
Rumah terasa sepi tanpa kehadiran Angga dan Bu Aini, aku tidak bersemangat menjalani hidup 2 hari belakangan ini. Aku bahagia menjadi seorang ibu rumah tangga di usiaku yang masih terbilang muda ini. Aku tidak menyesali semua yang sudah terjadi, bahkan aku menikmati semua ini.
Aku asik dengan lamunanku yang tak jelas menerawang entah kemana, pikiranku kembali dengan Hendri dan wanita kemarin. Rasanya ngilu setiap kali mengingat itu, aku ingin menghindari ajakan Hendri pagi tadi. Aku tidak bisa selemah itu, aku ingin pergi ke panti asuhan.
Setelah mengambil alih tugas Askia, aku segera berangkat ke panti asuhan mengantar pesanan kue yang jatah seminggu sekali itu.
Jalanan sedikit macet sehingga perjalanan yang harusnya cuma memakan waktu 15 menit kini berubah menjadi 30 menitan.
Aku melihat banyak balon-balon di pagar yang di dekor cukup indah, sepertinya ada yang ulang tahun. Aku melangkah masuk, anak kecil berlarian kesana-kemari berpakaian rapih, mereka tampil cantik dan tampan.
"Tante, Tante mau kemana?" tanya seorang gadis kecil ia menyentuh lutut ku. Aku membungkukkan tubuhku aku cubit gemas pipinya.
"Tante mau ketemu Bu Maryam sayang ...."
Gadis kecil itu menyentuh pipiku, "Tante mirip Tante Diana, Tante kembarannya Tante Diana, ya?"
Aku menggeleng kepala sembari memikirkan siapa Tante Diana itu. Tiba-tiba Bu Maryam keluar dari arah samping rumah itu, ia menghampiri kami dan menyuruh Oja bermain lagi.
"Maaf Nak Chalisa jadi lama menunggu."
Kami membawa masuk kue ke dalam dibantu anak laki-laki Bu Maryam. Ternyata benar, ada anak kembar yang berulang tahun, mereka merupakan yatim piatu yang ditemukan Bu Maryam ditinggal sang ibu dalam kardus di depan panti.
Setelah menurunkan semua pesanan kue, Bu Maryam mengantarkan aku sampai mobil, sebelum berpamitan aku bertanya pada Bu Maryam siapa Diana dan kenapa gadis kecil tadi mengatakan aku mirip dengannya.
"Nak Chalisa lupa, ya? makan yang ditengah halaman itu Diana yang kemarin saya ceritakan."
Aku manggut-manggut karena baru mengingat kejadian Minggu lalu saat pertama kali datang ke panti asuhan itu.
"Mirip sekali, Nak. Saya sedikit terkejut kemarin saat pertama kali lihat kamu."
Bu Maryam menawarkan aku untuk melihat beberapa foto Diana, aku ingin melihatnya tapi mungkin lain kali saja. Aku harus segera pulang, sudah terlalu lama meninggalkan toko bunga, takut merepotkan Askia.
Setelah berpamitan, aku segera pulang, memang sejak awal niat pergi hanya untuk menghindari ajakan Hendri makan siang bersama. Aku melirik jam, sekarang pasti Hendri tidak menungguku lagi.
Sampai di rumah setelah memarkir mobil aku turun, ku raih handphone, ternyata ada beberapa panggilan serta satu pesan dari Hendri.
"Ya ampun Mbak, lama banget, sih? tadi tuh ada Mas itu loh jemput Mbak," beritahu Askia ketika aku melangkah masuk.
Ku abaikan apa yang Askia sampaikan, "Thanks ya Kia, kamu kerja lagi, gih."
*Malamnya.
Setelah bersiap-siap aku segera menjemput Askia, tadi aku mengajaknya nonton serta aku menyuruhnya untuk mengajak pacarnya namun ia menolak. Mungkin ia merasa tidak enak karena aku sendirian.
Aku sengaja menghindari Hendri, bagiku lebih baik menjauh dari awal sebelum terjadi sesuatu yang nantinya akan membuat penyesalan dikemudian hari.
Filmnya cukup bagus, aku menikmati setiap menit per menit yang tayang hingga akhir.
"Bagus ya Mbak filmnya?"
