
“Sudah siap?” tanya Hendri padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum manis padanya. Ia terlihat tampan dengan penampilannya yang kasual hari ini. Tidak ada dasi dan jas yang melekat ditubuhnya seperti biasanya.
Hari ini kita akan berlibur ke pantai. Rencana awalnya ke pegunungan. Namun entah siapa yang mengatakan pada Hendri hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlibur ke pantai. Karena memang sejujurnya aku lebih suka keindahan pantai dari pada pegunungan. Mungkin, Bu Aini, tebakanku.
Aku sudah siap sejak tiga puluh menit yang lalu. Kemudian Hendri segera berpamitan pada Mama dan Bu Aini. Mama berulang kali mengatakan agar selalu berhati-hati pada Hendri. Dari dalam terdengar suara kaki berlarian. Zoya keluar dengan tas jinjing milikku di tangannya.
“Cha, kau melupakannya,” ucap Zoya dengan nafas tersengal-sengal.
“Makasih, Zo,” ucapku sembari meraih tas di tangannya.
“Aku titip Mama dan Bu Aini, ya?” pintaku. Zoya mengacungkan jempolnya dengan tersenyum lebar.
Mata Hendri menatap tajam padaku, pasti ia heran kenapa ada Zoya di rumahku. Aku segera mencairkan suasana dengan berpamitan sekali lagi pada Mama, lalu menarik tangan Hendri mengajaknya segera berangkat. Sebelum naik mobil aku mengedipkan mataku pada Zoya, ia menggelengkan kepalanya padaku. Aku jadi tidak enak.
Dalam perjalanan Hendri masih saja meneror aku dengan tatapannya yang tajam. Dan tiba-tiba ponselnya berdering, aku menarik nafas lega saat ia kembali membuang pandangannya ke depan, memperhatikan jalan dengan baik.
“Ya, Ngga” sapa Hendri. Sepertinya Angga yang menghubunginya. Aku baru tahu nama panggilan itu.
“Ya, kita udah Otw. Sampai ketemu di sana, hati-hati di jalan,” lanjut Hendri, kemudian panggilan itu berakhir.
“Siapa, Mas, Angga?” tanyaku.
“Mm,” sahutnya singkat tanpa menoleh.
Suasana kembali hening. Aku bingung mau mulai bercerita dari mana, karena sebenarnya tidak ada yang perlu aku jelaskan padanya. Seharusnya aku yang bertanya padanya, kenapa selama ini ia tidak mengatakan padaku bahwa Zoya adalah kakak iparnya.
“Kenapa?” tanya Hendri mengusik lamunanku.
“Mm, tidak apa-apa,” sahutku.
“Kau sudah tahu yang sebenarnya?” tanya Hendri kemudian.
“Kenapa bertanya seperti itu?” jawabku dengan berbalik tanya.
“Tidak, hanya saja tidak mungkin kamu menerima Zoya kalau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawab Hendri dengan santainya tanpa merasa bersalah. Aku mencubit lengannya dengan kesal, dan ia pun menyeringai kesakitan.
“Kenapa tidak beritahu aku?” tanyaku dengan mengatupkan kedua bibirku menandakan aku sedang kesal.
“Sekarang akhirnya sudah tahu juga, kan?” tanya Hendri sembari tersenyum kecil.
Aku diam dan berpaling muka darinya, aku melipat kedua tangan di dadaku. Hendri mencubit hidungku, kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Aku semakin kesal dibuatnya, dalam hati aku terus mengumpat.
“Kau tidak tanya ke mana anaknya sekarang?” tanya Angga.
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
Hendri mengulangi pertanyaannya. Namun kali ini ia mengatakannya lebih jelas. Di mana anak Zoya? aku sama sekali tidak terpikirkan, saat ia menceritakan semuanya kemarin, aku tidak sempat bertanya. Hatiku terlanjut sakit dan tidak mau tahu lagi tentang masa lalu pahit itu.
“Aku lupa tanya, Mas,” sahutku dengan wajah kebingungan.
Hendri diam saja kemudian kembali meneruskan perjalanan dengan mempercepat laju kendaraannya. Aku jadi penasaran, ke mana anak Zoya. Aku berkali-kali bertanya pada Hendri namun Hendri tak bergeming.
“Mas,” panggilku.
“Nanti aku ceritakan kalau kita tiba di sana,” ucapnya kemudian. Aku menarik nafas dan terpaksa mengiyakan juga.
4 jam kemudian.
