu dingin banget," ujar Hendri. Tampak ia sangat khawatir denganku. Entah pikiranku saja, atau memang benar adanya.
"Gak kok Mas, aku baik-baik aja. Nih. bunganya udah selesai, ntar pacar mas nungguin lagi," ujar ku kikuk.
"Kamu punya acara gak ntar malam?" tanya Hendri masih menahan tawanya.
"Gak sih mas," jawabku tidak berani menatap wajahnya.
Ia raih bunga di tanganku, "Nanti malam aku jemput ya, aku udah lama gak makan sate Bu inem," ucap Hendri saat ia melangkahkan kakinya menuju mobil. Aku mengangguk sambil tersenyum puas. "Yes!"
* *
Aku telah bersiap-siap dengan gaun indah yang pas ditubuh ku, dengan make-up yang tidak terlalu tebal. Ponselku berbunyi, satu pesan dari Hendri. Ternyata ia sudah di depan rumahku.
Dengan penuh percaya diri, aku keluar menemui Hendri yang sudah menungguku. Ku ambil tas mewahku, satu-satunya tas yang kumiliki, lalu aku segera keluar.
Saat melihatku keluar, Hendri tertawa kecil.
"Kamu serius pakai baju ini?" tanya Hendri.
Deg. Jantungku berdetak kencang.
"Kita cuma makan di pinggir jalan loh, bukan di restoran," sambung Hendri.
Aku sangat malu, aku mengigit bibir bawahku. Apa yang sudah aku lakukan. Harga diriku jatuh didepan pria yang kini membuat hari-hariku bersemangat. Terutama hari Minggu. Aku memutar otak dengan cepat.
"Bukan gitu Mas, tadi aku mau ikut arisan sama temen aku. Aku lupa aku punya janji sama kamu, akhirnya aku gak jadi pergi deh." aku berbohong padanya. Tidak apa-apa, harga diriku jauh lebih penting saat ini.
"Tunggu bentar ya Mas, aku ganti baju dulu. Oke?" aku segera masuk ke dalam.
Kulepas baju yang aku kenakan, kuhapus makeup di wajahku. Aku benar-benar tidak habis pikir, apa yang sudah aku lakukan barusan. Aku benar-benar malu.
Sekarang aku pakai baju terusan sampai lutut, dengan motif bunga-bunga, dengan rambut yang ku sanggul ke atas.
"Maaf ya Mas, harus nunggu lama." aku merasa tidak enak, membuatnya lama menunggu.
Kami segera berangkat menuju tempat sate Bu inem. Dalam perjalanan aku merasa sangat canggung, terlebih-lebih karena aku salah kostum tadi.
"Lama tidak mampir Nak Hendri," sapa Bu inem ketika kami tiba di tempat pangkalannya.
"Ya Bu, sibuk banget akhir-akhir ini. Dua ya Bu." Hendri mengambil kursi untuk ku.
Tempat itu benar-benar sangat sederhana. Piring nasinya saja dari plastik, tapi soal rasa jangan ragu, sangat nikmat.
Bu inem membawa pesanan kami. Aku langsung melahapnya, sengaja aku tidak makan tadi dirumah. Aku sangat suka kuahnya, aku hirup kuahnya sesendok demi sesendok.
"Pernah minum kopi?" tanya Hendri. Aku bingung, apa maksudnya.
"Pernah," jawabku.
"Coba minum kuahnya seperti kamu seruput kopi," pinta Hendri padaku.
Aku lakukan apa yang Hendri pinta, dan rasanya benar-benar nikmat. Hendri tersenyum, ia pun melakukan hal yang sama. Kami berdua tertawa.
Setelah selesai makan, kami tidak langsung pulang, Hendri mengajakku ke suatu tempat. Dia melaju mobilnya dengan kecepatan lamban, seperti biasa. Macet.
"Kita mau kemana sih Mas?" tanyaku pada Hendri karena penasaran.
"Udah, tunggu aja. Bentar lagi sampai kok," jawab Hendri.
Meski penasaran, aku tidak berani terlalu banyak tanya. Nanti kesannya aku perempuan cerewet.
Jangan lupa like ya ...
Baca novel PERJANJIAN juga ya ...