"Ya Kia, tapi adegan wanitanya sedikit berlebihan ya gak, sih?"
Askia mengangguk, lalu kami tertawa bersama. Film romantis komedi yang cukup mengocok perut itu berhasil membuat kami tertawa terbahak-bahak malam ini.
Setelah mengantar Askia pulang, aku bergegas pulang. Jam menunjukkan pukul 21:00.
Aku tiba dirumah, aku sangat terkejut melihat Hendri berada di teras rumahku. Kenapa ia masih disini? suasana malam ini sangat dingin menusuk hingga ke tulang. Aku melangkah masuk.
Hendri bangun dari duduknya, ia mendekatiku sembari menyentuh kedua pipiku, "Kamu dari mana aja?"
Aku lepaskan tangannya, aku buka pintu. Kemarin perasaan ia bisa masuk, bukankah Bu Aini memberinya satu kunci duplikat. Lalu kenapa ia menunggu di luar.
Aku ingin langsung masuk ke kamar namun Hendri menarik tanganku mengajak duduk di sofa ruang tamu. Tangannya sangat dingin, aku rasa ia kedinginan dari tadi berada di luar.
"Tadi siang kemana? aku mau ajak kamu ketemu adik sepupuku, dia baru pulang dari Paris, besok dia akan terbang ke Malaysia, tapi kamu gak ada."
Apa? adik sepupu? jangan-jangan yang aku lihat kemarin itu adik sepupunya. Pantas, penampilannya sangat menarik, ternyata ia baru pulang dari luar negeri. Ya ampun, aku benar-benar telah salah faham.
"Adik sepupu?" tanyaku sambil menggigit bibir bawahku.
"Ya," jawab Hendri singkat.
Aku benar-benar malu karena terlalu posesif, apa mungkin Hendri tau gerak-gerik ku?
"Mas, aku buatkan jahe anget, ya?"
Setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari Hendri aku segera membuatkan segelas jahe hangat untuknya.
"Mas kan punya kunci duplikatnya, kenapa tunggu diluar?" tanyaku ketika membawakan satu gelas berisi minuman untuk menghangatkan badan.
Hendri menyeruput minuman yang aku seduh, ia menggulung lengan kemejanya serta membuka dasi yang masih melingkar di lehernya.
"Aku tunggu jam 9, kalau kamu gak pulang ..."
Hendri menghentikan omongannya, aku menatapnya namun saat ia menatap balik aku menundukkan kepalaku. Aku tidak berani menatap manik matanya yang tajam, aku takut ia membaca pikiran dan isi hatiku.
"Jangan keluyuran lagi, ya?" ujar Hendri lembut.
Kami berbincang-bincang tentang kehidupan kami berdua, kini aku mengetahui apa yang ia suka dan tidak, begitu pula sebaliknya dengannya.
Setelah cukup lama kami mengobrol hingga kami lupa waktu, sekarang sudah pukul 23:00. Aku menyuruhnya tidur.
"Besok Bu Aini dan Angga pulang," ujar Hendri diakhir obrolan kami.
"Ya Mas, aku rindu mereka."
Hendri menopang dagunya dengan tangan yang ia sandarkan di sandaran sofa, ia duduk berhadapan denganku. Aku menatapnya sekilas sebelum aku buang kembali pandanganku ke bawah.
Hendri menyentuh daguku lalu ia menariknya hingga berhadapan dengannya. Aku menatap wajahnya, aku berpikir apakah ia merasakan yang sama denganku?
"Kalau Bu Aini sudah kembali, apa aku masih boleh menatap wajahmu sedekat ini lagi?"
Deg.
Pertanyaan yang benar-benar membuat jantungku berdegup kencang. Mungkin ia bisa mendengarnya saat ini.
"Kamu gugup?" tanya Hendri lagi.
Lalu ia mendekati wajahku, ia belai lembut pipiku lalu ia kecup dengan lembut disana. Tangannya mengelus-elus rambutku, aku memejamkan mataku.
"Tidurlah sana, jangan cemburu lagi, ya?"
Ya Tuhan ... benar apa yang aku pikirkan, Hendri menyadari gerak-gerik ku. Hendri tau aku cemburu padanya, aku benar-benar tidak bisa menahan rasa malu.
Jangan lupa like ya ....