Kita tiba di tempat tujuan. Dari kejauhan aku sudah melihat putra kesayanganku bersama teman-temannya. Hendri menepikan kendaraannya aku segera turun. Angga dan teman-temannya yang sopan datang menyalamiku.
“Baik, Tante, terima kasih sudah mengajak kami berlibur,” ucap salah satu teman Angga. Aku tersenyum manis.
“Sudah siap, ayo,” ajak Hendri. Kita semua mengikutinya ke tempat penginapan yang sudah ia booking sejak sebulan yang lalu.
Aku terus menggandeng tangan Angga. Namun ia terlihat berbeda, ia tampak jadi pendiam tidak seperti biasanya. Bahkan ketika temannya saling melempar candanya, ia tetap saja tak bersuara.
“Sayang, kamu sakit?” tanyaku.
“Enggak, Mi,” sahutnya singkat.
Kita melangkah berdua di tepi pantai. Desiran angin dan suara ombak yang bersahut-sahutan membuatku merasa nyaman. Aku memejamkan mataku menikmati udara segar dengan matahari bersinar terang siang ini.
“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanyaku kemudian.
Angga memainkan pasir dengan kakinya. Sekali-kali ia menendangnya. Lagi-lagi ia menjawab singkat pertanyaanku. Aku semakin gelisah dibuatnya. Tak lama, Hendri datang menghampiri kita berdua. Ia menepuk pundak Angga dan merangkulnya.
“Bagaimana kuliahmu?” tanya Hendri.
“Lancar, Om,” sahut Angga tersenyum ramah.
“Ya sudah, ayo kita istirahat dan makan siang dulu,” ajak Hendri. Aku mengikuti mereka berdua dari belakang. Pikiranku masih saja tidak tenang.
Sore harinya. Aku duduk di tepi pantai tanpa beralaskan apa pun. Aku asyik menyaksikan Hendri dan teman-teman Angga bermain bola. Langit mulai berwarna jingga, sebentar lagi matahari pun akan terbenam, pemandangan yang sangat indah. Aku sudah lama tidak menyaksikan matahari terbenam.
Hendri menghampiriku, lalu duduk di sampingku. Aku tersenyum padanya, ia terlihat kelelahan dengan keringat membasahi wajahnya. Sudah lama ia tidak berolahraga. Aku mengusap keningnya dengan punggung tanganku.
“Mas, menurutmu ada yang aneh tidak dengan Angga?” tanyaku padanya.
“Kenapa berpikiran seperti itu?” tanya Hendri.
Aku tersenyum. “Ah, entahlah, mungkin hanya pikiranku saja,” sahutku mengalihkan pembicaraan.
Matahari tenggelam sempurna di ufuk barat, hari pun berganti malam, kita semua kembali ke penginapan. Hendri menggandeng tanganku melangkah beriringan menuju penginapan yang terbuat kayu nan indah itu.
Dulu, aku selalu ingin memiliki rumah impian yang terbuat dari kayu dengan pemandangan langsung terhubung ke pantai. Ah, rasanya setiap hari akan benar-benar damai jika itu terwujud.
Usai mandi dan mengeringkan rambut, aku berpakaian rapi. Hendri mengajakku dinner berdua malam ini. Aku menyibakkan tirai jendela, cuaca malam ini sangat indah. Bulan bersinar terang dengan hamparan bintang di sekelilingnya.
Malam ini aku membiarkan rambutku tergerai bebas, setelah mengenakan anting dan kalung di leherku, aku mencari cincin pemberian Hendri. Sebelum mandi tadi aku melepaskannya.
“Ya Tuhan, di mana, perasaan tadi di sini,” umpatku seorang diri. Aku mencari ke mana-mana tapi tidak ada. Aku ingat pesan Hendri, jangan sampai pemberiannya aku lepas. Oh tuhan.
Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga, dan kemudian terdengar ketukan pintu, itu pasti Hendri. Aku membukakan pintu untuknya.
“Sudah siap?” tanya Hendri. Aku tersenyum kecut dan mengangguk.
Hendri menggandeng tanganku. Angin berembus kencang, menerpa rambutku yang tergerai bebas. Aku kaget melihat sebuah meja dengan dua kursi terletak tak jauh dari penginapanku.
“Kita makan di sini?” tanyaku.
“Iya, di sini,” sahut Hendri.
Aku tertawa kecil. Hendri mintaku duduk. Aku tersipu malu karena telah salah paham dan salah memakai kostum. Aku mengira ia akan mengajakku dinner di restoran mewah. Hidangan lezat tersaji di hadapanku, aku sudah tidak sabar ingin menyantapnya.
Jangan lupa like, ya?