A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 30



Desiran angin berembus kencang menerpa wajahku. Kedua tanganku meremas-remas gundukan tanah berwarna merah yang masih lembab dan bertaburan bunga. Ya, aku berada di pusara papaku. Beliau dimakamkan di TPU milik keluarga, yang tak seberapa jauh dari rumahku.


“Papa, maafkan aku,” ucapku dengan tangisan yang tak henti-hentinya, entah yang ke berapa kalinya sudah kukatakan permintaan maaf ini, aku lupa, rasanya tak akan cukup hingga seribu kali pun.


“Sayang, ayo pulang, kita sudah sejam lebih di sini, sebentar lagi gelap,” ujar Hendri, ia mengusap rambutku. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.


“Sebentar lagi, Mas,” sahutku.


“Mas, kalau kamu mau pulang ke kota, aku enggak apa-apa. Lagi pula, kamu sendiri yang mengatakan dalam beberapa Minggu ini jadwal kamu sangat padat, kan?” tanyaku saat kami melangkahkan kaki keluar dari tempat pemakaman.


“Sudah, jangan terlalu dipikirkan, kamu dan Angga lebih penting. Pekerjaannya masih bisa ditangani sekretarisku,” sahut Hendri. Aku merasa serba salah, karena telah merepotkannya.


Malam harinya.


Aku mengetuk pintu kamar Mama, Bu Aini mengatakan sejak siang tadi beliau makan sesuap pun.


“Ma, boleh Chalisa masuk?” tanyaku.


Terdengar langkah kaki mendekat, lalu pintu pun terbuka. Mama mempersilahkan aku masuk.


“Kamu baru pulang dari makam papa, sayang?” tanya Mama mencoba tersenyum dengan matanya yang sembab.


Aku duduk bersamanya di tepi ranjang, foto papa dan Mama terletak di nakas. Aku meraihnya, lalu mendekapnya erat. Batinku kembali menjerit pilu, namun aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata di depan Mama, itu semua agar ia tak semakin rapuh.


“Dalam beberapa hari ini, papa selalu memanggil namamu, sayang,” ujar Mama kemudian, ia membelai rambutku.


“Papa sakit apa, Ma. Sejak kapan?” tanyaku.


Mama menarik nafasnya perlahan. Beliau menengadah ke atas agar air matanya tak tumpah. Kemudian beliau tersenyum kecut.


“Papamu sudah sakit sejak lama, siang dan malam lelah bekerja. Umur di mana seharusnya sudah pensiun, tapi papa tetap kekeh untuk bekerja,” sahut Mama. Ada kebahagiaan yang terpancar di wajahnya kala menceritakan tentang papa.


“Sejak kepergian kamu dari rumah, papa semakin sibuk, semakin jarang pulang ke rumah,” lanjut Mama lagi.


Aku sangat mengerti dengan sikap papa. Beliau sengaja menyibukkan dirinya agar ia tidak semakin hancur dengan masalah yang membuat otaknya mendidih. Beliau tidak bisa marah, sikapnya sangat lembut, tutur katanya selalu bijak. Namun sekali marah, beliau tidak bisa mengontrol dirinya.


“Dari dulu, papa tidak marah padamu, tapi papa kecewa,” ucap Mama kemudian. Aku menundukkan kepalaku.


“Papa selalu berharap, kamu pulang dan meminta maaf padanya. Setiap hari, beliau selalu berdiri di teras rumah, berharap suatu hari kamu akan kembali dan bersujud di hadapannya. Hari demi hari terus seperti itu.”


Mama tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Air mata berlinang di pipinya. Aku memeluknya erat, aku berusaha agar beliau tenang dan tidak terus menerus bersedih. Semuanya telah berlalu, masa-masa itu tidak akan terulang lagi.


“Ma, percayalah. Kalian berdua selalu dalam doaku, tapi aku tidak berani pulang walau hanya sekejap saja,” ucapku kemudian.


“Mama tau, sayang,” sahutnya pelan.


“Sekarang, mari lupakan itu semua. Papa sudah tenang di alam sana, aku sebagai anaknya cuma bisa berdoa semoga Tuhan mengampuni segala dosanya,” tuturku.


“Nyonya, Chalisa ... ayo makan,” panggil Bu Aini. Beliau mengetuk pintu kamar Mama.


