
“Semuanya sudah beres, Mbak,” ucap Askia sembari mengangkat semua bahan belanjaan.
Aku memiringkan kepalaku mencoba mengingat-ingat apa yang belum terbeli. Namun sepertinya sudah semua, aku menyuruhnya membawa ke kasir. Aku mengikutinya dari belakang.
Setelah membayar semua bahan dapur dan keperluan lainnya. Aku mendapatkan pesan dari Bu Aini, beliau meminta agar aku membelikan sate Bu Inem. Aku tersenyum, sepertinya semua keluargaku menyukai makanan yang sama seperti aku dan Hendri. Sejak pertama kali Mama mencoba, hingga kini, setiap kali aku keluar rumah beliau selalu menitipkan pesanannya.
“Ada yang tertinggal?” tanya Askia.
“Tidak, ayo kita pulang,” pintaku sembari membawa belanjaan.
Tiba di tempat parkir, aku dan Askia segera masuk mobil dan bersiap-siap pulang. Tukang parkir memberi aba-aba dengan melambaikan tangannya. Aku melihatnya di balik spion mobil. Tiba-tiba entah datang dari mana, Robert mengetuk kaca mobilku. Aku terkejut bukan main, dadaku berdegup kencang, aku sangat geram.
“Bisa tidak jangan membuat orang jantungan seperti itu!?” tanyaku kesal.
“Maaf, maaf,” ucap Robert.
Aku menghela nafasku. “Ada apa?” tanyaku.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya balik Robert.
“Bicara apalagi, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi,” sahutku mencoba menutup lagi kaca mobil, namun Robert menghalanginya.
“Ini penting, tentang masa depanmu,” ucapnya dengan tatap serius.
“Maaf, aku sibuk.” Aku membuang pandanganku ke depan.
“Kau akan menyesal jika nenek tahu semuanya,” ucap Robert dengan nada mengancam.
Aku menatapnya tajam dengan mata terbuka sempurna. Lalu aku menatap Askia. Askia menggelengkan kepalanya.
“Saya naik taksi saja, Mbak,” ucapnya kemudian. Tanpa meminta persetujuan dariku, ia segera turun.
“Ayo kita minum kopi di Cafe depan,” ajak Robert.
“Aku tidak mau, katakan saja di sini. Kau punya waktu 15 menit,” ucapku menantangnya balik.
Robert terdiam, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kedua tangannya memegang pintu mobilku. “Jangan membuat kesabaran ku habis, Chalisa,” ucapnya dengan merapatkan kedua bibirnya.
“Katakan apa maumu?” tanyaku.
“Menjauh dari Hendri atau kau akan menyesalinya!” ucap Robert dengan gusar. Aku bisa melihatnya dengan jelas, wajahnya memerah.
“Kau mengancam ku?” tanyaku. Lalu aku turun dari mobil dan mendorongnya dengan kasar. Sepertinya kesabaranku juga mulai hilang.
“Aku bukan mengancam, aku hanya memberimu pilihan. Jika kau masih bersikeras, aku akan merebut Angga darimu, bagaimanapun caranya!”
Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Robert. Tanganku terasa panas, aku melakukannya tanpa sadar. Jiwaku dipenuhi dengan amarah, jika bukan di tempat umum, aku akan mencabik-cabik wajahnya.
“Jaga ucapanmu Robert, kau tidak berhak mengatur hidupku. Aku bukan Zoya yang bisa kau buat sesuka hatimu!”
Robert menatapku tak berkedip. Aku pun tak mau kalah, aku menantangnya dengan berkacak pinggang. Aku bisa mengambil kesimpulan dari ucapan Zoya kemarin. Ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua, dan sepertinya aku mulai melihat, Zoya tidak sepenuhnya bersalah. Robert lebih buruk dari aku bayangkan, aku semakin membencinya.
“Aku sudah memperingatkannya, jangan sampai kau kehilangan Angga demi Hendri!” Robert menunjuk padaku.
“Aku tidak akan kehilangan keduanya!” Aku menepis tangannya sembari tersenyum sinis. Lalu mendorong tubuhnya menjauh dan aku segera masuk mobilku.
“Cha, aku belum selesai bicara, kau jangan bermain-main dariku!” teriaknya keras sembari berlari mengejar mobilku. Namun aku tidak menggubrisnya, aku segera menancap gas dan berlalu pergi. Aku melihatnya di balik spion, ia tampak frustrasi, aku tersenyum kecil.
