A BIG MISTAKE

A BIG MISTAKE
Bab 50



Seminggu berlalu.


 


Sejauh ini, semuanya berjalan baik-baik saja.. Kemarin malam, Angga menghubungiku, ia sangat senang. Papa dan Oma mengunjunginya. Mereka menghabiskan waktu bersama seharian. Aku turut bahagia mendengarnya, karena hal itu tidak bisa aku berikan untuknya. Aku bahagia Angga bisa merasakan betapa indahnya menghabiskan waktu bersama ayahnya, hal yang 18 tahun tidak sempat ia rasakan.


 


Terlepas dari itu, Nenek belum menghubungiku, aku juga tidak berani menanyakan apa pun pada Hendri. Mungkin saja Nenek belum sempat bicara dengannya. Lagi pula akhir-akhir ini ia sangat sibuk. Untuk datang menemuiku saja ia tidak sempat, tapi tidak mengapa, aku harus terbiasa akan hal itu. Jika nanti aku jadi istrinya, aku tidak perlu cemas, apalagi cemburu karena ia jarang pulang. Karena semua itu adalah hal biasa.


 


Hari ini aku sedang berada di sebuah restoran. Hendri mengajakku makan siang bersama, aku sedang menunggunya, sudah sepuluh menit berlalu aku di sini, tapi dia belum datang jua.


 


“Maaf, terlambat,” ujar Hendri mengagetkanku.


 


“Oh, tidak apa-apa,” sahutku tersenyum ramah. Namun berbeda dengannya, ia tampak seperti kelelahan, wajahnya kurang bersahabat.


 


Tanpa menunggu lama, aku segera memesankan makanan begitu pula Hendri. Aku sudah sangat lapar, sejak tapi perutku terasa perih.


 


Selama makan, tidak ada yang membuka suara, aku asyik dengan hidangan lezat di hadapanku begitu juga dengannya.


 


“Ami mengajakmu makan malam bersama nanti malam,” ujar Hendri setelah usai menyantap makan siangnya.


 


Perasaanku tiba-tiba tidak enak, sikap Hendri juga sangat dingin siang ini. Aku menganggukkan kepalaku mengiyakannya.


 


“Malam ini aku pulang agak terlambat, aku tidak bisa menjemputmu. Jika mau, aku bisa meminta sopir menjemputmu,” lanjut Hendri masih dengan tatapan dingin.


 


“Tidak perlu, Mas. Aku bisa datang sendiri,” jawabku.


 


Aku merasa canggung dengan keadaan seperti ini, biasanya Hendri sangat perhatian padaku, ada saja yang ia tanyakan.


 


“Mana cincin mutiara itu?” tanya Hendri tiba-tiba.


 


Deg!!


 


Mataku terbelalak, mendadak aku jadi gagap, lidahku terasa berat untuk berucap.


 


“Ada di rumah, Mas,” sahutku terbata-bata.


 


“Kenapa tidak pakai? Dari kemarin aku tidak melihatnya, itu cincin khusus yang aku buat untukmu, tidak ada di tempat lain,” ujar Hendri panjang lebar.


 


Aku menarik nafas dalam-dalam. Entah kenapa, aku semakin merasa tidak nyaman siang ini. Apa yang harus aku katakan, cincin itu hilang saat kita berlibur kemarin. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, akan tetapi tidak ada.


 


“Aku bingung mau pakai yang mana, dua-duanya cantik, Mas,” sahutku berpura-pura baik-baik saja. Aku memperlihatkan cincin lamaran darinya.


 


Hendri cuma terdiam dengan tatapannya yang masih sedingin es. Aku jadi salah tingkah.


 


 



 


 


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, usai makan siang tadi, kita berdua pisah di depan restoran, ia kembali ke kantor sementara aku sempatkan mampir ke toko cabang. Desi menghubungiku, ada hal yang perlu ia sampaikan. Aku menghabiskan waktuku hingga sore dengannya di sana, sebulan penuh aku tidak mengunjunginya, bukan apa-apa, hanya saja aku telah mempercayai seratus persen.


