
"Cha, bangun. Cha, buka matamu."
Ucap seorang pria. Suaranya sangat familiar di telingaku. Namun sangat berat rasanya membuka mata ini. Aku merasa tubuhku melayang, seseorang menggendongku keluar dari ruangan pengap itu. Mataku sedikit silau ketika cahaya matahari menyinari menerpa wajahku. Namun setelah itu, semuanya gelap, aku tak sadarkan diri.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, Aku tidak tahu. Saat aku membuka mata, aku melihat jarum infus di tanganku. Aku memutar pandangan keruangan yang bernuansa putih itu. Aku tidak menemukan siapapun di sana. Aku mencoba bangun, tapi tubuhku terasa sangat lemah. Aku berada di rumah sakit.
Selang beberapa menit kemudian. Seorang perawat datang, ia tersenyum ramah padaku. Aku mencoba bangun, dan ia membantuku untuk duduk bersandar pada ranjang.
"Mbak, siapa yang bawaku kemari?" tanyaku.
"Ada Mbak, saya panggilkan keluarganya dulu, ya?" pinta perawat itu. Aku hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Keluarga Mbak Chalisa, pasien sudar siuman," panggil perawat itu.
Tak lama, mama muncul dari balik pintu. Diikuti Angga di belakangnya. Aku mencoba tersenyum, akhirnya aku bertemu kembali dengan keluargaku. Dadaku terasa lega, aku menarik nafas dalam-dalam. Angga memelukku sebentar, mama menggenggam kedua tanganku.
"Ma, mana kakek dan nenek?" tanyaku.
"Sayang, tenang. Semuanya sudah membaik, mereka sudah bersama kita sekarang," sahut mama.
"Syukurlah," jawabku lega.
"Mami sendiri bagaimana, mami baik-baik aja, kan?" tanya Angga.
"Ya, sayang. Untung kalian datang tepat waktu," jawabku tersenyum. Aku mengusap pipinya.
"Berterima kasihlah pada Robert. Dia yang paling cemas ketika mama menceritakan semua tentangmu," ucap mama.
Aku melihat Angga, putraku itu membalas dengan anggukan dan senyum yang merekah di bibirnya. Membuktikan ucapan mama itu benar adanya.
"Mana papamu?" tanyaku.
"Oma, ayo kita keluar," ajak Angga.
"Sayang, kalian mau ke mana?" tanyaku.
"Aku panggil papa, mami istirahat aja dulu," sahut Angga.
Robert masuk ke ruangan. Tatapannya dingin, ia mencoba tersenyum ramah, namun tetap saja, sifat angkuhnya masih terlihat jelas. Di saat-saat seperti ini, aku masih sempat berpikir aneh tentangnya, harusnya aku berterima kasih banyak padanya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Robert membuka obrolan.
"Sudah mendingan," jawabku singkat.
Aku melihat gerak-geriknya yang tidak bisa tenang. Ia memainkan jemarinya dengan kaki yang tak bisa diam. Sekali-kali ia menengadah ke langit-langit. Cukup lama kami tak saling bicara. Kekhawatiran tampak jelas dadi matanya.
"Aku, keluar dulu. Kalau ada sesuatu panggil saja," ujar Robert kemudian.
Aku menarik tangannya sebentar kemudian melepaskannya lagi. Aku tau, dia kikuk berhadapan denganku.
"Terima kasih," ucapku.
Robert segera memelukku erat tanpa permisi, ia menciumi pucuk kepalaku berkali-kali. Aku merasakan hembusan nafasnya. Sejak tadi ia sudah menahan diri, namun aku terlanjur memancingnya.
"Maafkan aku yang merepotkan kalian semua," ucapku merasa bersalah.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu, apa yang harus aku katakan pada Hendri?"
Robert menatap mataku. Aku hanya bisa terdiam. Seketika ingatanku seperti kembali, beberapa hari silam aku melupakan sosok Hendri. Bahkan, mengingatnya aku tak sempat.
"Aku baik-baik saja sekarang," jawabku. Aku membuang pandangan darinya.
"Tetap saja, yang kau lakukan itu sangat berbahaya," kata Robert.
"Aku sendiri tidak menyangka akan terjadi begini," jawabku.
