
Pagi-pagi sekali aku kedatangan tamu yang tak diundang. Bu Aini membangunkanku dengan tergesa-gesa, lalu menyuruhku mandi dan bersiap-siap kemudian bergegas untuk menyambut tamu. Aku menggerutu kesal, biasanya aku enggan bangun dan mandi sebelum jam delapan pagi. Aku penasaran siapa tamu penting yang dimaksud Bu Aini.
“Siapa, Bu?” tanyaku untuk yang ke sekian kalinya namun Bu Aini tak memberiku jawaban.
Setelah siap, aku turun ke bawah. Aku menuruni tangga dengan perlahan, seorang wanita duduk di sofa ruang tengah. Aku seperti sangat mengenalinya, namun siapa? Aku melangkah lebih dekat padanya. Untuk apa pagi-pagi seperti ini wanita itu datang mencariku, itu semua masih menjadi tanda tanya besar di kepalaku.
“Nenek!?”
Aku terkejut ternyata Nenek yang bertamu ke rumahku pagi itu. Aku masih tak mengerti, beliau mendekati aku kemudian memelukku.
“Maaf pagi-pagi mengganggumu, ini penting, tolong bantu Nenek,” ucapnya perlahan sembari melepaskan pelukannya.
“Ada apa, apa yang bisa Chalisa bantu, Nek?” tanyaku. Aku mengajaknya duduk agar lebih tenang.
Aku sangat terkejut ketika nenek memintaku untuk menemaninya ke rumah Zoya. Nenek Zoya meninggal semalam karena penyakit jantung, nenek tak sampai hati membiarkan Zoya sendirian. Selama ini aku sudah mengetahui bagaimana latar belakang keluarga Zoya, ia tidak memiliki siapa pun kecuali neneknya. Terlepas dari permasalahan aku dengannya, aku turut berduka atas meninggal neneknya.
“Nenek tidak ingin datang sendirian, setelah perceraian ia dan Robert, rasanya ia sangat marah pada keluarga Nenek,” ujar nenek dengan wajah bersedih. Aku mengusap pundaknya.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Nenek benar, walau bagaimanapun aku tidak mau membalas keburukan dengan keburukan. Aku memutuskan untuk datang ke rumah Zoya bersama nenek setelah menceritakan padanya, Zoya adalah sahabatku. Namun sebelum pergi aku berpamitan pada mama.
Dalam perjalanan nenek bercerita panjang lebar tentang Zoya dan Robert, jujur, aku sangat muak mendengarnya. Ya, mau bagaimana, nenek tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa melibatkan beliau dengan ini semua. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi nenek jika mengetahui yang sebenarnya.
Permasalahan yang terjadi di antara keduanya terus berlarut-larut. Penyebab utamanya adalah, Zoya tidak bisa memberikan keturunan pada Robert. Namun nenek mengatakan, sepertinya bukan itu saja penyebabnya, tapi beliau tidak mau ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan semuanya.
“Kita sampai, Nek,” ucapku menyela ucapan Nenek.
Aku dan nenek bergegas masuk. Zoya duduk terdiam di depan jasad neneknya. Air mata terus berlinang di pipinya, wajahnya pucat, ia menundukkan kepalanya. Aku tahu bagaimana sekarang perasannya, satu-satunya keluarga yang ia punya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Aku mendekatinya kemudian memeluknya erat, walau tidak mengubah apa pun setidaknya ia tidak berkecil hati dan beranggapan bahwa ia sendirian di dunia ini.
“Aku turut berduka, Zo,” ucapku.
Zoya menganggukkan kepalanya, kemudian nenek mendekat, Zoya tampak marah dengan ekspresi yang seketika berubah. Aku mengusap pundaknya, aku tidak ingin semuanya kacau di hari ia berduka.
“Ami turut berduka, Zo,” ucap nenek. Zoya tidak menjawab, kemudian nenek menjauh karena tidak mendapatkan respon yang baik darinya.
Tak lama kemudian, mobil jemputan jenazah tiba. Zoya semakin tidak bisa menahan tangisnya, ia menangis tersedu-sedu di pelukanku. Aku tidak melepaskan pelukan darinya, aku sangat pilu mendengarnya, dan tiba-tiba Zoya jatuh pingsan.
