A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 42



Setelah berkeliling di rumah nenek Zoya, aku sangat syok dengan apa yang terjadi di sana. Pecahan kaca jendela di mana-mana. Menurut pengakuan Zoya, ia sempat melihat orang tak dikenal melemparkan batu pas saat tengah malam tiba, dan itu terus berlangsung beberapa malam setelah nenek Zoya tiada. Tidak heran mengapa Zoya begitu ketakutan.


“Mengapa kau begitu yakin ini semua adalah ulah Robert?” tanyaku saat kita berdua duduk di bawah pohon rindang di depan rumah neneknya.


Zoya menarik nafasnya, lalu ia menoleh padaku. “Aku bertahun-tahun sudah bersamanya, Cha. Aku tahu betul bagaimana cara ia memperlakukan musuhnya,” sahut Zoya.


Aku terdiam, rasanya ia benar. Aku mengenalinya dulu saat kita masih sama-sama dimabuk cinta, apa yang ia lakukan, semuanya terlihat benar di mataku. Tapi Zoya yang lebih tahu bagaimana Robert sekarang, aku tidak ingin membantahnya. Aku sendiri harus siap, mau tidak mau aku akan menghadapinya jika Hendri benar-benar menyatakan perang dengan Robert.


“Tapi apa yang membuatnya sangat marah padamu, tolong ceritakan semuanya?” pintaku sangat penasaran. Bagaimana tidak, keduanya menjalin hubungan rumah tangga cukup lama, bukankah wajar aku penasaran apa yang membuat Robert begitu membenci Zoya hingga menganggapnya musuh?


“Bukannya kau sudah tahu?” Zoya bertanya balik padaku.


Aku mengerutkan keningku, aku mengangkat kedua bahuku. Apa yang aku ketahui? Aku mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dimaksud Zoya. Namun pikiranku buntu.


“Bukankah Robert telah menceritakan padamu? Dia sangat marah padaku ketika mengetahui Angga adalah putramu?” Tanya Zoya dengan tatapan lurus ke depan. Ia tidak menoleh sedikit pun padaku.


Aku terpaku. Memang benar, Robert yang memberitahukan kepadaku Zoya adalah dalang dibalik semua masalah ini. Dan saat itu pula aku sangat membenci Zoya. Tapi kini, aku berhadapan langsung dengannya. Aku tidak tahu harus berkata apa.


“Sejak saat itu hubungan kita semakin sulit, aku menghindarinya setiap kali ia menanyakan tentangmu dan Angga padaku,” lanjut Zoya.


Lalu ia duduk berhadapan denganku, ia menatapku cukup lama, aku pun tak berkedip darinya. Bulir-bulir air mata terus membasahi pipinya. Entah apa yang ia bayangkan sehingga membuatnya begitu pilu, aku pun tak tahu.


“Aku sangat berdosa padamu, Cha. Tidak seharusnya kau berbuat baik padaku, hukum aku, Cha ... .”


Aku membawa Zoya ke pelukanku. Aku senang ia mengakui semua kesalahannya. Nasi telah menjadi bubur, aku tidak bisa menghakimi Zoya yang sekarang karena kesalahannya di masa lalu. Biarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya. Tuhan telah mengatur semuanya, aku percaya itu sejak malam di mana Zoya datang meminta bantuanku. Aku tahu Tuhan maha adil.


“Tenanglah, ceritakan semuanya padaku sekarang, agar kau tidak selalu dibayang-bayangi kesalahan terus menerus ...” pintaku padanya.


Zoya menarik nafas dalam-dalam. Aku tahu, sekarang ia tidak punya pilihan lain selain jujur. Hari semakin sore, dan kita masih tidak beranjak di sana. Angin berembus kencang, dedaunan kering beterbangan ke mana-mana.


Zoya mulai bercerita tentang masa lalu. Saat kita masih duduk di bangku SMA. Sejak pertama kali melihat Robert, ia jatuh hati padanya. Jelas ia tahu bahwa aku dan Robert berpacaran kala itu. Namun ia tidak bisa menahan perasaannya yang mendalam pada Robert.


Hingga suatu hari, saat Robert datang menemuiku, aku tidak ada. Sejak saat itu keduanya bertukar kontak dan saling berhubungan di belakangku.