 


Menjelang magrib, aku baru tiba di rumah. Setelah membersihkan wajah dan menunaikan kewajibanku kepada sang pencipta, aku segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat malam bersama keluarga Hendri. Sejak tadi siang, pikiranku sangat terganggu, aku penasaran apa yang akan terjadi malam ini, berita baik kah atau sebaliknya.


 


 


“Mm, masuk saja, Zo,” sahutku.


 


Zoya masuk setelah mendapat persetujuan dariku. Aku meminta pendapatnya mengenai penampilanku malam ini, aku tidak ingin tampil terlalu mewah, aku akan malu jika nanti berita buruk yang aku terima, pikirku.


 


“Sederhana tapi mengesankan,” sahut Zoya sembari kepalanya mangut-mangut.


 


Tetap saja aku khawatir, jika ada pilihan, aku akan mengajak seseorang agar aku tidak sendirian, tapi aku hanya bisa datang sendiri.


 


“Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Ayo cepat, nanti kau terlambat,” ujar Zoya.


 


Aku sedikit lebih tenang mendengar ucapannya, semoga saja semuanya baik-baik saja. Aku menyudahi riasan malam ini dengan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhku.


 


Setelah berpamitan pada Mama, aku bergegas berangkat. Cuaca malam ini lumayan dingin, aku berangkat seorang diri menuju rumah Nenek dengan kekhawatiran tak menentu. Aku cuma bisa berharap yang terbaik.


 


Tiba-tiba ponselku berdering. Angga menghubungiku, setelah mengenakan earphone, aku menjawab panggilannya.


 


“Mami di mana?” tanya Angga setengah berbisik.


 


“Ada apa sayang, Mami sedang dalam perjalanan menuju rumah Oma kamu,” sahutku.


 


“Iya, Angga tahu, ya sudah hati-hati,” jawabnya, lalu panggilan itu berakhir.


 


 


Aku bingung, kenapa ia menanyakan keberadaanku, apa mungkin ia juga hadir di sana malam ini?


 


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, dengan jalanan yang cukup padat malam ini, akhirnya aku tiba di rumah nenek. Tiba di sana aku disambut oleh seorang wanita muda, ia menungguku di teras. Wanita itu memintaku untuk mengikutinya, aku tidak tahu ia akan membawaku ke mana, kita baru saja menginjakkan kaki di lantai dua, tapi perjalanan belum tiba juga, apa kita akan makan malam di lantai tiga? Pikirku. Seperti yang aku katakan tadi, cuaca malam ini sangat dingin, tidak mungkin kita akan makan di ruang terbuka.


 


 


“Silakan masuk, Nyonya,” pinta wanita itu saat kita tiba di depan sebuah ruangan. Setelah itu, ia bergegas meninggalkanku.


 


Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu ruangan itu. Nenek dan Hendri sudah berada di ruangan itu dengan beberapa orang menggunakan topi putih di kepalanya juga di sana. Nenek mempersilahkan aku duduk. Hendri sangat dingin padaku, bahkan, ia tidak menyambut kedatanganku.


 


 


Hidangan lezat dan banyak tersaji di meja makan, aku menelan ludah, di tengah suasana genting seperti ini, aku masih sempat memikirkan siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu.


 


 


Tidak lama, pintu kembali terbuka, aku menatapnya tak berkedip, aku berharap itu bukanlah Robert. Namun malam ini tampaknya bukan malam keberuntunganku. Robert masuk, kemudian disusul Angga di belakangnya. Aku tersenyum lebar, akhirnya aku merasakan lega, setidaknya mereka tidak akan memperlakukan aku dengan buruk di depan putraku.


 


 


Setelah semuanya duduk, Nenek mulai membacakan doa dan kita mulai menyantap hidangan itu. Aku sedikit merasa canggung melihat Chef itu dan beberapa anak buahnya melihat kita makan dengan mereka berdiri seperti patung di sebelah kita.


 


Ah, betapa lezatnya hidangan malam ini, aku seperti makan di restoran bintang lima. Disela aku menikmati hidangan malam ini, aku kembali terpikirkan, apa mereka sengaja memberiku hidangan lezat sebelum memberitahu berita buruk? Mendadak selera makan ku hilang.


 


 


Jangan lupa like, ya.