Dalam perjalanan aku kembali mengingat kata-kata Robert. Jika semua kejadian yang terjadi pada Zoya karenanya, aku jadi merinding. Tidak mungkin tidak semuanya juga akan terjadi padaku. Aku harus bertemu Angga, aku tidak mau semuanya menjadi nyata. Haruskah aku mengatakan semuanya pada Hendri?
Ponselku berdering nyaring. Aku meraihnya lalu membesarkan volumenya. Bu Aini menghubungiku.
“Masih di jalan, Bu,” sahutku.
“Askia bilang Robert mengganggumu, kau baik-baik saja?” tanya Bu Aini lagi.
Aku mengatakan semuanya baik-baik saja. Askia pasti telah mengatakan semuanya. Wajar saja bila mereka khawatir, terlebih setelah melihat Robert bersikap kasar padaku beberapa waktu lalu.
“Bu, Ibu tidak memberitahu pada Hendri, kan?” tanyaku baru teringat akan hal itu. Biasanya beliau akan segera mengatakan pada Hendri jika terjadi sesuatu padaku.
“Ti, tidak ... kau pulanglah segera,” sahut Bu Aini terbata-bata.
Aku menarik nafas dalam-dalam setelah panggilan itu berakhir. Dari jawaban beliau aku sudah tahu, pasti Hendri tahu Robert datang lagi menggangguku. Dasar Bu Aini.
Setelah membeli pesanan Mama, aku segera pulang. Sudah terlalu lama aku di luar rumah hari ini. Mereka pasti khawatir dan tak sabar aku sampai di rumah. Aku segera menancap gas. Tanpa terasa, lima belas menit kemudian, aku tiba di rumah.
Sebuah mobil putih terparkir rapi di depan, yang tak lain adalah mobil Hendri. Dasar Bu Aini, beliau selalu saja membuat Hendri khawatir. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin mengganggunya.
“Aku pulang,” ucapku sembari membawa semua belanjaan.
“Sayang, kau sudah pulang?” Mama berlari kecil, lalu memelukku erat. Beliau meraba seluruh tubuhku, memastikan tidak ada yang terjadi padaku.
“Ma, Chalisa baik-baik saja,” ucapku.
“Syukurlah,” sahutnya. Lalu beliau melemparkan pandangannya pada Hendri, dan dia pun mendekat. Hendri menciumi punggung tangan Mama.
“Saya bisa pastikan, lain kali tidak akan terjadi lagi, Tante,” ucap Hendri dengan sopan.
“Tante bisa pegang ucapanmu?” tanya Mama. Hendri mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mama berlalu pergi meninggalkan aku dan Hendri di ruang keluarga.
Aku terdiam, aku telah membuat semua orang susah dengan keadaanku. Tidak ada yang salah, cuma aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
“Apa Robert mengancammu?” tanya Hendri membuka obrolan.
“Mm, tidak,” sahutku.
“Jangan berbohong!” ucap Hendri dengan nada tinggi. Aku menundukkan kepalaku.
“Robert akan mengatakan semuanya pada nenek jika kita masih bersama,” ucapku kemudian.
Hendri mengepalkan tangannya. Lalu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Aku menyesal hadir di antara mereka berdua. Kehadiranku semakin mempersulit hubungan keduanya.
“Aku minta maaf, Mas,” ucapku.
“Tidak, ini bukan salahmu,” sahut Hendri.
“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu dan Angga, Mas,” ucapku menahan tangis. Aku menengadah ke atas.
“Maksudmu?” tanya Hendri.
“Jika kita tetap bersama, Robert akan merebut hak asuh Angga,” sahutku. Bulir-bulir air mataku akhirnya lolos begitu saja di pipiku.
“Jangan menangis, semua itu tidak akan terjadi. Kita akan hadapi bersama. Tenanglah.” Hendri memelukku erat. Ia membelai lembut rambutku, aku membalas pelukannya. Akankah kita melewatinya bersama?
“Berjanjilah, kita akan tetap bersama?” pintaku.
Hendri mengecup keningku sangat lama. Aku menganggap itu adalah jawabannya. Aku bisa merasakan betapa tulusnya kasih sayang darinya. Aku sangat mencintainya dan Angga. Keduanya memiliki posisi yang sama di hatiku.
Jangan lupa like.