Semuanya berjalan normal, jujur aku tidak tahu apa-apa. Saat jalan-jalan, bahkan saat menonton bersama, aku selalu mengajak Zoya. Padahal, tanpa sepengetahuanku hubungan gelap keduanya semakin berlanjut.


“Lalu kau tahu apa yang terjadi, Cha?” tanya Zoya di sela ceritanya yang membuat mulutku terbuka sempurna.


“Apa?” tanyaku bersuara pelan. Rasanya tak percaya mendengar semuanya. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika cerita ini aku tahu sejak dulu. Aku pasti akan mencabik-cabik wajahnya.


“Saat kau mengatakan hamil padaku, sat itu aku juga sedang mengandung anak Robert!”


“Karena itu kau melakukan ini semua padaku?” tanyaku sembari mengusap air mataku.


Zoya menganggukkan kepalanya. Sekarang aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Zoya tega melakukan semuanya padaku.


Sekarang aku harus bagaimana, Haruskah aku marah dan membencinya? Oh Tuhan, bagaimana perasaan Angga jika ia tahu tentang ayahnya. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, aku akan memilih kehidupan yang lebih baik. Tapi mau bagaimana, penyesalan tinggallah penyesalan. Aku hanya bisa mengingatnya sampai aku mati tanpa bisa mengubah apa pun lagi.


“Cha, maafkan aku,” ucap Zoya pilu dengan air mata tak kering di pipinya. Ia menggenggam kedua tanganku.


Aku menatapnya tak bersuara, aku tidak tahu harus berkata apa. Pikiranku kacau, hatiku sangat sakit. Sebegitu hebatnya persoalan yang terjadi di belakangku, kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?


Aku ingin meraung keras, agar semua yang bersarang di dadaku terlepas. Tapi aku tidak bisa, aku tahu, semua ini adalah skenario Tuhan untukku, aku hanya bisa menerima dan memperbaiki semua kesalahanku. Tuhan maha baik, dibalik semua kegelapan masa laluku, tapi kini seberkas cahaya terang di depan mataku. Aku patutnya bersyukur atas apa yang aku nikmati sekarang, dan menjadikan kesalahan sebagai pengajaran. Hidup tidaklah selalu mulus, berbagai cobaan datang menghampiri. Dan aku telah mengarunginya dengan bersusah payah. Sekarang waktunya untuk mempertahankan itu semua tetap berdiri kokoh. Bagaimana pun caranya, aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.


“Cha,” panggil Zoya lagi. Aku tersadar dari lamunanku. Aku menatapnya.


“Aku tahu, sekarang pasti kau sangat membenciku, kan?” tanya Zoya tersenyum kecut sembari mengusap air matanya.


“Aku sudah siap menerima semuanya, Cha. Bahkan aku telah memikirkannya jauh-jauh hari, tapi beginilah kenyataannya,” lanjut Zoya. Ia bangun dari duduknya, aku mengikutinya masih tak bersuara.


“Kau pulanglah, Cha. Terima kasih telah memberiku tumpangan kemarin. Tak seharusnya aku bersembunyi di belakangmu setelah semua kekacauan ini terjadi karenaku sendiri. Aku sadar, aku harus menghadapi Robert sendirian,” ucap Zoya.


“Zo,” panggilku.


“Sudahlah, Cha. Tidak perlu merasa tidak enak, aku mengaku salah,” ucapnya tak memberiku waktu berbicara.


“Zo, dengar dulu!” pintaku menyela ucapannya dengan nada tinggi. Zoya terdiam.


“Aku sudah memaafkanmu, kau berani jujur saja sudah lebih dari cukup untukku. Ayo ikut aku, kita pulang. Robert bisa saja melakukan lebih buruk padamu.”


“Tapi, Cha,” ucap Zoya.


Aku menarik tangannya ikut bersamaku. Lalu kita berdua masuk mobil dan berlalu pergi dari rumah neneknya. Matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat, kita sama-sama terdiam menikmati senja. Aku berlalu kencang membelah kota menuju rumahku. Zoya menyandarkan kepalanya di jendela mobilku, aku tahu bagaimana perasaannya kini. Aku senang, perlahan aku mulai menemukan titik temu dari permasalahan masa lalu yang terus menyelimutiku.


Jangan lupa like ya.


Note :


Jangan lupa baca Bab 2 ya bagi yang terus tanya, “Thor, apa yang sebenarnya terjadi pada Chalisa?”