Aku menyuruhnya masuk. Beliau mencubit lenganku pelan seraya berkata, “Kau ini bagaimana, katanya mau panggil Mama buat makan,” ujarnya.


Aku dan mama tersenyum kecil. Lalu kami bertiga turun ke bawah untuk makan, Angga dan Hendri telah lama menunggu.


Mama tidak berselera makan, beliau mengaduk-aduk makanan yang ada piringnya. Tatapannya kosong, wajahnya sangat pucat.


Angga menyenggol lenganku dan berbisik, “Mi, Oma sakit kayaknya,” ucapnya. Aku mengangguk.


Tanpa menolak Mama bangun dari duduknya, aku memapahnya masuk ke kamar. Aku meminta pak Parmin menjemput dokter pribadi papa, Mama tak sehat, aku tidak mau beliau drop.


“Sayang, bawa Mama ikut bersamamu,” pinta Mama saat aku ingin keluar kamar, beliau menggenggam erat tanganku. Aku kembali duduk di sampingnya, aku mengusap wajahnya.


“Ma, aku enggak akan tinggalkan Mama sendiri di sini,” ucapku.


“Kamu janji?” tanya Mama, matanya kembali berkaca-kaca. Aku menganggukkan kepalaku.


Aku paham perasaannya saat ini, beliau takut aku pergi lagi, apalagi setelah papa tiada. Beliau sakit seperti ini bukan karena apa-apa, tapi banyak ke pikiran.


“Permisi, Non, dokternya sudah datang,” panggil pak Parmin di depan kamar.


Aku mempersilahkan dokter masuk. Beliau segera mengecek kondisi Mama yang terbaring lemah di ranjang.


“Bu Hana, jangan terlalu banyak pikiran, ya. Nanti lambung Ibu kambuh seperti kemarin,” ucap dokter saat membetulkan letak kacamatanya.


“Sejak kapan Mama punya riwayat lambung, Dok?” tanyaku.


“Baru-baru ini, Non Chalisa,” sahut dokter.


Setelah menuliskan resep obat, beliau berpamitan. Tebakan aku benar, Mama punya banyak pikiran sehingga membuatnya drop seperti saat ini. Tidak bisa kubayangkan jika aku tidak kembali.


“Ma, dengarkan apa kata dokter? Mama jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya. Chalisa di sini,” ucapku mencoba menenangkannya. Mama mengangguk pelan.


“Mama istirahat saja dulu, sebentar lagi pak Parmin pulang bawa obat, Chalisa turun dulu, ya?”


Mama memejamkan matanya, sebelum keluar aku mengecup keningnya sebentar.


“Bagaimana kata dokter, sayang?” tanya Hendri begitu aku turun.


“Banyak pikiran,” sahutku singkat.


“Wajarlah, opa baru saja pergi untuk selamanya, Mi,” sahut Angga ikut berkomentar.


“Ya, Nak. Tadi saja Oma menangis minta ikut Mami, Oma takut ditinggal sendirian,” ucapku sembari menarik nafas perlahan.


“Kalau keadaan sudah membaik kita bawa saja Oma ke rumah kita,” ujar Angga lagi.


“Ibu juga setuju, Cha,” sambung Bu Aini yang baru bergabung. “Mana mungkin mamamu sendirian di sini, Parmin bilang, akhir-akhir ini mamamu sering sakit,” lanjut Bu Aini.


Aku terdiam, aku sedang mempertimbangkan semuanya. Walau bagaimanapun tidak mudah, ini adalah kampung halaman papa dan mama, jika mereka berdua tidak ada bagaimana dengan harta-harta mereka, tentu aku perlu mengurus semuanya sebelum membawa mama pergi.


Tak lama kemudian pak Parmin pulang dengan obat di tangannya. Aku meraihnya dan meminta Bu Aini menyiapkan air hangat untuk Mama.


“Oya, pak Parmin tolong hubungi pengacara papa, ya?” pintaku.


“Sebenarnya pagi-pagi tadi beliau datang, karena keadaan Nyonya tidak sehat beliau pulang lagi,” sahut pak Parmin.


“Oh begitu, ya sudah besok pagi-pagi suruh beliau datang,” ucapku mengulangi perkataan yang sama.


Selaku anak satu-satunya mereka, aku harus membereskan semuanya agar cepat selesai dan aku bisa membawa mama ikut bersamaku.


Jangan lupa like.