"Baiklah, sekarang istirahat saja dulu. Semakin cepat kau membaik, semakin cepat kita tinggalkan tempat ini," ujar Robert.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Robert keluar dari ruangan, aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ah, untung saja ada papa Angga.
•••••••
Keesokan harinya.
Sejak malam tadi, aku tidak melihat kehadiran Robert di rumah sakit. Aku enggan bertanya pada mama dan Angga.
Aku ingin segera pulih dan kembali ke kota, aku juga tak sabar ingin mempertemukan papa dengan kedua orang tuanya.
"Ma, kita pulang hari ini, kan?" tanyaku.
"Dokter belum mengizinkannya sayang, tunggu benar-benar pulih dulu, ya?" jawab mama.
"Tapi sudah mendingan, Chalisa baik-baik saja, Ma," jawabku.
"Mi, besok kita pulang. Untuk hari ini, mami sabar aja dulu, ya?" ujar Angga.
"Tapi, sayang. Mami mau segera pulang."
"Papa sedang mengurus semuanya, mami sabar, ya?"
Angga dan Mama terus membujukku. Aku tak ingin terlalu merengek seperti anak kecil, akhirnya aku mengalah dan kembali berbaring di ranjang.
Semoga Robert bisa mengurus semuanya. Aku akan membawa kakek dan nenek ikut bersamaku. Meninggalkan pulau terkutuk itu.
Angga membawakan makanan kesukaanku. Aku tidak berselera, semua terasa hambar di lidahku. Aku merasa mual, mulutku terasa pahit.
"Ayo dong makan, sayang," pinta mama.
Aku terpaksa makan agar aku cepat sembuh, meski sebenarnya aku tidak suka.
"Ma, cukup, ya?" pintaku pada mama yang terus menyuapi makanan ke mulutku.
"Baiklah," jawab mama.
"Sayang, ponsel mami, mana?" tanyaku.
Sejak kemarin aku tidak melihatnya. Aku baru teringat, pagi itu aku tak sempat membawa ponselku saat komplotan penipu itu membawaku.
"Ponselmu di tangan Robert sekarang," jawab mama.
"Kemarin, papa datang dengan polisi ke rumah eyang. Angga enggak ikut, Angga temani mami di sini," sahut Angga.
"Sekarang papamu di mana?" tanyaku.
"Ada, mau Angga panggil?" jawab Angga.
"Jangan!" ucapku.
Mama tersenyum kecil. "Robert, sedang di kantor polisi sekarang," ujarnya kemudian.
"Kalau papamu kemari, jangan lupa ponsel mami, ya?" pintaku.
Angga menganggukkan kepalanya, masih dengan senyum menghiasi wajahnya, aku tau, ia sedang menggodaku.
••••
Malam harinya.
Mama membawa kabar gembira, dokter mengizinkan aku pulang besok pagi. Hasil leb juga mengatakan aku baik-baik saja, hanya dehidrasi biasa. Cuma harus cukup istirahat agar membaik seperti biasanya.
Aku sangat senang mengetahui bahwa kita akan pulang besok. Robert juga sudah mengurus semua berkas Nenek dan kakek. Bu Narsih juga harus mempertanggungjawabkan semua kesalahannya, begitu pula dengan komplotan penipu yang menyandera aku kemarin. Mereka sudah ditangani oleh pihak yang berwajib.
Semoga memberi efek jera. Sebenarnya aku kasihan pada Bu Narsih. Karena uang beliau tega berbuat keji. Padahal setiap bulannya beliau mendapat upah yang besar dari kakek. Namun sayang, ketamakan membuatnya lupa diri. Harus bagaimana lagi, aku hanya bisa mendoakannya.
"Sebelum kita pergi, besok aku pengen berkunjung ke rumah kakek sebentar, ya?" pintaku pada Robert.
"Boleh," jawabnya singkat.
Rumah itu akan menyisakan banyak kenangan untuk kakek dan papa. Aku akan menjaganya sebaik mungkin.
"Tidurlah, ini sudah waktunya istirahat," pinta Robert.
Dua hari berbaring di rumah sakit membuatku sangat bosan. Aku tak sabar ingin segera pergi dari sana.