Aku menyuruh Nenek pulang terlebih dahulu. Aku tidak sampai hati meninggalkan Zoya dalam keadaan seperti itu. Aku meminta orang-orang di sana mengangkat tubuh Zoya ke kamarnya. Sementara mobil yang membawa jenazah sudah berangkat ke tempat pemakaman.
Aku duduk di samping Zoya yang tak berdaya, aku mengusap kepalanya dengan lembut. Tak lama kemudian ia siuman, Zoya bergegas bangun.
“Nenek mana?” tanya Zoya.
“Tenang, Zo, nenek akan segera dimakamkan, kau istirahat saja,” pintaku.
“Enggak, Cha. Aku mau liat nenek untuk yang terakhir kalinya,” sahut Zoya kemudian bergegas bangun dengan keadaan tak menentu. Aku mengikutinya, dan menawarkannya tumpangan menuju pemakaman nenek.
Dalam perjalanan aku tak banyak bicara padanya. Pandangannya lurus ke depan dengan air mata tak berhenti berlinang di matanya. Aku mengusap punggung tangannya. Tak lama, kita sampai di pemakaman. Zoya berlari kecil melewati kerumunan orang-orang yang mengantar nenek ke tempat peristirahatan terakhirnya.
“Yang sabar, Nak.” Aku mendengar beberapa orang turut prihatin dengan kondisi Zoya. Aku berdiri dari kejauhan menatapnya dengan pilu.
“Zo, ayo kita pulang?”
Zoya menatapku, air matanya kembali menyeruak berjatuhan di pipinya, ia memelukku. Aku mengusap pundaknya.
“Semuanya gara-gara Robert, Cha,” lirih Zoya di pelukanku.
Aku melepaskan pelukannya seraya bertanya, “Apa maksudmu, Zo?”
Zoya bangun dari duduknya, ia mengusap wajahnya. Aku mengikuti langkahnya. Zoya kembali mengulangi ucapannya.
“Aku tidak mengerti,” ucapku singkat.
“Rumah, nenek, dan semua permasalahan yang terjadi belakangan semua penyebabnya dari Robert, Cha,” ujar Zoya dengan raut wajah bersedih.
Aku melangkah bersamanya meninggalkan pemakaman menuju mobil yang terparkir jauh di gerbang.
“Aku tidak tahu sejauh ini ia tega melakukannya padaku, aku mengaku salah telah berbohong padanya,” tutur Zoya masih dengan wajah datar tanpa senyuman.
Aku menghentikan langkahku, Zoya menatapku. Aku membuka suara dengan satu pertanyaan, dan berharap ia bisa jujur padaku. Mungkin, aku bisa memaafkan kesalahannya.
“Kenapa kau tega membohongi aku dan Robert?” tanyaku dengan suara pelan.
“Maksudmu?” tanya Zoya sembari meneruskan langkahnya.
“Katakan saja, Zo. Semuanya telah berlalu, aku juga tidak mempermasalahkan itu lagi,” ucapku memancingnya agar membuka suara dan mengaku bersalah.
“Kau pulang saja, aku bisa naik taksi. Terima kasih telah memberiku tumpangan,” ujarnya terbata-bata dengan ekspresi panik.
“Zo,” panggilku. Aku mengencangkan rahangku.
“Tolong, Cha. Jangan membuatku semakin merasa bersalah di saat seperti ini, tolong ... .”
Aku terdiam, Zoya merapatkan tubuhnya pada mobilku. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Beri aku waktu, jika sudah siap, aku akan mengatakan semuanya padamu. Aku tak sejahat yang kau bayangkan,” ucap Zoya dengan berlinang air mata. Ia menggenggam kedua tanganku.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku berdiri di sampingnya dengan merapatkan tubuh pada mobil. Semuanya terjadi padaku tanpa sepengetahuanku, semuanya telah berlarut-larut hingga kini masih misteri bagiku. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masa laluku?
“Ayo kita pulang,” ucapku setelah cukup lama saling terdiam.
“Pulanglah, aku tidak ingin langsung pulang,” sahut Zoya pelan.
“Kau yakin?” tanyaku. Zoya menganggukkan kepalanya.
Aku segera berlalu meninggalkannya yang masih berdiri mematung di depan gerbang pemakaman umum, tempat di mana kedua orang tua dan neneknya di makamkan. Jujur, aku iba padanya.
Jangan lupa like.